Senin, 17 Juli 2023

Just let it go...

Kadang kita musti mengalah dengan keadaan. 

Kadang kita perlu membiarkan segala carut marut berserakan. 

Kadang kita perlu membiarkan apa yang tidak semestinya terjadi terjadi. 

Bukan untuk membenarkan sikap apatis kita terhadap keadaan sekitar. 

Bukan untuk membenarkan diri untuk tidak mempedulikan apa pun yang terjadi di sekitar kita. 

Di sini ada kata “kadang”, artinya jelas, bahwa semestinya kita memiliki sense of crisis dan kepekaan social. 

Sudah semestinya kita menjadi agen perubahan. 

Namun, ada kalanya kita membiarkan itu semua terjadi. 

Demi apa? Demi kesehatan mental dan jiwa kita. 

Sebagai orang yang memiliki idealism tinggi, wajar jika kita tidak nyaman ketika melihat perilaku buruk orang lain yang berdampak negatif terhadap banyak orang. 

Wajar jika kita tidak terima adanya ketimpangan social, ketidakadilan, perilaku korup, penindasan, mismanajemen, dan hal negative lainnya. 

Namun ada kalanya yang perlu kita lakukan adalah diam. 

Biarkan semuanya terjadi. Biarkan mereka menikmati keserakahan mereka. Biarkan yang bodoh memimpin. 

Biarkan orang-orang yang tak berkompeten diberi posisi strategis. Biarkan pemikiran-pemikiran tolol mewabah. 

Give yourself a break! Yang perlu jadi perhatianmu adalah kesehatan mentalmu. 

Ada kalanya kita perlu bersikap toleran dan masa bodoh. 

Yang penting itu kesehatan mentalmu. 

Tetap lah tersenyum kepada orang-orang jahanam, jika itu membuatmu nyaman. 

Jika kamu tak mampu untuk mengukir sesungging senyum kepada bedebah-bedebah itu, simpan senyummu. 

Biarkan nuranimu mendikte ekspresi wajahmu. 

Just give yourself a break! Sekali lagi, kesehatan mentalmu itu penting. Sangat penting. 

Jika dengan menjadi cuek itu menyehatkan mentalmu, lakukan itu. 

Sometimes you need to give no fuck about what is happening around you. 

“It is just shit, fuck, anjing, babi, kucing, bangsat, jiancok!” 

Kamu puas meluapkan sumpah serapah itu? 

Jika iya, lakukan itu. 

Ndak sopan, ndak mencerminkan statusmu sebagai pendidik? 

Persetan dengan penilaian dan validasi orang lain. 

Give yourself a break!

Sekali lagi, yang paling penting adalah kesehatan mentalmu.

Selasa, 11 Juli 2023

Kesehatan Mental dan Keberpihakan Kebijakan Pendidikan Pada Guru

 

Picture Source: https://www.mindsahead.org.uk

Perhatian pemerintah terhadap pendidikan bagi generasi Indonesia begitu besar. Secara berkala, kurikulum diperbaharui agar generasi kita memiliki kualitas yang relevan untuk menjawab tantangan zaman. Berbagai pelatihan pengembangan profesionalitas guru diselenggarakan agar mereka bisa memberi pelayanan yang lebih prima kepada generasi baru atau peserta didik. Berbagai program yang berorientasi pada wellbeing peserta didik dikampanyekan, seperti sekolah ramah anak, sekolah anti-bullying, dan lainnya. Begitu perhatiannya pemerintah terhadap generasi baru, sampai dewasa ini kita cukup familiar dengan istilah “pembelajaran yang berpihak pada peserta didik”, seolah-olah di periode sebelumnya para guru kurang berpihak pada peserta didik.

Menyelenggarakan pendidikan yang berpihak pada peserta didik memang sudah semestinya dilakukan. Kita tentunya ingin para generasi kita menjadi cerdas, berkepribadian luhur, memiliki berbagai keterampilan, dan berkarakter pancasilais. Namun pertanyaannya, kenapa istilah “keberpihakan terhadap para guru” tidak dikampanyekan dalam system pendidikan kita?

Pertanyaan ini mungkin terkesan out of the topic, namun sebenarnya sangat relevan dengan topic tentang keberpihakan terhadap peserta didik.

Bagaimana tidak? Guru adalah pihak yang berinteraksi langsung dengan para peserta didik. Mereka adalah ujung tombak pelaksanaan kurikulum. Sesempurna apa pun kurikulum didesain, guru lah yang menjadi pemain utama dalam melaksanakan kurikulum dalam praktik pembelajaran secara riil. Katakanlah kurikulum didesain sedemikian rupa kerennya. Namun kurikulum adalah benda pasif, yang membutuhkan guru-guru yang berkualitas untuk benar-benar menerapkannya.

Berbicara tentang kualitas guru, aspek yang sering mendapat perhatian adalah soal berbagai kompetensi yang meliputi pedagogik, professional, kepribadian dan sosial. Namun ada hal penting yang juga sangat berpengaruh terhadap kualitas guru, yaitu kesehatan mental, emosional, psikologis, dan fisik. Dalam ilmu psikologi, kesehatan mental, emosional, psikologi sering disebut dengan istilah Wellbeing. Dalam system pendidikan di Indonesia, Wellbeing sepertinya belum dianggap sebagai komponen penting dari kualitas seorang guru. Padahal, setinggi apa pun kompetensi guru, ketika mereka kurang sehat secara mental, emosional dan psikologis, apakah mereka bisa maksimal dalam mengupayakan pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik? Tentunya tidak. Kita tidak bisa mengharapkan guru-guru yang kesehatan mental nya kurang bagus untuk bisa memastikan pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik.

Oleh karena itu, semestinya pemerintah juga memperhatikan system pendidikan yang memiliki keberpihakan terhadap guru. Mungkin ada yang bertanya,  apakah system pendidikan kita selama ini kurang berpihak kepada guru? Sisi mana dari system pendidikan kita yang kurang berpihak kepada guru?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin memberi gambaran tentang bagaimana system pendidikan yang berpihak pada guru dilaksanakan di sebuah Negara yang namanya Australia. Di Australia, guru diberi kebebasan untuk mendesain perangkat pembelajaran mereka. Format perangkat pembelajaran seperti apa pun diterima, asalkan mereka memiliki dasar argumentasi atas format tersebut. Dengan demikian, guru tidak dipusingkan dengan keharusan untuk menyiapkan berbagai perangkat administrasi pembelajaran dengan format baku yang seringkali berpotensi membuat mereka stress. Kebebasan berekspresi dalam mendesain perangkat pembelajaran memacu kreativitas para guru, dan membebaskan mereka dari stress. Dengan demikian, kesehatan mental mereka terjaga.

Kedua, guru-guru di Australia diberi jatah libur dengan durasi yang cukup signifikan. Australia menerapkan system triwulan untuk periode pembelajaran. Sementara Indonesia menerapkan system semester. Dalam setahun ada empat triwulan. Di setiap akhir triwulan, guru dan peserta didik diberi jatah waktu libur selama dua minggu. Di triwulan terakhir,  guru bahkan diberi jatah waktu libur sebanyak empat minggu. Sehingga, dalam setahun, guru-guru di Australia mendapat total sepuluh minggu untuk berlibur.

Mungkin orang bertanya, dengan banyaknya jumlah hari libur bagi para guru di Australia, apakah kualitas pendidikan di Australia menjadi merosot. Jawabannya adalah tidak. Australia masih merupakan salah satu dari sekian Negara dengan pencapaian hasil tes PISA dan TIMMS di atas rata-rata. Hasil tersebut selalu konsisten dari tahun ke tahun. Human Index Australia juga selalu tinggi dari tahun ke tahun.

Ternyata, kebijakan libur yang banyak bagi guru bukan hanya ada di Australia. Di berbagai Negara dengan system pendidikan yang maju lainnya, porsi libur bagi guru juga cukup signifikan. Jepang, Hongkong, New Zealand, berbagai Negara eropa dan amerika juga memiliki kebijakan serupa.

Lantas, apa relevansinya antara kebijakan libur bagi guru dengan kualitas pendidikan, dan mengapa harus dibahas dalam artikel in?

Jawabannya adalah, ada korelasi positif antara kebijakan libur dengan kesehatan mental para guru dan performa mereka dalam melaksanakan tugas pembelajaran.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Foundatuion for educational Research, sebagaimana yang dipublikasikan di www.theguardian.com, mengajar merupakan salah satu profesi dengan tingkat stress yang sangat tinggi dibanding pekerjaan lainnya.

Jadi, para guru menjalani sebuah pekerjaan yang rentan terhadap masalah kesehatan mental, emosional dan psikologis. Menyikapi fakta ini, system pendidikan seharusnya didesain untuk memberi keberpihakan terhadap para guru, agar mereka memiliki kesehatan mental yang bagus. Hal-hal yang berpotensi memacu stress guru semestinya ditangani oleh pemerintah, dan menjadi perhatian dalam perumusan kebijakan pendidikan.

Berkaitan dengan pertanyaaan tentang apakah system pendidikan di Negara kita belum berpihak pada guru, kita bisa melihat fakta yang ada. Guru-guru kita masih memiliki beban untuk menyiapkan administrasi dengan format tertentu yang seringkali memicu stress. Mereka semestinya diberi kebebasan penuh untuk mendesain perangkat pembelajaran mereka, asalkan mereka memiliki dasar argumentasi yang kuat. Terkait libur guru, pemerintah semestinya memberi porsi libur yang lebih. alih-alih memberikan porsi libur proporsional, para guru di Indonesia memiliki jatah libur yang sangat terbatas. Di Indonesia, kebijakan libur guru menjadi kewenangan pemerintah daerah. Di beberapa daerah, guru diberi jatah libur hanya sebanyak 12 hari selama setahun. Parahnya, jatah libur tersebut hanya bisa diklaim saat para siswa libur. Lebih parahnya lagi, kadang pejabat cabang dinas mengada-adakan aturan pembatasan yang lebih rumit lagi tentang libur. Di antaranya, guru hanya boleh mengambil cuti selama sekian hari setiap semester, dan tidak diperkenankan untuk mengambil jatah cuti penuh dalam satu periode waktu sekaligus.

Kenapa dalam artikel ini hanya membahas isu tentang perangkat administrative dan jatah libur? Apakah hanya itu yang menjadi isu yang berkaitan dengan kesehatan mental guru? jawabannya adalah tidak. Sangat banyak isu yang berkaitan dengan kesehatan mental guru. Dua contoh itu hanyalah dua dari sekian banyak isu yang ada.

Intinya, kebijakan pendidikan yang berpihak pada guru perlu diwujudkan. Kita hanya bisa berharap pada guru-guru yang terjamin kesehatan mental nya untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik. Toh menurut penelitian ilmiah, kesehatan mental guru sangat berkorelasi positif dengan kualitas proses dan hasil belajar para peserta didik.

Selasa, 20 Juni 2023

Curhat Pada DahlanTalk

Pertama-tama, aku ingin ucapkan thanks buat blog ku ini. Aku anggap blog ini layaknya teman dekat yang bersedia mendengarkan keluh kesahku, sekaligus pendengar setia atas segala ide-ide ku tentang banyak hal.  karena ia benda mati, tentu aku tak bisa berharap ia bisa memberikan feedback atas semua yang aku sampaikan.

Kali ini, aku ingin curhat kepada blog ku ini tentang dunia kerja ku. Dunia kerja yang sudah aku geluti selama lebih dari 13 tahun. Cukup lama. Andai ia adalah seorang bocah, mungkin sekarang dia sudah mulai menapaki jenjang pendidikan sekolah menengah pertama. Minimal kelas tujuh lah. 

Di tempat kerja ku ini, aku merasa kurang mendapatkan dukungan untuk wellbeing ku. Tempat ku bekerja ini nampaknya memang tak begitu mempedulikan wellbeing pekerjanya.

Semua orang dituntut untuk bekerja dengan sistem disiplin neagtif. Semua harus nurut aturan. Aturan tentang jam kerja, tentang kehadiran, tentang banyak hal lainnya. Jika tidak menurut, maka konsekuensinya mengarah kepada gaji. Minimal, tunjangan profesi guru bisa terancam tidak cair, jika ada aturan yang dilanggar.

Lumrah sih, bahwa bekerja dalam satu sistem itu pasti ada aturan yang diberlakukan. Hanya saja, semestinya ada sistem yang menciptakan dan mengatur keseimbangan. Kita adalah manusia yang memiliki berbagai aspek kemanusiaan. Kita punya keluarga, dan perlu memiliki waktu untuk mengurus keluarga. Kita punya kebutuhan untuk refreshing. Kita punya hak untuk terbebas dari ketidaksehatan psikis, mental, emosional dan fisik. 

Di tempat kerjaku ini, aku merasa kurang mendapat dukungan terjaminnya wellbeing ku. 

Soal cuti libur, misalnya. Aku dan rekan-rekan guru lainnya sudah tidak memiliki hak libur seperti dulu, dimana ketika siswa libur maka guru otomatis boleh libur.

Sekarang, siswa libur, guru tidak otomatis boleh libur. 
jatah libur kita dibatasi 12 hari selama satu tahun.
Itu pun, kita hanya diperbolehkan mengambilnya selama siswa libur. 
Kita tidak diperbolehkan untuk mengambil cuti di luar hari libur semester. 

Belum lagi, atasan kami (Kepala Cabang Dinas) membuat modifikasi aturan.
Modifikasi aturan tersebut berupa pembatasan-pembatasan hari cuti yang diambil.
Contohnya, kita tidak diperbolehkan untuk mengambil cuti penuh di semester tertentu. Cuti tidak boleh diambil dan dihabiskan satu kali. Harus displit beberapa term.

Ada lagi kehendak (aku tidak menyebutnya aturan, karena memang tidak beraturan) atasan yang menginginkan supaya kita tidak mengambil cuti satu minggu penuh. Satu minggu hanya boleh diambil untuk cuti selama dua atau tiga hari. 

Ada-ada saja keinginan atasan (Ka. Cabdin). 

Entah apa dasar pemikirannya. Yang jelas, aku tak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan atas alasan kenapa ada pembatasan-pembatasan seperti itu.

Ada kesan bahwa pembatasan-pembatasan seperti itu hanya mengikuti ego pimpinan.

Padahal, sebagai sebuah lembaga publik yang bergerak dalam bidang pendidikan, setiap aturan atau kebijakan semestinya dibuat berdasarkan pertimbangan ilmiah. 


Di Australia, kenapa setiap guru diberi kesempatan untuk libur dua minggu setiap akhir tri wulan? Alasannya ada kaitannya dengan Wellbeing guru. para pemangku kebijakan menyadari bahwa guru adalah individu yang perlu dimanusiakan. Memberi jatah libur yang proporsional adalah cara memanusiakan guru. Memberi jatah libur yang cukup adalah cara mendukung wellbeing guru.


Liburan ada kaitannya dengan wellbeing. Wellbeing ada kaitannya dengan kreativitas, produktivitas, dan efektifitas kinerja. Orang yang kurang mendapatkan wellbeing akan rentan mengalami gejala gangguan kesehatan mental seperti stress dan depresi. Kondisi stres dan depresi berkorelasi negatif terhadap kinerja. Stres dan gangguan psikologis lainnya akan menurunkan kreativitas dan produktivitas.
itu lah yang menjadi dasar pemikiran kenapa perusahaan-perusahaan besar dunia sudah memberi perhatian khusus terhadap kesehatan mental para pekerjanya.
Kenapa para pejabat di dunia pendidikan kurang memberi perhatian terhadap aspek kesehatan mental tersebut? Jawabannya mungkin karena kurang wawasan. Mereka tidak belajar dan membaca trend-trend terbaru di negara-negara maju.

Rasa-rasanya, andai aku punya kuasa, ingin sekali mereka aku ganti. 
Saat mengganti dengan yang baru, akan ku beri pemahaman tentang bagaimana menjadi pemimpin yang cerdas melayani dan memanusiakan bawahan. 
Akan ku beri pemahaman tentang bagaimana membuat kebijakan yang berlandaskan akal yang sehat, bukan ego. 


Lantas kapan ya aku bisa mempunyai kuasa untuk itu?
Sooner or later, I will make it. I believe it.






















Sabtu, 10 Juni 2023

Spotlight Effect


Seringkali kita berpikir bahwa orang lain memperhatikan setiap langkah hidup kita. Kita merasa seperti seorang lakon dalam drama kehidupan. Seolah orang lain tidak memiliki urusan selain memperhatikan diri kita. Kita jadi gamang dalam melangkah karena takut kalau salah. Takut salah karena takut dinilai orang lain secara negative. Kita jadi bimbang dalam mencoba hal-hal baru karena takut gagal. Takut gagal, karena mengira bahwa orang lain akan menertawakan kita saat gagal.

Fenomena seperti itu sering disebut spotlight effect. Dan itu dialami oleh hamper sebagian besar manusia.

Padahal, pada kenyataannya, masing-masing orang sibuk dengan dunianya sendiri. Masing-masing orang juga merasakan spotlight effect yang sama. Masing-masing orang mungkin akan peduli terhadap urusanmu, atau urusan orang lain. Mereka mungkin akan menggosipkanmu atas hal yang kurang baik yang terjadi padamu. Tapi percayalah, mereka tidak akan lama memperdulikanmu.

Mungkin sesekali mereka akan menertawakanmu atas kegagalanmu, atau atas langkahmu yang mereka anggap aneh. Namun itu tidak akan berlangsung lama. Tertawanya mereka atasmu hanyalah sebentar saja. Percayalah. Kenapa bisa sebentar saja? Karena manusia memiliki kecenderungan bersikap individualis. Masing-masing orang sibuk menghadapi masalah-masalah mereka, urusan-urusan mereka, dan segala hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadi mereka.

Banyak orang takut berbicara di depan umum (public speaking) karena tidak ingin jika orang lain menertawakan salah ucap mereka. Sehingga, mereka memilih untuk duduk di kursi bagian paling belakang dan tidak mau tampil di depan orang banyak.

Banyak orang takut membuat konten video dan mengunggahnya di media sosial, karena takut sepi viewer dan ditertawakan orang nantinya. Atau takut kontennya jelek dan ditertawakan orang lain.

Benar-benar asumsi atas penilaian orang lain terhadap diri kita telah mengambat langkah hidup kita, dan telah merampas momentum dalam hidup kita.

Sayang sekali, banyak orang yang mengalami spotlight effect bukan hanya saat mereka kecil hingga remaja, melainkan hingga mereka berusia dewasa, bahkan tua. Dan aku termasuk orang yang telat menyadari spotlight effect tersebut, sadly.

Andai kita menyadari bahwa Spotlight effect itu nyata, maka kita tidak perlu merasa insecure atas apa pun langkah yang kita ambil dalam hidup, karena pada dasarnya everybody just minds their own business. They won’t give a fuck about your failure, your mistake, and your flaw for a long time.


Selasa, 06 Juni 2023

Lingkungan, Mindset, Alam Bawah Sadar, dan Pencapaian Besar

 

Ada banyak cara untuk bisa mencapai kekayaan melimpah, status social yang tinggi, dan pencapaian hidup lainnya yang tinggi. Namun, kenapa banyak orang yang tidak (belum) meraihnya?

Jawabannya bisa beragam. Bisa jadi, karena mereka tidak menemukan cara untuk meraihnya. Namun dari sekian banyak alasan kenapa orang belum meraih pencapaian besar dalam hidupnya, satu alasan yang sangat mendasar ada pada mindset.

Betapa banyak orang yang meyakini bahwa mereka sebenarnya tidak layak untuk meraih pencapaian besar.

Betapa banyak orang yang justru meyakini bahwa kondisi penuh kekurangan yang mereka alami adalah nasib yang harus diterima dengan lapang dada dan penuh kepasrahan.

Betapa banyak orang yang alam bawah sadarnya meyakini bahwa mereka tidak pantas untuk meraih pencapaian besar.

Sementara…

Orang-orang dengan pencapaian besar dalam hidupnya meyakini bahwa mereka layak untuk hidup penuh keberlimpahan dan kesuksesan.

Keyakinan tersebut terbentuk dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Diantara sekian banyak faktor yang berpengaruh terhadap keyakinan tersebut adalah faktor Pendidikan dari keluarga.

Keluarga kaya raya akan cenderung menumbuhkan mindset bahwa mencari kekayaaan itu mudah, bahwa kaya raya itu adalah hak mereka dan mereka layak untuk meraihnya.

Bahkan, tanpa diajari secara sadar bahwa mereka bisa kaya, mindset kaya anak-anak yang dibesarkan di keluarga kaya akan terbentuk dengan sendirinya melalui lingkungan dimana mereka tinggal. Mereka menyadari bahwa mereka mudah mendapatkan relasi bisnis. Mereka menyadari bagaimana memberdayakan orang lain untuk tujuan ekonomi mereka. Mereka memahami bagaimana mendapatkan permodalan.

Alam bawah sadar mereka tersetting bahwa mereka adalah orang-orang yang mudah untuk meraih hidup yang berkelimpahan.

Itulah kenapa orang kaya yang jatuh bangkrut cenderung mudah bounce back. Kebangkitan mudah diwujudkan karena mereka mengetahui memiliki mindset bahwa mereka adalah orang kaya. Mereka meyakini bahwa cara meraih kekayaan itu mudah.  

Itu adalah privilege orang-orang kaya dan berpencapaian besar.

Sementara, orang-orang yang sedari lahir hidup penuh kekurangan, cenderung kesulitan untuk merubah kondisi mereka. Lingkungan mereka meyakinkan mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang memang terlahir untuk mengalami kekurangan. Nasib mereka bisa berubah karena beberapa hal. Hal pertama, lingkungan yang menstimulasi mereka untuk berhasil. Untuk meraih lingkungan yang menstimulasi mereka, tentu mereka harus berhijrah atau merantau. ketika merantau dan memasuki lingkungan yang berisi orang-orang yang bisa menginspirasi, maka ada peluang orang tersebut bisa berubah. Kisah tentang Liem Goh Tong cukup bisa menjadi bukti akan hal ini. Dia yang merupakan orang miskin dari Cina daratan memilih bermigrasi dan hidup Malaysia. Dia meniti pekerjaan sebagai seorang buruh proyek. Dari situ dia merintis usaha dalam bidang konstruksi hingga menjadi orang yang berkelimpahan.

Kedua, akses Pendidikan. Pendidikan di sini tidak diartikan sebagai pendidikan formal semata, karena pada kenyataannya, banyak orang berpendidikan tinggi yang masih belum bisa meraih keberlimpahan dalam hidup. Pendidikan di sini bisa berupa ilmu dari sumber apa pun yang mereka dapatkan dan langsung praktikkan hingga berhasil. Di era pesatnya perkembangan teknologi informasi seperti sekarang ini, kesempatan terbuka luas bagi siapapun untuk berubah meraih pencapaian besar dalam hidup. Meskipun kesempatan begitu banyak, banyak orang yang melewatkan kesempatan tersebut. Satu yang membuat mereka melewatkan kesempatan tersebut adalah mindset negative. Mereka tidak meyakini bahwa mereka layak untuk meraih keberhasilan. Banyak orang berhasil karena berada di lingkungan yang penuh dengan orang berhasil.

Mindset itu penting.

Berada di lingkungan yang tepat yang bisa menumbuhkan mindset positif kita itu lebih penting. Itu adalah awal dari mindset positif bertumbuh.

Senin, 29 Mei 2023

Google Earth dan Obsesi terhadap Travelling


 

Sejak pertamakali mengenal google earth, aku sudah terobsesi dengan menjelajahi dunia. Aku sering iseng meluangkan waktu untuk melihat peta berbagai kota dan tempat indah di berbagai belahn dunia. Internet memang membuat semuanya terlihat mudah dijangkau.

Setiap kali aku zoom in suatu wilayah di google map, aku selalu berpikir bahwa dunia ini begitu luas. Masa iya aku hanya mendiami atau singgah di sebagian kecil wilayah saja. Aku ingin mengeksplorasi berbagai tempat untuk melihat keragaman keindahan alamnya, budayanya, manusianya, makanannya, dan sebagainya.

Semakin hari, semakin bertambah usia, bukannya obsesiku semakin surut untuk menjelajahi dunia. Justru semakin membesar dan membuncah.

Masalahnya adalah aku sejauh ini masih belum sepenuhnya memiliki kemerdekaan waktu dan finansial. Yang baru kumiliki hanya kemerdekaan kehendak. Itu pun terbatasi oleh dua jenis kemerdekaan tadi. Aku masih terikat pekerjaan rutin.

Kadang uang untuk traveling sudah terkumpul, namun kendala ketersediaan waktu muncul. Kadang ada waktu, namun ketersediaan uang traveling kurang memadai, apalagi untuk menjangkau belahan bumi lain yang letaknya sangat jauh dari tempat aku tinggal.

Satu cara yang cukup jitu untuk aku traveling adalah melalui beasiswa studi di luar negeri. Melalui beasiswa, aku bisa menjelajah berbagai negara selain negara tempat studi. Seperti yang pernah aku lakukan ketika mendapat beasiswa studi di jepang dan Australia. Melaluinya, aku bisa berkunjung ke beberapa negara seperti korea, Malaysia, hongkong, filipina dan singapura.

Mencari kesempatan untuk traveling melalui beasiswa memang menggiurkan. Namun, cara ini memiliki keterbatasan. Beasiswa mensyaratkan Batasan usia tertentu. Maka dari itu, sulit untuk mengandalkannya sebagai jalan untuk bisa traveling ke luar negeri secara berkesinambungan.  Pada usia tertentu, aku tak bisa lagi mengandalkan beasiswa untuk bisa traveling ke luar negeri.

Kini, aku berpikir dan berjuang keras bagaimana caranya agar aku mencapai freedom. Hidup ini begitu indah. Aku tak mau terkungkung di suatu tempat saja hingga akhir hayatku. Aku ingin bisa mengepakkan sayap laksana burung garuda yang bisa menjelajah ke berbagai belahan dunia.

Dengannya, aku bisa menikmati karunia Alloh berupa hamparan bumi yang begitu luas, indah, mempesona dan luar biasa.

Ketika aku mencapai freedom nanti, aku akan jadikan every part of hemisphere is my hometown. 

Mengeksplorasi berbagai tempat di berbagai belahan dunia, sambil melakukan kegiatan filantropi. Terasa dan kebayang banget keindahan dan kebermaknaannya. 

Sabtu, 06 Mei 2023

Nonton Film

 

Bagaimana perasaanmu ketika menonton suatu film yang kamu sudah mengetahui alur ceritanya?

Apa menariknya?

Sebagian film memang menarik, walau ditonton berulang-ulang. Film inspiratif seperti “The Three idiots”, misalnya.

Namun semenarik-menariknya film, lambat laun tetap lah menimbulkan rasa bosan ketika ditonton secara berulang.

Begitu pula hidup yang dijalani dengan cerita yang sudah kita ketahui alurnya.

Jujur, kini aku sedang merasa berada di titik stagnansi. Terkait pekerjaan.

Aku mendambakan pertumbuhan, perubahan, dan peningkatan. Namun sepertinya berada di rel ini tidak akan membawaku kemana-mana. Aku hanya akan menjadi siapa diriku yang flat itu.

Aku sudah berupaya memantaskan diri untuk menjadi seorang berdedikasid an berkualifikasi tinggi dalam dunia pendidikan yang aku tekuni. Namun aku masih lah diriku selayaknya dulu yang masih pendek jangkauan tangan dan kakinya.

Ide-ide bermunculan, tentang bagaimana mengembangkan penyelenggaraan pendidikan. namun sejauh ini seringkali terbentur oleh ketiadaan kemampuan untuk membiat kebijakan.

Jangankan kebijakan pendidikan di level makro, di level kecil seperti sekolah saja ide-ide ku seringkali terbentur oleh ketiadaan otoritas untuk membuat kebijakan.

Itu hal stagnan yang pertama.

Selanjutnya, terkait finansial. Aku bersyukur diberi kecukupan rezeki. Untuk kebutuhan primer aku tidak kekurangan. Namun, aku belum mencapai level kebebasan finansial yang biasanya membuat orang bisa berderma banyak kepada sesama.

Ide begitu banyak. Namun masih bingung, darimana memulainya.

Ini lah paradoksalnya ide. Ketika tidak ada ide, orang bingung mau melakukan apa. Ketika ide begitu banyak, orang juga bingung mau mengeksekusi ide yang mana. Akhirnya kadang ktia tidak kemana-mana dan hanya menghabiskan waktu tanpa melakukan apa-apa.

Waktu terus berlalu-harus ada tindakan yang dilakukan.

Akhirnya aku sedang mencoba mengeksekusi satu pilihan ide.

Bismillah…semoga lancer sukses dan berkah.