Rabu, 25 Desember 2019

Self-efficacy



Self-efficacy merupakan istilah yang familiar dalam konsep ilmu psikologis yang berkaitan dengan pengembangan diri. Makna dari self-efficacy, yang sering diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “efikasi diri”, merupakan keyakinan akan kemampuan diri menyelesaikan suatu tugas atau melakukan hal baru dengan  berhasil. Keyakinan tersebut muncul melalui serangkaian pengalaman berhasil yang telah dilalui sebelumnya. Selain itu, efikasi diri juga terbentuk melalui kebiasaan tuntas melaksanakan pekerjaan.

Orang yang memiliki efikasi diri yang tinggi cenderung optimis dalam menghadapi tantangan. Dalam dirinya ada keyakinan bahwa ia bakal mampu menyelesaikan apa pun yang akan dikerjakannya dengan berhasil. Lawan dari efikasi diri adalah sikap pesimis dan inferior. SIkap tersebut juga bisa terbentuk oleh pengalaman yang telah dilalui, berupa sikap negative dalam mengerjakan urusan. Sikap negative dalam mengerjakan suatu urusan yang dimaksud adalah seperti mengerjakan suatu pekerjaan secara tidak tuntas, atau setengah-setengah.

Efikasi diri akan efektif terbentuk saat seorang individu berada pada masa kanak-kanak atau remaja. Efikasi diri yang terbentuk pada masa awal kehidupan seorang individu akan cenderung dibawa hingga usia dewasa dan melekat pada diri seseorang menjadi suatu karakter. Menyadari hal tersebut, penting sekali bagi para pendidik untuk meyakinkan para peserta didik untuk membiasakan diri melakukan hal-hal yang dapat membentuk efikasi diri. Hal-hal yang bisa membentuk efikasi diri tersebut antara lain adalah; (1) menyelesaikan tugas/projek belajar secara tepat waktu, atau bahkan sebelum waktunya, (2) menyelesaikan suatu pekerjaan secara tuntas, tidak setengah-setengah, (3) berani menghadapi tantanga-tantangan positif, (4) membuat target-target yangt terukur output serta waktu penyelesaiannya.

Betapa banyak individu yang berpikir bahwa menyelesaikan suatu pekerjaan adalah suatu beban. Mereka belum memahami bahwa menyelesaikan suatu pekerjaan secara tuntas dan tepat waktu akan membentuk efikasi diri yang sangat bermanfaat bagi kehidupan mereka. Ketika efikasi diri sudah terbentuk, seorang individu akan memiliki sikap optimis dalam berusaha mencapai sesuatu, sekalipun ia menyadari banyaknya tantangan yang akan ia hadapi. Jika karakter seperti itu ada pada diri kita, maka besar kemungkinan kita akan meraih keberhasilan dalam usaha-usaha kita, karena kemungkinan kita berhasil dalam mencapai sesuatu akan besar jika kita melakukan tindakan yang disertai keyakinan penuh optimisme. Sementara sikap pesimis dan efikasi diri yang rendah akan cenderung memaksa kita menyerah, bahkan sebelum memulai tindakan.  

Minggu, 22 Desember 2019

The Invisible Hand is Real



Pengalaman seleksi wawancara  beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) kemarin adalah momen ketika aku merasa sangat pesimis. Betapa tidak, selama wawancara 1 berlangsung, aku merasa dihajar habis-habisan oleh sasatu pewawancara yang sepetinya memang berperan sebagai “bad cop”. Segala kekuranganku “dicari-cari”, sementara hal-hal yang menurutku menjadi kelebihanku tidak diulik sedikit pun. Sempat ada sedikit frustasi, namun untungnya aku bisa mengendalikan diri. Teringat pesan dasi seorang sahabat yang sudah jadi awardee beasiswa LPDP bahwa “I gotta stay cool, relax, self-controled, and humble”. Oiya, LPDP adalah platform beasiswa yang memiliki dua tahap wawancara. Ada wawancara 1 yang berisi seputar akademik, psikologi dan kualitas diri si pelamar. Ada wawancara 2 yang berisi tentang wawasan kebangsaan.

Selesai wawancara 1, aku sempat bertanya pada teman yang sama-sama selesai melakoni wawancara 1. Dia tidak mendapatkan pengalaman yang sama sebagaimana yang aku punya. Pertanyaannya lancar-lancar saja, sesuai ekspektasi. Tidak ada sesi dimana dia dikuliti. Hanya ditanya seputar kontribusi yang sudah sedang dan akan dijalani di bidang yang dia geluti, serta ditanya pula rencana riset yang jawabannya sudah dia kuasai. Sempat ada rasa bahwa aku mengalami hal yang tidak adil. “It should have been a matter of luck that every interviewee faced different type of interviewer”, as I said to myself. Sempat berpikir pula bahwa itu adalah anti-klimaks dari serangkaian perjuanganku mendapatkan beasiswa tersebut. Perjuangan yang aku rasa sangat “laborious”, yang dipenuhi banyak drama di tiap fasenya.

Hal yang bikin aku merasa lega adalah saat aku curahkan ke teman yang juga melamar beasiswa tersebut dan telah selesai mengikuti seleksi wawancara. Ternyata dia juga mengalami hal yang sama. Dalam hati aku berpikir bahwa itu hanyalah ujian mental, tentang bagaimana aku mendhadapi situasi penuh tekanan dalam diskusi. Apakah aku bisa mengendalikan diri atau tidak. Bila mengingat bagaimana aku bisa mengendalikan diri, spirit optimisme ku muncul. Namun rasa pesimisku sudah terlanjur mendominasi pikiranku. Mungkin ini belum akan menjadi rejekiku, batinku berkata.

Aku sempat merasa curiga, apakah “kesialan” tersebut disebabkan karena ibuku tidak mendoakanku. Selesai wawancara 1, sembari menunggu kesempatan dipanggil untukmenjalani wawancara 2, aku telpon ibuku. Aku bertanya pada ibuku apakah beliau lupa untuk mendoakanku agar lancer dalam menjalani seleksi wawancara tersebut. Ibuku kaget, mendapatkan pertanyaan seperti itu. Beliau mencoba meyakinkan bahwa beliau sudah berdoa agar Tuhan berkenan memudahkanku meraih impianku menjadi awardee beasiswa tersebut. Belakangan ku ketahui bahwa selesai menerima telpon dariku, ibuku langsung bergegas melakukan sholat dhuha, dan berdoa secara khusus untuk kelancaran proses wawancaraku. Seperti biasa, aku selalu melibatkan orangtuaku, terutama ibuku, untuk mendoakan keberhasilanku di tiap momen penting seperti itu. Dan, Alhamdulillah, seringkali aku mendapatkan hasil yang kuinginkan.

Sebagai orang yang beragama, aku sangat percaya akan adanya tangan tuhan (invisible hand). Aku juga percaya bahwa melibatkan orang-orang tercinta untuk mewujudkan hajatku akan memperbesar kemungkinan untuk berhasil. Barangkali berhasilnya kita bukan karena doa kita, melainkan doa orang-orang tercinta. Begitulah yakinku. Keyakinan seperti itu sulit dirasakan oleh orang yang agnostik, atau apriori terhadap eksistensi Tuhan.

Masa penantian pengumuman adalah masa yang sangat mendebarkan, dan cukup menurunkan berat badanku. Nafsu makan jadi berkurang drastic, membayangkan kegagalan yang mungkin terjadi. Aku memang berpikir bahwa aku akan merasa terpukul andai aku gagal, mengingat serangkaian proses yang telah aku jalani. Drama saat tes IELTS, melelahkannya mengurus surat ijin dinas yang mengharuskanku bolak-balik ke ibukota provinsi yang jaraknya relatif sangat jauh. Meyakinkan kepala sekolah untuk memberikan ijin mengikuti seleksi. Mengikuti kursus online berbayar untuk persiapan seleksi berbasis computer. Membeli berbagai buku super tebal untuk memperkaya wawasan kebangsaan dan menyempatkan diri membacanya di tengah kesibukanku mengikuti kegiatan Program Profesi Guru yang berlangsung hampir enam bulan. Konsultasi dengan banyak orang pun aku lakukan, agar maksimal dalam mempersiapkan diri menjalani proses seleksi beasiswa ini. Termasuk mengikuti seminar tentang strategi menaklukkan beasiswa yang diselenggarakan di Jakarta, dimana perjalanan menuju ke sana diliputi drama dipindahkannya penumpang bus sebanyak dua kali, karena dua bus yang kami kendarai mogok. Tega banget rasanya semesta ini andai aku gagal dalam seleksi beasiswa ini.

Hingga waktu pengumuman tiba, aku masih bergelut dengan rasa pesimis. Ada bunyi notifikasi Whatsapp, “klunting”. Aku buka, ternyata WAG yang isinya para peserta seleksi beasiswa sedang ramai membicarakan perihal pengumuman. Aku deg-degan luar biasa. Meski demikian, kuberanikan diri membuka akunku. Aku log in, lalu ku klik menu “status”. Tidak aku baca isi pengumuman secara detil. Aku sempat ingat perkataan seorang teman bahwa jika dinyatakan lulus, maka tulisannya akan hitam semua. Sementara jika tidak lulus, makan kalimat yang berisi pengumuman akan berwarna merah. Aku lirik perlahan, dan tulisannya hitam. Lirikanku persis seperti orang yang nonton film horror yang membuka mata sedikit demi sedikit sambil harap-harap cemas jikalau adegannya menakutkan. Aku coba membaca kalimat secara lengkap. Daan..surprisingly, aku lihat kalimat “SELAMAT ANDA LULUS SELEKSI SUBSTANSI”. Rasanya “ambyaaarrr”. Aku teriak Alhamdulillah begitu kencang, hingga membuat semua keluargaku yang ada dalam mobil kaget dan bertanya apa yang terjadi. Kebetulan, waktu itu kami sekeluarga dalam perjalanan menuju mencari durian. Sangkin senengnya, aku bilang sama mereka, “ silakan makan durian sepuasnya, karena hari ini aku lagi seneng. Aku yang bayar”. Hahaa..ndak penting sih bagian ini. Yang jelas aku sangat senang, padahal tahapan-tahapan lainya masih menanti untuk dilalui. Perjuangan belum berakhir. Namun,setidaknya aku senang, setelah berhari-hari berkutat pada ketidakpastian.

Setidaknya, ada tiga pelajaran berharga yang aku dapatkan. Yang pertama, kita harus selalu berpikir positif terhadap Tuhan. Logika manusia tak selalu sejalan dengan kehendak Tuhan. Kita mungkin berpikir secara logis matematis bahwa kita gagal, karena pengalaman mendukung logika berpikir seperti itu. Namun, Tuhan punya kuasa untuk menciptakan keadaan. Yang kedua, aku semakin yakin akan adanya “Invisible hand”. Barangkali bukan do’aku yang nyampai ke Tuhan, melainkan doa orang-orang tercintaku, terutama Ibuku. Hingga detik ini aku makin percaya pada prinsip “usaha tidak akan menghianati hasil”, dan “man jadda wa jada”. Tidak ada kebetulan dalam hidup. Tidak ada keberuntungan gratis dalam hidup. Keberuntungan merupakan hasil dari kesiapan maksimal dan kesempatan. Orang boleh tidak setuju dengan pemikiran tersebut, tapi itu yang aku yakini.

Alhamdulillah.

Thanks to Alloh SWT!
Thanks to LPDP!
Thanks to my family and all my supporting friends!


Senin, 16 Desember 2019

Kerja Tuntas

Image result for kerja tuntas adalah
Picture: tommcifle.com/bekerja-tuntas/

Ada efek psikologis positif tertentu yang dirasakan saat kerjaan yang begitu banyak terselesaikan dengan tuntas. Rasanya itu luar biasa. Semakin hari, aku semakin menyadari bahwa kerja tuntas itu sangat penting. Kerja tuntas berarti menyelesaikan suatu urusan/kerjaan hingga benar-benar tuntas. Andai aku menyadari pentingnya kerja tuntas sedari kecil, mungkin hidupku sudah sejak lama berjalan efektif. Mungkin aku sudah meraih pencapaian yang jauh dari sebagaimana sekarang.



Kerja tuntas jika dilakukan secara berulang-ulang, sebagaimana hal lain, akan membentuk kepribadian kita. Orang yang terbiasa kerja tuntas akan bisa menjalani hidup secara produktif. Kebiasaan kerja tuntas yang dibarengi dengan karakter berani mencoba akan membentuk karakter sukses. kebalikan dari kerja tuntas adalah kerja setengah-setengah. Kerja setengah-setengah bisa bermakna menunda penyelesaian pekerjaan yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti keraguan, tergoda nikmatnya santai sesaat, sifat procrastinating (menunda), atau bahkan perfeksionis. Jangan berharap hasil yang maksimal dari kerja yang setengah-setengah.

Kerja tuntas tidak selalu bermakna kerja dengan hasil sempurna. Namun, kerja tuntas bermakna terselesaikannya pekerjaan di waktu yang telah ditentukan secara penuh komitmen. Sebenarnya, aku bukan termasuk model yang sukses memiliki karakter kerja tuntas. Kesadaranku akan pentingnya kerja tuntas relative belum begitu lama. Namun setidaknya aku sedang on the right track untuk menjadi pribadi yang berorientasi pada kerja tuntas. Aku membandingkan diriku sendiri dengan kakak ku. Jika aku mengingat masa lalu, aku bisa membandinkan etos kerjaku dengan etos kerja kakakku. Aku masih ingat, setiap minggu kami sama-sama memiliki tugas mencari rumput sebanyak dua karung. Namun, yang berbeda adalah cara kami menyelesaikan pekerjaan tersebut. Kakakku, selesai mendapatkan sekarung rumput yang pertama, akan bergegas mencari sekarung rumput yang kedua. Setelah kedua karung diperoleh dan diletakkan di tempat penampungan pakan ternak, dia akan bebas melakukan aktivitas lain seperti bermain dengan teman-temannya. Kebiasaan tersebut dilakukan kakakku hingga membentuk kepribadiannya yang selalu bekerja dengan tuntas. Aku, kebalikannya. Selesai mendapatkan sekarung rumput yang pertama, alih-alih segera menyelesaikan kerjaan untuk meraih sekarung rumput yang kedua, aku lebih memilih waktu untuk bersantai dahulu, hingga waktu menjelang sore aku baru beranjak mencari rumput lagi.

Memang, ada rasa nyaman ketika menunda pekerjaan. Namun, kenyamanan tersebut adalah sejatinya adalah kenyamanan semu, karena pada dasarnya ada beban psikologis saat pekerjaan belum tuntas. Kebiasaan kerja tuntas yang dimiliki kakakku menjadikannya menjalani hidup yang menurutku lebih produktif dari aku. Kakak ku, memiliki karakter laksana antithesis dari karakterku. Dia suka kerja tuntas dan berani emncoba hal-hal baru. Sementara, aku terbiasa kerja setengah-setengah, cenderung menunda penyelesaian pekerjaan (procrastinating), serta perfeksionis.

Menyadari pentingnya kerja tuntas, aku sudah membiasakan diri menyelesaikan kerjaan secara tuntas. Aku yakin tidak ada kata terlambat untuk aku memiliki kebiasaan kerja tuntas, hingga ia mengakar menjadi salah satu karakterku.

Minggu, 08 Desember 2019

Seleksi Beasiswa: Sebuah ujian keikhlasan


Image result for struggle for scholarship
Picture: https://www.fastweb.com/

Masa penantian pengumuman hasil seleksi LPDP ini membuatku galau. Tidak seperti biasanya, beberapa kali aku mengikuti seleksi beasiswa program ke luar negeri dimana sebagian aku berhasil dan sebagian lainnya lebih sering gagal (lol), aku menyikapinya secara nothing to lose. Padahal kali ini aku masih menanti pengumuman, dan hasilnya seperti apa pun masih bisa dikatakan fifty-fifty antara kemungkinan hasil posisif tidaknya.

Kegalauanku berawal dari proses seleksi wawancara 1 yang cukup membuatku shock. Bukannya aku merasa tidak siap menghadapi wawancara tersebut, justru karena sebenarnya aku sudah menyiapkannya dengan sanagt matang. Yang membuatku galau paska wawancara adalah sikap salah satu pewawancara yang membuatku berpikir bahwa dia kurang fair padaku dalam memerankan diri sebagai pewawancara. Idealnya, wawancara adalah sesi dimana pewawancara mengorek habis isi kepala, track reccord dan rencana masa depan yang dimiliki oleh orang yang diwawancarai. Namun, wawancara itu aku rasa laksana sebuah ceramah, yang aku mau ndak mau harus mendengarkannya. Di situ kelemahan-kelemahan ku dikupas habis, seolah tidak ada sisi kelebihanku yang layak untuk ia tanyakan lebih dalam. Sesekali dia persilakan aku untuk memberikan argumentasi, namun dengan nada retoris, seperti tidak membutuhkan jawabanku sama sekali, dan hanya ingin aku mengiyakan apa yang dikatakannya. Pernyataan-pernyataannya cukup judgmental. Itu yang membuatku makin kurang nyaman. Meski demikian, aku berusaha bersikap proporsional, menerima situasi dan menunjukkan ekspresi sungguh-sungguh emndengarkan apa yang dikatakan pewawancara tersebut. Ada situasi dilematis pada saat itu, antara bersikap “nurut” dengan mengiyakan semua yang disampaikan oleh pewawancara, atau menyampaikan konter argument untuk mematahkan klaim yang disampaikan oleh si pewawancara. Berjkali-kali muncul dalam pikiranku, sepatah pesan yang disamnpaikan oleh temanku sebelumnya, bahwa aku harus stay humble. Stay humble ini yang menimbulkan interpretasi makna yang bias, menruutku. Ukuran humble yang proporsional dalam menghadapi tekanan seperti saat wawancaraku itu seperti apa, I have no clue.

Tes wawancara atau yang disebut sebagai seleksi substansi ini merupakan bagian dari rangkaian seleksi beasiswa LPDP, yang terdiri dari wawancara 1 dan wawancara 2. Wawancara 1 kurang lebih berisi topic seputar akademis dan psikologi, dengan tiga pewawancara. Sementara wawancara 2 yang hanya digawangi oleh seorang pewawancara akan menguji wawasan kebangsaan peserta wawancara. Sejatinya, aku sudah sangat siap secara mental menghadapi sesi wawancara ini, karena pengalaman dan latihan yang sudah aku jalani selama ini. Pengalaman menjalani tes wawancara di berbagai program membuatku yakin bahwa wawancara adalah sesi yang aku bakal paling optimis menghadapinya, hingga aku mendapati situasi yang membuatku berpikir sebaliknya.
Jika mengingat bagaimana proses wawancara 1 yang aku jalani, aku merasa tidak bisa 100% yakin akan hasil positif nanti. Aku berharap keajaiban Alloh muncul,, sebagaimana aku selalu meyakini bahwa dalam setiap upaya, seringkali ada Invisible hand yang menciptakan situasi yang miraculous. Satu hal yang bikin aku baper berat dalam menunggu hasil seleksi substansi ini adalah bayangan andai aku gagal. Aku membayangkan betapa patah hatinya aku andai gagal, mengingat proses yang telah aku lalui. Mungkin ini adalah ujian keikhlasan, sekaligus pelajaran bahwa semaksimal apapun upaya yang kitalakukan, tetap harus sadar diri bahwa ada kekuatan lain yang lebih memiliki kuasa untuk menentukan keadaan. Pendaftara beasiswa yang kulakukan kali ini bukan minim persiapan. Ada serangkaian proses penuh drama di dalamnya. Apalagi aku melamar beasiswa melalui jalur Targetted Group ASN. Konsekuensinya, tentu banyak. Di antaranya adalah keharusan mengurus berkas-berkas administratif birokratis yang laborious banget.

Drama pertama adalah saat aku menjalani tes IELTS. Entah kenapa aku salah menuliskan jawaban essay writing di lembar yang bukan semestinya. Essay writing 1 aku tulis di lembar jawab yang seharusnya untuk essay writing 2. Dan aku menyadarinya setelah hanya tinggal beberapa menit waktu yang tersedia. Sementara itu, tidak ada lembar kerja pengganti, sehingga aku harus menghapus semua tulisan dan menulis ulang di lembar kerja yang semestinya. Jangan tanya seperti apa aku melakukannya, karena rasa gugup bercampur kekhawatiran habisnya waktu membuat aku menulis tanpa pikir panjang. Sekenanya saja aku menulis, karena tidak cukup waktu untuk mengingat semua poin yang aku tuliskan sebelumnya. Meski demikian, Alhamdulillah masih dapet band score yang lumayan, meski skor writing menjadi yang paling rendah di antara skill yang diuji lainnya.

Drama kedua adalah menguru surat ijin kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan surat Rekomendasi Kepala Badan Kepegawaian Daerah. Bukan semata factor jarak yang berimplikasi pada banyaknya biaya yang harus aku keluarkan, mengingat itu semua harus diurus di ibukota provinsiku yang jaraknya sekitar 200km dari kampungku, dan memerlukan waktu tempuh yang lumayan lama. Ada kesalahan teknis yang mengaruskanku bolak-balik untuk mengurus surat tersebut. Sangat lega rasanya setelah surat tersebut jadi.

Meski sudah cukup berpengalaman dalam menghadapi wawancara, namun aku tidak serta merta menggampangkannya/ meremehkannya. Aku tetap maksimalkan ikhtiar agar kelak aku punya alasan untuk Tuhanku memberhasilkanku. Aku ikuti berbagai grup telegram dan whatsapp tentang persiapan seleksi substansi. Aku latih kemampuan retorikaku agar semakin lancar saat menjawab berbagai pertanyaan wawancara. Aku baca buku-buku dan artikel-artikel yang relevan dengan materi yang akan dipertanyakan saat wawancara. Aku pelajari ringkasan 100 pertanyaan yang sering muncul dalam wawancara beasiswa LPDP, yang dibagikan oleh seorang teman. Bahkan sebagai tambahan, biar maksimal, aku googling sendiri berbagai pertanyaan seputar wawancara yang aku dapatkan dari berbagai sumber. Aku berkonsultasi dengan beberapa dosen/professor yang mengajar di kampus yang hendak aku jadikan tempat studi. Aku juga berkonsultasi dengan beberapa teman yang sudah memperoleh beasiswa tersebut. Aku tanyakan secara detail hal-hal yang aku rasa sangat penting. Bahkan ada seorang teman yang bilang bahwa aku terlalu detil dalam menyiapkan diri menghadapi tes wawancara ini. Kurang apa aku ini?

Memang, aku belum memiliki Letter of Acceptance (LoA). Namun aturan beasiswa LPDP membolehkan siapapun yang belum memiliki surat tersebut untuk mengikuti seleksi beasiswa. Selesai wawancara, aku diskusi dengan beberapa teman di grup telegram tentang pertanyaan apa yang masing-masing dari kami dapatkan. Dan gilaa, aku merasa pertanyaan-pertanyaan wawancara yang mereka dapatkan enak-enak banget. Ndak susah-susah amat. Seputar rencana studi, kontribusi apa yang telah sedang dan akan dilakukan, dan diulik apa yang menjadi kelebihan mereka. Lha aku? Seolah pengalaman berorganisasiku yang seabreg, pengalaman mengikuti program pengembangan diriku baik dalam negeri maupun luar negeri yang aku kira akan sangat mendukung dan memperkuat keyakinan pewawancara akan kelayakanku memperoleh beasiswa tersebut, kontribusiku yang sudah, sedang dan akan aku lakukan, seolah tiada makna dan tak layak untuk diulik barang sedikit saja. Diganti dengan bahas tuntas kekuranganku berupa bahwa aku belum memiliki artikel yang dipublikasi di jurnal internasional yang terindeks scorpus. Saat ditanya tentang publikasi, aku coba menawarkan diri untuk menunjukkan buku karyaku berupa English Textbook yang sudah cetak, namun ditolak. “Ndak perlu”, kata si pewawancara. Yang jelas aku harus membuktikan sesuatu yang aku memang belum punya. Andai semua peserta wawancara diminta hal yang sama, untuk menunjukkan publikasi ilmiah emreka di jurnal internasional yangt erikdeks scorpus, mungkin aku akan emrasa lega, dan menilainya fair. Masalahnya, aku tanya teman-teman, sangat sangat jarang yang ditanya publikasi ilmiah untuk mereka yang mengambil program master’s Degree.

Jujur, aku sangat iri dengan teman-teman peserta seleksi beasiswa tahap sebelumnya yang sharing bahwa mereka mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku relatif mudah, dan akhirnya mereka lolos. Rasa hati makin ga karuan saat ada teman yang bilang bahwa dia sebenarnya ikut seleksi beasiswa ini coba-coba saja, dan tanpa persiapan yang begitu maksimal. Namun mereka akhirnya mendapatkan beasiswa tersebut. Di tulisan ini, aku tidak sedang menyalahkan siapa-siapa. Aku hanya sedang mencurahkan isi hati, bahwa situasi seperti ini kebetulan terjadi padaku. Tentu ada pelajaran berharga yang bisa dipetik oleh banyak orang, bahwa kadang betapapun siapnya kita dalam berusaha, situasi-situasi tak terduga yang membuat kita berpikir bahwa itu kurang fair bisa terjadi. Aku menganggapnya sebagai sebuah ujian keikhlasan. Dalam kenyataan hidup, rumus matematika tidak selamanya berlaku. Logikanya, orang dengan persiapan maksimal akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun ternyata tiada jaminan akan hal tersebut, karena mau tidak mau ada kekuatan lain yang memiliki kuasa untuk membuat scenario atas jalannya hidup kita.


Aku pasrahkan semuanya kepada Alloh SWT.

Apapun nanti hasilnya, harus aku sikapi dengan positif.