Selasa, 20 Juni 2023

Curhat Pada DahlanTalk

Pertama-tama, aku ingin ucapkan thanks buat blog ku ini. Aku anggap blog ini layaknya teman dekat yang bersedia mendengarkan keluh kesahku, sekaligus pendengar setia atas segala ide-ide ku tentang banyak hal.  karena ia benda mati, tentu aku tak bisa berharap ia bisa memberikan feedback atas semua yang aku sampaikan.

Kali ini, aku ingin curhat kepada blog ku ini tentang dunia kerja ku. Dunia kerja yang sudah aku geluti selama lebih dari 13 tahun. Cukup lama. Andai ia adalah seorang bocah, mungkin sekarang dia sudah mulai menapaki jenjang pendidikan sekolah menengah pertama. Minimal kelas tujuh lah. 

Di tempat kerja ku ini, aku merasa kurang mendapatkan dukungan untuk wellbeing ku. Tempat ku bekerja ini nampaknya memang tak begitu mempedulikan wellbeing pekerjanya.

Semua orang dituntut untuk bekerja dengan sistem disiplin neagtif. Semua harus nurut aturan. Aturan tentang jam kerja, tentang kehadiran, tentang banyak hal lainnya. Jika tidak menurut, maka konsekuensinya mengarah kepada gaji. Minimal, tunjangan profesi guru bisa terancam tidak cair, jika ada aturan yang dilanggar.

Lumrah sih, bahwa bekerja dalam satu sistem itu pasti ada aturan yang diberlakukan. Hanya saja, semestinya ada sistem yang menciptakan dan mengatur keseimbangan. Kita adalah manusia yang memiliki berbagai aspek kemanusiaan. Kita punya keluarga, dan perlu memiliki waktu untuk mengurus keluarga. Kita punya kebutuhan untuk refreshing. Kita punya hak untuk terbebas dari ketidaksehatan psikis, mental, emosional dan fisik. 

Di tempat kerjaku ini, aku merasa kurang mendapat dukungan terjaminnya wellbeing ku. 

Soal cuti libur, misalnya. Aku dan rekan-rekan guru lainnya sudah tidak memiliki hak libur seperti dulu, dimana ketika siswa libur maka guru otomatis boleh libur.

Sekarang, siswa libur, guru tidak otomatis boleh libur. 
jatah libur kita dibatasi 12 hari selama satu tahun.
Itu pun, kita hanya diperbolehkan mengambilnya selama siswa libur. 
Kita tidak diperbolehkan untuk mengambil cuti di luar hari libur semester. 

Belum lagi, atasan kami (Kepala Cabang Dinas) membuat modifikasi aturan.
Modifikasi aturan tersebut berupa pembatasan-pembatasan hari cuti yang diambil.
Contohnya, kita tidak diperbolehkan untuk mengambil cuti penuh di semester tertentu. Cuti tidak boleh diambil dan dihabiskan satu kali. Harus displit beberapa term.

Ada lagi kehendak (aku tidak menyebutnya aturan, karena memang tidak beraturan) atasan yang menginginkan supaya kita tidak mengambil cuti satu minggu penuh. Satu minggu hanya boleh diambil untuk cuti selama dua atau tiga hari. 

Ada-ada saja keinginan atasan (Ka. Cabdin). 

Entah apa dasar pemikirannya. Yang jelas, aku tak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan atas alasan kenapa ada pembatasan-pembatasan seperti itu.

Ada kesan bahwa pembatasan-pembatasan seperti itu hanya mengikuti ego pimpinan.

Padahal, sebagai sebuah lembaga publik yang bergerak dalam bidang pendidikan, setiap aturan atau kebijakan semestinya dibuat berdasarkan pertimbangan ilmiah. 


Di Australia, kenapa setiap guru diberi kesempatan untuk libur dua minggu setiap akhir tri wulan? Alasannya ada kaitannya dengan Wellbeing guru. para pemangku kebijakan menyadari bahwa guru adalah individu yang perlu dimanusiakan. Memberi jatah libur yang proporsional adalah cara memanusiakan guru. Memberi jatah libur yang cukup adalah cara mendukung wellbeing guru.


Liburan ada kaitannya dengan wellbeing. Wellbeing ada kaitannya dengan kreativitas, produktivitas, dan efektifitas kinerja. Orang yang kurang mendapatkan wellbeing akan rentan mengalami gejala gangguan kesehatan mental seperti stress dan depresi. Kondisi stres dan depresi berkorelasi negatif terhadap kinerja. Stres dan gangguan psikologis lainnya akan menurunkan kreativitas dan produktivitas.
itu lah yang menjadi dasar pemikiran kenapa perusahaan-perusahaan besar dunia sudah memberi perhatian khusus terhadap kesehatan mental para pekerjanya.
Kenapa para pejabat di dunia pendidikan kurang memberi perhatian terhadap aspek kesehatan mental tersebut? Jawabannya mungkin karena kurang wawasan. Mereka tidak belajar dan membaca trend-trend terbaru di negara-negara maju.

Rasa-rasanya, andai aku punya kuasa, ingin sekali mereka aku ganti. 
Saat mengganti dengan yang baru, akan ku beri pemahaman tentang bagaimana menjadi pemimpin yang cerdas melayani dan memanusiakan bawahan. 
Akan ku beri pemahaman tentang bagaimana membuat kebijakan yang berlandaskan akal yang sehat, bukan ego. 


Lantas kapan ya aku bisa mempunyai kuasa untuk itu?
Sooner or later, I will make it. I believe it.






















Sabtu, 10 Juni 2023

Spotlight Effect


Seringkali kita berpikir bahwa orang lain memperhatikan setiap langkah hidup kita. Kita merasa seperti seorang lakon dalam drama kehidupan. Seolah orang lain tidak memiliki urusan selain memperhatikan diri kita. Kita jadi gamang dalam melangkah karena takut kalau salah. Takut salah karena takut dinilai orang lain secara negative. Kita jadi bimbang dalam mencoba hal-hal baru karena takut gagal. Takut gagal, karena mengira bahwa orang lain akan menertawakan kita saat gagal.

Fenomena seperti itu sering disebut spotlight effect. Dan itu dialami oleh hamper sebagian besar manusia.

Padahal, pada kenyataannya, masing-masing orang sibuk dengan dunianya sendiri. Masing-masing orang juga merasakan spotlight effect yang sama. Masing-masing orang mungkin akan peduli terhadap urusanmu, atau urusan orang lain. Mereka mungkin akan menggosipkanmu atas hal yang kurang baik yang terjadi padamu. Tapi percayalah, mereka tidak akan lama memperdulikanmu.

Mungkin sesekali mereka akan menertawakanmu atas kegagalanmu, atau atas langkahmu yang mereka anggap aneh. Namun itu tidak akan berlangsung lama. Tertawanya mereka atasmu hanyalah sebentar saja. Percayalah. Kenapa bisa sebentar saja? Karena manusia memiliki kecenderungan bersikap individualis. Masing-masing orang sibuk menghadapi masalah-masalah mereka, urusan-urusan mereka, dan segala hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadi mereka.

Banyak orang takut berbicara di depan umum (public speaking) karena tidak ingin jika orang lain menertawakan salah ucap mereka. Sehingga, mereka memilih untuk duduk di kursi bagian paling belakang dan tidak mau tampil di depan orang banyak.

Banyak orang takut membuat konten video dan mengunggahnya di media sosial, karena takut sepi viewer dan ditertawakan orang nantinya. Atau takut kontennya jelek dan ditertawakan orang lain.

Benar-benar asumsi atas penilaian orang lain terhadap diri kita telah mengambat langkah hidup kita, dan telah merampas momentum dalam hidup kita.

Sayang sekali, banyak orang yang mengalami spotlight effect bukan hanya saat mereka kecil hingga remaja, melainkan hingga mereka berusia dewasa, bahkan tua. Dan aku termasuk orang yang telat menyadari spotlight effect tersebut, sadly.

Andai kita menyadari bahwa Spotlight effect itu nyata, maka kita tidak perlu merasa insecure atas apa pun langkah yang kita ambil dalam hidup, karena pada dasarnya everybody just minds their own business. They won’t give a fuck about your failure, your mistake, and your flaw for a long time.


Selasa, 06 Juni 2023

Lingkungan, Mindset, Alam Bawah Sadar, dan Pencapaian Besar

 

Ada banyak cara untuk bisa mencapai kekayaan melimpah, status social yang tinggi, dan pencapaian hidup lainnya yang tinggi. Namun, kenapa banyak orang yang tidak (belum) meraihnya?

Jawabannya bisa beragam. Bisa jadi, karena mereka tidak menemukan cara untuk meraihnya. Namun dari sekian banyak alasan kenapa orang belum meraih pencapaian besar dalam hidupnya, satu alasan yang sangat mendasar ada pada mindset.

Betapa banyak orang yang meyakini bahwa mereka sebenarnya tidak layak untuk meraih pencapaian besar.

Betapa banyak orang yang justru meyakini bahwa kondisi penuh kekurangan yang mereka alami adalah nasib yang harus diterima dengan lapang dada dan penuh kepasrahan.

Betapa banyak orang yang alam bawah sadarnya meyakini bahwa mereka tidak pantas untuk meraih pencapaian besar.

Sementara…

Orang-orang dengan pencapaian besar dalam hidupnya meyakini bahwa mereka layak untuk hidup penuh keberlimpahan dan kesuksesan.

Keyakinan tersebut terbentuk dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Diantara sekian banyak faktor yang berpengaruh terhadap keyakinan tersebut adalah faktor Pendidikan dari keluarga.

Keluarga kaya raya akan cenderung menumbuhkan mindset bahwa mencari kekayaaan itu mudah, bahwa kaya raya itu adalah hak mereka dan mereka layak untuk meraihnya.

Bahkan, tanpa diajari secara sadar bahwa mereka bisa kaya, mindset kaya anak-anak yang dibesarkan di keluarga kaya akan terbentuk dengan sendirinya melalui lingkungan dimana mereka tinggal. Mereka menyadari bahwa mereka mudah mendapatkan relasi bisnis. Mereka menyadari bagaimana memberdayakan orang lain untuk tujuan ekonomi mereka. Mereka memahami bagaimana mendapatkan permodalan.

Alam bawah sadar mereka tersetting bahwa mereka adalah orang-orang yang mudah untuk meraih hidup yang berkelimpahan.

Itulah kenapa orang kaya yang jatuh bangkrut cenderung mudah bounce back. Kebangkitan mudah diwujudkan karena mereka mengetahui memiliki mindset bahwa mereka adalah orang kaya. Mereka meyakini bahwa cara meraih kekayaan itu mudah.  

Itu adalah privilege orang-orang kaya dan berpencapaian besar.

Sementara, orang-orang yang sedari lahir hidup penuh kekurangan, cenderung kesulitan untuk merubah kondisi mereka. Lingkungan mereka meyakinkan mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang memang terlahir untuk mengalami kekurangan. Nasib mereka bisa berubah karena beberapa hal. Hal pertama, lingkungan yang menstimulasi mereka untuk berhasil. Untuk meraih lingkungan yang menstimulasi mereka, tentu mereka harus berhijrah atau merantau. ketika merantau dan memasuki lingkungan yang berisi orang-orang yang bisa menginspirasi, maka ada peluang orang tersebut bisa berubah. Kisah tentang Liem Goh Tong cukup bisa menjadi bukti akan hal ini. Dia yang merupakan orang miskin dari Cina daratan memilih bermigrasi dan hidup Malaysia. Dia meniti pekerjaan sebagai seorang buruh proyek. Dari situ dia merintis usaha dalam bidang konstruksi hingga menjadi orang yang berkelimpahan.

Kedua, akses Pendidikan. Pendidikan di sini tidak diartikan sebagai pendidikan formal semata, karena pada kenyataannya, banyak orang berpendidikan tinggi yang masih belum bisa meraih keberlimpahan dalam hidup. Pendidikan di sini bisa berupa ilmu dari sumber apa pun yang mereka dapatkan dan langsung praktikkan hingga berhasil. Di era pesatnya perkembangan teknologi informasi seperti sekarang ini, kesempatan terbuka luas bagi siapapun untuk berubah meraih pencapaian besar dalam hidup. Meskipun kesempatan begitu banyak, banyak orang yang melewatkan kesempatan tersebut. Satu yang membuat mereka melewatkan kesempatan tersebut adalah mindset negative. Mereka tidak meyakini bahwa mereka layak untuk meraih keberhasilan. Banyak orang berhasil karena berada di lingkungan yang penuh dengan orang berhasil.

Mindset itu penting.

Berada di lingkungan yang tepat yang bisa menumbuhkan mindset positif kita itu lebih penting. Itu adalah awal dari mindset positif bertumbuh.

Senin, 29 Mei 2023

Google Earth dan Obsesi terhadap Travelling


 

Sejak pertamakali mengenal google earth, aku sudah terobsesi dengan menjelajahi dunia. Aku sering iseng meluangkan waktu untuk melihat peta berbagai kota dan tempat indah di berbagai belahn dunia. Internet memang membuat semuanya terlihat mudah dijangkau.

Setiap kali aku zoom in suatu wilayah di google map, aku selalu berpikir bahwa dunia ini begitu luas. Masa iya aku hanya mendiami atau singgah di sebagian kecil wilayah saja. Aku ingin mengeksplorasi berbagai tempat untuk melihat keragaman keindahan alamnya, budayanya, manusianya, makanannya, dan sebagainya.

Semakin hari, semakin bertambah usia, bukannya obsesiku semakin surut untuk menjelajahi dunia. Justru semakin membesar dan membuncah.

Masalahnya adalah aku sejauh ini masih belum sepenuhnya memiliki kemerdekaan waktu dan finansial. Yang baru kumiliki hanya kemerdekaan kehendak. Itu pun terbatasi oleh dua jenis kemerdekaan tadi. Aku masih terikat pekerjaan rutin.

Kadang uang untuk traveling sudah terkumpul, namun kendala ketersediaan waktu muncul. Kadang ada waktu, namun ketersediaan uang traveling kurang memadai, apalagi untuk menjangkau belahan bumi lain yang letaknya sangat jauh dari tempat aku tinggal.

Satu cara yang cukup jitu untuk aku traveling adalah melalui beasiswa studi di luar negeri. Melalui beasiswa, aku bisa menjelajah berbagai negara selain negara tempat studi. Seperti yang pernah aku lakukan ketika mendapat beasiswa studi di jepang dan Australia. Melaluinya, aku bisa berkunjung ke beberapa negara seperti korea, Malaysia, hongkong, filipina dan singapura.

Mencari kesempatan untuk traveling melalui beasiswa memang menggiurkan. Namun, cara ini memiliki keterbatasan. Beasiswa mensyaratkan Batasan usia tertentu. Maka dari itu, sulit untuk mengandalkannya sebagai jalan untuk bisa traveling ke luar negeri secara berkesinambungan.  Pada usia tertentu, aku tak bisa lagi mengandalkan beasiswa untuk bisa traveling ke luar negeri.

Kini, aku berpikir dan berjuang keras bagaimana caranya agar aku mencapai freedom. Hidup ini begitu indah. Aku tak mau terkungkung di suatu tempat saja hingga akhir hayatku. Aku ingin bisa mengepakkan sayap laksana burung garuda yang bisa menjelajah ke berbagai belahan dunia.

Dengannya, aku bisa menikmati karunia Alloh berupa hamparan bumi yang begitu luas, indah, mempesona dan luar biasa.

Ketika aku mencapai freedom nanti, aku akan jadikan every part of hemisphere is my hometown. 

Mengeksplorasi berbagai tempat di berbagai belahan dunia, sambil melakukan kegiatan filantropi. Terasa dan kebayang banget keindahan dan kebermaknaannya. 

Sabtu, 06 Mei 2023

Nonton Film

 

Bagaimana perasaanmu ketika menonton suatu film yang kamu sudah mengetahui alur ceritanya?

Apa menariknya?

Sebagian film memang menarik, walau ditonton berulang-ulang. Film inspiratif seperti “The Three idiots”, misalnya.

Namun semenarik-menariknya film, lambat laun tetap lah menimbulkan rasa bosan ketika ditonton secara berulang.

Begitu pula hidup yang dijalani dengan cerita yang sudah kita ketahui alurnya.

Jujur, kini aku sedang merasa berada di titik stagnansi. Terkait pekerjaan.

Aku mendambakan pertumbuhan, perubahan, dan peningkatan. Namun sepertinya berada di rel ini tidak akan membawaku kemana-mana. Aku hanya akan menjadi siapa diriku yang flat itu.

Aku sudah berupaya memantaskan diri untuk menjadi seorang berdedikasid an berkualifikasi tinggi dalam dunia pendidikan yang aku tekuni. Namun aku masih lah diriku selayaknya dulu yang masih pendek jangkauan tangan dan kakinya.

Ide-ide bermunculan, tentang bagaimana mengembangkan penyelenggaraan pendidikan. namun sejauh ini seringkali terbentur oleh ketiadaan kemampuan untuk membiat kebijakan.

Jangankan kebijakan pendidikan di level makro, di level kecil seperti sekolah saja ide-ide ku seringkali terbentur oleh ketiadaan otoritas untuk membuat kebijakan.

Itu hal stagnan yang pertama.

Selanjutnya, terkait finansial. Aku bersyukur diberi kecukupan rezeki. Untuk kebutuhan primer aku tidak kekurangan. Namun, aku belum mencapai level kebebasan finansial yang biasanya membuat orang bisa berderma banyak kepada sesama.

Ide begitu banyak. Namun masih bingung, darimana memulainya.

Ini lah paradoksalnya ide. Ketika tidak ada ide, orang bingung mau melakukan apa. Ketika ide begitu banyak, orang juga bingung mau mengeksekusi ide yang mana. Akhirnya kadang ktia tidak kemana-mana dan hanya menghabiskan waktu tanpa melakukan apa-apa.

Waktu terus berlalu-harus ada tindakan yang dilakukan.

Akhirnya aku sedang mencoba mengeksekusi satu pilihan ide.

Bismillah…semoga lancer sukses dan berkah.

 

Senin, 01 Mei 2023

Siswa Indonesia itu literally overwhelmed. Mereka rentan stress. Kasihan!

 


 

Tulisan ini tentang betapa kasihannya para siswa di Indonesia. kasihan gimana maksudnya?

Gimana gak kasihan. Mereka harus mempelajari berbagai mata pelajaran setiap hari aktif sekolah. Kelas X SMA/SMK saja, mereka memiliki beban belajar sekitar 15-17 mata pelajaran. Mengapa disebut “beban belajar”? Bukankah mempelajari itu semua akan baik buat mereka? Faktanya, itu beban. Bagaimana tidak beban? Mereka harus mempelajari berbagai mata pelajaran, mau tidak mau, suka tidak suka. Di setiap mata pelajaran ada passing grade (KKM) yang harus mereka capai. Jika tidak bisa mencapainya.

Mempelajari banyak hal yang tidak disukai dengan terpaksa demi meraih batas nilai tertentu, apakah kira-kira tidak membuat stress?

Logika waras tentu akan menyimpulkan bahwa that’s sort of stress-making thing.

Insane nya, mereka harus mempelajari itu semua di lima hari sekolah setiap minggunya, dari pagi hingga sore. Siklus belajar seperti itu sebenernya juga kurang efektif untuk membuat para siswa paham, enjoy dan sehat secara mental, emosional, psikis maupun fisik. Namun sejauh ini Nampak belum ada perubahan atas kebijakan dalam dunia pendidikan tersebut.

Belum lagi, mereka masih memiliki beban untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaan Rumah (PR) saat berada di rumah. Meski topik tentang kontraproduktifnya PR sudah lama menjadi bahan diskusi, namun masih banyak guru yang membebani para siswa dengan berbagai PR dan tugas dengan level kesulitan yang beragam.

Semudah-mudahnya tugas dan PR, jika setiap guru mata pelajaran memberikan tugas dan PR, maka tentu hal tersebut cukup menjadi beban buat para siswa.

Para siswa adalah makhluk yang membutuhkan keseimbangan (learn and life balance) juga, sebagaimana manusia dewasa. Mereka butuh untuk berpartisipasi aktif dalam lingkungan di luar sekolah, seperti lingkungan social dan keluarga. Mereka butuh waktu untuk bermain, mereka butuh waktu untuk mengasah dan menyalurkan hobinya yang tidak ada hubungannya dengan dunia persekolahan. Sebagian dari mereka butuh mencari uang untuk membantu perekonomian keluarga. Banyak kegiatan ekstra yang tidak kalah penting buat mereka, di luar kegiatan persekolahan.

Wellbeing para siswa di Indonesia nyatanya memang belum mendapat perhatian serius. Sementara di Negara-negara dengan system pendidikan yang maju, wellbeing menjadi isu serius yang diperhatikan dan diarusutamakan dalam kebijakan pendidikan.

Dalam suatu kesempatan collaborative learning melalui media online antara sekolah Indonesia dengans ebuah sekolah dari Australia, para siswa dari kedua sekolah kaget dan heran dengan perbedaan signifikan tentang jumlah jam belajar per minggu yang harus di pelajari oleh para siswa di Indonesia dan Australia. Di Indonesia, kelas X SMA/SMk harus mempelajari sekitar 14017 mata pelajaran, dan hal tersebut membuat para siswa di auastralia kaget. Tak kalah kaget para siswa Indonesia ketika mengetahui bahwa untuk jenjang kelas yang smaa, di  austarlia, para siswa hanya dibebani belajar 6-7 mata pelajaran. Di sekolah-sekolah di Austarlia, ada mata pelajaran wajib, dan ada mata pelajaran pilihan yang benar-benar bisa dipilih oleh para siswa secara merdeka. Perbedaannya njomplang sekali bukan?

Dengan fakta seperti itu, jangan heran ketika para siswa di Indonesia secara emosi, mental dan psikis terpengaruh secara negative akibat overwhelmingnya beban belajar yang harus mereka emban. Bahkan hal tersebut bisa jadi berpengaruh terhadap attitude dan karakter mereka (ini hanya hipotesis, dan tentu perlu penelitian nyata).

Itlah sedikit gambaran tentang betapa overwhelmed nya para siswa di Indonesia.

Kasian!

Jumat, 24 Maret 2023

Menjadi Seorang Martir

 

Sudah sekian tahun aku menjadi guru, Aku tak pernah kepo tentang urusan manajemen keuangan sekolah. aku selalu percaya bahwa semua baik-baik saja. Aku percaya bahwa pengelolaan keuangan sekolah baik-baik saja. Aku meyakini bahwa mereka yang mengelola keuangan memiliki integritas. Sepertinya pemikiran seperti itu juga dimiliki oleh para guru lain. Mereka juga mungkin sama-sama meyakini bahwa pengelolaan keuangan sekolah dijalankan dengan penuh akuntabilitas dan kredibilitas.

Namun itu lah jeleknya kepercayaan. Ketika semua orang percaya dan tidak berpikir dan bertindak kritis, maka peluang-peluang oknum untuk melakukan penyalahgunaan wewenang cenderung muncul. Jangankan orang yang tipis imannya. Orang yang paham tentang agama pun, ketika disuguhkan oleh peluang untuk berbuat curang bisa saja tergoda. oleh karena itu, dalam suatu organisasi, penting sekali adanya orang yang kritis terhadap berbagai hal. Kritis menyuarakan pentingnya transparansi. Orang kritis semacam itu mungkin akan dibenci oleh orang tertentu, yang merasa kepentingannya terusik. Namun itu adalah sebuah sunatulloh yang harus terjadi untuk terjaminnya kesehatan iklim suatu organisasi.

Kali ini, aku merasa tidak boleh tinggal diam. Terlalu nyata dan jelas terlihat, betapa uang Bantuan Operasional Sekolah yang begitu besar ternyata sebagian tidak digunakan secara semestinya. Malah ada dugaan disalahgunakan oleh oknum. Sempat aku lihat RKAS, ada begitu banyak program yang tak direalisasikan, namun dilaporkan terealisir. Pelakunya adalah orang yang aku sama sekali tidak menyangka sebelumnya bakal melakukan itu.

Kepala sekolah nampak diam dengan fakta itu. Mungkin tidak paham. Atau mungkin paham, namun tidak berkeinginan untuk menindaknya. Mana pun kemungkinan yang ada, kepsek tetap salah membiarkan hal tersebut tanpa diberi tindakan yang proporsional.

Hingga akhirnya aku putuskan untuk menyarakannya di publik, grup whatsapp sekolah. Sama sekali tidak bermaksud mempermalukan orang atau membuat keruh suasana, namun aku berharap isu ini menjadi atensi semua orang. Aku tidak ingin seolah ini menjadi urusanku sendiri. Sementara ini nyatanya adalah urusan public sekolah. aku sama sekali tidak memiliki kepentingan pribadi atas apa yang aku lakukan. Aku hanya ingin di sekolah tempat ku mengajar ada transparansi. Aku hanya ingin bahwa anggaran yang dikucurkan pemerintah yang memang ditujukan untuk penyelenggaraan pendidikan di sekolah benar-benar dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan sekolah, terutaman kemaslahatan peserta didik. Itu saja.

Benar saja, aku menjadi martir. Banyak yang membenciku, namun lebih banyak yang mendukungku. Banyak yang sebenarnya satu pemikiran dan satu kehendak denganku. Hanya saja mereka tidak memiliki keberanian seperti aku untuk mengungkap kasus tersebut. Aku benar-benar merasa berani dan nothing to lose. Targetku satu, ada efek jera pada oknum, sekaligus memberikan pelajaran kepada pengelola keuangan agar kedepannya amanah dan menunjukkan integritas.

Kadang aku berpikir, jangan-jangan kasus penyalahgunaan wewenang pengelolaan keuangan juga terjadi di banyak sekolah lain. Aku pernah mendengar cerita serupa dari berbagai sekolah. namun aku belum berani untuk menyimpulkan bahwa sebagian besar sekolah terjadi penyalahgunaan wewenan pengelolaan keuangan. Hal itu perlu survey riil. Meski debimikian, aku memiliki hipotesis bahwa sebagian besar pengelolaan dana di sekolah dilaksanakan secara improper dan tidak transparan. Pantas saja ada sebuah video yang cukup viral di media sosial yang mengungkapkan bahwa korupsi di dunia pendidikan di Indonesia itu sangat memprihatinkan. Susah diungkap, memang, karena skalanya kecil namun cukup masif.

Jika begini, bullshit sekali pendidikan karakter dilaksanakan di sekolah, ketika orang-orang yang mengajarkan pendidikan karakter menunjukkan perilaku korup seperti itu. Bagaimana bisa sekolah meyakinkan generasi Indonesia untuk memiliki perilaku anti korupsi ketika mereka sendiri adalah praktisi korupsi dan ketidakjujuran.

Sungguh miris aku membayangkannya.

Aku akan memastikan bahwa kasus ini harus ada konklusi yang adil. Para pelaku korup menjadi jera. Sementara semua orang menjadi waspada untuk berperilaku amanah dan penuh integritas. Manajemen keuangan menjadi transparan. Dan pelayanan pendidikan terhadap para peserta didik menjadi optimal.

Itu saja niatku.

Bismillah