Minggu, 10 Juli 2022

Menjalankan Program Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang Bermakna

“Masa pengenalan lingkungan sekolah seharusnya menjadi Masa untuk para peserta didik merumuskan visi pendidikan mereka secara jelas.”

 

Tahun ajaran baru 2022/2023 sudah dimulai. Mulai tanggal 11 Juli 2022 ini, sekolah-sekolah di berbagai jenjang pendidikan menjalankan program rutin awal tahun ajaran baru yang disebut Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Program tersebut biasanya berlangsung di minggu pertama tahun ajaran baru. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalm MPLS biasanya dilaksanakan mengikuti ketentuan dari Perendikbud nomor 18 Tahun 2016 dengan penyesuaian yang selaras dengan karakteristik serta kondisi sekolah. Pada MPLS tahun ini, pengenalan profil pelajar Pancasila mendapatkan perhatian khusus. Lantas, apa sebenarnya peran strategis yang ada pada MPLS terhadap pendidikan peserta didik?

Sesuai dengan arahan Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016, jelas disebutkan bahwa kegiatan MPLS tidak diperkenankan mengandung unsur kekerasan, perundungan, indoktrinasi pemahaman radikal negative, intoleransi serta kegiatan-kegiatan lain yang berdampak negatif dan minim unsur kemanfaatannya. Selain itu, pengenalan profil pelajar pancasila juga jelas menjadi penekanan dari program MPLS. Namun ada satu hal yang sepertinya sering dilupakan oleh para perumus kebiakan tingkat sekolah terkait MPLS, yaitu adanya ruang untuk mengkreasi kegiatan yang sesuai dengan karakteristik, kebutuhan, dan kondisi sekolah serta lingkungan sekitar sekolahs. Idealnya, kegiatan MPLS dirumuskan secara serius oleh para pemangku kebijakan sekolah. Hasil evaluasi yang dilaksanakan pada kegiatan MPLS di tahun sebelumnya semestinya menjadi pedoman untuk memperbaiki kualitas program MPLS yang dilaksanakan di tahun ini. Begitu pun seharusnya MPLS tahun ini dievaluasi dan dijadikan sebagai referensi untuk lebih baiknya pelaksanaan MPLS di tahun berikutnya.

Sekolah semestinya tidak take this opportunity for granted. Kegiatan MPLS semestinya tidak dilaksanakan sekedar formalitas saja, dimana kegiatan-kegiatannya kurang bermakna dan para pengisi materinya kurang persiapan. Ini memang sebuah hipotesis, bahwa masih banyak sekolah yang melaksankaan kegiatan MPLS secara formalitas semata. Namun hipotesis ini bisa menjadi bahan refleksi bersama, apakah memang benar bahwa kegiatan MPLS di sekolah dilaksanakan hanya sebatas formalitas yang kurang makna.

Ada banyak peran strategis yang dimiliki MPLS untuk kemaslahatan para peserta didik. Yang pertama, MPLS semestinya mejadi momen untuk sekolah membantu para peserta didik merumuskan visinya dalam menjalani studi. Perumusan visi tersebut penting, agar peserta didik tidak melewatkan momen pendidikan selama sekolah dengan hanya mendapat ijasah saja. Belajar dari sekolah-sekolah keren seperti Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia), di awal tahun ajaran baru, para peserta didik dibantu oleh para guru untuk menentukan rencana mereka setelah lulus sekolah nantinya. Banyak di antara peserta didik dari sekolah tersebut yang sedari awal masuk sekolah sudah memiliki gambaran jelas untuk melanjutkan pendidikan di Universitas impian mereka. Banyak diantara mereka yang merencanakan untuk mendaftar beasisiswa studi di luar negeri. Dengan memiliki visi yang jelas, mereka tahu apa saja yang harus mereka persiapkan untuk mencapai tujuan tersebut. Peningkatan prestasi akademik, penguasaan bahasa asing, keaktifan dalam organisasi, kemampuan komunikasi, wawasan luar, serta pengalaman aktif dalam berbagai kegiatan pengabdian sosial adalah hal yang mereka harus persiapkan untuk memperoleh beasiswa studi tersebut. Dengan memiliki visi yang jelas, proses pendidikan di sekolah akan bisa mereka jalani secara penuh makna. Para guru tidak perlu lagi bersuara keras memberikan nasihat kepada para peserta didik untuk belajar ketika mereka sudah memiliki kesadaran bahwa belajar tersebut merupakan bagian dari upaya mewujudkan visi mereka.

Memang tidak semua peserta didik memiliki minat untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Sebagian memilih untuk bekerja setelah lulus sekolah. Sebagian memilih untuk merintis kegiatan wirausaha. Apa pun visi yang dimiliki oleh peserta didik, yang jelas visi mereka harus terbentuk secara matang sejak mereka mulai menjalani kegiatan belajar di awal tahun ajaran baru. Ini adalah tugas para pendidik untuk membantu mereka merumuskan visi dan misi tersebut. MPLS memiliki posisi strategis untuk perumusan visi misi peserta didik tersebut.

Peran strategis MPLS yang kedua adalah membantu peserta didik untuk memahami apa itu belajar dan bagaimana cara belajar. Tidak semua peserta didik memiliki motivasi yang kuat untuk belajar. Bahkan sebagian dari mereka pasti ada (atau banyak) yang yang salah memahami konsep belajar. Sebagian peserta didik ada yang memahami bahwa belajar duduk di bangku menghadap meja untuk membaca buku. Sebagian dari mereka mengira bahwa belajar adalah menghafal materi. Sebagian lainnya berpikir bahwa belajar adalah mempersiapkan diri utnuk menghadapi ujian. Kalimat-kalimat ini saya utarakan berdasarkan pengalaman saya sebagai pelajar yang pernah salah dalam memahami konsep belajar, dan pengalaman sebagai guru yang mengamati para peserta didik yang tidak paham tentang konsep belajar.

Peserta didik perlu diberi pemahaman tentang cara efektif untuk belajar. Mereka perlu diperkenalkan dengan keberagaman pendekatan yang sesuai untuk mempelajari berbagai mata pelajaran. Mereka perlu diberi pemahaman tentang karakteristik otak sehingga tahu bagaimana memaksimalkannya untuk proses belajar efektif. Mereka perlu diberi pemahaman tentang kecenderungan individu dalam mengelola informasi secara efektif. Mereka perlu diberi wawasan tentang berbagai sumber belajar yang mereka bisa akses, agar tidak bergantung pada bahan ajar yang ditentukan oleh guru. Semua itu penting, karena pada kenyataannya banyak peserta didik yang tidak memahami tentang konsep belajar efektif. Tanpa mengetahui itu semua, mereka akan terjebak dalam trial and error pada proses belajar mereka, yang berpotensi bisa memunculkan persepsi negative terhadap aktivitas belajar seperti bahwa belajar itu sulit, belajar itu membosankan, belajar itu tidak menyenangkan.

Peran strategis MPLS yang ketiga adalah memperbaiki mindset peserta didik tentang pendidikan. Berapa banyak peserta didik yang merasa terbebani oleh peraturan sekolah, sehingga mereka menjalani aturan dengan keterpaksaan. Berapa banyak peserta didik yang merasa kedisiplinan merupakan belenggu bagi kebebasan, karena mereka belum tersadarkan akan pentingnya disiplin. Berapa banyak peserta didik yang belum memahami pentingnya karakter, sehingga mereka abai terhadap kebiasan-kebiasaan kecil yang sebenarnya bisa mewujud menjadi karakter yang menentukan nasib merka di masa depan. Hal-hal seperti itu perlu dijelaskan kepada para peserta didik di awal tahun ajaran baru. Dengan demikian, ada potensi bahwa mereka menjalani proses pendidikan di sekolah dengan penuh kesadaran, bukan keterpaksaan.

Masih banyak peran strategis progam MPLS yang bisa dirumuskan dan dilaksanakan oleh sekolah. Yang jelas, schools should never take MPLS for granted. MPLS jangan hanya dilaksanakan sebagai kegiatan formalitas semata. Ia harus dirumuskan dan dilaksanakan sebagai program yang penuh makna bagi para peserta didik.


Rabu, 06 Juli 2022

Naik Rollercoaster atau Boomboom Car?: Respon terhadap The Subtle Art of not Giving a Fuck

  

Membaca buku The Subtle Art of Not Giving a Fuck, ada satu bagian menarik yang membuat beberapa orang memilih sikap untuk tidak membuat target besar dalam hidup. Sikap tersebut diilhamdi oleh bagian dari buku tersebut yang menyatakan bahwa dalam hidup ini, hal-hal yang membuat kita kecewa kadang adalah goal yang terlalu besar. Seringkali, goal yang kita ciptakan tidak bisa kita raih, dan itu lah sumber dari kekecewaan yang berujung ketidakbahagiaan.

Sebagai seorang pembaca kritis, aku tidak sepenuhnya setuju dengan semua pemikiran yang disampaikan oleh penulis melalui suatu buku, meskipun buku tersebut adalah buku super best-seller tingkat dunia. Dalam hal ini, aku juga tidak sepenuhnya setuju untuk akhirnya tidak membuat goal besar dalam hidup, hanya karena itu berpotensi menimbulkan kekecewaan. goal dan kekecewaan adalah dua hal yang seringkali muncul dalam satu paket. Tidak ada yang salah dengan keduanya. Semua orang yang sukses besar dalam bidang masing-masing pasti pernah merasakan kekecewaan. konon, Thomas Alfa Edison pernah melakukan ratusan percobaan sebelum akhirnya menemukan lampu pijar yang bermanfaat bagi manusia di seluruh bumi. Dalam tiap percobaan yang gagal, pasti lah ada rasa kecewa, karena harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Andai dia berhenti mencoba demi menghindari rasa kecewa, mungkin dia tidak akan tercatat dalam sejarah sebagai seorang penemu besar.

Aku sendiri pernah mengalami berbagai kekecewaan karena tidak sesuainya realita dengan harapan. Saat masih kuliah S1, aku pernah mencoba mengikuti berbagai seleksi program pertukaran pemuda ke antar Negara (PPAN). Itu adalah salah satu mid-term goals yang benar-benar aku dambakan untuk aku raih. Betapa kecewanya aku ketika aku gagal berkali-kali sampai aku tidak pernah sama sekali mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program tersebut. Kegagalan tesebut semakin terasa menyesakkan dada ketika aku mengingat proses persiapan yang alku jalani yang menurutku sudah sebegitu maksimalnya. Dari setiap kegagalan seleksi program PPAN tersebut aku selalu evaluasi diri untuk menemukan aspek mana yang aku harus perbaiki. Setiap evaluasi, aku selalu mendapatkan pelajaran. Ternyata aku masih kurang dalam hal kecakapan komunikasi, wawasan, penguasaan wawasan dan praktik budaya, serta teknik menjalani wawancara. Dari evaluasi tersebut, aku banyak-banyak belajar. Di antara sekian banyak kekurangan, strategi menjalani wawancara adalah hal yang menurutku paling kurang pada diriku. Setelah belajar banyak tentang wawancara melalui berbagai sumber, memiliki kebiasaan membaca dan serta praktik public speaking dengan jam terbang yang cukup tinggi, sekarang wawancara adalah bagian yang paling aku sukai. Aku merasa sangat well-prepared dengan wawancara apa pun, baik wawancara kerja, seleksi beasiswa, maupun wawancara apa pun. Hasilnya, dalam rentang waktu 10 tahun, aku mendapatkan empat program beasiswa bergengsi untuk studi di berbagai kampus ternama luar negeri.

Melalui tulisan ini, aku ingin meyakinkan pembaca bahwa taka pa jika kita pernah merasakan kecewa. Tak apa jika dalam hidup kita tidak dapat meraih semua goal. Tidak masalah jika kita kecewa dan menangis saat kita tidak meraih goal yang kita tetapkan. Yang bermasalah bukan melesetnya goal atau rasa kecewa yang melanda, melainkan sikap kita dalam menjalaninya. Orang bijak akan menyikapi kekecewaan sebagai pembelajara untuk menempa diri. Sementara orang yang masih perlu belajar tentang hidup akan bersikap bahwa kekecewaan adalah hal yang mutlak harus dihindari.

Hidup adalah soal pilihan. Ada orang yang memilih untuk hidup datar-datar saja, nyaman-nyaman saja. Namun yang perlu diingat adalah hidup sesingkat ini akan terasa sia-sia jika hanya dijalani datar-datar saja. Lagipula, apakah ada jaminan bahwa orang yang tidak ber-goal besar akan terbebas dari rasa kecewa? Belum tentu. Kata orag bijak, ketika seseorang berhenti bermimpi besar, justru dia adalah laksana prajurit yang sudah kalah duluan sebelum berperang. Setiap pilihan hidup ada konsekuensinya masing-masing. Menetapkan tujuan besar beresiko kecewa jika tidak berhasil meraihnya. Namun ia berpotensi menjadikan seseorang meraih sukses besar. Menetapkan tujuan hidup yang kecil mungkin menghindarkan seseorang dari rasa kecewa atas tidak diraihnya tujuan besar. Namun apa lah artinya hidup yang dijalani tanpa pernah kita mempertaruhkan hal terbesar kita.

“Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan”.

Selasa, 05 Juli 2022

Mempraktikkan Kaizen: Solusi nyata untuk overwhelmed, cognitive overload, procrastination, dan low productivity

Pernah ndak kamu merasa overwhelmed dengan banyaknya rencana dan keinginan? Rasanya tuh pikiran seperti penuh sesak, seolah taka da ruang. Aku sendiri pernah berencana untuk menulis beberapa judul buku. Masing-masing judul kubuatkan strukturnya, termasuk daftar isi nya. Rasanya semua topik dari buku-buku tersebut penting semua. Namun apa yang terjadi? Aku mengalami cognitive overload. Pikiran terasa seperti mengalami burnout yang luar biasa, hingga enggan untuk memulai yang mana.

Aku juga pernah membuat berbagai rencana untuk mengguasai beberapa skill. Dari skill videografi, fotografi, digital marketing, memasak, copywriting, academic writing, popular writing, public speaking, dan export dan importing. Sebagian skill sudah aku miliki. Namun mostly belum aku capai. Sama seperti kasus ingin menulis buku, aku juga mengalami cognitive overload dalam upaya mencapai target pencapaian berbagai skill tersebut.

Belakangan aku tersadar akan apa yang menjadi akar masalah. All kinds of accomplishment need momentum. Saat momentum dating, jangan menunda untuk memulai dan menyelesaikannya. Inspirasi datang setiap saat. Saat ia datang, segerakan untuk mewujudkannya hingga titik pencapaian maksimal. Ketika tergerak niat untuk mencapai sesuatu, menulis sebuah buku misalnya, maka segeralah memulai menulis. Jangan hanya berhenti pada penyusunan struktur dan daftar isi saja. Mulai lah menulis satu demi satu sub bahasan. Jangan berharap untuk sempurna di setiap penulisan. Selesaikan dulu draft pertamanya, baru nanti lakukan penyempurnaan. Saat ada keinginan untuk menguasai suatu skill, lakukan segera Latihan untuk menguasai skill tersebut. Jangan menghabiskan waktu lama untuk menunggu. Ingin menguasai videografi, segera pelajari Teknik-tekniknya melalui berbagai sumber, dan praktiklah segera. Kira-kira begitu lah hal paling masuk akal jika ingin terbebas darin cognitive overload dalam mencapai apa yang kita targetkan.

Cognitive overload slows down our productivity. Itu nyata. Orang yang mengalami cognitive overload cenderung bingung mau melakukan apa. Sehingga, justru dia tidak melakukan apa-apa, hingga waktu terbuang percuma. Itu lah kenapa dikatakan bahwa cognitive overload menyebabkan kurangnya produktivitas. Prinsip Kaizen sepertinya layak untuk dipraktikkan. Tak perlu menghabiskan berpuluh-puluh jam dalam satu waktu usaha. Cukup menyempatkan waktu walau hanya satu jam setiap hari secara konsisten. Konsistensi akan melahirkan prestasi. Konsistensi akan menumbuhkan rasa percaya diri. Sense of accomplishment sangat penting, karena ia akan meyakinkan diri bahwa diri ini BISA.

Satu lagi. Jangan menunggu mood baik untuk memulai atau melanjutkan melakukan sesuatu. Mood baik bisa distimulasi. Contohnya begini. Saat ingin menulis dan mood belum baik, maka segeralah akses laptop. Cobalah berkomitmen untuk menuliskan apa pun selama lima menit tanpa menghiraukan distraksi apa pun seperti membalas pesan, mengangkat telpon, atau apa pun. Benar-benar lakukan dengan penuh komitmen. Hanya lima menit saja. Dalam banyak praktik, berkomitmen melakukan suatu aktivitas selama lima menit akan mengantarkan kita pada kondisi flow. Sebuah kondisi dimana kita merasa Pe-We dalam melakukan suatu aktivitas sehingga kita benar-benar menikmatinya dan tak mempedulikan seberapa pun lamanya waktu yang berlalu.

Banyak orang yang memiliki kebiasaan menunda (procrastination). Kebiasaan tersebut bahkan kadang berubah menjadi karakter. Ketika sudah menjadi karakter, maka orang akan merasa tidak nyaman jika tidak menunda. Ada perasaan bahwa justru terasa aneh jika bersegera melangkah dan menyelesaikan suatu Kebiasaan menunda biasanya berawal dari mindset yang salah bahwa melakukan sesuatu itu harus menunggu datangnya mood yang bagus. Padahal yang benar adalah mood itu bisa distimulasi, sementara bersegera melangkah adalah hal yang semestinya dilakukan.

Merasa overwhelmed dengan segala target pencapaian sangat lah melelahkan. Kondisi tersebut membuat seseorang menjadi tidak produktif. Begitu banyaknya target pencapaian kadang juga menimbulkan cognitive overload. Hal tersebut tidak bagus untuk mental, emotional, dan psychological wellbeing kita. Cognitive overload kadang membuat seseorang terjebak untuk menunda melangkah, menunggu momen yang tepat dan mood yang bagus. Karena menunggu mood yang baik, akhirnya seseorang terjebak pada kebiasaan procrastination. Procrastination bisa menjelma menjadi sebuah karakter, yang dalam tataran tertentu bisa sulit untuk dirubah. Oleh karena itu, prinsip kaizen sangat perlu untuk diterapkan. Milikilah kebiasaan dan komitmen untuk melangkah secara konsisten dan berkesinambungan. Progress kecil yang dicapai secara terus menerus dan konsisten akan berujung pada diraihnya pencapaian besar. Hal tersebut jauh lebih penting daripada berharap kesempurnaan namun abai terhadap langkah-langkah kecil yang disegerakan.

 

Selasa, 14 Juni 2022

Jalan Ninjaku

 


Bismillah

Selesai studi, balik kampong.

Selesaikan Studi Doktoral di luar negeri.

Aktif menulis buku-buku bertema pendidikan, pedagogi, neurosains, psikologi, pembangunan karakter, manajemen sekolah, literasi, dan pembelajaran bahasa inggris.

Aktif baca artikel penelitian, dengan mengakses berbagai platform search engine.

Mendirikan CV penerbitan buku yang terdaftar dalam IKAPI.

Memiliki tim marketing untuk product and personal branding.

Mengisi berbagai workshop dan seminar.

Menjalankan berbagai penelitian dan mempublikasikannya.

Mempresentasikannya dalam berbagai konferensi internasional.

Aktif menerbitkan buku-buku sendiri.

Memasarkannya secara digital.

Menjadi konsultan pendidikan dan pengembangan lembaga pendidikan.

Dekat dengan akses otoritas daerah agar bisa berkontribusi dalam perumusan kebijakan.

Memiliki perpustakaan besar.

Mendirikan sekolah pemimpin.

 

Lulus Kuliah: Antara senang dan bimbang

 

Alhamdulillah…rasa syukur aku haturkan kepada Alloh SWT. Akhirnya, rangkaian studi Pendidikan magister yang aku tempuh sudah selesai. Ini adalah semester. Semua perkuliahan sudah aku selesaikan. Semua tugas sudah aku selesaikam pula. Kini tinggal menunggu hasil dari kuliah tersebut. Semoga hasilnya tidak mengecewakan.

Di satu sisi aku merasa senang karena selesainya kuliahku. Namun di sisi lain aku merasa sedih, anxious, bimbang, dan tidak nyaman. Kebayang bahwa aku harus pulang dan menjalani rutinitas seperti dulu lagi. Pergi pagi buta dan pulang sore hari menempuh perjalanan selama satu jam melewati medan yang begitu menantang. Aku tidak mengeluh dengan pekerjaan sebagai guru. Namun aku mengeluhkan tentang keterikatan, rutinitas menjemukan, urusan dan administrasi yang ribet. Terlebih, satu bagian yang paling bikin males adalah bayangan akan kurangnya wellbeing yang dimiliki guru di Indonesia.

Bayangan akan kurangnya wellbeing guru di Indonesia ini yang membuatku merasa cukup berat untuk kembali ke rutinitas semula. Betapa tidak risau, ketika kembali ke rutinitasku sebagai pengajar, aku tidak lagi punya kebebasan bepergian kemana aku suka. Kadang juga terbayang dalam pikiran, akankah aku menghabiskan sisa usiaku dengan rutinitas menjemukan sebagaimana yang dijalani oleh seorang ASN. Pergi pagi, pulang petang. Libur jarang. Seperti itu terus hingga tua. Tau-tau meninggal.

Meninggalnya kolegaku beberapa minggu lalu cukup membuatku merenung. Akankah aku menjalani hari seperti dia yang pergi pagi pulang petang hingga tua seperti it uterus hingga tutup usia. Ketika pension pun hanya mengandalkan gaji bulanan yang mungkin pada masa itu nilainya tidak lah seberapa, karena tergerus inflasi.

Aku begitu cinta terhadap kehidupan perkuliahan. Learning vibe yang aku rasakan, akses terhadap fasilitas kampus yang membuatku bisa belajar dengan efektif, dan berinteraksi dengan teman-teman yang memiliki keberagaman latar belakang adalah hal yang sepertinya sudah menjadi candu bagiku. Aku ingin merasakannya lagi hingga jenjang Doktoral. Menjalani rutinitas sebagai ASN terasa mudah dalam pikiranku. Sehingga ketika aku harus kembali mengajar pun aku merasa mudah untuk mengatasi hal yang dulu pernah membuatku jemu. Namun bayangan dan ketertarikan untuk terus belajar dan menghasilkan karya-karya akademik masih membuatku enggan untuk beranjak dari dunia akademik ini. Terlebih kegiatan akademik yang aku jalani berada di negara luar.

Kini aku sedang dalam dilemma antara kembali menjalani rutinitasku atau mengambil resiko keluar dari zona nyaman yang penuh ketidakpastian namun terasa memenuhi panggilan jiwaku.

Kembali menempuh Pendidikan S3 di sebuah kampus di luar negeri akan menjadi tantangan besar bagiku. Namun, justru tantangan seperti itu lah yang akan membuatku tumbuh kuat dan berdaya, sebagaimana pohon yang membesar dengan akarnya menancap makin dalam ke bumi setelah dia dibebaskan dari pot yang membelenggunya.

Cita-citaku masih sama, menjadi diriku yang bebas penuh sumberdaya, karya, inspirasi, serta manfaat bagi banyak orang, sebanyak-banyaknya orang. 

Selasa, 07 Juni 2022

Sekolah dan Wellbeing Siswa

 

Di tempat aku kerja paruh waktu, aku bertemu dengan seorang pekerja asli Australia yang mengaku mengenyam Pendidikan hanya sampai level kelas 8, atau kelas dua Sekolah Menengah Pertama. Sebut saja Namanya “Kal”. Aku tertarik untuk mengetahui alasan dia drop out dari sekolah. Untuk sebuah negara dengan kualitas Pendidikan yang sangat bagus seperti Australia, yang ditopang dengan berbagai kebijakan yang sangat berpihak pada siswa, alasan adanya kasus drop out membuatku penasaran. Beruntung diam au bercerita tentang masa lalunya, serta alasan yang membuatnya drop out begitu dini. Sehingga, aku mendapatkan pelajaran berharga yang sangat relate dengan posisiku sebagai seorang guru.

Dia bercerita bahwa dia sangat membenci dunia sekolah sejak kecil. Menurut dia, entah kenapa dia selalu mendapatkan perundungan dari teman-teman sebayanya. Melihat fisiknya serta gesturnya dalam berjalan, berdiri, aku memiliki kesimpulan bahwa dia adalah anak yang bullyable. Aku pernah membaca sebuah artikel bahwa gesture yang kita perlihatkan akan menentukan bagaimana orang lain bersikap terhadap kita. Sebenarnya bukan gesture saja yang menjadi factor pemicu perundungan. Ada banya factor lainnya. Aku sama sekali tidak membenarkan terjadinya perundungan yang dialami oleh temanku tersebut. Dalam situasi apapun, perundungan tetaplah perundungan yang tidak layak mendapatkan pembenaran.

Yang ingin aku bahas di sini adalah betapa pengalaman-pengalaman negative yang dialami oleh seorang pelajar sangat berpengaruh buruk terhadap kehidupannya. Drop out dari sekolah bias dikatakan efek ringan dari pengalaman buruk kehidupan remaja. Dr Kelly-Ann Allen, seorang peneliti dan psikolog dari Australia menyebutkan bahwa kasus bunuh diri remaja di Australia bisa dikatakan cukup tinggi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya, kasus-kasus tersebut banyak dipengaruhi oleh kesehatan mental para remaja yang diakibatkan oleh factor pengalaman buruk dalam lingkungan pergaulannya. Perundungan merupakan salah satu factor diantaranya.

Aku sangat menyayangkan ketika banyak sekolah menganggap bahwa urusan dinamika interaksi pergaulan antar pelajar merupakan urusan pribadi mereka yang sekolah tidak perlu campur tangan. Padahal, baik buruknya pengalaman pergaulan remaja dan kesehatan mental, emosional, psikologis, dan fisik mereka sangat berpengaruh terhadap pencapaian akademik mereka dan kehidupan mereka pada umumnya. Aku sangat menyayangkan ketika masih ada sekolah yang mengira bahwa ruang lingkup program mereka adalah seputar peningkatan prestasi akademik siswa. Prestasi akademik memang penting, namun sisi humanis pelajar seperti kebahagiaan, kesehatan mental, emosional, jiwa dan raga sangat lah penting untuk diperhatikan.

Beruntung Kal hidup di Australia, negara yang memiliki banyak kesempatan, yang sering dijuluki “The Land of Opportunities”. Meski relative kurang terdidik, Kall masih bisa mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang layak, karena begitu banyaknya persediaan kesempatan kerja. Bagaimana jika drop out tersebut dialami oleh anak-anak yang tinggal di lingkungan yang miskin kesempatan? Mungkin dia bisa survive, terutama bila dia mendapatkan support positif dari lingkungannya. Namun pada kenyataannya tidak semudah itu meraih keberuntungan semacam itu.

Poin utama yang ingin aku sampaikan dalam artikel ini adalah bahwa sekolah bseharusnya menunjukkan perannya dalam membantu para pelajar mengatasi problematika mereka. Terutama problematika yang berhubungan dengan wellbeing mereka yang berpengaruh terhadap performa belajar. Usia remaja adalah usia pencarian jati diri. Mereka yang beruntung mendapatkan support positif dalam mengarungi masa pencarian jati dirinya akan melewati masa pencarian jati diri dengan sukses, menjadi pribadi yang berkarakter dan siap menghadapi berbagai permasalahan hidup.

Di Australia, sekolah-sekolah sudah mulai menekankan pentingnya menjamin wellbeing para pelajar. Sekarang, setiap sekolah pada umumnya   memiliki tim yang bekerja khusus menangani urusan wellbeing para pelajar. Bahkan guru atau tenaga yang ditugasi untuk menjamin wellbeing para pelajar diarahkan serta difasilitasi untuk belajar tentang konsep menjamin wellbeing pelajar di universitas, melalui skema kuliah part-time. Mereka juga sering mengadakan in house training untuk memberi para guru dan staff pemahaman tentang wellbeing, dengan mengundan par ahli. Para pelajar menghabiskan waktu yang sangat banyak dan signifikan di sekolah. Maka, sekolah selayaknya tidak hanya focus terhadap urusan akademik saja, melainkan juga urusan wellbeing para pelajar. Bukan hanya wellbeing pelajar, wellbeing guru dan staff juga sangat penting. Berbagai literatur meyakinkan bahwa terjaminnya wellbeing guru dan karyawan skeolah sangat berpengaruh secara langsung terhadap wellbeing para pelajar.

Sekalipun urusan akademik adalah urusan yang sangat penting, namun apa artinya jika wellbeing para pelajar tidak bagus? Sementara berbagai penelitian membuktikan bahwa wellbeing sangat berpengaruh terhadap performa kinerja setiap orang.  

Sabtu, 04 Juni 2022

Setelah meraih title Master’s Degree, lantas ngapain?

  

Ini adalah sebuah pertanyaan penting untuk ditemukan jawabannya. Apa yang musti dilakukan setelah kita selesai menempuh program Master’s Degree. Banyak orang yang selesai studi kemudian mereka kembali ke mode awal, menjadi biasa-biasa saja. Program pendidikan Master yang mereka tempuh tidak serta-merta membuat mereka menjadi individu yang berubah peranannya dan kebermaknaannya bagi lingkungan. Ada juga orang-orang yang setelah menyelesaikan program Master, mereka banyak berkiprah dalam memberi warna serta kontribusi bagi banyak orang di bidang yang menjadi ekspertisnya.

Sebagai lulusan program Master, kita bisa saja tidak menjadi apa-apa dan hanya menjadi orang biasa-biasa saja, persis seperti sedia kala saat kita belum menempuh pendidikan Master. Hal tersebut terjadi jika tidak ada breakthrough yang kita lakukan. Salah satu PR besar yang dimiliki oleh para lulusan Master, terlebih lulusan dari kampus ternama di Luar Negeri, adalah bagaimana setelah selesai menmpuh studi mereka bisa berkontribusi. Berdiam diri tanpa karya bukan hanya menjadi aib di lingkungan tempat tinggal, namun juga menjadi beban moral bagi orang tersebut. Untuk apa kuliah jauh-jauh jika tidak ada peningkatan kiprah setelahnya.

Sebagai lulusan program Master, kita bisa berkontribusi dalam beberapa hal. Pertama, berkontribusi dalam menyumbangkan pemikiran. Salurkan gagasan kita melalui tulisan, seminar, workshop, dan pelatihan yang dapat diakses oleh orang banyak. Kedua, kita harus bisa berkontribusi dalam pembuatan kebijakan dalam bidang yang relevan. Tidak ada salahnya untuk kita approach para policymakers. Jangan sungkan-sungkan apalagi merasa inferior untuk dekat dengan para policymakers. Status kita sebagai lulusan perguruan tinggi luar negeri dengan beasiswa bergengsi harus lah cukup menjadi modal untuk kita meyakini bahwa kita layak berada pada circle orang-orang besar. Ketiga, kita harus mampu melakukan personal branding yang kuat dan massif. Tak perlu merasa rendah diri dengan memberikan judgement bahwa personal branding itu lekat dengan sikap narsis. Boleh jadi memang ada jarak yang sangat dekat antara personal branding dengan narsisme. Namun, selama itu dilakuikan dengan tujuan supaya personal branding kita makin kuat, tidak perlu danggap masalah. Dalam dunia personal branding, gimmick sudah menjadi hal biasa. Dan itu halal.

Sebagai lulusan perguruan tinggi Luar Negeri, kita dituntut untuk bisa memiliki citra diri yang lebih baik. Perhatikan gaya komunikasi kita. Perhatikan gaya joke-joke kita. Bukan berarti bahwa kita harus menjadi orang lain. Namun membenahi berbagai aspek diri seperti cara berkomunikasi, bertingkah laku, pola pikir, dan cara menangani berbagai situasi menjadi pertaruhan sebagai seorang lulusan perguruan tinggi Luar Negeri. Selain itu, kita perlu mengurangi terlibat dalam drama-drama atau urusan-urusan yang remeh temeh.

Terus berkarya, berkontribusi dan memberi manfaat bagi banyak orang!