Senin, 25 Oktober 2021

Catatan Dahlan: Hidup Sebulan di Bali (24 Maret-26 April 2021)

 

 

Landing dan hari pertama

Alhamdulillah, akhirnya landing dengan selamat. Jujur, sebelum memutuskan untuk naik pesawat, hatiku bergulat dengan rasa cemas dan keraguan. Cerita akan jatuhnya pesawat sriwijaya Air yang masih hangat di ingatan makin menambah rasa cemas itu.

Sampai di Bandara I Gusti Ngurah Rai, langsung terasa Vibe nya. Alunan music tradisional Khas Bali di lorong lorong ruang bandara menyambutku begitu akrabnya. Ini adalah kali ke-enam aku berkunjung ke Bali. Pertama kali aku berkunjung ke Bali adalah Study Tour saat aku masih SMA. Dari setiap kunjunganku ke Bali, aku merasa selalu saja ada yang baru di Bali. Suasananya selalu baru. Hingga terbersit rasa untuk berkunjung lagi, setiap kali beranjak pulang dari Bali.

Kali ini, kebaruan tersebut dipengaruhi oleh situasi pandemi. Bali yang sebelumnya selalu padat dengan pengunjung, kini cukup lengang. Sesekali berbicara dengan warga local tentang dampak pandemic, selalu saja yang kudapatkan adalah keluhan. Betapa besarnya dampak adanya pandemic terhadap kehidupan warga yang hidup di Bali. Hal tersebut aku maklumi, karena memang pandemic menghantam kehidupan semua orang di seluruh negeri hamper tanpa terkecuali. Hanya saja sebagian bertahan, sementara sebagian lainnya hancur terhantam. Pariwisata menjadi sector yang paling terpuruk. Begitu pun Bali yang mengandalkannya sebagai sector utama penopang kehidupan ekonomi.

Di Bali, aku tinggal di sebuah kos-kosan. Kos-kosan tersebut dahulunya adalah sebuah hotel. Di masa normal, rate per kamar per malam kurang lebih adalah 250-350 ribuan. Kini kamar-kamar tersebut disewakan secara bulanan dengan tariff 1-600.000 per bulan, sudah include smuanya kecuali listrik. Berbekal media social, aku berselancar di dunia maya mecari informasi tentang kos yang menarik. Kos yang cukup terjangkau,` namun nyaman untuk mendukung aktivitasku selama di Bali. Kos-kosanku ini namanya Lowcost. Meski secara harfiah ia bermakna “berbiaya rendah”, namun fasilitas yang ia tawarkan sangat luar biasa. Kondisi kamar yang persis seperti hotel bintang 3 atau empat membuatku nyaman beradadi dalamnya. Ada roof top yang dari sana aku bisa melihat langsung Graha Wisnu kencana (GWK). Dari rooftop pula aku bisa bersantai sambil menikmati panorama indah tenggelamnya matahari. Matahari terlihat begitu cantik sekali di sore hari.

Di pagi pertama, setelah subuh, aku berjalan kaki ke arah barat menuju pantai Jimbaran. Sampai di pantai, ku lihat orang-orang sibuk bertransaksi jual beli hasil tangkapan laut. Tak jauh dari pantai, ada pasar ikan yang menjual ikan-ikan segar. Pantai, ikan, dan pemandangan orang-orang yang sedang memancing di dermaga adalah hal-hal yang membuat ku lupa akan rasa lapar.

Oiya, sebenarnya apa sih tujuanku ke Bali? Apakah untuk liburan? Kalo liburan, durasi sebulan relative kelamaan. Memang aku menjadikan kunjungan ke Bali kali ini sebagai liburan. Namun tujuan utama sebenarnya adalah untuk mencari suasana baru yang mendukung aktivitas kuliah online ku. Menunggu jadwal keberangkatan yang tak kunjung tiba itu sungguh melelahkan hati dan pikiran. Tapi aku bisa apa, ketika pemerintah Australia tetap ngotot untuk menutup perbatasan. Mereka berhak untuk membuat kebijakan demi rakyat mereka, dengan cara mereka. Awalnya, aku terjebak rasa marah tak karuan. Merasa ada ketidakadilan yang diberikan oleh Australia. Namun aku sudah mulai berdamai dengan situasi ini.

Menjalani kuliah Online di rumah, tepatnya meja dekat dapur yang signal internetnya paling bagus, aku merasa jenuh. Hamper satu tahun kujalani mode perkuliahan seperti ini. Tentu banyak kendala yang kuhadapi. Terkadang signal internet hilang. Terkadang suara dosen yang terdengar melalui aplikasi Zoom kurang jelas, sehingga mempengaruhi pemahamanku akan materi. Terkadang ada kendala komunikasi dengan teman grup presentasi, yang mana mereka berasal dari negeri Tiongkok yang menggunakan platform media komunikasi yang berbeda dari Indonesia. Dan sederet Kendala lainnya. Namun aku bersyukur pada Alloh, sang Murah Hati, overall aku bisa melewati semester satu dengan cukup baik. Targetku tidak mulu-muluk, minimal bisa survive saja aku sudah bersyukur.

 

Bismillah…aku mengerjakan assignment kuliah dulu ya.

 

Hari kedua hingga ke lima

Ini adalah kali ke-enam aku berkunjung ke Bali. Pada kunjungan-kunjungan sebelumnya, aku selalu memiliki keterbatasan waktu untuk benar-benar menikmati Bali, karena singkatnya kunjungan. Maklum, kunjunganku pada waktu itu bukan murni untuk berwisata, melainkan karena mengikuti kegiatan seperti seminar dan short course yang terjadwal. Sempat dulu aku bayangkan, bilakah aku bisa menikmati waktu lama di Bali. Berjalan menyusuri jalan dan gang di Bali, melihat lokalitas yang ada di dalamnya. Sepertinya asik jika bisa berlama-lama berada di pantai, menikmati tenggelamnya matahari sambil berenang di tepian laut dan bercengkerama dengan teman.

Kali ini, impianku terwujud. Sekarang aku tinggal di Bali untuk waktu yang cukup untuk memberikanku kesempatan mengeksplorasi Bali. Aku adalah pecinta jalan kaki. Sempat aku berjalan di sekitar Kuta, mampir ke berbagai tempat ikonik seperti Pabrik kata-kata Joger, pusat oleh-oleh Krishna, monument tragedy Bom Bali, pantai Kuta, dan menyusuri jalan-jalan sempit yang kanan kirinya penuh dengan took pernak-pernik khas Bali. Senang rasanya, karena apa yang aku bayangkan dahulu itu kini terwujud.

Kemarin, aku berjalan dari tempat ku tinggal menuju pantai Jimbaran. Sampai di sana, matahari mulai tenggelam. Bergegas aku menuju pantai untuk berenang sambil menikmati masa peralihan dari sore ke malam. Langit Bali terlihat begitu indah, cerah. Sempat aku ragu untuk berenang, karena aku bingung dimana aku bisa meletakkan barang-barangku dengan aman. Seorang warga local menyarankan untuk meletakkannya saja di tepian pantai, dan itu akan aman. Ternyata benar, aman.

Aku biasanya suka kuliner, setiap kali berkunjung ke suatu tempat. Namun, aku belum mendapati kuliner khas yang bisa aku nikmati di Bali ini. Ada kuliner khas Bali yang ikonik, Babi Guling. Namun tentu aku tidak bisa menyantapnya.

Hari-hariku di Bali terisi dengan aktivitas mengerjakan tugas, membaca artikel terkait mata kuliah yang aku ambil, korespondensi dengan teman kelas, baik dari sesame Indonesia maupun dari Negara lain, menonton video, dan eksplorasi tempat-tempat yang mudah dijangkau. Smeentara ini, aku hanya bisa mengeksplorasi daerah Denpasar, karena cukup dekat dengan tempat tinggalku. Ada keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat keren yang hideaway. Namun itu akan butuh usaha dan biaya ekstra.  

Di Bali ini, aku berjanji pada diri sendiri untuk bisa produktif. Tinggal di Bali ini tentu menghabiskan biaya yang cukup banyak. Aku anggap ini sebagai investasi. Karena investasi, maka aku harus menghasilkan sesuatu secara produktif.

Tugas kuliah begitu banyak. Sementara aku sendiri merasa rugi jika selama di Bali ini, hanya tugas kuliahku saja yang selesai. Aku harus mendapatkan hal lain. Begitu banyak ilmu yang ingin aku pelajari dan praktikkan. Untuk bisa meraihnya, aku harus memiliki waktu luang yang cukup banyak. Agar waktu lunagku cukup banyak, maka manajemen waktuku harus bagus. Kecepatanku dalam menyelesaikan tugas-tugas harus mantab.

Begitu banyak bahan bacaan yang ingin aku selesaikan. Butuh kecepatan membaca yang luar biasa. Bukan hanya kecepatan membaca, melainkan juga kecepatan memahami bacaan. Rugi rasanya jika berlama-lama membaca. Sementara, yang paling penting adalah mampu mempraktikkan ilmu, bukan semata membaca atau mendapatkan ilmu.

Belajar,bekerja, dan having fun harus balance selama di sini. Ini adalah kesempatan pembuktian bahwa aku pandai mengelola waktu, dan produktif dalam berkarya.

 

Hari ke-6 dan 7

Tak terasa, genap sudah seminggu aku berada di Bali. Waktu berlalu begitu cepatnya. Biasanya, terasa cepatnya waktu itu dikarenakan adanya rasa bahagia. Memang, jujur aku betah tinggal di sini. Andai saja semua pekerjaanku bisa dilakukan dari sini, mungkin hidup akan terasa indah. Mungkin ini yang membuat para digital nomad dari berbagai Negara betah berlama-lama menetap di Bali. Lingkungannya cukup bersih, dan yang terpenting lagi adalah aman. Bali tak semata menampilkan hedonism, sebagaimana yang seringkali dicitrakan oleh banyak orang. Maklum, citra tersebut melekat, karena posisi Bali sebagai destinasi wisata internasional. Orang berbondong-bondong dating ke Bali untuk bersenang-senang. Dan Bali menawarkan berbagai pilihan kesenangan.

Hampir tak ada tantangan berarti untuk hidup di Bali, asalkan urusan keuangan aman. Banyak potensi yang dimiliki Bali. Sayangnya, justru acap kali orang luar yang jeli melihat dan memanfaatkan potensi tersebut.

Kemarin, aku jalan-jalan ke Kintamani dan Penglipuran world’s cleanest village. Keduanya berada relatif jauh dari Denpasar. Di Kintamani, aku disuguhi pemandangan gunung Batur dan danau Batur yang begitu mempesona. Bagi penyuka tempat yang tak begitu ramai seperti aku, kemarin adalah momen yang sangat tepat untuk berkunjung ke kedua tempat tersebut. Kintamani begitu sepi. Begitu pula Desa Penglipuran. Hamper dua jam aku duduk di sebuah restoran, bercengkerama sambil menikmati makan siang dengan menu ikan Nyet-Nyet khas Bali. Selama itu, tak ada pengunjung lain yang dating. Terbayangkan betapa dahsyatnya hantaman pandemic terhadap para pelaku Bisnis. Konon, restoran tersebut mampu meraih omzet puluhan juta rupiah dalam sehari di masa-masa normal. Namun, di masa pandemic, sehari dapet ratusan ribu saja belum tentu. Hanya dua orang karyawan yang nampak berjaga di restoran yang cukup besar tersebut. Terbayang berapa banyak karyawan yang harus dirumahkan.

Hal tersebut menyadarkanku untuk terus bersyukur dan bersyukur. Tak ada alasan untuk mengeluh atas keadaan apa pun. Sedikit saja ketidaknyamanan yang aku rasakan, tak layak untuk dikeluhkan. Di luar sana masih banyak orang yang sekedar membeli nasi pun tak bisa, karena limitnya pendapatan. Ada pula cerita seorang mantan pegawai hotel yang banting setir menjadi tukang ojek. Secara penampilan, orang tersebut lebih Nampak seperti seorang manajer hotel, atau bahkan pemilik hotel. Perawakannya berwibawa, rapi, cara bicaranya santun, klimis, bersih. Sama sekali tak Nampak seperti orang yang berkesibukan di jalanan. Lagi-lagi pandemic membuat orang seperti dia tak punya pilihan, selain melakukan aktivitas apapun untuk bisa survive menghidupi keluarganya.

Oiya…aku pergi ke kedua tempat tersebut dengan diantar oleh seorang teman. Teman kelas, tepatnya. Dia adalah mahasiswa The University of Adelaide juga. Usianya terpaut cukup jauh lebih muda dari ku. Dia cerdas, ramah sikap dan tutur katanya, berwasasan luas dan toleran. Kami berbeda dalam hal keyakinan beragama. Dia Hindu, aku Islam. Namun justru dia yang begitu concern untuk mengingatkanku melakukan kewajiban sholat lima waktu. Dia ingatkanku untuk membawa perlengka[an sholat, jika diperlukan. Dia juga mengantarkanku ke masjid saat waktu sholat tiba di tengah-tengah perjalanan. Indah rasanya ketika toleransi seperti itu terwujud dalam persahabatan. Aku belajar banyak dari dia tentang berbagai filosofi yang ada dalam adat budaya masyarakat Bali. Hal tersebut cukup menambah wawasanku.

 

Menjadi digital nomad

Berada di Bali ini, aku jadi terpikir tentang menjadi Digital Nomad. Tinggal di Bali memang nyaman, namun terwujudnya kenyamanan tersebut karena ditopang oleh keterjaminan finansial. Aku mulai berandai-andai, bilakah aku tinggal menjadi digital nomad, mendapatkan penghasilan tanpa harus terikat jadwal ngantor pagi hingga petang. Ini pertanyaan menarik yang cukup mengusik dan memprovokasi pikiranku. Rasanya sulit, jika aku harus secara jujur jawab sekarang. Namun itu bukan tidak mungkin. Buktinya, banyak orang-orang yang menjadi digital nomad, meraih pendapatan besar dan menetap di Bali.  

Pikiranku mulai berselancar, menerawang berbagai hal tentang apa yang aku bisa lakukan untuk bisa menjadi digital nomad yang sukses. Aku mulai dengan melihat potensi-potensi yang ada pada diriku sendiri. Aku data, dan hasilnya adalah;

-       Aku lancer berbahasa inggris

-       Aku cukup bisa berkomunikasi dalam bahasa Jepang, meski masih harus terus belajar

-       Wawasanku cukup luas

-       Aku pandai berkomunikasi

-       Secara fisik dan psikis aku sehat wal afiat

-       Aku memiliki orang tua yang selalu mendukung dan mendoakanku

-       Aku memiliki rasa percaya diri yang tinggi saat berinteraksi dengan orang lain, sekalipun baru bertemu

-       Aku cepat belajar

-       Aku adalah orang yang open-minded

-       Aku suka bersinggungan dengan hal-hal baru

-       Aku memiliki keyakinan spiritual

-       Aku memiliki modal yang cukup untuk memulai sesuatu dari yang kecil

-       Aku memiliki aura ramah

Setidaknya, itu potensiku, yang bisa kukapitalisasi untuk mewujudkan mimpi.

Jadi, aku musti memulai dari mana?

Aku harus memulai dari hal yang paling terjangkau. Menjadi dropshipper atau reseller sepertinya akan menjadi kick-start yang bagus. Aku sudah memiliki beberapa jaringan supplier. Tinggal aktifkat starter enginenya. Tak perlu cepat-cepat menaikkan gigi, yang penting stabil percepatannya. Toh nanti juga akan melaju juga. Saat sudah melaju, tinggal menaikkan gigi sesuai dengan kemauanku.

Aku harus konsisten dalam menjalankan usaha dropship. Seperti apapun progress atas usaha yang kujalani, yang penting aku sudah berada pada right track. Aku harus terus konsisten menjalankan dropship hingga titik menghasilkan dan bisa berjalan secara autopilot. Apakah aku bisa? Aku yakin, atas izin Alloh SWT, aku BISA!!

 Setelah dropship berjalan, aku mencoba untuk merambah ke dunia ekspor dan impor. Dunia ekspor menjadi prioritasku, karena itu adalah impianku sejak lama. Ada kesempatan untuk itu. Aku harus memulainya dengan bergabung dengan kelompok belajar ekspor. Tentu aku harus mengeluarkan uang untuk bergabung dengan kelompok eksportir tersebut. Namun itu adalah investasi. Aku PASTI BISA!!!

Target awalku adalah berhasil mengekspor satu produk. Produk apapun itu, dan seberapa pun volumenya. Yang penting aku melakukan kick-start dengan sukses. Seterusnya, aku harus mulai menata bisnis eksporku. Semua harus berujung pada terwujudnya system yang autopilot. Bisnis berjalan, dan terus berkembang secara autopilot. AKU PASTI BISA!!!

Hasil yang kuraih, harus aku belanjakan dengan prioritas untuk kegiatan filantropi. Ini bukan supaya aku mendapatkan balasan atas amal baik ku kepada Alloh SWT, melainkan ini adalah wujud syukurku kepada Alloh SWT.

 Aku harus focus focus dan terus focus terhadap upayaku ini untuk menjadi digital nomad. Saat berhasil, ada keluarga yang harus aku cukupi kebutuhan-kebutuhannya. Ada kaum dhuafa yang harus aku bantu. Ada warga palestina yang harus aku santuni. ada ekonomi kerakyatan yang aku harus berkontribusi untuk mengembangkannya.

Alloh…hati dan pikiranku bergetar saat aku menulis ini. Terasa begitu nyata. Aku yakin ini adalah signal positif bahwa Alloh akan mewujudkannya untukku. Alloh SWT akan memudahkannya. Aku pendosa, namun Alloh SWT maha besar dan maha welas asih terhadap hambaNya. AKU BISA!!

 

Hari ke-delapan hingga sebelas

Hari-hari di Bali ini terasa begitu cepat. Orang berkata, rasa cepat berlalunya waktu menyiratkan kebahagiaan. Artinya, aku bahagia dan betah berada di sini. Jujur, memang benar. Aku betah tinggal di sini. Impian yang dulu pernah terbersit dalam pikiran terasa terwujud nyata. Aktivitasku di sini yang paling utama adalah seputar belajar dan mengerjakan tugas perkuliahan. Ketika ada rasa bosan, aku tinggal bergegas menuju pantai di sore hari untuk berenang di sana. Atau sekedar jalan kaki menyusuri trotoar di seputaran Jimbaran. Itu sudah membuatku senang.

Kemarin, aku sempatkan mengunjungi Uluwatu. Sebuah tempat yang sangat indah untuk dikunjungi, terutama bagi para pecinta panorama birunya air laut, deburan ombak yang menghantam dinding tebing pantai dan sunset. Soal adanya spot-spot yang bagus untuk foto tak perlu diragukan lagi.

Berada di Bali di masa pandemic ini, aku merasa privilege banget. Betapa tidak, tempat-tempat wisata yang ku kunjungi semuanya lengang. Jarang ada pengunjung. Ada pun hanya beberapa. Jadi merasa bebas untuk menikmati tempat wisata secara penuh. Jarang-jarang ada orang bisa berswafoto di fesa Penglipuran tanpa di belakangnya ada penampakan manusia, kecuali di masa pandemic ini. Jarang ada kesempatan untuk berfoto ria di Uluwatu dengan background alam murni tanpa ada penampakan manusia lain, kecuali di masa pandemic ini.

 Tapi ada satu tempat yang secara tak kuduga begitu ramai. Pantai Melasti. Posisinya persis di bagian paling selatan pulau Bali. Tak ada panorama sunset maupun sunrise, karena posisi pantainya yang menghadap ke selatan. Namun tempat ini menjadi destinasi yang sangat favorit. Mungkin orang sudah mulai bosan dengan pantai2 yang mainstream seperti Kuta, Sanur, Jimbaran, Legian, Dreamland, Tanjung Benoa, maupun Nusa DUa. Bukan hanya Melasti, deretan pantai di ujung selatan Pulai Bali memang akhir-akhir ini seperti sedang hype-hype nya.

Coincidence banget, di pantai Melasti aku bertemu dengan 4 orang yang mereka purely digital nomad. Precakapan yang kami lakukan sambil berendam di pantai Melasti begitu mengesankan. Aku begitu “khusyuk” mendengar cerita perjalanan mereka menjadi digital nomad. Mereka bisa sesuka hati tinggal di manapun seberapa lama, asalkan terjangkau. Dan untuk di Bali ini, dua dari mereka yang merupakan sepasang suami-istri tinggal selama dua minggu. Sementara sepasang lainnya, yang mana si pria adalah orang Nigeria dan si wanita adalah orang Kalimantan, berencana untuk memperpanjang masa tinggalnya di Bali sampai satu tahun.

Mereka bisa sesuka hati menentukan durasi liburan mereka karena mereka adalah digital nomad. Orang yang tidak terikat dengan pekerjaan yang mengatur ritme dan waktu kerja mereka. Mereka earn money atau bahkan make money dari bisnis berbasis digital. Digital nomad belakangan menjadi trend gaya hidup yang semakin popular. Dulu, orang berbangga diri ketika memiliki pekerjaan tetap. Sekarang, terutama generasi muda, banyak justru bangga dengan berpendapatan besar namun tidak perlu terpaku dengan waktu dan tempat dalam bekerja. Dengan demikian, mereka bisa memiliki waktu yang fleksibel untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang sesuai dengan kehendak hati mereka.

Cerita-cerita tentang digital nomad banyak ku dengar melalui kanal youtube. Kebanyakan dari cerita tersebut mengisahkan gaya hidup digital nomad orang dari luar negeri. Belum banyak yang mengulas cerita digital nomad orang Indonesia. Namun, aku mendapatkan langsung cerita dengan bertemu langsung dengan mereka saat menikmati senja dan suasana di Pantai Melasti.

Berada di Bali ini, aku merasa seperti me-recharge mindset dan kesadaran diri. Ada banyak hal yang menjadi bahan renungan dan pelajaran buat hidupku. Memang benar perkataan bahwa busur panah tak aka nada gunanya ketika dia tidak dilesakkan untuk meluncur melalui busur. Biarlah orang memandang bahwa pelancongan ini adalah sikap hedon. Apalagi ini pelancongan ke Bali, yang nota benenya adalah tempat untuk banyak orang bersenang-senang. Namun hanya aku yang tau, apa yang aku dapatkan dari perjalanan ini.

 

Genap dua minggu di Bali

Tak terasa, staycationku di Bali sudah genap dua minggu. Kata orang, jika kita merasa waktu cepat berlalu, maka itu tandanya kita bahagia dan menikmati keadaan. Memang benar. Berada di Bali bukan hanya menjadi moment pelepas kepenatan pikiran, melainkann juga momen untuk refleksi diri. Refleksi untuk mengukur melihat sejauh mana diriku melangkah, apakah aku sedang berada di jalur yang tepat, dan apa yang aku rencanakan. Benar adanya bahwa terkadang kita perlu menjauh sesaat atau beberapa lama, untuk bisa mengevaluasi dan menata ulang jalan hidup yang kita tempuh.

I came across a very insightful book. Buku berjudul YOU DO YOU, ditulis oleh seorang anak muda yang memiliki pemikiran yang reflektif banget. Banyak hal dalam bukunya yang seperti menyadarkanku akan banyak hal. Hidup harus ada road map nya. Jika tidak, maka ia hanya akan berjalan hampa tanpa kejelasan makna. Ada tahapan-tahapan yang semestinya dilalui. Masa usia 20an musti dijalani secara berbeda dengan masa 30an dan masa-masa selanjutnya.

Another message adalah bahwa aku tak perlu mengukur pencapaianku dengan pencapaian orang lain. Setiap orang memiliki garis start yang berbeda-beda. Garis startnya Ardi Bakrie berbeda dengan titik nolnya aku. Begitu pula garis startnya anak yang lahir di kampong pelosok berbeda dengan garis startnya anak yang lahir di kota dari keluarga berada.

Tinggal di bali selama waktu yang sesuka hatiku memberi gambaran jelas tentang gaya hidup yang pernah aku dambakan, dan masih aku dambakan, digital nomad. Rasanya bebas indah dan sempurna memiliki hidup penuh kebebasan. Namun kebebasanku ini masih belum sepenuhnya berada di dalam kendaliku. Sekarang aku memiliki kebebasan waktu karena kebetulan aku sedang cuti belajar dan situasi belum memungkinkanku untuk berangkat ke Negara tempat belajar, Australia. Kebebasanku masih ditopang oleh sumber pendapatan aktif income, dari gaji. Kebebasan sesungguhnya adalah ketika aku sudah tidak terikat waktu dan active income. Asalkan sehat, aku bisa melakukan hal-hal keren dan penuh manfaat sesukaku.  

Namun satu hal yang aku belum perbaiki selama di Bali ini adalah produktivitas finansialku. Sebenarnya ada banyak jalan, ada banyak informasi tentang cara menuju bebas finansial. Namun sepertinya aku masih belum kuasa penuh untuk mendisiplinkan diri. Aku harus mencoba, selama berada di Bali ini. Aku tak boleh menunggu situasi penuh pressure untuk memulai dan menjalaninya.


 

Catatan di hari ke-15 tinggal di Bali

Ada notifikasi di MyUni bahwa nilaiku keluar untuk kelas Curriculum Development and Innovation. MyUni adalah platform Learning Management System yang digunakan oleh kampusku, The University of Adelaide. Buru-buru aku melihatnya, dan ternyata mendapati kekecewaan. Kecewa bukan hanya karena nilaiku jauh dari target, melainkan juga karena ada temanku yang sepertinya effortnya tidak sebesar effort ku tapi perolehan nilainya lebih tinggi. Temanku ini hanya dua hari mengerjakan assignment tersebut. Sementara aku lebih dari itu. Tak pernah aku secara intensif mengerjakan assignment tersebut. Namun jika dilihat dari rentang waktu pengerjaan, kurang lebih seminggu.

Aku jadi belajar dan mengevaluasi diri. Kuantitas tidak selalu selaras dengan output maksimal. Lamanya pengerjaan assignment tidak selalu berkorelasi positif dengan hasil maksimal. Itu buktinya temenku. Waktu pengerjaannya hanya dua hari, namun hasilnya maksimal. Namun aku belum tau juga the key factors behind her incredible performance. Mungkin saja dia sebenarnya mengerjakannya jauh2 hari. Dalam arti, jauh-jauh hari dia merumuskan konsep. Dua hari dia gunakan untuk menuangkan konsep tersebut dalam kerja nyata. Atau barangkali factor intelegensia yang menjadi penentu. Mungkin dia memang cerdas. Mungkin  dia memahami konsep menyelesaikan pekerjaan secara maksimal dan sempurna.

Aku jadi teringat istilah metakognisi, atau metacognitive skill. Sebuah skill kognitif yang oleh banyak literature disebut sebagai slkill yang sangat-sangat berguna bagi hidup seseorang, namun seringkali orang take it for granted. Bahkan para guru yang semestinya mengetahui hal tersebut saja mungkin banyak yang tidak begitu familiar dengan istilah tersebut. Mungkin metakognisiku yang perlu diasah. Agar semua hal bisa aku handel dengan tuntas, tatas, titis, tetes.

Ada banyak assignment dengan deadline yang cukup meresahkan jiwa-jiwa santuy. Ada banyak tuntutan yang cukup membuat tidak nyaman untuk berlama-lama rebahan. Dari pengalaman study master ini, aku justru belajar tentang cara terbaik untuk belajar yang sesuai dengan segala variable yang ada padaku. Performa membacaku harus cepat dan efektif. Kerjaku harus cepat, cerdas dan tuntas. Efektifitas dan efisiensi menjadi keharusan.

 

Catatan hari ke-enam belas

Berbekal tiket yang kupesan di sebuah situs pemesanan akomodasi online, aku menikmati pengalaman tinggal di sebuah resort berbintang lima di kawasan Kuta. Seperti halnya resort-resort yang ada di Bali pada umumnya, Resort ini tidak memiliki bangunan yang tinggi. Tidak ada pembangunan gedung yang menjulang ke atas, semuanya melebar dan “makan tempat”.

Aku mendapatkan kamar di area paling belakang, dengan nuansa taman yang begitu asri nan menyejukkan. Namun di malam hari, terlebih waktu itu adalah malam Jum’at Kliwon, suasana terasa begitu angker. Di dalam kamar, aku menyendiri menikmati segala fasilitas, sambil mengerjakan tugas kuliah yang harus dikumpulkan di hari berikutnya.

Ada pemandangan yang cukup memilukan di dalma Resort sebesar dan seluas itu. Tidak banyak tamu yang menginap di sana. Dari sekian ratus kamar/villa, sepertinya tidak lebih dari 5 kamar yang terisi. Dampak pandemic terlihat sekali di Resort ini. Jejeran vila mewah nampak sepi tanpa penghuni. Sempat aku berbincang-bincang dengan pegawai Resort tersebut. Namanya Ratna dan Wilan. Mereka asli orang Bali. Setahun terakhir, Resort tersebut memang sepi. Biaya maintenance begitu besar, hingga pemilik Resort tentu mengalami kerugian yang begitu besar. Para pegawai di Resort tersebut sebagian besar adalah anak-anak magang, yang merupakan mahsiswa akademi pariwisata. Hanya beberapa orang yang merupakan pegawai tetap.

Dari sini bisa dipahami kenapa begitu banyak hotel yang On Sale akhir-akhir ini. Barangkali kengerian dampak pandemic seperti ini sudah jauh hari terbayang jelas oleh Jerinx SID yang kini dipenjara karena menyerukan bahwa semua ini adalah konspirasi. Entah benar bahwa di balik pandemic ini konspirasi atau memang nyata, yang jelas dampaknya sudah terasa nyata. Dampak ekonomi yang akhirnya merambat ke berbagai dampak lainnya.

Di masa sebelum pandemi, orang bisa dengan leluasa memarkir kendaraannya di sembarang tempat. Namun sekarang banyak orang yang merasa was-was, kalau-kalau kendaraan mereka tidak aman jika diparkir secara tidak aman. Angka kasus pencurian kendaraan cukup signifikan, dibandingkan masa-masa sebelum pandemi.

Catatan hari ke tujuh belas hingga dua puluh dua

Ini adalah catatan untuk rentang hari yang paling panjang. Catatan ini sengaja dibuat rapelan. Kesibukan menyelesaikan tugas kuliah segera membuatku tak sempat menhisi catatan ini untuk tiap hari. Catatan kali ini aku isi dengan tema procrastination dan syukur.  

Sudah menjadi kebiasaan bahwa aku menyelesaikan tugas mepet-mepet. Sudah lama aku menjadi seorang deadliner. Sebenarnya bisa saja aku menjadi on-time-er. Namun seringkali ada bisikan syaitan yang membuatku mengulur-ulur waktu penyelesaian tugas. Akhirnya, dampaknya seperti yang ku alamai saat menyelesaikan tugas dua mata kuliah kemarin.

Rentang waktu yang tersedia untuk penyelesaian tugas tersebut sebenarnya ada 3 mingguan. Namun karena berbagai kesibukan lain, dan juga dorongan kebiasaan menunda, membuatku persis melakukan upaya efektif tidak lebih dari 2 hari. Otak terforsir, begitu pula tenaga. Jatah tidur malam ditunda, berharap bisa diganti dengan waktu tidur di siang hari. Kepanikan sempat melanda, apalagi saat mata ini melirik waktu yang menandakan semakin dekatnya deadline. Tibalah saatnya aku submit tugas, hanya beberapa menit sebelum deadline.

Qodarulloh…laptop yang ku pakai nge-hang. Semakin menjadi-jadi lah kepanikanku. Sementara waktu tinggal 2 menit. Akhirnya terkirim sudah tugasku. Namun di situ ada keterangan “Late” berwarna merah. “Apes!!!”, batinku berkata. Keterlambatan pengiriman tugas memiliki konsekuensi pengurangan nilai sebanyak 2% per jumlah hari keterlambatan. Cukup signifikan. beberapa jam sebelumnya, aku sempat menghubungi dosen untuk diberikannya aku submission extension. Upaya ini semestinya aku lakukan paling tidak sehari sebelumnya, dengan memberikan excuse yang making sense tentunya. Aku sudah pasrah, biarlah ada pengurangan nilai. Ternyata…ada notifikasi email dari dosen. Kubuka, dan  isinya adalah dosenku menyetujui untuk memberikan submission extension. Artinya aku bisa telat mengirimkan tugas dengan tanpa dikurangi poin nilainya.

Senang rasanya, namun aku sudah terlanjur mengirimkan tugas. Tak apa lah. Selesai mengerjakan tugas, aku bergegas menuju kasur. Merebahkan badan yang sudah berjam-jam diforsir untuk bekerja. Entah kenapa, sesaat setelahnya, ada rasa untuk segera menyelesaikan tugas selanjutnya. Padahal deadline nya masih cukup panjang. Selesainya tugas ini menimbulkan efek psikologis berupa sense of accomplishment. Efek ini yang memicu keinginan untuk segera menyelesaikan tugas-tugas selanjutnya. Ada rasa puas saat pekerjaan selesai. Mungkin lebih puas lagi jika pekerjaan selesai jauh hari sebelum tanggal deadline nya.

Selanjutnya, aku akan bercerita tentang rasa syukur. Di kosan tempat aku tinggal, ada seorang caretaker, namanya adalah Flo, asli NTT. Dia berada di Bali sudah cukup lama, bertahun-tahun. Dia mulai merantau semenjak masih seusia anak SMP. Negeri perantauan pertama yang ia singgahi adalah Jogjakarta. Dia habiskan masa SMP dan SMA di sana. Selanjutnya dia berpindah ke Bali, dengan harapan ada kesempatan untuk membuat hidupnya lebih baik. Setidkanya itu yang aku tangkap dari ceritanya.

Flo ini hidup di Bali dengan istri dan anaknya yang masih belia. Di masa pandemic ini, Flo hanya bekerja di satu tempat, yaitu kosan dimana aku tinggal. Jam kerjanya tidak menentu. Kadang dia dating, kadang dia tidak datang. Ternyata itu memang kebijakan dari sang pemilik kosan. Kosan ini dulunya adlaah hotel. Karena pandemic, yang berimbas pada sedikitnya tingkat okupansi, maka ia disulap menjadi kosan. Tentunya harganya jauh lebih murah.

Aku bayangka, Flo harus menghidupi anak dan istrinya di Bali yang notabenenya berbiaya hidup tinggi, dengan hanya mengandalkan kerja paruh waktu. Tapi dia masih bisa survive. Aku jadi refleksi diri. Kadang aku yang masih hanya mengurus diri sendiri saja masih mengeluh ketika ada sedikit saja keterbatasan. Pandemic jelas menghantam kehidupan banyak orang. Kisah hidup orang orang seperti Flo harus aku jadikan sebagai pemicu rasa syukur. Setidkanya, kondisiku jauh lebih baik dari Flo. Aku masih bisa memilih makanan. Aku masih bisa nonton bioskop kapanpun aku mau. Aku masih bisa memesan makaan via ojek daring. Aku masih bisa mengunjungi tempat indah saat aku merasa bosan. Aku masih bisa menikmati rebahan sambil nonton video yang bagus melalui perangkat gadget yang kupunya. Aku masih bisa mengirim duit ke orang tua. Aku masih bisa memberikan orang makanan.

Kurang alasan apalagi untuk aku bersyukur?

 

Catatan hari ke-23 hingga 25

Sabtu minggu kemarin aku gunakan untuk mengeksplorasi daerah Bali sebelah utara. Ada beberapa tempat hidden gem yang sempat aku kunjungi. Diantaranya adalah Taman Ujung, Penataran Lempuyang (meski akhirnya tidak diperkenankan masuk, karena sedang ada upacara peribadatan), Tirta Gangga, dan Pura Besakih (pura terbesar di Bali). Di antara tempat-tempat tersebut, ada satu hal menarik yang menambah wawasnku tentang konsep ketuhanan dalam agama Hindu. Di Pura Besakih, ada beberapa komplek pura dewa seperti pura Dewa Wisnu, Dewa Siwa, dan Dewa Brahmana. Yang menarik adalah, ternyata dalam agama Hindu, ada yang disebut Sang Yang Widi Wase, atau Tuhan Yang Maha Esa.

Pura untuk Yang Widi Wase ini paling besar dan luas diantara komplek pura-pura yang ada di kawasan tersebut. Dijelaskan oleh seorang guide, Sang Yang Widi Wase adalah pencipta alam semesta, termasuk pencipta para Dewa. Ini menarik. Ini menyiratkan bahwa ada irisan konsep ketuhanan antara Islam, Kristiani, dan Hindu. Aku belum tau tentang agam selain itu, apakah ada konsep ketuhanan yang beririsan.

Jadi, pada dasarnya dalam keyakinan Hindu ada Tuhan yang Maha Tunggal. Namun entah kenapa, selama ini aku belum pernah mendengarnya. Tuhan, dalam agama Hindu, sejauh yang kuketahui, adalah Dewa-dewa yang jamak terdengar seperti dewa wisnu, dewa siswa, dan dewa brahmana.

 

Hari ke-26-30

Tugas begitu banyak, dengan deadline yang cukup berdekatan. Aku cukup merasa tertekan secara psikologis. Ada  rasa bahwa ini adalah beban. Ada pikiran bahwa kegiatan mengerjakan tugas online ini mengurangi kekhidmatan menjalani hidup sebulan hidup di Bali. Tiba-tiba aku merasa jadi budak tugas. Kuliah ini serasa tumpukan beban di tengah depresinya aku yang tak kunjung jua berangkat ke Australia. Hingga suatu malam aku tersadar akan suatu hal.

Sekian lama aku merenung. Kenapa ini semua terasa beban. Ada dialog batin yang cukup seru. Logikaku meyakinkan positif, bahwa kuliah ini semestinya tidak jadi beban. Karena apa? Karena rasa adanya beban adalah indicator bahwa aku harus terus belajar. Bahwa masih banyak hal yang aku harus pelajari. Ada banyak missing things yang aku belum pahami tentang kuliah ini. Ada ilmu-ilmu yang aku harus mulai mempelajarinya dari dasar sekali, ilmu statistic contohnya. Ada hal-hala yang aku harus akui secara jujur bahwa aku harus belajar lagi. Ilmu tentang Academic Writing, contohnya. Ada banyak materi yang begitu detil dan beragam pada satu mata kuliah yang aku anggap mudah. Ragam materi pada ilmu Leadership, contohnya. Begitu pula dengan Educational policy course, yang ternyata membutuhkan upaya belajar yang besar.

Beban ini jadi indicator bahwa aku masih harus terus belajar. Belajar dengan tanpa hitung-hitungan. Kadang ada perasaan bahwa aku sudah belajar banyak, namun kenapa tidak kunjung jua aku memahaminya. Di titik ini aku harus menerima kenyataan bahwa performa daya piker manusia semakin menurun, seiring dengan bertambahnya usia. Dengan kesadaran ini, aku jadi harus menerima kenyataan bahwa aku harus belajar lebih lama untuk sampai pada titik pemahaman. Berbeda dengan anak yang masih belia yang otaknya masih dalam fase golden period.

Satu hal lagi yang jadi buah renunganku. Rencanaku begitu banyak, dan besar-besar. Saat manusia memutuskan untuk membuat rencana yang banyak, apalagi rencana besar, alam bawah sadar secara otomatis merekamnya. Dia membuat semacam alarm pengingat bagi manusia untuk bergegas mewujudkannya. Aku jadi ingat, kadang saat aku berbaring rebahan kepalaku terasa pusing. Pusing karena mengingat begitu banyaknya hal. Overthinking. Pada saat terebut, sebenarnya alam bawah sadarku sedang mengingatkanku bahwa aku tidak boleh santai-santai. Rencana dalam waiting list sedang menunggu untuk diwujudkan. Tidak boleh lekar-lekor.

Sadar akan hal ini, kini aku tak tertekan lagi dengan adanya tugas kuliah. Aku merasa bahwa tugas-tugas ini adalah hal lumrah. Rangkaian reading list untuk semua mata kuliah yang aku ambil harus dibaca semua. Ini adalah konsekuensiku mengambil keputusan untuk kuliah lagi. Dan ingat, aku harus menghasilkan output. Outputnya berupa 3 atau 4 buku yang berkaitan dengan gagasan pengembangan praktik pembelajaran.

 

Lewat Sebulan di Bali

Jujur, kuliah online yang ku jalani ini terasa cukup menjadi beban. Bukan karena aku cengeng tidak konsekuen dengan keputusan untuk kuliah. Beban ini terasa karena ada ekspektasi yang tak terwujud. Aku mengharap bisa menikmati kegiatan perkuliahan secara normal dengan hadir di kampus dan berkomunikasi langsung dengan dosen dan teman kelas. Aku mengharapkan pengalaman menikmati me-time di perpustakaan untuk sekedar baca-baca buku atau menulis. Aku mengharapkan untuk berkesempatan bertanya langsung kepada dosen saat ada bagian dari materi kuliah yang aku belum pahami. Namun semua itu belum juga terwujud, padahal kegiatan perkuliahanku sudah berjalan hamper satu tahun.

Aku mencoba berpositif diri. Berpikir positif, berperasaan positif, dan bersikap positif. Namun siapalah aku si manusia biasa yang kadang tak dapat menghindar dari mengeluh. Mungkin orang lain akan berkata, “sabar saja. Memang kondisi pandemic seperti ini membuat situasi tidak menyenangkan”. Andai semua teman-teman seangkatanku sesame awardee LPDP mengalami hal yang sama dengan yang kualami mungkin tidak kana ada protes hati. Namun nyatanya banyak dari mereka yang sudah bisa berangkat ke luar negeri tujuan studi. Australia benar-benar memupus harapanku untuk menikmati pendidikan kualitas tinggi. Jujur, aku benci!

Kini, aku sangat sensitive dengan guyonan teman yang menyinggung belum berangkatnya aku. Guyonan semacam “Dahlan kuliah di Australia cabang Pekalongan” sudah terasa sebagai sebuah bullyan, alih-alih candaan. Benci pula dengan mereka yang sok menanyakan kabar kuliahku, namun memberi tanggapan yang tak bijak saat mengetahui aku masih belum bisa berangkat ke Oz. “Kamu sih mas, kenapa dulu milih Australia sih”, celetuk teman melalui pesan di WA. “Ini orang ndak pernah belajar tentang empati”, batinku. Dia pintar secara akademik, namun tolol dalam menjalin komuikasi interpersonal. Auto-delete dari circle interaksiku.

Aku sudah berusaha membijakkan diri. Siapa lagi yang bisa mengarahkanku untuk berpikir dan bersikap bijak dalam menghadapi situasi ini kalo bukan aku sendiri. Aku tak perlu risau dan mengeluh.

“Apa pun kondisinya, kamu harus terus tetap bersyukur. Memang menyedihkan ketika tidak bisa berangkat ke Negara tujuan kuliah, dan menjalani studi secara online. Namun itu masih harus disyukuri. Setidaknya kamu masih bisa dapet kesempatan belajar, cuti bekerja, menikmati waktu bersama orang tua, men-setting ulang roadmap hidupmu, dan lainnya. Masih banyak orang yang ingin mendapatkan kesempatan meraih beasiswa kuliah, namun tidak kesampaian. Masih banyak orang yang tidak memiliki kemampuan untuk mewujudkan impian studi lanjut. Namun kamu mendapatkannya”

Yang terpenting, sekarang yang harus aku fokuskan adalah menjalani studi ini sebaik dan semaksimal mungkin. Usahakan agar aku benar-benar mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Usahakan bahwa aku memiliki bekal dan mampu berkontribusi bagi kemajuan negeri ini dalam dunia pendidikan. Orang pada akhirnya akan melihat hasil yang aku tunjukkan, bukan prosesnya. Terlepas apapun penilaian orang, yang terpenting adalah kamu memiliki kepuasan diri. Puas karena kamu bisa memiliki dampak positif yang besar bagi negeri. Siap untuk selalu berkarya!

 

Hari ke-32 di Bali

Penting sekali bagi guru untuk terus mendalami ilmu tentang psikologi. Penting sekali bagi guru untuk memahami tentang perkembangan karakter peserta didik. Saya sering mendapati banyak guru yang memiliki sudut pandang yang kurang luas perihal memandang perilaku peserta didik. Peserta didik yang kurang/tidak aktif dalam melaksanakan aktivitas-aktivitas pembelajaran seringkali dilabeli stigma negative. Mereka seringkali dianggap sebagai siswa bermasalah yang harus dihukum. Padahal, seringkali “kenakalan” peserta didik disebabkan oleh berbagai factor yang justru membutuhkan empati dan peran guru dalam mengatasinya.

Perlu diketahui bahwa para peserta didik hadir di sekolah dengan membawa level motivasi yang beragam. Ada peserta didik yang sudah memiliki motivasi yang jelas terkait untuk apa mereka ke sekolah. Ada yang sudah memiliki keyakinan bahwa mereka akan mendapatkan manfaat dari apa yang mereka pelajari di sekolah. Peserta didik semacam itu pada umumnya cenderung nurut pada system yang berlaku di sekolah. Mereka sangat jarang memiliki atau menciptakan masalah di sekolah. Di sisi lain, ada peserta didik yang bahkan tidak tahu untuk apa mereka ke sekolah. Mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas hal tersebut, karena hal itu mungkin dipengaruhi oleh berbagai factor.

Ada banyak factor yang mempengaruhi sikap/perilaku belajar peserta didik di sekolah. Satu di antaranya adalah Socio-economic status. Latar belakang social ekonomi sudah terbukti merupakan factor penting yang mempengaruhi perilaku peserta didik dalam belajar. Hal tersebut seringkali dijadikan objek kajian penelitian oleh OECD, sebuah lembaga yang menyelenggarakan test PISA. Tidak semua peserta didik beruntung memiliki lingkungan keluarga maupun social yang memotivasi dan mendorong mereka untuk memahami apa arti belajar. Tidak semua peserta didik beruntung memiliki fasilitas yang menjunjang proses belajar mereka. Tidak semua peserta didik beruntung memiliki wellbeing yang bagus. Untuk para peserta didik yang tidak memiliki keberuntungan tersebut, guru semestinya hadir memberikan pendampingan.

Di Australia, tidak ada siswa yang tidak naik kelas. Semua siswa baik di level sekolah Dasar maupun menengah naik kelas semua. Kebijakan tersebut sudah berlangsung sejak lama. Ada consensus di antara para stakeholder bahwa pengulangan kelas tidak bisa menjadi solusi atas permasalahan apapun yang berkaitan dengan peserta didik di sekolah. Jika itu dimaksudkan untuk menimbulkan efek jera, oleh mereka hal tersebut dianggap tidak efektif. Yang terjadi di Australia adalah setiap siswa pasti naik kelas, dan guru dengan system yang ada di sekolah bekerja untuk memastikan bahwa siswa mendapatkan pelayanan pendidikan yang maksimal.

Guru harus memahami bahwa siswa rentan mengalami stress yang cukup tinggi. Di sekolah menengah, para siswa rata-rata harus mempelajari lebih dari 10 mata pelajaran. Di sekolah swasta bahkan kadang lebih banyak lagi mata pelajaran yang harus diambil oleh para siswa. Bayangkan seandainya semua atau sebagaian besar dari mata pelajaran tersebut memberikan tugas untuk dikerjakan dalam satu minggu. Memang hal tersebut memungkinkan. Namun tidak semua siswa memiliki metacognitive strategies yang memudahkan mereka mengatur penyelesaian tugas-tugas tersebut dengan baik. Bahkan banyak di antara mereka yang belum memiliki pemahaman tentang bagaimana cara yang baik untuk mereka belajar. Padahal, keragaman gaya belajar itu pasti. Seseorang mungkin bisa memahami suatu pengetahuan hanya dengan mendengarkan penjelasan dari guru. Namun sebagian lainnya mungkin lebih paham jika mempelajarinya melalui media visual, seperti catatan yang menarik, atau video. Berapa banyak guru yang membantu siswa untuk memahami gaya belajar mereka di awal semester? Jika ada, mungkin jumlahnya kalah jauh dari jumlah guru yang sama sekali tidak memberikan pemahaman tentang gaya belajar pada siswa.

Saat ada masalah terkait dengan perilaku siswa dalam belajar, guru semestinya lebih mengedepankan pendekatan refleksi diri. Sebelum memberikan vonis terhadap siswa bahwa mereka salah, semestinya guru melakukan refleksi untuk menemukan apa saja hal yang mereka lakukan yang belum berjalan dengan maksimal. Tidak dikerjakannya suatu tugas/proyek oleh siswa belum tentu berarti bahwa itu adalah sebuah kemalasan. Barangkali itu adalah sebuah pemberontakan karena mereka tidak memahami apa yang semestinya mereka lakukan, sementara mereka tidak memiliki keberanian untuk bertanya.

Sayangnya, kadang ada guru yang lebih suka mengedepankan ego diri. Misalnya, siswa tidak mengerjakan tugas diartikan sebagai sikap tidak menghargai guru, alih-alih berpikir bahwa barangkali hal tersebut justru disebabkan karena guru itu sendiri yang belum memberikan pelayanan maksimal dalam mendidik siswa. Kurikulum pendidikan guru biasanya menyisipkan mata kuliah psikologi belajar, psikologi perkembangan serta mata kuliah aspek pedagogis lainnya untuk dipelajari oleh mahasiswa calon guru. hal tersebut menyiratkan akan pentingnya memahami psikologi individu dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Namun, belajar psikologi semasa kuliah saja tidak lah cukup. Ilmu psikologi berkembang begitu cepat. Ada banyak dinamika tentang perilaku manusia yang dipengaruhi oleh berubahnya peradaban dan pola hidup manusia. Oleh karena itu, guru perlu terus meng-update pemahaman mereka tentang ilmu psikologi.

 

Selesai

Alhamdulllah…selesai sudah catatan sebulan hidup di Bali. Aku sudah kembali ke rumah. Nuansa ramadhan begitu terasa. Siklus Sahur-Aktivitas-Buka Puasa-Tarawih-Tadarus lebih terasa. Masih ada setengah bulan untuk jalani puasa, insya Alloh.

 

Senin, 18 Oktober 2021

Excellence Will Find Its Way To Stand Out

 


Orang cenderung mudah merasa lelah untuk berkarya ketika mereka terlalu berharap adanya pengakuan akan karya tersebut. Padahal semestinya orang tak begitu memikirkan pengakuan, melainkan terus focus terhadap karya-karya nyata. Cristiano Ronaldo tak perlu memaksa orang lain untuk mengakui bahwa dia hebat. Cukup dengan determinasi dalam berlatih dan berkarya dalam sepakbola, maka orang dengan sendirinya mengakui kehebatannya. J.K. Rowling tak perlu memaksa orang lain untuk mengakui bahwa karya-karya tulisan fiksinya bagus. Cukup dengan terus menulis dengan perbaikan terus menerus, akhirnya dunia mengakui juga kehebatannya dalam berkarya. Excellence will find its way to stand out.

Terapkan prinsip kaizen dalam berkarya. Kaizen adalah prinsip hidup yang berkembang di Jepang yang bermakna perbaikan secara terus-menerus. Teruslah berkarya hingga engaku tak sempat untuk mendengar cibiran orang. Ingat selalu sebuah pesan bijak yang berbunyi “orang-orang yang kehebatannya di atas kita tidak akan mengkritik kita”. Kesimpulannya, ada dua jenis orang yang kemungkinan menjadi pencibir/pengkritik kita, yaitu orang yang setara, atau orang yang berada di bawah kita. Jika demikian adanya, lantas untuk apa engkau risau terhadap penilaian orang lain atas karya-karyamu?

Jadilah pribadi yang memiliki growth mindset, meyakini bahwa selalu ada peluang untuk diri kita bertumbuh dalam bidang yang menjadi passion kita. Sejatinya tidak ada orang yang berbakat untuk menjadi apapun, melainkan adalah orang-orang yang terus berproses mengupayakan perubahan hidup mereka. Andai ada bakat pun, tanpa proses perbaikan yang berkesinambungan, maka bakat tersebut tak aka nada nilainya. Hukum alam berlaku bahwa setiap pencapaian besar membutuhkan proses. Andai bakat yang diterima sedari lahir adalah penentu pencapaian besar, maka orang-orang ber-IQ tinggi semestinya otomatis menjadi orang sukses dan penuh karya. Nyatanya tidak demikian, bukan?

Teruslah berkarya, karena hidup menjadi benar-benar terasa hidup dengan karya-karya. Karya tercipta melalui olah pikir, jiwa, dan raga. Tanpa olah piker, jiwa dan raga, maka hidup akan terasa selayaknya mati. Teruslah berkarya dan melakukan perbaikan atas karyamu secara terus menerus, karena cincin permata tidak tercipta dalam waktu yang singkat. Ia telah melewati proses yang panjang. Teruslah berkarya, karena excellence will find its way to stand out.

Rabu, 13 Oktober 2021

Berselancar di Era Disrupsi

 


Dulu, di saat perkembangan teknologi informasi belum sedrastis sekarang, orang membutuhkan privilege tertentu untuk bisa memiliki kompetensi dan pemahaman dalam suatu hal. Contohnya, orang bisa mejadi ahli dalam urusan marketing jika dia memiliki privilege berupa kuliah dengan jurusan ilmu marketing, memiliki akses terhadap buku-buku marketing, seminar-seminar marketing, atau berada di circle orang yang ahli marketing. Tentu tak semua orang bisa dengan mudah memiliki privilege tersebut, karena kuliah berbayar, buku-buku berbayar, seminar-seminar juga pada umumnya berbayar, sementara untuk berada di dalam circle orang-orang yang bergulat dalam bidang marketing tentu tidak semua orang bisa.

Sekarang, di zaman teknologi informasi yang penuh dengan kemudahan akses informasi, semua orang bisa dengan mudah mendapatkan kompetensi tertentu melalui sumber belajar / informasi yang sangat terjangkau seperti social media. Hanya di zaman sekarang orang bisa dengan cepat merubah hidupnya, pola pikirnya, pengetahuannya, dan berbagai kecakapan lainnya. Dulu, orang butuh bertahun-tahun lamanya untuk bisa menguasai kecapakan tersentu.

Youtube, google, dan media informasi lainnya menyediakan begitu banyak ilmu dengan mudah dan murahnya. Sekarang, yang menjadi pembeda antara orang sukses dan tidak sukses hanya terletak pada level kesungguhannya untuk belajar. Sumber belajar sudah relative tidak jadi masalah, karena terseda dengan mudah dan murah. Orang yang sungguh-sungguh untuk belajar akan mudah mengkapitalisasi kemudahan dan kemurahan akses belajar untuk tujuan positif bagi hidupnya. Sementara mereka yang malas untuk menggunakan akses tersebut tidak akan mencapai apa-apa.

Dengan kemudahn dan kemurahan akses sumber belajar, logikanya orang sekarang semestinya lebih mudah untuk sukses. Namun, kenyataannya masih banyak orang yang merasa segala sesuatu itu susah. Memang benar adagium yang menyatakan bahwa kemudahan informasi adalah berkah sekaligus kutukan. Ia menjadi berkah karena banyak orang memanfaatkannya untuk kebaikan. Ia menjadi kutukan karena orang jadi menganggap kemudahan dan kemurahan itu sebagai suatu hal yang klise. Bukankah orang cenderung take for granted sesuatu yang murah dan mudah?

Meski hidup di jaman yang penuh dengan kemudahan dan kemurahan akses terhadap sumber belajar, namun banyak orang yang tidak menyadarinya. Betapa banyak anak muda yang hanya memanfaatkan youtube untuk menonton konten-konten prank, hedon, dan hal-hal yang sekedar fun lainnya? Andai mereka tau bahwa alih-alih hanya sekedar untuk hiburan mereka bisa memanfaatkan media tersebut untuk mengasah suatu kompetensi, maka hidup mereka akan berubah kea rah yang lebih positif. Search engine machine seperti youtube google dan lainnya bisa jadi sumber belajar untuk mendalami interest / hobi positif apa pun. Ada videografi, tutorial alat music, teknik komunikasi, marketing, dan banyak lainnya.

Aku jadi ingat tentang sekolah yang punya peran strategis untuk mengarahkan mindset peserta didik. Sudah semestinya sekolah menjadi tempat dimana peserta didik mendapat pengarahan tentang bagaimana berselancar di era disrupsi yang begitu deras. Andai para guru mau, mereka bisa mengarahkan para peserta didik untuk menjadi autonomous learner melalui pemanfaatan segala kemudahan akses informasi di era disrupsi ini. Guru-guru perlu meyakinkan peserta didik untuk memiliki pemahaman bahwa akses belajar itu sangat tak terbatas, dan sudah saatnya mereka mampu memilih informasi mana yang merkea bisa akses untuk memperkaya wawasan dan kecakapan mereka dalam suatu hal. Dengan begitu era disrupsi bisa menjadi berkah bagi generasi di negeri ini.

Senin, 11 Oktober 2021

Gaji Terlihat Begitu Tak Berdaya di Mata Harga Properti

 Di sebuah warung yang terletak di belakang kantor polisi, aku mendengar percakapan dua orang ibu tentang harga property. Ceritanya, sepetak lahan yang terletak tak jauh dari warung tersebut di-kavling-kan, dan dijual. Nada bicara mereka naik saat menyinggung tentang harga tiap petak tanah kavling tersebut. Ukuran 7x10 saja dijual dengan harga antara 150-250, tergantung strategis tidaknya posisi tanah kavling. Harga yang menurut mereka mencengangkan, mengingat harga saat tanah tersebut di jual beberapa tahun lalu jauh dari harga sekarang.

Menurut seorang teman yang bergelut dalam dunia bisnis properti, harga property memang naik begitu drastisnya dalam 10 tahun terakhir. Sebelumnya, kenaikan harga property tidak begitu drastic. Ada kenaikan pun hanya berapa persen. Sekarang, kadang property yang dibeli hanya beberapa bulan saja sudah ditawar oleh pembeli dengan harga 2-3 kali lipat dari harga semula.

Entah kenapa, seketika muncul dalam pikiranku soal gaji pegawai. Katakanlah seorang pegawai menerima take home pay per bulan 7 juta rupiah. Per tahun 84 juta. Gaji tersebut selama setahun dikumpulkan utuh pun belum bisa membeli satu petak property yang dibicarakan oleh ibu-ibu tadi. Butuh setidaknya dua tahun. Itu pun mungkin hanya bisa dapat tanah kavling yang lokasinya tak begitu strategis. “Betapa lemah sekali daya gaji terhadap property”, pikirku. Mungkin ada orang yang menyarankan bahwa pegawai itu mau tidak mau harus memiliki penghasilan sampingan. Memang benar. Namun tidak mudah untuk menghasilkan pendapatan sampingan secara maksimal, mengingat sebagian besar waktu, pikiran dan tenaga pegawai sudah tercurahkan di pekerjaan pokoknya sebagai pegawai.

Aku teringat dengan seorang teman yang pernah bercerita tentang perdebatannya dengan orang tuanya soal pilihan karir. Orang tuanya berkehendak supaya dia meniti karir sebagai pegawai negeri. Smeentara dia sendiri ingin bergelut dalam dunia wirausaha, dan tak mau menjadi pegawai. Mungkin saat itu dia sudah memiliki kesadaran awal akan lemahnya daya gaji terhadap kebutuhan hidup. Kita bisa lihat sekilas tentang lemahnya daya gaji terhadap property. Dia merintis usaha semenjak masih duduk di bangku kuliah. Sekarang, dia sudah memetik hasilnya. Memperoleh penghasilan besar dan cukup untuk kehdupannya sampai tua. Tentu hal tersebut dia capai melalui proses jatuh dan bangun.

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk melampiaskan rasa kurang syukur, melainkan sebagai bahan perneungan diri. Lantas, siapakah mereka yang survive terhadap gilanya harga property? Ya merkea yang suykses menjalankan bisnis. Apakah pegawai sukses tidak bisa se-survive mereka? Mungkin bisa. Namun se-sukses-suksesnya pegawai, jika itu murni sukses dalam dunia kepegawaian, secara finansial tetap lemah daya tawarnya terhadap gilanya harga property. Iya sih, ada posisi-posisi kepegawaian dengan gaji tinggi. Namun perbandingan pegawai bergaji tinggi dan bergaji rata-rata seperti piramida. Yang ber posisi puncak tetap lah jauh lebih sedikit daripada yang berposisi posisi di bawah.

Akhirnya, sudah tak relevan lagi orang tua mengharap agar anak-anak mereka sekolah yang pintar agar jadi pegawai. Paradigm harus bergeser. Mindset harus dirubah. Anak-anak harus didorong untuk menjadi pengusaha. Dalam sisi apa pun pengusaha itu lebih banyak kelebihan-kelebihannya dibanding menjadi pegawai. Yang sudah jadi pegawai seperti aku, tinggal renungkan, kemudian ambil keputusan. Tak ada keputusan yang salah, asal mau mengerti dan menanggung konsekuensinya.

Sabtu, 02 Oktober 2021

Menumbuhkembangkan Learning Skill peserta didik

 

https://www.slideshare.net/kingp143/study-skills-powerpoint-44438845

 

Salah satu hal penting yang sejatinya menjadi tugas penyelenggara pendidikan di sekolah adalah menumbuhkan learning skill, atau kecakapan belajar para individu. Learning skill sangat penting karena dengannya individu mampu beradaptasi dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dengan learning skill, seorang individu bisa menjadi ahli dalam suatu bidang yang ia ingin geluti. Dengan learning skill, seorang individu yang menyadari pentingnya kemampuan digital marketing akan mampu menjadi orang sukses dalam dunia digital marketing. Dengan learning skill pula, seorang yang ingin menggeluti dunia agribisnis akan mampu menjadi seorang agribisnisman. Pendidikan sejatinya diarahkan untuk menumbuhkan learning skill ini.

Apa definisi dari leaning skill? Learning skill adalah kemampuan individu untuk mempelajari sesuatu secara efektif sesuai dengan preferensi gaya belajar masing-masing individu. Apakah pembelajaran yang dilakukan oleh individu di sekolah mengasah learning skil mereka? Jawabannya bisa “iya” bisa “tidak”. Hal tersebut tergantung pada orientasi belajar. Pembelajaran yang berorientasi pada tercapainya nilai yang maksimal tidak menjamin mengasah learning skill individu. Aktivitas belajar yang hanya berkutat pada penghafalan suatu informasi jelas jauh dari prinsip pembelajaran untuk mengasah learning skill. Aktivitas belajar yang hanya berorientasi pada terselesaikannya tugas-tugas juga tidak bisa mengasah learning skill.

Upaya menumbuhkembangkan learning skill peserta didik mencakup empat hal. Pertama, pemberian pemahaman kepada peserta didik tentang pentingnya memiliki growth mindset. Lawan kata dari growth mindset adalah fixed mindset. Orang yang memiliki growth mindset akan meyakini bahwa segala sesuatu bisa dipelajari dan dikuasai, asal mengetahui pola belajar yang tepat untuk mempelajarinya. Sementara, orang yang cenderung pada fixed mindset, pikirannya akan mudah pasrah, meyakini bahwa banyak hal terlalu sulit untuk dipelajari. Orang-orang fixed mindset meyakini pula bahwa hanya orang-orang dengan bakat tertentu lah yang bisa menguasai suatu hal. Selain itu, orang-orang fixed mindset berpikir bahwa para penulis sukses adalah orang-orang yang memiliki privilege tertentu, sehingga mereka bisa sukses menjadi penulis. Sementara orang-orang growth mindset meyakini bahwa kemampuan menulis bisa dikuasai, asalkan tau pola belajar menulis yang tepat. Orang-orang growth mindset terus berupaya untuk mencari jawaban atas rasa ingin tahu mereka, hingga merkea mendapatkannya. Sementara, orang-orang fixed mindset akan mudah menyerah saat mereka merasa gagal untuk mencari jawaban atas suatu pertanyaan dalam diri mereka. Indicator dari berhasilnya pengasahan growth mindset peserta didik adalah munculnya keyakina pada diri mereka bahwa everything is possible to learn.

Yang kedua adalah pemberian pemahaman bahwa tiap individu memiliki gaya belajar tertentu, yang membuat mereka efektif dalam belajar. Mengenai gaya belajar (learning modality), ada istilah tipe belajar Audio, visual, dan kinestetik. Setiap individu memiliki tipe belajar tertentu yang memungkinkan mereka belajar secara efektif. Ada yang dominan di salah satu tipe belajar. Ada pula yang mampu belajar dengan berbagai gaya, misalnya audio plus visual. Kurangnya pemahaman akan gaya belajar yang dimiliki masing-masing individu akan membuatk mereka salah dalam menentukan pendekatan pembelajaran. Hasilnya, aktivitas pembelajaran tidak efektif. Sementara, pemahaman akan modalitas belajar yang dimiliki masing-masing individu akan membuat mereka mampu memilih cara dan sumber belajar yang tepat. Seorang individu yang cenderung bertipe audio bisa merekam penjelasan dari guru, untuk kemudian diputar ulang saat belajar di rumah. Seorang individu yang bertipe belajar visual bisa menggunakan berbagai pensil warna untuk membuat catatan yang rapid an menarik. Mereka yang bertipe belajar audiovisual bisa menggunakan video-video pembelajaran dari youtube. Sementara, mereka yang bertipe kinestetik memahami bahwa mereka harus banyak-banyak belajar melalui berlatih, praktik, role play, dan aktivitas psikomotoric lainnya.

Yang ketiga adalah pengasahan kemampuan berpikir dalam level tinggi (Higher order thinking skill/HOTS). Paradigma pendidikan di dunia menekankan pentingnya pengasahan daya kritis individu belajar. Penggunaan kapasitas berpikir yang hanya untuk menghafalkan informasi dalam aktivitas belajar sudah dianggap usang dan tak relevan dengan perkembangan zaman. Tantangan perkembangan zaman harus dihadapi dengan daya kritis individu. Itu lah alasan mengapa pengajaran HOTS mendapat perhatian yang begitu besar dan menjadi trend dalam kurikulum pendidikan di berbagai Negara. Mengacu pada konsep HOTS yang diperkenalkan oleh Anderson dan Krathwohl dalam taksonomi Bloom, aktivitas belajar yang mengasah kemampuan HOTS adalah menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. Pembelajaran yang mengasah ketiga kemampuan tersebut akan menopang terasahnya learning skill. Individu yang mampu mengevaluasi dan menganalisis akan mampu memahami konsep. Sementara mencipta adalah level kemampuan tertinggi yang ditopang oleh kemampuan mengevaluasi dan menganalisis. Individu yang menguasai tiga level berpikir ini akan bisa memahami suatu konsep. Alih-alih hanya menghafalkan suatu rumus matematika, individu yang menguasai ketiga level berpikir tersebut akan mampu memahami konsep terbentuknya rumus tersebut. Pemahaman akan konsep tersebut akan menjadi skill yang sangat berguna bagi individu dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Yang keempat, memberikan pemahaman bahwa setiap materi pelajaran membutuhkan pendekatan belajar tertentu. Cara belajar Belajar bahasa asing yang efektif adalah melalui praktik langsung dan berkesinambungan, bukan hanya menghafal kosakata. Belajar matematika yang efektif adalah melalui latihan berbagai soal dalam beragam konteks soal, bukan semata dengan menghafalkan rumus. Belajar ilmu-ilmu social seperti sosiologi, ekonomi, sejara, dsb secara efektif bisa dilakukan melalui penggunaan mind-maping, diskusi dengan teknik think-pair-share, dan observasi, bukan dengan menghafalkan informasi. Sementara pelajaran olahraga yang efektif tentunya dilakukan dengan cara praktik di lapangan, bukan hanya membaca teori semata.

Yang kelima, memberikan pemahaman tentang momen belajar yang tepat. Poin ini ada hubungannya dengan karakter dan kondisi otak. Pada dasarnya, otak manusia mengeluarkan berbagai gelombang setiap saat. Ada istilah gelombang alfa, beta, teta, dan gamma. Performa otak dalam belajar akan terasa maksimal saat ia memancarkan gelombang alfa. Gelombang alfa otak muncul di waktu-waktu tertentu seperti di sore hari saat setelah bangun tidur siang dan di pagi hari setelah bangun dari tidur, atau di sepertiga malam terakhir, saat kita merasa rileks. Banyak tokoh-tokoh hebat yang mampu menghasilkan gagasan brilian saat mereka menggunakan waktu di sepertiga malam terakhir untuk belajar. Contohnya Habibburahman El Zhirazy yang mengakui bahwa ia merasa sangat produktif menulis di sepertiga malam terakhir. Pemahaman akan waktu atau momen belajar efektif tersebut membuat individu mampu memilih waktu yang tepat untuk belajar, sehingga aktivitas belajar mereka efektif.

Yang terakhir adalah tentang ketahanan belajar. Tak dapat dipungkiri bahwa belajar adalah aktivitas yang membutuhkan waktu. Ada individu yang mau dan mampu berlama-lama meluangkan waktu untuk belajar. Smeentara, ada sebagian yang mudah bosan. Individu yang tahan untuk berlama-lama belajar adalah seorang autonomous learner, atau pembelajar yang mandiri. Autonomous learner tak membutuhkan arahan dan pengawasan orang lain untuk belajar, karena mereka memiliki kesadaran akan pentingnya belajar. Ada beberapa factor yang mempengaruhi ketahanan belajar individu. Yang pertama adalah motivasi. Bobby DePorter dalam buku Quantum Learning menyatakan bahwa seorang individu akan mau belajar secara sunggu-sungguh dengan penuh kesadaran ketika mereka mengetahui adanya AMBAK (Apa Manfaatnya BAgi Ku). Pemahaman akan adanya manfaat dari apa yang dipelajari akan membuat individu mau belajar secara mandiri. Factor kedua adalah pemahaman tentang pendekatan belajar yang tepat. Ketika seorang individu memahami gaya belajr mereka, dan pendekatan yang tepat untuk mempelajari suatu materi, maka mereka akan cenderung enjoy dalam melakukan proses belajar. Sementara kurangnya pemahaman akan tipe belajar dan pendekatan belajar tersebut bisa memunculkan rasa frustasi, sehingga cenderung cepat bosan untuk belajar. Factor yang ketiga adalah lingkungan yang mendukung serta momentum belajr yang tepat. Fasilitas belajar yang memadai, dan pemahaman akan momen-momen yang efektif untuk belajar akan membuat individu mau berlama-lama untuk melakjukan aktivitas belajar.

“Belajar untuk belajar” adalah frasa yag tepat yang semestinya dipraktikkan di sekolah. Pendidik semestinya menyadari bahwa bekal paling berharga yang bisa mereka berikan kepada para peserta didik adalah kemampuan untuk belajar (learning skill). Dengan Learning skill, peserta didik bisa mempelajari berbagai hal dalam menghadapi berbagai tantangan nyata kehidupan setelah mereka menyelesaikan program pendidikan formal.

Rabu, 29 September 2021

Mengapa lingkungan pergaulan yang bagus itu sangat penting?

 


 

Aku pernah membaca sebuah buku yang menyatakan bahwa ada dua hal yang dapat merubah hidup kita di lima tahun yang akan datang. Dua hal tersebut adalah buku apa yang kita baca dan dengan siapa kita bergaul. Sejak saat itu aku berusaha untuk membaca buku-buku inspiratif. Hanya saja, aku merasa bahwa aku belum bisa dengan sukses mengembangkan skup lingkungan pergaulanku. Artinya, pergaulanku ya masih dengan kalangan itu-itu saja.

Pernah beberapa kali aku mencoba untuk bergaul dengan orang-orang hebat, sukses dan inspiratif. Namun rasanya seperti sulit untuk menciptakan intimacy, psychological bound, dan kesetaraan saat bergaul dengan mereka. Mungkin ini juga hal yang dialami oleh banyak orang. Mencoba bergaul dengan orang-orang hebat itu penuh dengan rasa canggung, rasa tidak setara, dan cenderung muncul inferioritas. Pernah suatu ketika aku mendapatkan teman baru, seorang pengusaha sukses yangs udah terbiasa dengan topic pembicaraan tentang income milyaran rupiah. Dalam suatu obrolan dengan orang tersebut, dia menanyakan berapa asset yang ku miliki. Berapa income bulanan yang aku dapatkan. Pikiranku sempat berprasangka bahwa dia meledek. Namun seketika aku berpikir jernih bahwa pertanyaan semacam itu tentu sudah sangat lumrah dilontarkan oleh orang seperti dia, karena memang itu adalah hal biasa bagi dia. Aku yang merasa tidak relate dengan topic pembicaraan tersebut merasa inferior sekali. Seketika muncul jarak psikologis antara aku dan dia. Perasaan tidak setara, tak level, tak se-kasta jelas otomatis muncul. Aku mencoba meraba-raba, apa yang bisa aku tawarkan ke dia agar aku bisa berposisi setara dengan dia, hingga dia bisa menerimaku dalam lingkungan pergaulannya. Sudah menjadi hal lumrah bahwa hubungan pergaulan yang langgeng cenderung penuh dengan kesetaraan. Di situ ada give and take yang seimbang.

Beberapa orang mendapatkan privilege untuk berada di lingkungan orang-orang hebat. Ada yang karena mereka berasal dari keluarga atau kerabat yang hebat. Ada juga yang seperti mendapatkan keajaiban bisa berada di lingkungan orang-orang hebat meski mereka berasal dari keluarga biasa saja. Setiap pemain olahraga, pebisnis, dan orang-orang hebat lainnya biasanya dekat dengan orang-orang yang hebat. Lantas bagi orang-orang biasa yang tidak memiliki prestasi apa-apa ingin bergaul dekat dengan orang-orang hebat tersebut, apa yang bisa mereka tawarkan coba, agar bisa diterima untuk jadi teman pergaulan yang dekat? Setidaknya hal itu yang membuat mereka canggung untuk mendekat dengan orang-orang hebat.

Selanjutnya, sejauh mana buku berpengaruh terhadap perubahan hidup seseorang? Aku sendiri menjadi saksi bahwa buku banyak memberikan pengaruh dalam banyak hal dalam hidupku. Setidaknya, ilmu-ilmu yang kudapatkan dari buku merubahku dalam hal berkomunikasi. Public speaking, komunikasi verbal yang efektif dan elegan, serta keberanian untuk mengungkapkan pesan serta pemikiran secara verbal pernah jadi kelemahanku, hingga akhirnya aku mendapatkan dan mempraktikkan ilmu komunikasi dari berbagai literature. Buku juga memperbanyak wawasan. Mengayakan pikiran. Namun, apakah buku serta-merta bisa merubah hidup seseorang dalam hal-hal besar dan lebih prinsip? Mungkin iya bagi sebagian orang. Namun tidak semudah itu bagi sebagian orang lainnya.

Lantas bagaimana caranya orang bisa merubah kehidupannya menjadi jauh lebih baik, ketika buku tidak bisa memberikan pengaruh, sementara untuk masuk kedalam lingkungan pergaulan dengan rang-orang hebat mereka merasa canggung? “Beranikan saja masuk dalam lingkungan pergaulan mereka!” Mungkin ada yang berkata demikian. Namun tidak mudah untuk dilakukan, ketika kita merasa tidak memiliki posisi tawar yang membuat kita setara dalam lingkungan pergaulan yang kita masuki.

Sebagian orang melakukan caa-cara anti-mainstream untuk bisa masuk ke dalam pergaulan orang-orang hebat. Donald Trump, misalnya, memaksakan diri untuk jadi pelayan hanya agar bisa masuk ke dalam ruang konvensi yang berisi rang-orang hebat. Seorang pemuda penuh prestasi bernama Julio Ekspor berusaha dekat dengan bos Sriwijaya Air dengan cara setiap akhir pecan mengirimkan makanan langsung ke kantor pemilik Sriwijaya Air tesebut. Bukan hanya mengirimkan makanan, dia juga menuliskan surat berisi kata-kata yang dia harap bisa menjadi jembatan kedekatannya dengan bos tersebut. Contoh lain yang menarik adalah kisah Sandiaga Uno yang berusaha dekat dengan pemilik Astra. Namun dia memiliki privilege berupa kedekatannya dengan anak dari pemilik Astra tersebut, saat mereka kuliah di Amerika.

Mengapa berada di lingkaran orang-orang hebat itu dirasa perlu oleh mereka? Lingkungan itu mempengaruhi mindset. Berada di lingkungan orang-orang hebat membuat orang terinspirasi untuk menjadi se-hebat mereka. Otak akan secara otomatis terpancing untuk berpikir kritis, “mereka bisa se-hebat itu, masa aku tidak bisa. Aku harus bisa”. Kurang lebih, seperti itu dialog batin yang muncul dalam diri saat berada pada lingkungan orang-orang hebat.

Lantas, bagaimana titik start nya, untuk bisa berada pada lingkungan orang-hebat?

Kita bisa memiliki lingkungan pergaulan dengan orang hebat melalui follow akun orang-orang hebat. Subscribe channel youtube, follow akun instagram, atau social medianya orang-orang hebat untuk bisa mengetahui nasihat atau cara berpikir mereka. Banyak orang hebat yang berbagi pemikiran melalui media social. Kita juga bisa mengikuti berbagai workshop pengembangan diri yang diselenggarakan oleh orang-orang hebat. Kakak ku sendiri bisa menjadi contoh untuk hal ini. Hidupnya berubah drastic setelah mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh Mardigu Wowiek. Tentu kita harus mengeluarkan uang yang relative banyak agar bisa mengikuti acara semacam itu. Namun, sejatinya itu adalah investasi.

Kita juga musti memperbanyak dan mempertajam skill. Skill bahasa asing, skill public speaking, skill menjual, dan skill-skill lainnya. Banyaknya skill yang kita miliki akan memperbesar nilai diri kita, sehingga kita bisa mencapai level yang membuat kita layak dan setara untuk masuk ke dalam lingkungan pergaulan dengan orang-orang hebat.

Upaya masuk ke dalam lingkungan pergaulan yang bagus dengan cara secara frontal masuk ke dalam circle mereka sangatlah sulit, meskipun masih mungkin dilakukan. Alasannya ya seperti dibahas di awal tadi, nuansa ketidaksetaraan akan menjadi hambatan. Cara paling masuk akal adalah dengan sedikit-demi sedikit meningkatkan kapasitas dan nilai diri melalui proses belajar dan pengembangan diri seperti yang dijelaskan tadi. Semua proses tentu makan waktu dan penuh tantangan. Hanya saja, dengan bekal keajaiban otak yang Tuhan anugerahkan kepada kita, tidak ada yang tidak mungkin untuk kita wujudkan.

Jumat, 09 Juli 2021

Menumbuhkan Atmosfir Belajar

Saya sedang menyandang status sebagai seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi Luar Negeri, namun tak merasakan vibe sebagai mahasiswa sebuah perguruan tinggi Luar Negeri. Saya sedang menjalani perkuliahan, namun tak merasakan vibe perkuliahan. Saya sedang dalam masa mejalani aktivitas-aktivitas akademik, namun saya tak merasakan gregetnya aktivitas akademik. Semua ini terjadi karena saya menjalani kuliah secara online. Kuliah ini saya jalani di ruang dapur karena ini adalah spot satu-satunya di rumahku dimana signal internet cukup kuat. Pindah tempat sedikit, maka akan susah untuk mendapatkan koneksi internet yang cukup. Begitu banyak distraksi yang saya alami selama menjalani studi secara online ini. Situasi ini tentu akan berbeda andai saja saya menjalani perkuliahan langsung di kampus tujuan.

Saya pernah merasakan kuliah di sebuah perguruan tinggi di Luar Negeri. Setiap hari, sangat mudah bagi saya untuk berdiskusi tentang topic-topik seputar akademik dengan teman-teman dari berbagai Negara. Saya juga berkesempatan untuk berdiskusi langsung dengan dosen. Kemudahan akses terhadap fasilitas belajar, lingkungan pergaulan yang bergelut dalam bidang akademis, serta budaya belajar yang tercipta di kampus tempat ku belajar dulu membuatku merasakan betul pengalaman belajar. Atmosfir belajar tersebut membuatku termotivasi untuk melsayakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran.

Dari pengalaman ini, saya belajar suatu hal tentang pentingnya atmosfir belajar. Atmosfir belajar yang baik akan memberi stimulus pada seorang pembelajar untuk melsayakan tindakan belajar secara sadar. Satu tugas penting lembaga pendidikan adalah menciptakan atmosfir belajar. Sekolah-sekolah memang seyogyanya menjadi tempat yang lekat dengan atmosfir belajar. Namun faktanya tidak ada jaminan bahwa sekolah-sekolah tersebut telah mampu menciptakan atmosfir belajar. Saya memiliki hipotesis bahwa banyak peserta didik yang tidak merasakan atmosfir belajar yang kuat di sekolah mereka. Padahal atmosfir belajar yang kuat akan memacu semangat peserta didik untuk melsayakan upaya belajar secara sadar. Di sekolah yang memiliki atmosfir belajar yang kuat, peserta didik akan memiliki motivasi untuk belajar, dengan dorongan kuat untuk terus berkembang dan meningkatkan kecakapan serta pengetahuan. Sementara atmosfir belajar yang lemah akan berpengaruh terhadap lemahnya dorongan untuk belajar para peserta didik. Kondisi lemahnya dorongan untuk belajar akan lebih parah ketika selain lemahnya atmosfir belajar di sekolah, peserta didik juga tidak mendapatkan atmosfir belajar yang baik di rumah atau tempat tinggal mereka. Ini adalah tantangan nyata para pendidik dan pembuat kebijakan dalam dunia pendidikan.

Lantas, apa cara yang dapat dilsayakan oleh sekolah untuk menciptakan atmosfir belajar? Ini adalah pertanyaan penting yang menjadi inti bahasan dalam artikel ini.

Peserta didik adalah individu yang memiliki beragam interest. Maka, upaya-upaya yang dilsayakan oleh sekolah untuk mewujudkan atmosfir belajar harus mengakomodir keberagaman interest peserta didik. Ide pertama untuk meningkatkan atmosfir belajar peserta didik adalah melalui pembudayaan riset. Peserta didik semestinya diarahkan untuk melsayakan aktivitas-aktivitas penciptaan pengetahuan. Bukan hanya sekedar sebagai penerima pengetahuan. Riset adalah inti dari terciptanya pengetahuan. Riset seringkali dimaknai sebagai hal yang rumit. Sehingga, ada stereotype yang melekat kuat pada kata “riset”. SALAM (Sekolah Alam), sebuah sekolah yang terletak di Sleman, Yogyakarta, bisa menjadi model sekolah yang membudayakan kegiatan riset bagi para peserta didiknya. Peserta didik-peserta didik di SALAM terbiasa melsayakan riset, karena mereka memang diarahkan untuk terbiasa melsayakan riset. Riset-riset mereka dilsayakan secara sederhana. Prinsip dasar dari riset adalah menjawab pertanyaan yang muncul atas fenomena alam atau social. Pelaksanaan riset oleh peserta didik bisa dilsayakan melalui tahapan-tahapan sederhana yang meliputi munculnya pertanyaan, referensi teoritis, metodologi, dan pelaksanaan, serta pelaporan. Hasil riset tersebut harus diberi wadah untuk publikasi dan diseminasi. Selain itu, peserta didik juga harus diberi apresiasi atas karya riset yang mereka ciptakan. Selesainya kegiatan riset yang berujung pada dihasilkannya suatu produk ternyata memunculkan efek psikologis positif pada para peserta didik pelsaya rist, yaitu berupa sense of accomplishment dan sense of winning. Efek psikologis atas sense of winning dan sense of accomplishment sudah dijelaskan oleh berbagai literature ilmiah. Berdasarkan fakta yang ada di sekolah SALAM, kegiatan riset memiliki efek candu yang positif. Peserta didik yang terbiasa melakukan kegiatan riset merasakan kepuasan dan terdorong untuk melakukan lebih banyak kegiatan riset lainnya.

Sekolah semestinya mampu untuk menciptakan iklim riset yang menyenangkan bagi para peserta didik. Topic-topik riset bisa beragam,sesuai dengan minat para peserta didik. Ada riset yang berkaitan dengan bidang biologi, fisika, kimia, medis, kewirausahaan, olahraga, seni, antropologi, sejarah dan sebagainya. Tidak hanya berhenti pada pembudayaan riset, sekolah juga perlu menyelenggarakan event lomba karya ilmiah. Kegiatan tersebut bisa dilsayakan satu kali dalam setahun. Event seperti itu bisa menjadi motivasi untuk para peserta didik melsayakan riset. Selain itu, kegiatan riset ini sangat bisa mengasah kecakapan abad 21 yang mencsayap kolaborasi, komunikasi, kreativitas, berpikir kritis dan problem solving, serta bisa mengasah berbagai aspek karakter positif peserta didik. Jika kegiatan riset di sekolah berkembang, maka atmosfir belajar akan berkembang lebih baik pula.

Ide kedua adalah menggiatkan aktivitas literasi. Ide ini terkesan klise, karena adanya pemahaman umum bahwa sekolah tentu merupakan komunitas yang lekat dengan kegiatan yang berhubungan dengan literasi. Memang benar bahwa sekolah semestinya merupakan entitas yang lekat dengan literasi. Apalagi pemerintah, melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan, menggaungkan literasi di sekolah. Namun, jika mau jujur, tidak ada jaminan bahwa sekolah memiliki budaya literasi yang tinggi. Berapa persen peserta didik yang suka dengan kegiatan membaca dan menulis? Berapa banyak guru/pendidik yang lekat dengan kebiasaan membaca dan menulis?  Memang, literasi tidak hanya soal membaca dan menulis. Literasi memiliki makna luas. Namun, setidaknya membaca dan menulis adalah hal paling sederhana yang bisa menjadi indicator dasar dari kuat atau lemahnya budaya literasi. Jika kebiasaan membaca dan menulis di suatu komunitas rendah, maka bisa disimpulkan bahwa literasi di komunitas tersebut rendah. Membaca dan menulis di sini bukan bermakna sempit sebatas menulis untuk mengerjakan soal, atau membaca untuk mencari jawaban atas soal di sebuah mata pelajaran. Membaca di sini dimaknai sebagai aktivitas mencari pengetahuan untuk menambah wawasan atau untuk kemudian diaplikasikan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Menulis di sini juga tidak dimaknai hanya sebagai aktivitas menulis terbatas sebagaimana yang dilsayakan dalam kegiatan pembelajaran di kelas, melainkan menulis dalam csayapan yang lebih luas. Misalnya, menulis artikel ilmiah, menulis karya fiksi, menulis karya non-fiksi, dan sebagainya. Kampanye literasi ini bisa diwujudkan pula dalam bentuk kegiatan ekstrsayarikuler. Saya pernah merintis kegiatan Reading Community (komunitas baca). Berbagai program yang dilsayakan oleh komunitas tersebut diantaranya adalah bedah buku, bedah film, training menulis, dan program lainnya. Komunitas tersebut sedianya diarahkan untuk menjadi sebuah ekstrsayarikuler. Andai mendapatkan dukungan dari sekolah, maka Reading Community semestinya bisa menjadi wadah strategis untuk mengkampanyekan literasi. Ide bagus saja tidak cukup, kecuali didukung oleh banyak pihak untuk mewujudkannya.

Upaya ketiga untuk menciptakan atmosfir belajar yang bagus adalah pengarahan visi masa depan para peserta didik. Saat mulai masuk sekolah di tahun pertama, peserta didik semestinya diarahkan untuk memiliki visi yang jelas tentang apa yang akan mereka lsayakan setelah lulus sekolah. Dengan pengarahan ini, peserta didik akan terdorong untuk memiliki misi yang jelas yang harus dilsayakan selama menjalani 3 tahun sekolah, agar visi merkea bisa tercapai. Sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Insan Cendekia bisa menjadi role model yang bagus dalam hal pengarahan visi peserta didik. Sejak masuk di tahun pertama sekolah, para peserta didik diarahkan untuk menentukan di perguruan tinggi mana mereka akan melanjutkan studi. Berbagai informasi tentang peluang beapeserta didik studi lanjut ke berbagai perguruan tinggi luar negeri dan dalam negeri dipaparkan oleh pihak sekolah kepada para peserta didik. Dengan ini, para peserta didik memiliki gambaran dini tentang perguruan tinggi yang nantinya mereka akan pilih. Kejelasan visi studi lanjut tersebut membuat para peserta didik paham dengan jelas tentang apa saja yang harus mereka upayakan untuk bisa mewujudkan impian kuliah di perguruan tinggi idaman. Menyadari bahwa berbagai persyaratan akademik harus mereka penuhi untuk mencapai target kuliah di perguruan tinggi idaman tersebut, para peserta didik akan dengan termotivasi untuk belajar dengan giat. Dengan kejelasan visi, atmosfir belajar di sekolah tercipta. Bahkan peserta didik-peserta didik yang tadinya memiliki motivasi belajar rendah pun bisa termotivasi untuk belajar, ketika mereka berada di lingkungan para pembelajar. Itu lah energi positif dari atmosfir belajar.

Sebenarnya, masih banyak ide tentang upaya untuk menciptkaan atmosfir belajar yang bagus. Namun setidaknya ketiga ide di atas cukup untuk menunjang terciptanya atmosfir belajar, andai benar-benar dilaksanakan dengan baik. Sekolah adalah tempat yang sangat diharapkan untuk bisa memfasilitasi belajar para peserta didik. Maka, sudah semestinya sekolah berupaya untuk menciptakan atmosfir belajar yang kuat. Sehingga, setelah menjalani masa sekolah, peserta didik memperoleh berbagai kecakapan yang berguna untuk menghadai berbagai tantangan hidup serta memiliki karakter yang sesuai dengan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi di negeri ini.