Minggu, 30 Januari 2022

Hubungan Egaliter antara Dosen dan Mahasiswa di Australia: My perspective


Mendapatkan pengalaman kuliah di beberapa universitas dari negara-negara yang berbeda, aku mendapatkan pemahaman berharga tentang karakter hubungan antara dosen dengan mahasiswa dalam konteks budaya yang berbeda. Di Indonesia, relasi antara dosen dan mahasiswa umumnya lekat dengan nuansa “tidak sederajat” seperti senior-junior, berpengalaman-kurang berpengalaman, tua-muda, atasan bawahan, dan sekat-sekat dikotomis lainnya. Konsekuensi hubungan semacam itu adalah adanya tuntutan sikap hormat dari mahasiswa terhadap dosen. Selain itu, dosen juga memiliki tanggunjawab moral untuk bisa memiliki karakter lebih bijaksana, berwibawa dan mengayomi. Seperti itu lah kira-kira gambaran singkat karakter hubungan mahasiswa dengan dosen di Indonesia.

Di Indonesia, sepertinya pantang untuk seorang mahasiswa memanggil seorang dosen yang bergelar professor tanpa menyematkan gelar profesornya. Minimal, kita membubuhkan kata “Pak” di depan nama dosen yang kita panggil. Hal tersebut memang sudah diterima sebagai sebuah tata nilai yang berlaku dalam masyarakat Indonesia, terlepas apa pun sukunya. Jepang juga memiliki karakter hubungan dosen-mahasiswa yang serupa dengan Indonesia. Rasa hormat mahasiswa kepada dosen harus ditunjukkan tidak hanya melalui sikap, melainkan juga melalui cara memangil mereka. Panggilan familiar terhadap dosen di Jepang adalah “Sensei”. Berada pada satu rumpun benua, tak mengherankan jika Jepang dan Indonesia memiliki karakter yang sama dalam hal hubungan dosen dan mahasiswa.

Lain halnya dengan Indonesia dan Jepang, Australia memiliki karakter yang berbeda dalam hal hubungan antara dosen dan mahaasiswa. Sikap hormat mahasiswa terhadap dosen tidak perlu ditunjukkan dengan menyebut gelar professor atau akademik dosen. Bahkan, dosen-dosen di Australia lebih merasa nyaman dengan dipanggil namanya saja, kecuali dalam forum resmi. Karakter hubungan antar dosen dan mahasiswa di Australia lebih mencerminkan prinsip egalitarian. Di Australia, dosen dan mahasiswa bisa duduk Bersama dalam satu meja menikmati kopi sambil membahas hal-hal yang berkaitan dengan akademik. Di Indonesia mungkin hal tersebut juga ada, namun tidak bisa digeneralisasi sebagai hal yang umum terjadi dalam hubungan antara dosen dan mahasiswa, karena pada umumnya ada sekat antara dosen dan mahasiswa dalam interaksi sosial.

Di Australia, hampir bisa dipastikan tidak ada istilah dosen killer. Dosen pelit nilai memang ada. Namun dosen killer sepertinya sangat-sangat jarang sekali ada. Sangat jarang ada dosen yang marah-marah kepada mahasiswanya hanya karena mereka salah dalam menentukan metodologi penelitian atau dalam membuat instrument penelitian. Para dosen umumnya lebih memilih untuk memberi arahan untuk memperbaiki kekurangan sehingga ada improvement. Di Indonesia, kerap aku dapati cerita-cerita tentang ekspresi kecewa dosen yang ditunjukkan dengan sikap marah atau berbicara dengan nada tinggi karena mahasiswa melakukan kekeliruan dalam bidang akademik.

Tulisan ini bukan diniatkan untuk mendiskreditkan dosen Indonesia. Jelas hal tersebut tidak perlu. Tulisan ini memiliki pesan tersirat bahwa pendekatan humanis dalam menjalin interaksi dengan mahasiswa perlu dilakukan oleh dosen-dosen di Indonesia. Dalam memberikan layanan akademik, mereka semestinya berorientasi pada kebaikan mahasiswa, memperhatikan wellbeing mahasiswa. Jalinan hubungan yang humanis merupakan bagian dari mental wellbeing yang tentu berpengaruh terhadap performa akademis mahasiswa. Hal tersebut harus dipupuk dan dijaga. Dosen semestinya menjadi pihak untuk mahasiswa bersandar ketika mereka mendapati kesulitan dan tantangan. Jangan sampai mahasiswa justru takut takut menghadap dosen ketika mendapati kesulitan dan tantangan.

 

Sabtu, 29 Januari 2022

Ujian Keikhlasan dalam Beramal


Disclaimer: Tulisan ini semata-mata aku tujukan buat refleksi diri. Tidak ada niat riya, pamer kebaikan atau pun hal negeatif lainnya.

Selama ini aku meyakini bahwa jika kita memiliki niat baik, maka sebaiknya niatan tersebut segera diwujudkan. Berpikir terlalu lama menimbang-nimbang amal kebaikan yang kita niatkan tidak lah baik. Setan terlalu lihai untuk merubah pikiran manusia untuk tidak berbuat amal kebaikan. Sekalipun bukan setan yang merubah pikiran kita, tetap masih ada potensi kita berubah pikiran dan akhirnya tidak jadi mewujudkan amal kebaikan, karena manusia memang dasarnya mudah berubah. Dengan dasar itulah, setiap kali aku berusaha berbuat amal kebaikan yang penuh keikhlasan, aku segerakan.

Ada beberapa pengalaman hidup berharga tentang ketulusan dalam berbuat baik yang cukup menjadi pelajaran berharga buatku. Salah satunya adalah tentang respon atau sikap seseorang yang kita berikan kebaikan. Ceritanya begini. Aku diminta untuk membantu seseorang menyelesaikan suatu pekerjaan. Aku langsung saja mengiyakanannya, meski aku tau bahwa hal tersebut berarti mengorbankan agendaku. Entah malaikat apa yang membisikiku, aku langsung tergerak untuk meluangkan waktu seharian penuh membantu seorang teman yang baru aku kenal untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia orang baik. Melibatkan aku untuk menyelesaikan urusannya, mungkin menunjukkan bahwa dia menggangapku orang baik pula yang bersedia membantunya. Dia juga bukan termasuk orang yang take people for granted. FYI, dia berkata bahwa aku akan dibayar $25 perjam untuk jasaku membantunya menyelesaikan pekerjaannya. Aku tidak menjawab iya atau tidak, karena aku lebih memilih untuk menjawab “yang penting kita selesaikan dulu pekerjaannya. Itu soal belakangan”.

Aku memang ingin sekali berbuat baik kepada sesame, sebanyak dan sebesar-besarnya. Terlebih, aku meyakini bahwa berbuat baik itu akan menimbulkan sense of meaningfulness dan a good feeling. Waktu pengerjaan yang diperkirakan hanya 5 jam, ternyata molor hingga 10 jam. Aku merasa it’s just fine to spend almost the whole productive time to do a meaningful deed. Selesai menyelesaikan pekerjaan tersebut, aku diantar pulang. Lantas dia meminta nomer rekeningku untuk dia transfer. Seketika aku bilang, “that’s unnecessary. I never meant to help you for dollar. I meant to help you sincerely. Never think about giving me money as return, mate”. He insisted that he wanted to have my account. But soon I closed the car’s door and said goodbye.

Masuk ke rumah. Ada gejolak dalam pikiran. “dia kan mampu. Pendapatan hariannya saja dari pekerjaannya bisa mencapai 4 juta rupiah dalam sehari. Belum juga istrinya yang bekerja. Dan aku memang deserve to get paid for what I did”. Namun hatiku berbisik dan meneguhkan untuk tetap pada niatan awal, yaitu doing good deed for people sincerely, no matter what. Money can be made. But having new friends, especially good people, is priceless, begitu pikirku. Jujur, aku ingin sekali berteman sanagt baik dengan teman baru ku ini. Aku tau dia orang baik. Yang kuharapkan adalah setelahnya aku bisa berkawan baik dengannya. Nomernya aku simpan di whatsapp. Akun socmednya aku follow. Namun yang membuatku heran adalah kenapa dia setelahnya tidak pernah menghubungi ku untuk let’s say just to say hello or saying thanks. Astaghfirullohaladziim… nda ada maksud untuk mengharapkan balasan apa-apa. Namun niatku untuk having them as my new family here seperti tdak kesampaian. Mereka cuek dan putus komunikasi sama sekali setelahnya. Aku coba menghubungi mereka dengan bertanya basa-basi. Namun jawaban yang ku dapatkan sangatlah straight forward and done. No follow up, no any sort of easygoing talk selayaknya teman baru yang baru kenalan.

Of course, I still keep positive thinking. Mungkin mereka bingung juga untuk bagaimana caranya berkomunikasi, di saat  mereka merasa sangat berhutang budi padaku. Logikanya sih justru kalo seseorang merasa berhutang budi, mustinya semakin baik dong sama kita. Namun tidak semudah itu. Kadang, ada perasaan hutang budi yang sangat besar yang justru membuat orang kaku untuk menjalin komunikasi kepada orang yang menghutangi budi. Kayak ada rasa serba salah gitu.

Namun biar bagaimanapun, I never regret to do good deed for others. Selagi yang jadi niat utama adalah keridhaan Alloh SWT, nothing can make me feel regretful for spreading as much good deed as possible to others.

Rabu, 26 Januari 2022

Leading in the middle: Rooms for creativity and innovation in school leadership

 

Tergabung dalam sebuah whatsapp group (WAG) tenaga kependidikan di sekolah tempat aku mengajar, aku mengamati banyak hal. Salah satu yang aku amati adalah tentang jenis topik diskusi dalam forum tersebut. WAG tersebut memang diciptakan sebagai wadah untuk komunikasi secara online antar tenaga kependidikan di sekolah, seperti guru, kepsek, librarian, maupun tenaga administrasi sekolah. Dengan WAG tersebut, banyak hal yang bisa dibahas tanpa kendala tempat. Namun, ada satu hal yang menjadi catatanku, yaitu tipe topik komunikasi/musyawarah yang umumnya muncul dalam diskusi-diskusi di grup tersebut.

Sekian tahun berada di grup tersebut, aku mendapatkan keismpulan bahwa topik bahasan yang jadi perbincangan didominasi oleh hal-hal yang bersifat formalitas. Hal-hal menyangkut urusan kepegawaian, laporan akademik siswa, pengumuman upacara, rapat dinas, pengurusan angka kredit guru, ujian akhir semester, dan topik formal sejenisnya menjadi topik yang mainstream. Grup tersebut juga sering membahas tentang urusan yang berkaitan dengan event-event sekolah maupun organisasi pegawai sekolah seperti dies natalis, arisan keluarga besar sekolah, kondangan Bersama, dan lainnya. Sesekali, muncul topik tentang joke-joke yang cukup mengundang respon banyak anggota grup. Bukan salah, dan memang tidak ada yang salah dalam grup tersebut. Namun, selayaknya sebuah grup yang terdiri dari pada stakeholder di lingkungan sekolah, perlu lah sekiranya topik pembahasannya adalah seputar pengembangan profesionalisme guru, pembahasan isu-isu terkini dan teraktual seputar Pendidikan, wellbeing siswa, visi sekolah serta topik-topik yang berkaitan dengan peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.

Menyadari kurang lekatnya nuansa ilmiah grup tersebut, beberapa kali aku memancing diskusi di grup, dengan membagikan tautan berita atau artikel actual seputar Pendidikan. Aku juga sering membagikan artikel yang aku tulis di blog, dengan harapan hal tersebut bisa memantik diskusi ilmiah. Namun seringkali aku gagal. Respon anggota grup untuk membahas topik-topik ilmiah sangat rendah. Adapun yang merespon kadang tidak menunjukkan keseriusan, malah merespon dengan candaan yang cukup ampuh mendistraksi keseriusan diskusi.

Mungkin ada yang khusnudzon, bahwa barangkali diskusi ilmiahnya diselenggarakan saat ada rapat offline. Dan jawabanya adalah tidak. Rapat-rapat offline biasanya membahas topik seputar hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pembelajaran atau kepegawaian. Lantas dimana ruang-ruang diskusi tentang pengembangan profesionalisme guru, layanan siswa, serta visi misi sekolah dimunculkan? Belum ada.

Sebenarnya, ini merupakan salah satu bagian pokok kerja dari kepemimpinan di sekolah, terutama kepemimpinan kepala sekolah. Kepala sekolah memiliki posisi strategis untuk mengorkestrasi segala elemen warga sekolah untuk mewujudkan sekolah unggul yang berorientasi pada unggulnya kualitas lulusan (siswa). Kepala sekolah bukanlah seorang kurir yang tugas utamanya hanya menyampaikan pesan dari atasan kepada bawahan mereka. Pekerjaan sekolah bukan semata tentang menyosialisasikan aturan-aturan pemerintah kepada warga sekolah. Tugas kepala sekolah bukan semata tentang menjalankan good management and administration, melainkan good leadership.

Andy Hargreaves dalam bukunya Leading from the Middle: New Strategies for Educational Change Paperback menyebutkan bahwa posisi terbaik kepemimpinan Pendidikan di sekolah adalah leading in the middle. Kepala sekolah bukanlah pucuk pimpinan tertinggi hierarki struktur organisasi penyelenggara Pendidikan formal. Di atasnya masih ada kepala dinas, ada gubernur, ada menteri Pendidikan dan kebudayaan, dan ada presiden. Kepala sekolah memerankan dua posisi sekaligus di waktu yang sama, yaitu sebagai atasan dan juga bawahan. Sebagai bawahan, mereka memiliki tugas untuk menjembatani pelaksanaan aturan atau kebijakan yang sifatnya top-down. Sebagai atasan, mereka memiliki ruang untuk berkreasi, berinovasi dan berimprovisasi dengan tujuan terwujudnya sebesar-besarnya layanan maksimal dalam penyelenggaraan Pendidikan bagi para siswa. Itu lah substansi dari konsep Leading in the middle, yang menurut Andy Hargreaves layak untuk dipraktikkan oleh para kepala sekolah.

Banyak ruang yang bisa dieksplor oleh kepala sekolah. Pertama, membumikan literasi agar tidak hanya berhenti sebagai slogan dan aktivitas formal semata, melainkan menjadi budaya di lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat. Kedua, penyelenggaraan program-program pengembangan profesionalitas guru melalui berbagai kegiatan seperti lesson study antar kelompok guru mata pelajaran, workshop, maupun seminar yang dilakukan secara sistematis. Ketiga, mengarahkan para siswa untuk memiliki visi yang jelas. Sehingga, tiga tahun mereka berada di sekolah, mereka benar-benar melakukan proses yang mengarahkan mereka untuk meraih visi tersebut. Masih banyak siswa yang menjalani aktivitas sekolah tanpa visi jelas. Sehingga mereka hanya menjalaninya sebagai rutinitas semata. Akibatnya, mereka gagap tentang apa yang mustinya mereka lakukan saat lulus. Keempat, merangkul orang tua siswa dan berbagai elemen masyarakat untuk mendukung terwujudnya visi Pendidikan sekolah secara umum, maupun visi siswa secara khusus.

Siswa di jaman sekarang akan menghadapi tantangan yang berbeda dari siswa jaman dahulu. Orientasi mereka juga berbeda. Bahkan cita-cita mereka juga kemungkinan lebih beragam dairpada siswa dahulu. Sekolah perlu memastikan bahwa kebutuhan siswa untuk meraih masa depan gemilang benar-benar didukung oleh berbagai pihak secara sistematis. Misalnya, siswa sekarang banyak yang ingin menjadi seorang youtuber, programmer, dropshipper, online marketer, sociopreneur, freelance writer, copywriter, videographer, digital marketer, peneliti, digital farmer, professional gamer, dan sebagainya. Sekolah harus tahu tentang kecenderungan minat para siswa tersebut. Dengan mengetahui berbagai minat siswa, maka program-program yang mengakomodasi minat siswa diselenggarakan dengan efektif. Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler ditumbuhkan dan disesuaikan dengan bakat dan minat siswa tanpa pembatasan. Dengan begitu, kualitas layanan Pendidikan yang berdampak pada kehidupan siswa benar-benar terwujud.

 

 

 

Senin, 24 Januari 2022

Mengapa Masyarakat Suatu Negara Tertib, Sementara yang Lainnya Tidak?

 

Melewati sebulan hidup di Australia, aku mendapati banuyak pelajaran hiudp yang berharga. Salah satu pelajaran berharga tersebut adalah soal ketertiban masyarakatnya. Saat berada di negara-negara maju dimana masyarakatnya tertib, aku seringkali terpancing untuk melakukan perbandingan, antara negara tersebut dan negaraku. Dan, kesimpulannya masih sama. Dalam banyak hal, mayarakat di negaraku maish pelru belajar banyak dari negara-negara tersebut. Lantas pertanyaannya, apakah ketertiban masyarakat di suatu negara selalu dipengaruhi oleh factor karakter masyarakatnya, ataukah ada factor lain yang mendrong ketertiban?

Untuk menjawab pertanyaan ini, aku ingin menyebutkan beberapa pengalaman ku tinggal di tiga negara, Singapura, Jepang dan Australia. Dalam konteks tertib hiudp bersih, misalnya. Di Singapura dan Jepang, tidak ada masyarakat yang membuangsampah sembarangan. Bukan hanya warga local yang terpola karakternya untuk tertib dalam membuang sampah sesuai dengan aturan yang berlaku di negara tersebut, namun juga warga pendatang. Selain itu, di kedua negara tersebut, orang juga tidak melakukan tindakan seperti merokok di tempat yang sembarangan. Bukan hanya warga local, warga pendatang juga Nampak tertib mengikuti aturan. Di Australia, hamper bias dikatakan sangat jarnag ditemui orang berkendara di jalanan dengan kecepatan yang melebihi batas ketentuan aturan lalu lintas. Orang rela bersabar menjaga kecepatan laju kendaraannya pada batas tertentu mengikuti sign yang terpasang di pinggir-pinggir jalan. Bukan hanya warga Australia asli yang patuh dan tertib dalam berkendara, melainkan juga pendatnag seperti aku juga ikut patuh dan tertib dalam berkendara.

Apakah karakter tertib tersebut merupakan karakter warisan leluhur? Apakah karakter tertib masyarakat tersebut terbentuk karena DNA mereka sebagai warga masyarakat yang tertib? Jawbaannya adalah tidak. Ada satu benang merah yang bias ditarik mengenai factor munculnya ketertiban masyarakat di negara-negara tersebut. Faktornya adalah aturan yang jelas, tegas, tanpa pandang bulu dan konsisten. Di singapura, orang yang ketahuan merokok di tempat public akan langsung dedenda 500 dolar, tanpa tawar. Di Australia, orang yang berkendara dengan kecepatan melebihi batas, jika terekam oleh kamera cctv yang terpasang di berbagai sudut jalan raya, akan ditilang dengan jumlah denda ratusan dollar. Sekalipun yang melanggar adalah seorang pejabat, tetap akan mendapatkan perlakuan yang sama saat terbukti melanggar peraturan lalu lintas. Tidak ada polisi yang datang untuk mengecek surat-surat kelengkapan kendaraan dan memberikan surat tilang, karena system penilangan dilakukan secara otomatis. Akan ada surat tilang yang dikirimkan ke alamat rumah pemilik kendaraan. Surat tersebut disertai dengan bukti-bukti berupa dokumentasi foto tercetak yang membuat mereka tidak bisa mengelak.

Sekarang mari kita refleksi terhadap kondisi ketertiban di negeriku, Indonesia. Berbagai aturan di negeriku memang dibuat oleh pemerintah. Berbagai aturan sanksi juga diberlakukan. Namun, yang menjadi masalah adalah tentang supremasi aturan yang masih buruk. Masih banyak kita temukan adanya ruang-ruang negosiasi dan kompromi atas aturan yang ada. Contohnya, ada iring-iringan mobil mewah yang berhenti di tengah jalan tol Andara yang tidak ditilang oleh pihak yang berwenang, dengan alasan mereka bersikap kooperatif. Padahal mereka jelas-jelas melanggar peraturan. Ada banyak warga masyarakat yang membuang stumpuk sampah ke sungai yang tidak dikenai sanksi tegas. Aturan ada, namun ketegasan pemberlakuan sanksi tidak ada. Itu lah yang membuat ketertiban di negeriku sulit terwujudkan.

Perilaku tidak tertib orang-orang yang menjadi pemimpin di negeriku juga semakin melemahkan semangat untuk hidup tertib di negeri ini. Melihat pejabat papan atas yang berperilaku korup, tentu banyak orang yang akan tergoda untuk melakukan dialog batin seperti “nda papa korupsi ah, asal tidak ketahuan. Mereka para atasan juga pada korup kok, dan bebas dari dakwaan pula”.

Satu hal lagi yang ingin aku sebutkan. Aku masih teringat betapa perdana Menteri Australia, Scott Morrison, menunjukkan keteladanan dalam hal mematuhi protocol kesehatan. Dia menghimbau warga Australia untuk tertib mematuhi protocol kesehatan. Dia sendiri menunjukkan kepatuhan terhadap aturan tersebut dengan cara membatasi aktivitas-aktivitas yang menciptakan kerumunan saat situasi pandemic di negara tersebut sedang genting. Di negeriku, pemimpin justru menunjukkan perilaku buruk penuh arogansi dengan melanggar aturan protocol kesehatan saat situasi pandemic begitu genting. Mereka melakukan lawatan-lawatan ke berbagai daerah yang memicu kerumunan. Perilaku melanggar aturan yang dilkaukan oleh pemimpin tersebut, walau dijustifikasi oleh berbagai argumentasi, tetap membuat sebagian masyarakat berpikir bahwa untuk apa mereka patuh terhadap peraturan, ketika pemimpin mereka sendiri tidka menunjukkan perilaku mematuhi peraturan tersebut.

Dari uraian dalam tulisan ini, bias kita simpulkan bahwa factor utama yang mendorong perilaku tertib masyarakat adalah supremasi aturan dan keteladanan pemimpin. Semua negara mempunyai potensi yang sama untuk memiliki warga yang tertib, asalkan dua prasyarat dipenuhi, yaitu tegaknya aturan dan keteladanan para pemimpin.

Sabtu, 22 Januari 2022

Sebentuk Darma Bakti Untuk Negeri


Januari 2022 ini, aku dan satu teman dari Indonesia berinisiatif untuk menyelenggarakan program semacam sister schools. Program ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, menjadi sarana unutk mempromosikan Bahasa Indonesia kepada sekolah-sekolah di Australia. Kedua, menjadi sarana pertukaran pemahaman budaya (cross-cultural understanding) antar Indonesia dan Australia. Yang ketiga, menjadi sarana perukaran ide best practice antar guru dari sekolah-sekolah yang terlibat dari kedua negara, Australia dan Indonesia. Yang ke empat, memberikan warna dalam pembelajaran Bahasa inggris untuk para siswa sekolah di Indonesia. Harapannya, melalui program ini, mereka menjadi bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk belajar Bahasa inggris.

Untuk tujuan pertama, kami memiliki berbagai pertimbangan. Bahasa Indonesia sudah lama dimasukkan kedalam kurikulum Pendidikan di Australia sebagai sebuah mata pelajaran pilihan. Posisinya seperti Bahasa Arab, Prancis, Mandarin, Jerman, dan Bahasa asing lainnya dalam kurikulum Pendidikan di Indonesia. Konon, sebelum 2002, sebagian besar sekolah menengah atas di Australia mengajarkan Bahasa Indonesia kepada para siswa. Banyak siswa yang tertarik untuk mempelajari Bahasa Indonesia. Namun, setelahnya, minat para siswa terhadap Bahasa Indonesia semakin menurun. Setidaknya itu informasi yang disampaikan oleh tiga guru Bahasa Indonesia yang pernah aku wawancarai, yang dua guru di antaranya adalah orang Indonesia asli, dan satunya orang Australia. Mendapati informasi tentang menurunnya minat siswa Australia terhadap Bahasa Indonesia, aku tergerak untuk membuat suatu program yang bisa berkontribusi dalam meningkatkan minat siswa Australia untuk mempelajari Bahasa Indonesia.

Aku teringat akan momen saat aku berkesempatan mengajar Bahasa Indonesia di Harristown State High School, Queensland, pada 2015 lalu. Betapa para siswa terlihat terkejut dan senang saat mereka mendapati kami, penutur Bahasa Indonesia asli, hadir di kelas mereka. Mereka merasa pengalaman belajar Bahasa Indonesia mereka benar-benar kontekstual, karena kehadiran kami di kelas mereka. Di kelas tersebut, kami mengajarkan Bahasa Indonesia melalui pendekatan budaya. Banyak budaya yang kami tunjukkan dan jelaskan kepada mereka. Di antaranya adalah tarian tradisional, alat music, nyanyian tradisional, pakaian adat, dan lainnya. Kami juga memperkenalkan kepada mereka berbagai informasi seputar tempat wisata, adat istiadat, kuliner nusantara, dan beraneka ragam hal yang menjadi ciri khas Indonesia. Satu demi satu siswa berusaha membuat kalimat pertanyaan dalam Bahasa Indonesia, dan menanyakannya kepada kami. Situasinya persis seperti ketika murid-muridku kedatangan tamu dari negara luar di kelas Bahasa inggris mereka. Mereka begitu antusias untuk berinteraksi dengan tamu tersebut, dan hal tersebut memacu mereka untuk mempraktikkan Bahasa Asing.

Untuk tujuan kedua, aku menyadari bahwa cross-cultural understanding itu sangat penting. Di era globalisasi ini, pemahaman akan budaya dan way of life antar warga negara sangatlah penting. Dengan cross-cultural understanding, kita bisa menyesuaikan diri dalam lingkungan pergaulan internasional. Dengan begitu, kita bisa diterima dalam lingkungan pergaulan internasional tersebut. Tentu ada banyak keuntungan ketika kita mendapatkan penerimaan yang positif dalam kancah pergaulan internasional. Keuntungan tersebut bisa tewujud dalam aspek ekonomi, social maupun politik. Hal tersebut lah yang aku rasa perlu dibekalkan kepada para siswa Indonesia.

Berkaitan dengan tujuan ketiga, aku berpikir bahwa sudah saatnya guru-guru di Indonesia memperluas networking mereka dalam rangka meningkatkan profesionalisme. Banyak insight yang bisa guru-guru di Indonesia dapatkan dari para guru dari negara Australia. Begitu juga sebaliknya. Isu-isu tentang pengelolaan kelas, pembelajaran, penanganan kenakalan remaja, penanaman budi pekerti, dan memaksimalkan potensi siswa adalah sekian di antara banyak isu penyelenggaraan Pendidikan yang cukup mainstream di berbagai sekolah, baik Indonesia maupun Australia. Sharing best practice dan knowledge antar guru dari sekolah-sekolah di Indonesia dan Australia akan memberikan mutual benefit bagi para guru dari kedua negara tesebut.

Sejak 2017, aku sudah menginisiasi adanya program mengundang tamu dari negara asing untuk menjadi tutor siswa dalam belajar bahas inggris di sekolah tempat aku mengajar, SMA N 1 Paninggaran. Sejauh ini, kami sudah kedatangan tutor dari jerman, prancis, jepang, dan amerika serikat di kelas Bahasa inggris kami. Nampak jelas bahwa para siswa sangat antusias untuk terlibat dalam belajar Bahasa inggris, ketika mereka kedatangan tamu asing dari luar negeri. Meski hanya satu atau dua pertemuan, namun pengalaman belajar Bahasa inggris dengan orang asing telah meninggalkan kesan yang mendalam di benak para siswa. Hal tersebut diketahui dari feedback yang mereka sampaikan saat menjelang selesainya pelajaran.

Program sister schools ini akan memberikan banyak manfaat mutualistis bagi sekolah-sekolah yang terlibat, baik dari Indonesia maupun Australia. Harapanku, program ini akan sustainable, dan terus berkembang memberikan dampak positif, baik bagi Indonesia maupun Australia. Di mulai dari sister schools program antara SMA N 1 Paninggaran dengan Mark Oliphant College (MOC), semoga program ini semakin berkembang dan terus berkelanjutan. Aku yakin hal tersebut dapat terwujud. Inilah salah satu baktiku kepada negeriku. Insya Alloh.

Jumat, 21 Januari 2022

Viralitas, Ketenaran, dan Narsisme: Antara tong kosong dan tong berisi


Viralitas dan ketenaran sudah semakin menjadi dambaan banyak orang dewasa ini. Apalagi orang mulai menyadari bahwa viralitas dan ketenaran bisa mendongkrak banyak hal dalam hidup seseorang, seperti finansial, status social, serta kepuasan diri. Manusia cenderung ingin dianggap inspiratif oleh orang lain. Makanya, tiap kali ada wawancara tentang proses keberhasilan, orang-orang yang diwawancarai cenderung menyampaikan fase-fase malang dalam hiudp yang dia lalui. Ada sad story yang sepertinya tidak boleh dilewatkan untuk diceritakan, ketika mereka ditanya tentang proses mereka menuju keberhasilan. Kemudian diakhiri dengan cerita inspiratif tentang bagaimana mereka bangkit dan menjadi sukses. Ketika menjadi pribadi inspiratif, orang punya potensi untuk menjadi tenar dan viral. Begitulah fenomena yang ada dewasa ini, viralitas dan ketenaran.

Obsesi untuk menjadi tenar, seringkali menstimulasi sifat narsistik. Orang ingin tampil keren di hadapan public. Orang ingin dianggap menjadi yang terdepan dalam suatu hal. Sering kita jumpai foto seseorang dengan pose sedang berada di mimbar dengan memegang microphone, yang seolah sedang menjadi pembicara suatu seminar. Padahal dia hanyalah salah seorang anggota panitia. Atau foto berjejer dengan tokoh terkenal, biar dikira disangka dan dipandang memiliki circle orang-orang hebat.

Obsesi menjadi viral dan terkenal begitu merebak dalam berbagai sendi kehidupan. Jika viralitas tersebut muncul di dunia artis, jelas kita bisa memahami, karena memang viralitas dan entertainment adalah laksana dua sisi mata uang. Pertanyaannya adalah, apakah obsesi menjadi viral dan terkenal tersebut bisa muncul dalam bidang lain, bidang akademik misalnya? Nah…ini lah yang akan dibahas dalam tulisan ini.

Seorang mahasiswa program doctoral mengisi seminar, dan dalam flyer yang disebar tertulis nama mahasiswa tersebut dengan keterangan “Kandidat Doktor”. Secara implisit, ada narsisme dalam penyematan frasa “kandidat doctor” tersebut. Mungkin mahasiswa tersebut tidak meminta, namun disematkannya sebutan “kandidat doctor” menyiratkan bahwa hal tersebut sudah menjadi budaya. Orang Sudah memakluminya. Sama halnya dengan penyebutan “haji” kepada seseorang yang sudah pernah beribadah haji. Mungkin sang haji tidka meminta, namun yang memanggil dengan sebutan “haji” pada umumnya menganggap bahwa hal tersebut perlu, karena itu sudah dianggap sebagai budaya. Merebaknya narsisme dalam masyarakat itu nyata.

Saya teringat ada seorang pengisi acara seminar. Dia diminta untuk menulis background pendidikannya. Dia sebutkan semuanya secara lengkap. Mulai dari Pendidikan formal, hingga pengalaman keterlibatannya dalam berbagai pelatihan. Mungkin niatnya adalah dengan menyebutkan semua latar belakang Pendidikan dan semua pengalaman kepelatihan, dia akan dianggap sebagi orang yang kompeten. Sebagian orang mungkin kagum. Namun sebagian orang lainnya, termasuk aku, akan berkata “wait! Ntar dulu. Coba liat isi otak, track record, karya, dan kontribusi nyatamu”. Bukannya saya sok hebat, karena memang saya bukan orang hebat. Namun bagi saya, menyebutkan segala gelar, pengalaman akademik, kepelatihan dan sebagainya di muka umum memiliki konsekuensi besar. Ada beban moral di situ. Harus ada bukti bahwa kita memang benar-benar besar dampak kebermanfaatannya terhadap orang lain di bidang yang kita geluti. Narsis sedikit mungkin boleh, namun kualitas pemikiran, karya dan kontribusi nyata harus lah jauh melambung lebih tinggi di atas narsisme tersebut.

Negara ini hancur dalam beberapa aspek karena banyak orang bodoh dan miskin kompetensi namun terobsesi untuk mengemban amanah besar. Orang-orang seperti itu biasanya haus akan kepemilikan pengaruh, serta ingin dipandang sebagai orang hebat. Namun mereka bukanlah the right man in the right place. Jadinya, banyak urusan-urusan yang dipegang oleh orang yang tidak berkompetensi. Rusaklah jadinya. Memiliki obsesi untuk menjadi terkenal dan berpengaruh itu boleh. Namun selayaknya diiringi dengan upaya memantaskan diri untuk meraih hal tersebut.

Rabu, 19 Januari 2022

Pentingnya Wellbeing dalam Penyelenggaraan Pendidikan


Hari ini aku datang ke kampus cukup pagi. Tujuanku adalah bercengkerama laptopku untuk melanjutkan penyelesaian risetku. Ada satu gedung yang sangat nyaman untuk mahasiswa berlama-lama belajar. Nama gedung tersebut adalah Hub Central. Sebenarnya bukan hanya Hub central yang nyaman untuk tempat belajar. Barr Smith Library, Nexus Building, dan berbagai gedung lain pun memiliki vibe yang mendukung untuk focus belajar. Namun gedung Hub Central ini memang special. Terasa nyaman banget berlama-lama berada di gedung ini. Bukan semata karena fasilitasnya yang lengkap, melainkan juga vibe belajarnya dapet. Ada tempatnya sangat bersih. Ruangannya penuh dengan fasilitas computer canggih dengan koneksi internet yang super cepat. Ada café yang menyediakan aneka ragam menu minuman dan makanan. Sirkulasi udara sangat bagus. Semua orang mendukung kondusivitas ruangan utuk belajar, sehingga tidak ada yang bersuara berisik. Ada bilik-bilik cute yang bisa menampung 7 orang, dengan setting kedap suara, sehingga pas dipakai untuk rapat kecil. Ada teknisi yang stand by all time untuk melayani segala masalah yang berkaitan dengan IT. Persis, Hub Central benar-benar menjadi my second home selama tinggal di Adelaide ini.

Ruang faforitku di Hub Central adalah ruang lantai bawah, let’s say ruang underground. Saat aku turun tangga menuju ruang favoritku, aku melewati sebuah ruang berukuran sekitar 4x3 meter yang dilengkapi dengan Play Station 4, lengkap dengan joystick dan TV ya. Semuanya bisa dipakai secara free. Jujur, aku kaget. Ini kali ke sekian aku berkunjung ke gedung Hub Central, namun kenapa aku baru tau ada ruang khusus untuk para Gamer Play Station. Berbunga-bunga hatiku dong, karena aku adalah PS gamer. Kebetulan ada satu mahasiswa yang sedang memainkan PS4 tersebut. Sempat lah kami ngobrol-ngobrol. Ternyata dia sedang mai PS karena ingin refreshing mind sejenak, setelah sekian jam berjibaku dengan aktivitas belajar dan kencan dengan computer.

Seketika, aku teringat tentang satu mata kuliah yang akan aku ambil di semester ini, yaitu The Introduction to Wellbeing in Education. Aku belum menjalani perkuliahan untuk mata kuliah tersebut, karena kegiatan akademik kampus baru akan dimulai pada bulan februari akhir. Namun, aku sudah sedikit banyak mendapatkan clue tentang apa yang biasanya dipelajari di mata kuliah tersebut. Wellbeing, dalam bahasa Indonesia, sepertinya tidak memiliki padanan kata yang pas. Adapun kosakata yang paling dekat artinya dengan wellbeing adalah “kesejahteraan”. Namun, dalam konteks bahasa Indonesia, kata “kesejahteraan” biasanya lekat dengan segala hal yang berhubungan dengan ekonomi dan finansial. Sedangkan wellbeing yang dimaksud di sini berkaitan dengan kesejahteraan berbagai aspek, termasuk mental.

Berbicara tentang wellbeing, ada satu pertanyaan menarik untuk menjadi bahan diskusi. Mengapa banyak siswa di Indonesia yang kurang memiliki motivasi untuk hadir di sekolah? mengapa banyak siswa yang malas untuk ke perpustakaan? Atau mengapa banyak anak yang enggan untuk belajar, bukan hanya di sekolah, namun juga di rumah. Jawaban dari pertanyaan tersebut tentu beragam, karena factor yang berpengaruh terhadap motivasi seorang individu untuk belajar, membaca, pergi ke perpustakaan, atau sekedar hadir disekolah, begitu beragam. Namun salah satu factor yang terbukti cukup signifikan pengaruhnya terhadap motivasi siswa adalah wellbeing.

Mengapa siswa enggan pergi ke perpustakaan saat mereka mempunyai waktu luang. Jawabannya bisa berupa refleksi dan evaluasi tentang kondisi perpustakaan di sekolah. Seberapa maksimalkah perpustakaan ditata dan di desain untuk kenyamanan siswa? Seberapa maksimalkah sekolah ditata dan didesain untuk membuat siswa senang berada di sekolah? Seberapa maksimalkah orang tua menyediakan dukungan untuk anak mereka belajar di rumah? Jika sekolah masih hanya berupa gedung-gedung segi empat atau persegi panjang yang kurang ditunjang dengan fasilitas yang mengakomodir kebutuhan dan interest anak, jangan harap mereka betah berada di sekolah. Jika pendekatan pembelajaran yang didesain oleh guru masih monoton dan tidak bisa menarik minat siswa, maka jangan berharap siswa mau secara sadar dan penuh gairah untuk menghadirkan diri sepenuhnya dalam proses pembelajaran. Jika perpustakaan masih kurang tertata secara nyaman, hanya menjadi tempat peminjaman buku paket, kurang bersih, serta layanan para librarian yang kurang ramah dan friendly terhadap siswa, jangan harap perpustakaan akan berfungsi sebagaimana mestinya.

Motivasi intrinsic siswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif di sekolah memang sangat penting. Namun kita tidak bisa berharap bahwa mereka secara otomatis hadir ke sekolah dengan motivasi intrinsic tersebut. Motivasi sering kali perlu dirangsang. Gol A Gong tidak menghimbau warga dengan kalimat ajakan seperti “ayo mari kita rajin membaca”, atau “silakan datang ke RUmah Baca untuk membaca”, atau kalimat ajakan sejenisnya. Gol A Gong menyediakan fasilitas Rumah Baca dengan desain se-nyaman mungkin bagi warga untuk singgah. Pada awalnya, warga yang singgah di rumah baca mungkin hanya sekedar ingin duduk-duduk di sofa lantai yang empuk, sembari menikmati segarnya suasana Rumah Baca. Namun lambat laun mereka tergerak untuk mengambil satu buku untuk dibaca, kemudian akhirnya terbentuklah kebiasaan membaca.

Begitu pula prinsip dalam mendorong siswa untuk betah beraktivitas belajar di sekolah. Ciptakan sekolah yang nyaman, yang memberikan dukungan psikologis dan fasilitas fisik untuk sepenuhnya kebaikan para siswa. Cara berkomunikasi guru haru mendukung adanya psychological intimacy dengan siswa. Dengan psychological intimacy, siswa yang tadinya kurang minat dengan suatu mata pelajaran menjadi minat dengan mata pelajaran tersebut. Itulah alasan mengapa mahasiswa calon guru biasanya diharuskan mengambil matakuliah psikologi belajar dan psikologi perkembangan sebagai mata kuliah wajib. Hal tersebut dikarenakan pentingnya pemahaman psikologis anak oleh guru, dan cara membangun hubungan psikologis dengan anak. Ilmu psikologi berkembang begitu pesat, mengikuti dinamika perkembangan kehidupan dan cara hidup manusia. Jika guru hanya mengandalkan apa yang pernah mereka pelajari selama kuliah dulu, maka tidak lah cukup. Guru dituntut untuk terus belajar tentang psikologi, demi terwujudnya wellbeing siswa dalam beraktivitas belajar di sekolah.