Sabtu, 07 Maret 2026

Waktu Lebih Berharga dari Uang

 


Betapa waktu adalah lebih bear nilainya dari uang. bukan sekedar “uang bia dicari, namun waktu tidak bisa kembali”, melainkan juga uang seharusnya ditempatkan di bawah waktu. Bukan waktu ditukarkan dengan uang, melainkan uang yang harusnya ditukarkan dengan waktu. Beda!

Aku baru menyadari makna hakiki dari waktu lebih berharga dari uang, setelah merenungi beberapa pengalmaan hidup. Banyak hal yang telah aku lewatkan, karena kurang bijaknya (kurang tepat) aku memperlakukan uang dan waktu.

Aku berandai-andai.

Pertama, andai pada tahun 2018 aku bersedia mengambil kursus berbayar senilai tiga juta rupiah untuk pendalaman Facebook dan Instagram Ads, mungkin aku sudah termasuk jajaran orang yang berhasil meraih momentum keberhasilan dari boomingnya Facebook dan Instagram Ads pada waktu itu.

Sayangnya waktu itu aku merasa eman-eman untuk menginvestasikannya ke dalam kursus tersebut. berpikir dan berharap bahwa belajar secara mandiri di platfor gratis seperti Youtube bisa membuatku menguasai hal yang berbayar tersebut, dengan kualitas kedalaman pemahaman yang sama. Ternyata aku salah arah, dan gagal meraih momentum tersebut.

Kedua, andai dua tahun lalu aku bersedia membayar jasa pembuatan web yang nilainya tidak lebih dari 10 juta itu, mungkin aku sekarang sudah menikmati hasilnya, dan focus mengembangkan Search Engine Optimization (SEO) website yang aku punya. Alih-alih mengambil opsi tersebut, aku memutuskan untuk mengambil kursus website development, dan berharap bisa membuat website sendiri. Bukan belajar membuat website nya yang keliru, bahkan itu penting. Masalahnya, aku tidak kerja secara tuntas. Menyewa jasa pembuatan website tidak aku lakukan, sementara skill membuat website ku tak kunjung mencapai level sempurna, karena aku terlalu banyak larut dalam berbagai distraksi.

Andai website ku sudah terbangun dua tahun lalu, semestinya bisnis ekspor vanili ku sudah jauh berkembang melebihi sekarang, dengan buyer loyal dari berbagai negara. Bahkan bukan tidka mungkin aku sudah mendapatkan Purchase Order (PO) rutin dari buyer tertentu dengan nilai per tahun puluhan milyar rupiah.

Ketiga, andai di tahun 2022 aku mau mengambil kursus pengembangan channel Youtube yang nilainya belaan juta rupiah itu, mungkin sekarang aku sedang menikmati financial and willing freedom. Tak perlu terjebak dalam rutinitas mengikat seperti yang aku alami sekarang. Kegiatanku udah semetinya seputar making money a lot, travelling, invetasi akhirat, ibadah secara rutin, dan menjalani hidup secara lebih fulfilling sebagaimana yang aku inginkan.

Keempat, andai tahun lalu akum au menukarkan uangku untuk upgrade akun Alibaba dan invest di KWA, mungkin aku sudah dapatkan buyer lebih dengan nilai transaksi milyaran rupiah tiap bulannya. Kalo untuk urusan ini, aku tidak sepenuhnya menyalahkan diri sendiri, karena memang keputusan untuk spending money di dua hal tersebut ditentukan bukan hanya oleh diriku, melinkan juga oleh partner bisnisku.

Banyak momentum yang aku lewatkan, hanya karena aku menempatkan uang di atas waktu, bukan sebaliknya.

Aku belajar dari pengalaman-pengalaman ini.

Insya Alloh aku akan lebih baik lagi.

Anyway, aku maish berterimakasih pada diri sendiri dan bangga pada diri sendiri.

Setidaknya, aku sudah mengambil langkah yang tepat terjun di bisnis ekspor.

Semoga pengiriman cocofiber perdanaku ke China ini lancar, buyer benar-benar loyal, dan pengiriman cocofiber ini terus berkembang.

Semoga orderan Vanili dari Yon Guk Chu makin banyak. Aku sih mampu untuk  memenuhi PO setidaknya 2 ton vanili per bulan.

Semoga aku lekas membuat perusahaan ekspor komoditas perikanan dan berhasil.

Semoga ini semua menjadi jalan amal jariahku, sehingga aku yang penuh dosa ini layak menjadi hambaNya yang meraih tempat special di sisiNya kelak di akhirat.

Amiin amiin Yaa Robal Alamiin!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar