Selasa, 06 Juni 2023

Lingkungan, Mindset, Alam Bawah Sadar, dan Pencapaian Besar

 

Ada banyak cara untuk bisa mencapai kekayaan melimpah, status social yang tinggi, dan pencapaian hidup lainnya yang tinggi. Namun, kenapa banyak orang yang tidak (belum) meraihnya?

Jawabannya bisa beragam. Bisa jadi, karena mereka tidak menemukan cara untuk meraihnya. Namun dari sekian banyak alasan kenapa orang belum meraih pencapaian besar dalam hidupnya, satu alasan yang sangat mendasar ada pada mindset.

Betapa banyak orang yang meyakini bahwa mereka sebenarnya tidak layak untuk meraih pencapaian besar.

Betapa banyak orang yang justru meyakini bahwa kondisi penuh kekurangan yang mereka alami adalah nasib yang harus diterima dengan lapang dada dan penuh kepasrahan.

Betapa banyak orang yang alam bawah sadarnya meyakini bahwa mereka tidak pantas untuk meraih pencapaian besar.

Sementara…

Orang-orang dengan pencapaian besar dalam hidupnya meyakini bahwa mereka layak untuk hidup penuh keberlimpahan dan kesuksesan.

Keyakinan tersebut terbentuk dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Diantara sekian banyak faktor yang berpengaruh terhadap keyakinan tersebut adalah faktor Pendidikan dari keluarga.

Keluarga kaya raya akan cenderung menumbuhkan mindset bahwa mencari kekayaaan itu mudah, bahwa kaya raya itu adalah hak mereka dan mereka layak untuk meraihnya.

Bahkan, tanpa diajari secara sadar bahwa mereka bisa kaya, mindset kaya anak-anak yang dibesarkan di keluarga kaya akan terbentuk dengan sendirinya melalui lingkungan dimana mereka tinggal. Mereka menyadari bahwa mereka mudah mendapatkan relasi bisnis. Mereka menyadari bagaimana memberdayakan orang lain untuk tujuan ekonomi mereka. Mereka memahami bagaimana mendapatkan permodalan.

Alam bawah sadar mereka tersetting bahwa mereka adalah orang-orang yang mudah untuk meraih hidup yang berkelimpahan.

Itulah kenapa orang kaya yang jatuh bangkrut cenderung mudah bounce back. Kebangkitan mudah diwujudkan karena mereka mengetahui memiliki mindset bahwa mereka adalah orang kaya. Mereka meyakini bahwa cara meraih kekayaan itu mudah.  

Itu adalah privilege orang-orang kaya dan berpencapaian besar.

Sementara, orang-orang yang sedari lahir hidup penuh kekurangan, cenderung kesulitan untuk merubah kondisi mereka. Lingkungan mereka meyakinkan mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang memang terlahir untuk mengalami kekurangan. Nasib mereka bisa berubah karena beberapa hal. Hal pertama, lingkungan yang menstimulasi mereka untuk berhasil. Untuk meraih lingkungan yang menstimulasi mereka, tentu mereka harus berhijrah atau merantau. ketika merantau dan memasuki lingkungan yang berisi orang-orang yang bisa menginspirasi, maka ada peluang orang tersebut bisa berubah. Kisah tentang Liem Goh Tong cukup bisa menjadi bukti akan hal ini. Dia yang merupakan orang miskin dari Cina daratan memilih bermigrasi dan hidup Malaysia. Dia meniti pekerjaan sebagai seorang buruh proyek. Dari situ dia merintis usaha dalam bidang konstruksi hingga menjadi orang yang berkelimpahan.

Kedua, akses Pendidikan. Pendidikan di sini tidak diartikan sebagai pendidikan formal semata, karena pada kenyataannya, banyak orang berpendidikan tinggi yang masih belum bisa meraih keberlimpahan dalam hidup. Pendidikan di sini bisa berupa ilmu dari sumber apa pun yang mereka dapatkan dan langsung praktikkan hingga berhasil. Di era pesatnya perkembangan teknologi informasi seperti sekarang ini, kesempatan terbuka luas bagi siapapun untuk berubah meraih pencapaian besar dalam hidup. Meskipun kesempatan begitu banyak, banyak orang yang melewatkan kesempatan tersebut. Satu yang membuat mereka melewatkan kesempatan tersebut adalah mindset negative. Mereka tidak meyakini bahwa mereka layak untuk meraih keberhasilan. Banyak orang berhasil karena berada di lingkungan yang penuh dengan orang berhasil.

Mindset itu penting.

Berada di lingkungan yang tepat yang bisa menumbuhkan mindset positif kita itu lebih penting. Itu adalah awal dari mindset positif bertumbuh.

Senin, 29 Mei 2023

Google Earth dan Obsesi terhadap Travelling


 

Sejak pertamakali mengenal google earth, aku sudah terobsesi dengan menjelajahi dunia. Aku sering iseng meluangkan waktu untuk melihat peta berbagai kota dan tempat indah di berbagai belahn dunia. Internet memang membuat semuanya terlihat mudah dijangkau.

Setiap kali aku zoom in suatu wilayah di google map, aku selalu berpikir bahwa dunia ini begitu luas. Masa iya aku hanya mendiami atau singgah di sebagian kecil wilayah saja. Aku ingin mengeksplorasi berbagai tempat untuk melihat keragaman keindahan alamnya, budayanya, manusianya, makanannya, dan sebagainya.

Semakin hari, semakin bertambah usia, bukannya obsesiku semakin surut untuk menjelajahi dunia. Justru semakin membesar dan membuncah.

Masalahnya adalah aku sejauh ini masih belum sepenuhnya memiliki kemerdekaan waktu dan finansial. Yang baru kumiliki hanya kemerdekaan kehendak. Itu pun terbatasi oleh dua jenis kemerdekaan tadi. Aku masih terikat pekerjaan rutin.

Kadang uang untuk traveling sudah terkumpul, namun kendala ketersediaan waktu muncul. Kadang ada waktu, namun ketersediaan uang traveling kurang memadai, apalagi untuk menjangkau belahan bumi lain yang letaknya sangat jauh dari tempat aku tinggal.

Satu cara yang cukup jitu untuk aku traveling adalah melalui beasiswa studi di luar negeri. Melalui beasiswa, aku bisa menjelajah berbagai negara selain negara tempat studi. Seperti yang pernah aku lakukan ketika mendapat beasiswa studi di jepang dan Australia. Melaluinya, aku bisa berkunjung ke beberapa negara seperti korea, Malaysia, hongkong, filipina dan singapura.

Mencari kesempatan untuk traveling melalui beasiswa memang menggiurkan. Namun, cara ini memiliki keterbatasan. Beasiswa mensyaratkan Batasan usia tertentu. Maka dari itu, sulit untuk mengandalkannya sebagai jalan untuk bisa traveling ke luar negeri secara berkesinambungan.  Pada usia tertentu, aku tak bisa lagi mengandalkan beasiswa untuk bisa traveling ke luar negeri.

Kini, aku berpikir dan berjuang keras bagaimana caranya agar aku mencapai freedom. Hidup ini begitu indah. Aku tak mau terkungkung di suatu tempat saja hingga akhir hayatku. Aku ingin bisa mengepakkan sayap laksana burung garuda yang bisa menjelajah ke berbagai belahan dunia.

Dengannya, aku bisa menikmati karunia Alloh berupa hamparan bumi yang begitu luas, indah, mempesona dan luar biasa.

Ketika aku mencapai freedom nanti, aku akan jadikan every part of hemisphere is my hometown. 

Mengeksplorasi berbagai tempat di berbagai belahan dunia, sambil melakukan kegiatan filantropi. Terasa dan kebayang banget keindahan dan kebermaknaannya. 

Sabtu, 06 Mei 2023

Nonton Film

 

Bagaimana perasaanmu ketika menonton suatu film yang kamu sudah mengetahui alur ceritanya?

Apa menariknya?

Sebagian film memang menarik, walau ditonton berulang-ulang. Film inspiratif seperti “The Three idiots”, misalnya.

Namun semenarik-menariknya film, lambat laun tetap lah menimbulkan rasa bosan ketika ditonton secara berulang.

Begitu pula hidup yang dijalani dengan cerita yang sudah kita ketahui alurnya.

Jujur, kini aku sedang merasa berada di titik stagnansi. Terkait pekerjaan.

Aku mendambakan pertumbuhan, perubahan, dan peningkatan. Namun sepertinya berada di rel ini tidak akan membawaku kemana-mana. Aku hanya akan menjadi siapa diriku yang flat itu.

Aku sudah berupaya memantaskan diri untuk menjadi seorang berdedikasid an berkualifikasi tinggi dalam dunia pendidikan yang aku tekuni. Namun aku masih lah diriku selayaknya dulu yang masih pendek jangkauan tangan dan kakinya.

Ide-ide bermunculan, tentang bagaimana mengembangkan penyelenggaraan pendidikan. namun sejauh ini seringkali terbentur oleh ketiadaan kemampuan untuk membiat kebijakan.

Jangankan kebijakan pendidikan di level makro, di level kecil seperti sekolah saja ide-ide ku seringkali terbentur oleh ketiadaan otoritas untuk membuat kebijakan.

Itu hal stagnan yang pertama.

Selanjutnya, terkait finansial. Aku bersyukur diberi kecukupan rezeki. Untuk kebutuhan primer aku tidak kekurangan. Namun, aku belum mencapai level kebebasan finansial yang biasanya membuat orang bisa berderma banyak kepada sesama.

Ide begitu banyak. Namun masih bingung, darimana memulainya.

Ini lah paradoksalnya ide. Ketika tidak ada ide, orang bingung mau melakukan apa. Ketika ide begitu banyak, orang juga bingung mau mengeksekusi ide yang mana. Akhirnya kadang ktia tidak kemana-mana dan hanya menghabiskan waktu tanpa melakukan apa-apa.

Waktu terus berlalu-harus ada tindakan yang dilakukan.

Akhirnya aku sedang mencoba mengeksekusi satu pilihan ide.

Bismillah…semoga lancer sukses dan berkah.

 

Senin, 01 Mei 2023

Siswa Indonesia itu literally overwhelmed. Mereka rentan stress. Kasihan!

 


 

Tulisan ini tentang betapa kasihannya para siswa di Indonesia. kasihan gimana maksudnya?

Gimana gak kasihan. Mereka harus mempelajari berbagai mata pelajaran setiap hari aktif sekolah. Kelas X SMA/SMK saja, mereka memiliki beban belajar sekitar 15-17 mata pelajaran. Mengapa disebut “beban belajar”? Bukankah mempelajari itu semua akan baik buat mereka? Faktanya, itu beban. Bagaimana tidak beban? Mereka harus mempelajari berbagai mata pelajaran, mau tidak mau, suka tidak suka. Di setiap mata pelajaran ada passing grade (KKM) yang harus mereka capai. Jika tidak bisa mencapainya.

Mempelajari banyak hal yang tidak disukai dengan terpaksa demi meraih batas nilai tertentu, apakah kira-kira tidak membuat stress?

Logika waras tentu akan menyimpulkan bahwa that’s sort of stress-making thing.

Insane nya, mereka harus mempelajari itu semua di lima hari sekolah setiap minggunya, dari pagi hingga sore. Siklus belajar seperti itu sebenernya juga kurang efektif untuk membuat para siswa paham, enjoy dan sehat secara mental, emosional, psikis maupun fisik. Namun sejauh ini Nampak belum ada perubahan atas kebijakan dalam dunia pendidikan tersebut.

Belum lagi, mereka masih memiliki beban untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaan Rumah (PR) saat berada di rumah. Meski topik tentang kontraproduktifnya PR sudah lama menjadi bahan diskusi, namun masih banyak guru yang membebani para siswa dengan berbagai PR dan tugas dengan level kesulitan yang beragam.

Semudah-mudahnya tugas dan PR, jika setiap guru mata pelajaran memberikan tugas dan PR, maka tentu hal tersebut cukup menjadi beban buat para siswa.

Para siswa adalah makhluk yang membutuhkan keseimbangan (learn and life balance) juga, sebagaimana manusia dewasa. Mereka butuh untuk berpartisipasi aktif dalam lingkungan di luar sekolah, seperti lingkungan social dan keluarga. Mereka butuh waktu untuk bermain, mereka butuh waktu untuk mengasah dan menyalurkan hobinya yang tidak ada hubungannya dengan dunia persekolahan. Sebagian dari mereka butuh mencari uang untuk membantu perekonomian keluarga. Banyak kegiatan ekstra yang tidak kalah penting buat mereka, di luar kegiatan persekolahan.

Wellbeing para siswa di Indonesia nyatanya memang belum mendapat perhatian serius. Sementara di Negara-negara dengan system pendidikan yang maju, wellbeing menjadi isu serius yang diperhatikan dan diarusutamakan dalam kebijakan pendidikan.

Dalam suatu kesempatan collaborative learning melalui media online antara sekolah Indonesia dengans ebuah sekolah dari Australia, para siswa dari kedua sekolah kaget dan heran dengan perbedaan signifikan tentang jumlah jam belajar per minggu yang harus di pelajari oleh para siswa di Indonesia dan Australia. Di Indonesia, kelas X SMA/SMk harus mempelajari sekitar 14017 mata pelajaran, dan hal tersebut membuat para siswa di auastralia kaget. Tak kalah kaget para siswa Indonesia ketika mengetahui bahwa untuk jenjang kelas yang smaa, di  austarlia, para siswa hanya dibebani belajar 6-7 mata pelajaran. Di sekolah-sekolah di Austarlia, ada mata pelajaran wajib, dan ada mata pelajaran pilihan yang benar-benar bisa dipilih oleh para siswa secara merdeka. Perbedaannya njomplang sekali bukan?

Dengan fakta seperti itu, jangan heran ketika para siswa di Indonesia secara emosi, mental dan psikis terpengaruh secara negative akibat overwhelmingnya beban belajar yang harus mereka emban. Bahkan hal tersebut bisa jadi berpengaruh terhadap attitude dan karakter mereka (ini hanya hipotesis, dan tentu perlu penelitian nyata).

Itlah sedikit gambaran tentang betapa overwhelmed nya para siswa di Indonesia.

Kasian!

Jumat, 24 Maret 2023

Menjadi Seorang Martir

 

Sudah sekian tahun aku menjadi guru, Aku tak pernah kepo tentang urusan manajemen keuangan sekolah. aku selalu percaya bahwa semua baik-baik saja. Aku percaya bahwa pengelolaan keuangan sekolah baik-baik saja. Aku meyakini bahwa mereka yang mengelola keuangan memiliki integritas. Sepertinya pemikiran seperti itu juga dimiliki oleh para guru lain. Mereka juga mungkin sama-sama meyakini bahwa pengelolaan keuangan sekolah dijalankan dengan penuh akuntabilitas dan kredibilitas.

Namun itu lah jeleknya kepercayaan. Ketika semua orang percaya dan tidak berpikir dan bertindak kritis, maka peluang-peluang oknum untuk melakukan penyalahgunaan wewenang cenderung muncul. Jangankan orang yang tipis imannya. Orang yang paham tentang agama pun, ketika disuguhkan oleh peluang untuk berbuat curang bisa saja tergoda. oleh karena itu, dalam suatu organisasi, penting sekali adanya orang yang kritis terhadap berbagai hal. Kritis menyuarakan pentingnya transparansi. Orang kritis semacam itu mungkin akan dibenci oleh orang tertentu, yang merasa kepentingannya terusik. Namun itu adalah sebuah sunatulloh yang harus terjadi untuk terjaminnya kesehatan iklim suatu organisasi.

Kali ini, aku merasa tidak boleh tinggal diam. Terlalu nyata dan jelas terlihat, betapa uang Bantuan Operasional Sekolah yang begitu besar ternyata sebagian tidak digunakan secara semestinya. Malah ada dugaan disalahgunakan oleh oknum. Sempat aku lihat RKAS, ada begitu banyak program yang tak direalisasikan, namun dilaporkan terealisir. Pelakunya adalah orang yang aku sama sekali tidak menyangka sebelumnya bakal melakukan itu.

Kepala sekolah nampak diam dengan fakta itu. Mungkin tidak paham. Atau mungkin paham, namun tidak berkeinginan untuk menindaknya. Mana pun kemungkinan yang ada, kepsek tetap salah membiarkan hal tersebut tanpa diberi tindakan yang proporsional.

Hingga akhirnya aku putuskan untuk menyarakannya di publik, grup whatsapp sekolah. Sama sekali tidak bermaksud mempermalukan orang atau membuat keruh suasana, namun aku berharap isu ini menjadi atensi semua orang. Aku tidak ingin seolah ini menjadi urusanku sendiri. Sementara ini nyatanya adalah urusan public sekolah. aku sama sekali tidak memiliki kepentingan pribadi atas apa yang aku lakukan. Aku hanya ingin di sekolah tempat ku mengajar ada transparansi. Aku hanya ingin bahwa anggaran yang dikucurkan pemerintah yang memang ditujukan untuk penyelenggaraan pendidikan di sekolah benar-benar dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan sekolah, terutaman kemaslahatan peserta didik. Itu saja.

Benar saja, aku menjadi martir. Banyak yang membenciku, namun lebih banyak yang mendukungku. Banyak yang sebenarnya satu pemikiran dan satu kehendak denganku. Hanya saja mereka tidak memiliki keberanian seperti aku untuk mengungkap kasus tersebut. Aku benar-benar merasa berani dan nothing to lose. Targetku satu, ada efek jera pada oknum, sekaligus memberikan pelajaran kepada pengelola keuangan agar kedepannya amanah dan menunjukkan integritas.

Kadang aku berpikir, jangan-jangan kasus penyalahgunaan wewenang pengelolaan keuangan juga terjadi di banyak sekolah lain. Aku pernah mendengar cerita serupa dari berbagai sekolah. namun aku belum berani untuk menyimpulkan bahwa sebagian besar sekolah terjadi penyalahgunaan wewenan pengelolaan keuangan. Hal itu perlu survey riil. Meski debimikian, aku memiliki hipotesis bahwa sebagian besar pengelolaan dana di sekolah dilaksanakan secara improper dan tidak transparan. Pantas saja ada sebuah video yang cukup viral di media sosial yang mengungkapkan bahwa korupsi di dunia pendidikan di Indonesia itu sangat memprihatinkan. Susah diungkap, memang, karena skalanya kecil namun cukup masif.

Jika begini, bullshit sekali pendidikan karakter dilaksanakan di sekolah, ketika orang-orang yang mengajarkan pendidikan karakter menunjukkan perilaku korup seperti itu. Bagaimana bisa sekolah meyakinkan generasi Indonesia untuk memiliki perilaku anti korupsi ketika mereka sendiri adalah praktisi korupsi dan ketidakjujuran.

Sungguh miris aku membayangkannya.

Aku akan memastikan bahwa kasus ini harus ada konklusi yang adil. Para pelaku korup menjadi jera. Sementara semua orang menjadi waspada untuk berperilaku amanah dan penuh integritas. Manajemen keuangan menjadi transparan. Dan pelayanan pendidikan terhadap para peserta didik menjadi optimal.

Itu saja niatku.

Bismillah

Minggu, 26 Februari 2023

Menjadi Pemimpin Efektif di Sekolah

 

 

Kepemimpinan bukan lah soal otoritas semata. Kepemimpinan adalah tentang pengaruh. Mengapa demikian? Karena ada orang yang memiliki otoritas sebagai pemimpin, namun ia tidak bisa mengarahkan organisasi atau komunitas yang dipimpinnya secara efektif. Sementara, ada orang yang tidak memiliki otoritas sebagai pemimpin, namun ia mampu memberi warna dominan pada komunitas dimana dia berada. Tulisan ini tidak akan membahas kepemimpinan dalam konteks kemampuan seseorang untuk memberi pengaruh. Namun tulisan ini fokus pada bagaimana kepemimpinan formal di sekolah bisa berjalan efektif. Kenapa efektifitas kepemimpinan di sekolah perlu dibahas? Karena apa gunanya kepemimpinan jika ia tidak memberikan dampak kemajuan bagi sekolah. Ketiadaan efektivitas kepemimpinan di sekolah akan menjadikan sekolah laksana kapal yang melaju tanpa arah yang jelas. Atau sekalipun kapal tersebut ada kejelasan arah, namun ia tidak melaju dengan efektif dan efisien. Misalnya, mungkin kecepatan kapal kurang sesuai, atau bahan bakar yang digunakan kurang efisien, dan kekurangan-kekurangan lainnya.

Ada pertanyaan yang seringkali muncul dalam diskusi kepemimpinan sekolah. Seperti apa sih wujud kepemimpinan yang efektif di sekolah itu?

Kadang, seseorang yang memimpin sekolah cenderung mengedepankan ego. Karena berposisi sebagai pemimpin, mereka merasa bahwa segala sesuatu harus diputuskan berdasarkan kehendak atau idenya. Orang lain harus tunduk dan patuh. Model kepemimpinan seperti itu sudah using, dan tidak relevan dengan perkembangan zaman. Mungkin model kepemimpinan seperti itu relevan jika diterapkan pada organisasi perusahaan yang dimiliki secara pribadi. Namun dalam konteks organisasi public seperti sekolah, model kepemimpinan seperti itu tidak layak diterapkan.

Karakter kepemimpinan efektif yang pertama adalah penempatan the right man in the right place. Ini adalah hal yang idealnya diterapkan dalam praktik kepemimpinan. Seorang pemimpin efektif akan mendelegasikan suatu urusan kepada anak buahnya berdasarkan kompetensi dan kapasitas yang dimilikinya, bukan berdasarkan kecenderungan like and dislike. Penugasan berdasarkan Like and dislike biasanya dilakukan oleh seorang pemimpin yang kurang percaya diri atas kemampuannya.

Karakter yang kedua adalah penerapan model kepemimpinan terdistribusi (distributed leadership). Ini adalah model kepemimpinan yang menekankan pada pelibatan semua elemen dalam organisasi dalam hal pengambilan keputusan/kebijakan organisasi. Seorang pemimpin yang efektif akan percaya diri bahwa ia adalah orang yang bisa mengendalikan situasi, meskipun ia melibatkan banyak orang dalam pengambilan keputusan/kebijakan. Sikap memilih untuk tidak melibatkan banyak pihak dalam pengambilan kebijakan biasanya dilakukan oleh orang yang insecure terhadap kapasitas kepemimpinannya.

Karakter ketiga adalah mampu membantu setiap individu di sekolah untuk memiliki visi. Visi misi manajemen sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, guru dan staf karyawan sudah jelas, yaitu melayani peserta didik. Mereka digaji untuk itu. Namun, bukan hanya mereka saja yang semestinya memiliki visi, melainkan juga peserta didik sendiri. Jika visi misi manajemen sekolah adalah melayani peserta didik, maka visi misi peserta didik bersivat individual, dan mereka perlu dibantu untuk memiliki visi dan mewujudkannya. Dalam menjalani aktivitas pendidikan di sekolah, setiap peserta didik semestinya memiliki tujuan yang jelas tentang apa yang ingin mereka capai. Hal yang dicapai semestinya bukan semata hal yang berkaitan dengan tujuan jangka pendek seperti nilai raport atau ijasah, karena sekolah hanyalah sebagian dari proses mereka menuju masa depan yang gemilang. Tiga tahun lamanya menjalani studi semestinya menjadi momentum untuk mewujudkan cita-cita besar peserta didik.

Karakter ketiga adalah kepekaan terhadap isu-isu sekolah dan mencari solusi dengan melibatkan semua pihak. Meskipun sekolah adalah sebuah entitas yang relative kecil, namun ia tidak jauh dari permasalahan. Ada masalah yang berkaitan dengan lingkungan seperti banyaknya sampah dan kurangnya estetika lingkungan. Ada masalah terkait hubungan antar individu. Ada masalah terkait kurangnya pemahaman peserta didik tentang cara belajar yang efektif. Ada kendala dalam kampanye literasi. Ada masalah tentang memudarnya budaya belajar (learning culture). Ada masalah tentang kedisiplinan. Ada masalah tentang keharmonisan keluarga peserta didik yang berpengaruh terhadap performa akademik mereka. Ada masalah yang berkaitan dengan kurang terakomodirnya bakat dan minat peserta didik. Dan masalah-masalah lainnya. Pemimpin yang efektif mampu mengidentifikasi semua masalah yang ada, dengan perangkat yang mereka miliki. Pemimpin efektif juga mampu melibatkan banyak pihak dalam merumuskan solusi. Pelibatan banyak pihak dalam merumuskan solusi itu sangat penting, karena hal tersebut bisa meningkatkan sense of belonging semua pihak terhadap entitas sekolah.

                                                                                    Bersambung…………

Sabtu, 04 Februari 2023

Menjalani Kehidupan Sebagai Digital Nomad: Sebuah impian yang lekas jadi nyata

 


 

Menjalani pengalaman hidup sebagai digital nomad adalah impianku. Berpindah dari satu Negara ke Negara lainnya untuk merasakan pengalaman hidup disana. Di sana kami akan menyelami budaya, menikmati keindahan alam, merasakan kehangatan interaksi dengan berbagai manusia dari beragam etnis, serta melakukan berbagai kegiatan filantrofis. Aku tidak sendiri, melainkan bersama istri dan anak-anakku.

Keseharian kami diisi dengan aktivitas membuat konten video inspirasi, menjalani bisnis berbasis digital, mengendalikan perusahaan from a long distance, menjalankan kegiatan filantropis, dan menulis.

Menjalani hidup sebagai digital nomad selama beberapa tahun sepertinya akan menjadi pengalaman hidup yang sangat berharga dan penuh makna. Tentu ada waktunya untuk kembali dan menetap. No matter how far we go, we have a place to be back home.

Berbagai pengalaman ups and downs hidup pasti akan muncul. We have to be ready for that.

Dari pengalaman hidup sebagai digital nomad tersebut, aku memiliki banyak teman dari berbagai Negara. Aku memiliki jaringan bisnis dari berbagai Negara. Aku memiliki keluarga angkat dari berbagai Negara. Aku bisa berperan aktif sebagai ambassador bagi negeriku. Aku promosikan wisata dan budaya kepada dunia luar.

Lantas, apa saja yang harus kami persiapkan untuk mewujudkan impian tersebut?

Pertama, sedari sekarang harus merintis dan menjalankan bisnis berbasis digital hingga tumbuh berkembang secara pesat dan berkesinambungan. We have opportunity for that. Dipoles dengan digital marketing yang dahsyat, maka bisnisku insya Alloh akan berjalan secara maksimal penuh dengan profit. Selanjutnya, bisnis harus diupayakan untuk bisa berjalan secara minimal semi-autopilot. Sukur-sukur bisa autopilot penuh.

Kedua, kemampuan video-taking dan video-editing harus benar-benar kami kuasai. Selain itu, copywriting juga menjadi kecakapan yang bakal melengkapi sempurnanya olah video.

Ketiga, kemampuan digital marketingku harus dahsyat ndak tanggung-tanggung. Setiap hari aku harus berlatih minimal 1 jam untuk mengasah kemampuan digital marketingku.

Keempat, aku harus belajar bahasa asing lagi (minimal Arabic, Spanish, Japanese, dan French). Penguasaan bahasa asing tersebut akan menjadi modal tambahan untuk bisa berinteraksi secara lebih intimate dengan masyarakat local di Negara-negara yang aku kunjungi.

Keliling dunia untuk bertamasya, menjalani bisnis berbasis digital dan running semi-autopilot bisnis, beribadah, serta menjalani berbagai kegiatan filantropis. Intinya itu. Sudah bisa ku bayangkan, betapa hidupku akan lebih penuh makna, warna dan manfaat.