Selasa, 20 Juni 2023
Curhat Pada DahlanTalk
Sabtu, 10 Juni 2023
Spotlight Effect
Seringkali kita berpikir bahwa orang
lain memperhatikan setiap langkah hidup kita. Kita merasa seperti seorang lakon
dalam drama kehidupan. Seolah orang lain tidak memiliki urusan selain memperhatikan
diri kita. Kita jadi gamang dalam melangkah karena takut kalau salah. Takut salah
karena takut dinilai orang lain secara negative. Kita jadi bimbang dalam
mencoba hal-hal baru karena takut gagal. Takut gagal, karena mengira bahwa
orang lain akan menertawakan kita saat gagal.
Fenomena seperti itu sering disebut spotlight effect. Dan itu dialami oleh hamper
sebagian besar manusia.
Padahal, pada kenyataannya, masing-masing
orang sibuk dengan dunianya sendiri. Masing-masing orang juga merasakan
spotlight effect yang sama. Masing-masing orang mungkin akan peduli terhadap
urusanmu, atau urusan orang lain. Mereka mungkin akan menggosipkanmu atas hal
yang kurang baik yang terjadi padamu. Tapi percayalah, mereka tidak akan lama
memperdulikanmu.
Mungkin sesekali mereka akan
menertawakanmu atas kegagalanmu, atau atas langkahmu yang mereka anggap aneh. Namun
itu tidak akan berlangsung lama. Tertawanya mereka atasmu hanyalah sebentar
saja. Percayalah. Kenapa bisa sebentar saja? Karena manusia memiliki
kecenderungan bersikap individualis. Masing-masing orang sibuk menghadapi
masalah-masalah mereka, urusan-urusan mereka, dan segala hal yang berkaitan
dengan kehidupan pribadi mereka.
Banyak orang takut berbicara di depan
umum (public speaking) karena tidak ingin jika orang lain menertawakan salah
ucap mereka. Sehingga, mereka memilih untuk duduk di kursi bagian paling
belakang dan tidak mau tampil di depan orang banyak.
Banyak orang takut membuat konten
video dan mengunggahnya di media sosial, karena takut sepi viewer dan
ditertawakan orang nantinya. Atau takut kontennya jelek dan ditertawakan orang
lain.
Benar-benar asumsi atas penilaian orang
lain terhadap diri kita telah mengambat langkah hidup kita, dan telah merampas
momentum dalam hidup kita.
Sayang sekali, banyak orang yang
mengalami spotlight effect bukan hanya
saat mereka kecil hingga remaja, melainkan hingga mereka berusia dewasa, bahkan
tua. Dan aku termasuk orang yang telat menyadari spotlight effect tersebut, sadly.
Andai kita menyadari bahwa Spotlight
effect itu nyata, maka kita tidak perlu merasa insecure atas apa pun langkah
yang kita ambil dalam hidup, karena pada dasarnya everybody just minds their own business. They won’t give a fuck about your failure, your mistake, and your flaw for
a long time.
Selasa, 06 Juni 2023
Lingkungan, Mindset, Alam Bawah Sadar, dan Pencapaian Besar
Ada
banyak cara untuk bisa mencapai kekayaan melimpah, status social yang tinggi,
dan pencapaian hidup lainnya yang tinggi. Namun, kenapa banyak orang yang tidak
(belum) meraihnya?
Jawabannya
bisa beragam. Bisa jadi, karena mereka tidak menemukan cara untuk meraihnya. Namun
dari sekian banyak alasan kenapa orang belum meraih pencapaian besar dalam
hidupnya, satu alasan yang sangat mendasar ada pada mindset.
Betapa
banyak orang yang meyakini bahwa mereka sebenarnya tidak layak untuk meraih
pencapaian besar.
Betapa
banyak orang yang justru meyakini bahwa kondisi penuh kekurangan yang mereka
alami adalah nasib yang harus diterima dengan lapang dada dan penuh kepasrahan.
Betapa
banyak orang yang alam bawah sadarnya meyakini bahwa mereka tidak pantas untuk
meraih pencapaian besar.
Sementara…
Orang-orang
dengan pencapaian besar dalam hidupnya meyakini bahwa mereka layak untuk hidup
penuh keberlimpahan dan kesuksesan.
Keyakinan
tersebut terbentuk dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Diantara sekian banyak faktor
yang berpengaruh terhadap keyakinan tersebut adalah faktor Pendidikan dari keluarga.
Keluarga
kaya raya akan cenderung menumbuhkan mindset bahwa mencari kekayaaan itu mudah,
bahwa kaya raya itu adalah hak mereka dan mereka layak untuk meraihnya.
Bahkan,
tanpa diajari secara sadar bahwa mereka bisa kaya, mindset kaya anak-anak yang
dibesarkan di keluarga kaya akan terbentuk dengan sendirinya melalui lingkungan
dimana mereka tinggal. Mereka menyadari bahwa mereka mudah mendapatkan relasi
bisnis. Mereka menyadari bagaimana memberdayakan orang lain untuk tujuan
ekonomi mereka. Mereka memahami bagaimana mendapatkan permodalan.
Alam
bawah sadar mereka tersetting bahwa mereka adalah orang-orang yang mudah untuk
meraih hidup yang berkelimpahan.
Itulah
kenapa orang kaya yang jatuh bangkrut cenderung mudah bounce back. Kebangkitan
mudah diwujudkan karena mereka mengetahui memiliki mindset bahwa mereka adalah
orang kaya. Mereka meyakini bahwa cara meraih kekayaan itu mudah.
Itu
adalah privilege orang-orang kaya dan berpencapaian besar.
Sementara,
orang-orang yang sedari lahir hidup penuh kekurangan, cenderung kesulitan untuk
merubah kondisi mereka. Lingkungan mereka meyakinkan mereka bahwa mereka adalah
orang-orang yang memang terlahir untuk mengalami kekurangan. Nasib mereka bisa
berubah karena beberapa hal. Hal pertama, lingkungan yang menstimulasi mereka
untuk berhasil. Untuk meraih lingkungan yang menstimulasi mereka, tentu mereka
harus berhijrah atau merantau. ketika merantau dan memasuki lingkungan yang berisi
orang-orang yang bisa menginspirasi, maka ada peluang orang tersebut bisa
berubah. Kisah tentang Liem Goh Tong cukup bisa menjadi bukti akan hal ini. Dia
yang merupakan orang miskin dari Cina daratan memilih bermigrasi dan hidup Malaysia.
Dia meniti pekerjaan sebagai seorang buruh proyek. Dari situ dia merintis usaha
dalam bidang konstruksi hingga menjadi orang yang berkelimpahan.
Kedua,
akses Pendidikan. Pendidikan di sini tidak diartikan sebagai pendidikan formal
semata, karena pada kenyataannya, banyak orang berpendidikan tinggi yang masih
belum bisa meraih keberlimpahan dalam hidup. Pendidikan di sini bisa berupa
ilmu dari sumber apa pun yang mereka dapatkan dan langsung praktikkan hingga
berhasil. Di era pesatnya perkembangan teknologi informasi seperti sekarang
ini, kesempatan terbuka luas bagi siapapun untuk berubah meraih pencapaian besar
dalam hidup. Meskipun kesempatan begitu banyak, banyak orang yang melewatkan
kesempatan tersebut. Satu yang membuat mereka melewatkan kesempatan tersebut
adalah mindset negative. Mereka tidak meyakini bahwa mereka layak untuk meraih
keberhasilan. Banyak orang berhasil karena berada di lingkungan yang penuh
dengan orang berhasil.
Mindset
itu penting.
Berada
di lingkungan yang tepat yang bisa menumbuhkan mindset positif kita itu lebih penting.
Itu adalah awal dari mindset positif bertumbuh.
Senin, 29 Mei 2023
Google Earth dan Obsesi terhadap Travelling
Sejak
pertamakali mengenal google earth, aku sudah terobsesi dengan menjelajahi dunia.
Aku sering iseng meluangkan waktu untuk melihat peta berbagai kota dan tempat
indah di berbagai belahn dunia. Internet memang membuat semuanya terlihat mudah
dijangkau.
Setiap
kali aku zoom in suatu wilayah di google map, aku selalu berpikir bahwa dunia
ini begitu luas. Masa iya aku hanya mendiami atau singgah di sebagian kecil wilayah
saja. Aku ingin mengeksplorasi berbagai tempat untuk melihat keragaman keindahan
alamnya, budayanya, manusianya, makanannya, dan sebagainya.
Semakin
hari, semakin bertambah usia, bukannya obsesiku semakin surut untuk menjelajahi
dunia. Justru semakin membesar dan membuncah.
Masalahnya
adalah aku sejauh ini masih belum sepenuhnya memiliki kemerdekaan waktu dan
finansial. Yang baru kumiliki hanya kemerdekaan kehendak. Itu pun terbatasi
oleh dua jenis kemerdekaan tadi. Aku masih terikat pekerjaan rutin.
Kadang
uang untuk traveling sudah terkumpul, namun kendala ketersediaan waktu muncul. Kadang
ada waktu, namun ketersediaan uang traveling kurang memadai, apalagi untuk
menjangkau belahan bumi lain yang letaknya sangat jauh dari tempat aku tinggal.
Satu
cara yang cukup jitu untuk aku traveling adalah melalui beasiswa studi di luar
negeri. Melalui beasiswa, aku bisa menjelajah berbagai negara selain negara
tempat studi. Seperti yang pernah aku lakukan ketika mendapat beasiswa studi di
jepang dan Australia. Melaluinya, aku bisa berkunjung ke beberapa negara
seperti korea, Malaysia, hongkong, filipina dan singapura.
Mencari
kesempatan untuk traveling melalui beasiswa memang menggiurkan. Namun, cara ini
memiliki keterbatasan. Beasiswa mensyaratkan Batasan usia tertentu. Maka dari
itu, sulit untuk mengandalkannya sebagai jalan untuk bisa traveling ke luar
negeri secara berkesinambungan. Pada usia
tertentu, aku tak bisa lagi mengandalkan beasiswa untuk bisa traveling ke luar
negeri.
Kini,
aku berpikir dan berjuang keras bagaimana caranya agar aku mencapai freedom. Hidup
ini begitu indah. Aku tak mau terkungkung di suatu tempat saja hingga akhir
hayatku. Aku ingin bisa mengepakkan sayap laksana burung garuda yang bisa
menjelajah ke berbagai belahan dunia.
Dengannya,
aku bisa menikmati karunia Alloh berupa hamparan bumi yang begitu luas, indah,
mempesona dan luar biasa.
Ketika aku mencapai freedom nanti, aku akan jadikan every part of hemisphere is my hometown.
Mengeksplorasi berbagai tempat di berbagai belahan dunia, sambil melakukan kegiatan filantropi. Terasa dan kebayang banget keindahan dan kebermaknaannya.
Sabtu, 06 Mei 2023
Nonton Film
Bagaimana perasaanmu ketika menonton suatu film yang
kamu sudah mengetahui alur ceritanya?
Apa menariknya?
Sebagian film memang menarik, walau ditonton
berulang-ulang. Film inspiratif seperti “The Three idiots”, misalnya.
Namun semenarik-menariknya film, lambat laun tetap lah
menimbulkan rasa bosan ketika ditonton secara berulang.
Begitu pula hidup yang dijalani dengan cerita yang
sudah kita ketahui alurnya.
Jujur, kini aku sedang merasa berada di titik
stagnansi. Terkait pekerjaan.
Aku mendambakan pertumbuhan, perubahan, dan peningkatan.
Namun sepertinya berada di rel ini tidak akan membawaku kemana-mana. Aku hanya
akan menjadi siapa diriku yang flat itu.
Aku sudah berupaya memantaskan diri untuk menjadi
seorang berdedikasid an berkualifikasi tinggi dalam dunia pendidikan yang aku
tekuni. Namun aku masih lah diriku selayaknya dulu yang masih pendek jangkauan
tangan dan kakinya.
Ide-ide bermunculan, tentang bagaimana mengembangkan penyelenggaraan
pendidikan. namun sejauh ini seringkali terbentur oleh ketiadaan kemampuan
untuk membiat kebijakan.
Jangankan kebijakan pendidikan di level makro, di
level kecil seperti sekolah saja ide-ide ku seringkali terbentur oleh ketiadaan
otoritas untuk membuat kebijakan.
Itu hal
stagnan yang pertama.
Selanjutnya, terkait finansial. Aku bersyukur diberi
kecukupan rezeki. Untuk kebutuhan primer aku tidak kekurangan. Namun, aku belum
mencapai level kebebasan finansial yang biasanya membuat orang bisa berderma
banyak kepada sesama.
Ide begitu banyak. Namun masih bingung, darimana memulainya.
Ini lah paradoksalnya ide. Ketika tidak ada ide, orang
bingung mau melakukan apa. Ketika ide begitu banyak, orang juga bingung mau
mengeksekusi ide yang mana. Akhirnya kadang ktia tidak kemana-mana dan hanya
menghabiskan waktu tanpa melakukan apa-apa.
Waktu terus berlalu-harus ada tindakan yang dilakukan.
Akhirnya aku sedang mencoba mengeksekusi satu pilihan
ide.
Bismillah…semoga lancer sukses dan berkah.
Senin, 01 Mei 2023
Siswa Indonesia itu literally overwhelmed. Mereka rentan stress. Kasihan!
Tulisan
ini tentang betapa kasihannya para siswa di Indonesia. kasihan gimana maksudnya?
Gimana gak kasihan. Mereka harus mempelajari berbagai
mata pelajaran setiap hari aktif sekolah. Kelas X SMA/SMK saja, mereka memiliki
beban belajar sekitar 15-17 mata pelajaran. Mengapa disebut “beban belajar”? Bukankah
mempelajari itu semua akan baik buat mereka? Faktanya, itu beban. Bagaimana tidak
beban? Mereka harus mempelajari berbagai mata pelajaran, mau tidak mau, suka
tidak suka. Di setiap mata pelajaran ada passing
grade (KKM) yang harus mereka capai. Jika tidak bisa mencapainya.
Mempelajari banyak hal yang tidak disukai dengan
terpaksa demi meraih batas nilai tertentu, apakah kira-kira tidak membuat
stress?
Logika waras tentu akan menyimpulkan bahwa that’s sort of stress-making thing.
Insane nya, mereka harus mempelajari itu semua di lima
hari sekolah setiap minggunya, dari pagi hingga sore. Siklus belajar seperti
itu sebenernya juga kurang efektif untuk membuat para siswa paham, enjoy dan sehat
secara mental, emosional, psikis maupun fisik. Namun sejauh ini Nampak belum
ada perubahan atas kebijakan dalam dunia pendidikan tersebut.
Belum lagi, mereka masih memiliki beban untuk
menyelesaikan tugas dan pekerjaan Rumah (PR) saat berada di rumah. Meski topik
tentang kontraproduktifnya PR sudah lama menjadi bahan diskusi, namun masih
banyak guru yang membebani para siswa dengan berbagai PR dan tugas dengan level
kesulitan yang beragam.
Semudah-mudahnya tugas dan PR, jika setiap guru mata
pelajaran memberikan tugas dan PR, maka tentu hal tersebut cukup menjadi beban
buat para siswa.
Para siswa adalah makhluk yang membutuhkan
keseimbangan (learn and life balance)
juga, sebagaimana manusia dewasa. Mereka butuh untuk berpartisipasi aktif dalam
lingkungan di luar sekolah, seperti lingkungan social dan keluarga. Mereka butuh
waktu untuk bermain, mereka butuh waktu untuk mengasah dan menyalurkan hobinya
yang tidak ada hubungannya dengan dunia persekolahan. Sebagian dari mereka
butuh mencari uang untuk membantu perekonomian keluarga. Banyak kegiatan ekstra
yang tidak kalah penting buat mereka, di luar kegiatan persekolahan.
Wellbeing para siswa di Indonesia nyatanya memang belum
mendapat perhatian serius. Sementara di Negara-negara dengan system pendidikan
yang maju, wellbeing menjadi isu serius yang diperhatikan dan diarusutamakan
dalam kebijakan pendidikan.
Dalam suatu kesempatan collaborative learning melalui media
online antara sekolah Indonesia dengans ebuah sekolah dari Australia, para
siswa dari kedua sekolah kaget dan heran dengan perbedaan signifikan tentang jumlah
jam belajar per minggu yang harus di pelajari oleh para siswa di Indonesia dan Australia.
Di Indonesia, kelas X SMA/SMk harus mempelajari sekitar 14017 mata pelajaran,
dan hal tersebut membuat para siswa di auastralia kaget. Tak kalah kaget para
siswa Indonesia ketika mengetahui bahwa untuk jenjang kelas yang smaa, di austarlia, para siswa hanya dibebani belajar
6-7 mata pelajaran. Di sekolah-sekolah di Austarlia, ada mata pelajaran wajib, dan
ada mata pelajaran pilihan yang benar-benar bisa dipilih oleh para siswa secara
merdeka. Perbedaannya njomplang sekali
bukan?
Dengan fakta seperti itu, jangan heran ketika para
siswa di Indonesia secara emosi, mental dan psikis terpengaruh secara negative akibat
overwhelmingnya beban belajar yang harus mereka emban. Bahkan hal tersebut bisa
jadi berpengaruh terhadap attitude dan karakter mereka (ini hanya hipotesis,
dan tentu perlu penelitian nyata).
Itlah sedikit gambaran tentang betapa overwhelmed nya para siswa di Indonesia.
Kasian!
Jumat, 24 Maret 2023
Menjadi Seorang Martir
Sudah sekian tahun aku menjadi guru, Aku tak pernah kepo tentang urusan manajemen keuangan sekolah. aku selalu percaya bahwa semua baik-baik saja. Aku percaya bahwa pengelolaan keuangan sekolah baik-baik saja. Aku meyakini bahwa mereka yang mengelola keuangan memiliki integritas. Sepertinya pemikiran seperti itu juga dimiliki oleh para guru lain. Mereka juga mungkin sama-sama meyakini bahwa pengelolaan keuangan sekolah dijalankan dengan penuh akuntabilitas dan kredibilitas.
Namun itu lah jeleknya kepercayaan. Ketika semua orang
percaya dan tidak berpikir dan bertindak kritis, maka peluang-peluang oknum untuk
melakukan penyalahgunaan wewenang cenderung muncul. Jangankan orang yang tipis
imannya. Orang yang paham tentang agama pun, ketika disuguhkan oleh peluang
untuk berbuat curang bisa saja tergoda. oleh karena itu, dalam suatu
organisasi, penting sekali adanya orang yang kritis terhadap berbagai hal. Kritis
menyuarakan pentingnya transparansi. Orang kritis semacam itu mungkin akan
dibenci oleh orang tertentu, yang merasa kepentingannya terusik. Namun itu
adalah sebuah sunatulloh yang harus terjadi untuk terjaminnya kesehatan iklim suatu
organisasi.
Kali ini, aku merasa tidak boleh tinggal diam. Terlalu
nyata dan jelas terlihat, betapa uang Bantuan Operasional Sekolah yang begitu
besar ternyata sebagian tidak digunakan secara semestinya. Malah ada dugaan
disalahgunakan oleh oknum. Sempat aku lihat RKAS, ada
begitu banyak program yang tak direalisasikan, namun dilaporkan terealisir. Pelakunya
adalah orang yang aku sama sekali tidak menyangka sebelumnya bakal melakukan
itu.
Kepala sekolah nampak diam dengan fakta itu. Mungkin tidak
paham. Atau mungkin paham, namun tidak berkeinginan untuk menindaknya. Mana pun
kemungkinan yang ada, kepsek tetap salah membiarkan hal tersebut tanpa diberi
tindakan yang proporsional.
Hingga akhirnya aku putuskan untuk menyarakannya di
publik, grup whatsapp sekolah. Sama sekali tidak bermaksud mempermalukan orang
atau membuat keruh suasana, namun aku berharap isu ini menjadi atensi semua
orang. Aku tidak ingin seolah ini menjadi urusanku sendiri. Sementara ini
nyatanya adalah urusan public sekolah. aku sama sekali tidak memiliki
kepentingan pribadi atas apa yang aku lakukan. Aku hanya ingin di sekolah tempat
ku mengajar ada transparansi. Aku hanya ingin bahwa anggaran yang dikucurkan
pemerintah yang memang ditujukan untuk penyelenggaraan pendidikan di sekolah
benar-benar dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan sekolah, terutaman
kemaslahatan peserta didik. Itu saja.
Benar saja, aku menjadi martir. Banyak yang
membenciku, namun lebih banyak yang mendukungku. Banyak yang sebenarnya satu
pemikiran dan satu kehendak denganku. Hanya saja mereka tidak memiliki
keberanian seperti aku untuk mengungkap kasus tersebut. Aku benar-benar merasa
berani dan nothing to lose. Targetku satu,
ada efek jera pada oknum, sekaligus memberikan pelajaran kepada pengelola
keuangan agar kedepannya amanah dan menunjukkan integritas.
Kadang aku berpikir, jangan-jangan kasus
penyalahgunaan wewenang pengelolaan keuangan juga terjadi di banyak sekolah
lain. Aku pernah mendengar cerita serupa dari berbagai sekolah. namun aku belum
berani untuk menyimpulkan bahwa sebagian besar sekolah terjadi penyalahgunaan
wewenan pengelolaan keuangan. Hal itu perlu survey riil. Meski debimikian, aku
memiliki hipotesis bahwa sebagian besar pengelolaan dana di sekolah
dilaksanakan secara improper dan
tidak transparan. Pantas saja ada sebuah video yang cukup viral di media sosial
yang mengungkapkan bahwa korupsi di dunia pendidikan di Indonesia itu sangat
memprihatinkan. Susah diungkap, memang, karena skalanya kecil namun cukup masif.
Jika begini, bullshit sekali pendidikan karakter
dilaksanakan di sekolah, ketika orang-orang yang mengajarkan pendidikan
karakter menunjukkan perilaku korup seperti itu. Bagaimana bisa sekolah
meyakinkan generasi Indonesia untuk memiliki perilaku anti korupsi ketika
mereka sendiri adalah praktisi korupsi dan ketidakjujuran.
Sungguh miris aku membayangkannya.
Aku akan memastikan bahwa kasus ini harus ada konklusi
yang adil. Para pelaku korup menjadi jera. Sementara semua orang menjadi
waspada untuk berperilaku amanah dan penuh integritas. Manajemen keuangan
menjadi transparan. Dan pelayanan pendidikan terhadap para peserta didik
menjadi optimal.
Itu saja niatku.
Bismillah
