Rabu, 19 Januari 2022

Pentingnya Wellbeing dalam Penyelenggaraan Pendidikan


Hari ini aku datang ke kampus cukup pagi. Tujuanku adalah bercengkerama laptopku untuk melanjutkan penyelesaian risetku. Ada satu gedung yang sangat nyaman untuk mahasiswa berlama-lama belajar. Nama gedung tersebut adalah Hub Central. Sebenarnya bukan hanya Hub central yang nyaman untuk tempat belajar. Barr Smith Library, Nexus Building, dan berbagai gedung lain pun memiliki vibe yang mendukung untuk focus belajar. Namun gedung Hub Central ini memang special. Terasa nyaman banget berlama-lama berada di gedung ini. Bukan semata karena fasilitasnya yang lengkap, melainkan juga vibe belajarnya dapet. Ada tempatnya sangat bersih. Ruangannya penuh dengan fasilitas computer canggih dengan koneksi internet yang super cepat. Ada café yang menyediakan aneka ragam menu minuman dan makanan. Sirkulasi udara sangat bagus. Semua orang mendukung kondusivitas ruangan utuk belajar, sehingga tidak ada yang bersuara berisik. Ada bilik-bilik cute yang bisa menampung 7 orang, dengan setting kedap suara, sehingga pas dipakai untuk rapat kecil. Ada teknisi yang stand by all time untuk melayani segala masalah yang berkaitan dengan IT. Persis, Hub Central benar-benar menjadi my second home selama tinggal di Adelaide ini.

Ruang faforitku di Hub Central adalah ruang lantai bawah, let’s say ruang underground. Saat aku turun tangga menuju ruang favoritku, aku melewati sebuah ruang berukuran sekitar 4x3 meter yang dilengkapi dengan Play Station 4, lengkap dengan joystick dan TV ya. Semuanya bisa dipakai secara free. Jujur, aku kaget. Ini kali ke sekian aku berkunjung ke gedung Hub Central, namun kenapa aku baru tau ada ruang khusus untuk para Gamer Play Station. Berbunga-bunga hatiku dong, karena aku adalah PS gamer. Kebetulan ada satu mahasiswa yang sedang memainkan PS4 tersebut. Sempat lah kami ngobrol-ngobrol. Ternyata dia sedang mai PS karena ingin refreshing mind sejenak, setelah sekian jam berjibaku dengan aktivitas belajar dan kencan dengan computer.

Seketika, aku teringat tentang satu mata kuliah yang akan aku ambil di semester ini, yaitu The Introduction to Wellbeing in Education. Aku belum menjalani perkuliahan untuk mata kuliah tersebut, karena kegiatan akademik kampus baru akan dimulai pada bulan februari akhir. Namun, aku sudah sedikit banyak mendapatkan clue tentang apa yang biasanya dipelajari di mata kuliah tersebut. Wellbeing, dalam bahasa Indonesia, sepertinya tidak memiliki padanan kata yang pas. Adapun kosakata yang paling dekat artinya dengan wellbeing adalah “kesejahteraan”. Namun, dalam konteks bahasa Indonesia, kata “kesejahteraan” biasanya lekat dengan segala hal yang berhubungan dengan ekonomi dan finansial. Sedangkan wellbeing yang dimaksud di sini berkaitan dengan kesejahteraan berbagai aspek, termasuk mental.

Berbicara tentang wellbeing, ada satu pertanyaan menarik untuk menjadi bahan diskusi. Mengapa banyak siswa di Indonesia yang kurang memiliki motivasi untuk hadir di sekolah? mengapa banyak siswa yang malas untuk ke perpustakaan? Atau mengapa banyak anak yang enggan untuk belajar, bukan hanya di sekolah, namun juga di rumah. Jawaban dari pertanyaan tersebut tentu beragam, karena factor yang berpengaruh terhadap motivasi seorang individu untuk belajar, membaca, pergi ke perpustakaan, atau sekedar hadir disekolah, begitu beragam. Namun salah satu factor yang terbukti cukup signifikan pengaruhnya terhadap motivasi siswa adalah wellbeing.

Mengapa siswa enggan pergi ke perpustakaan saat mereka mempunyai waktu luang. Jawabannya bisa berupa refleksi dan evaluasi tentang kondisi perpustakaan di sekolah. Seberapa maksimalkah perpustakaan ditata dan di desain untuk kenyamanan siswa? Seberapa maksimalkah sekolah ditata dan didesain untuk membuat siswa senang berada di sekolah? Seberapa maksimalkah orang tua menyediakan dukungan untuk anak mereka belajar di rumah? Jika sekolah masih hanya berupa gedung-gedung segi empat atau persegi panjang yang kurang ditunjang dengan fasilitas yang mengakomodir kebutuhan dan interest anak, jangan harap mereka betah berada di sekolah. Jika pendekatan pembelajaran yang didesain oleh guru masih monoton dan tidak bisa menarik minat siswa, maka jangan berharap siswa mau secara sadar dan penuh gairah untuk menghadirkan diri sepenuhnya dalam proses pembelajaran. Jika perpustakaan masih kurang tertata secara nyaman, hanya menjadi tempat peminjaman buku paket, kurang bersih, serta layanan para librarian yang kurang ramah dan friendly terhadap siswa, jangan harap perpustakaan akan berfungsi sebagaimana mestinya.

Motivasi intrinsic siswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif di sekolah memang sangat penting. Namun kita tidak bisa berharap bahwa mereka secara otomatis hadir ke sekolah dengan motivasi intrinsic tersebut. Motivasi sering kali perlu dirangsang. Gol A Gong tidak menghimbau warga dengan kalimat ajakan seperti “ayo mari kita rajin membaca”, atau “silakan datang ke RUmah Baca untuk membaca”, atau kalimat ajakan sejenisnya. Gol A Gong menyediakan fasilitas Rumah Baca dengan desain se-nyaman mungkin bagi warga untuk singgah. Pada awalnya, warga yang singgah di rumah baca mungkin hanya sekedar ingin duduk-duduk di sofa lantai yang empuk, sembari menikmati segarnya suasana Rumah Baca. Namun lambat laun mereka tergerak untuk mengambil satu buku untuk dibaca, kemudian akhirnya terbentuklah kebiasaan membaca.

Begitu pula prinsip dalam mendorong siswa untuk betah beraktivitas belajar di sekolah. Ciptakan sekolah yang nyaman, yang memberikan dukungan psikologis dan fasilitas fisik untuk sepenuhnya kebaikan para siswa. Cara berkomunikasi guru haru mendukung adanya psychological intimacy dengan siswa. Dengan psychological intimacy, siswa yang tadinya kurang minat dengan suatu mata pelajaran menjadi minat dengan mata pelajaran tersebut. Itulah alasan mengapa mahasiswa calon guru biasanya diharuskan mengambil matakuliah psikologi belajar dan psikologi perkembangan sebagai mata kuliah wajib. Hal tersebut dikarenakan pentingnya pemahaman psikologis anak oleh guru, dan cara membangun hubungan psikologis dengan anak. Ilmu psikologi berkembang begitu pesat, mengikuti dinamika perkembangan kehidupan dan cara hidup manusia. Jika guru hanya mengandalkan apa yang pernah mereka pelajari selama kuliah dulu, maka tidak lah cukup. Guru dituntut untuk terus belajar tentang psikologi, demi terwujudnya wellbeing siswa dalam beraktivitas belajar di sekolah.

 

 

Sabtu, 15 Januari 2022

Inspiring Surpasses Teaching

 

This morning, on my way to campus library, I had a video talk to my nephews, Abbas and Salman. They wondered how my train trip looked like. Besides, they were also curious about how the surrounding just looked like. I knew it was pretty much challenging to do video call while I rushed to the station to catch the earliest train. The fact that speaking out in the train is prohibited was another challenge. Yet I did that for the sake of one purpose, arousing their international posture.

I understand how it is essential to stimulate young generation’s curiosity on things pertaining to cross-cultural understanding and international community. The reason is obvious, that the necessity to get used to embracing the globalisation is inevitable. To my view, gaining insights about how people from different backgrounds of countries, cultures and languages live, my nephews will build their prior knowledge about what sort of life the people from other countries have.

It is still well-kept in my memory that the moment I fell in love with English for the first time was when my junior high school English teacher introduced me to the picture of foreigners (bule). He insisted that English is the only bridge to communication with those foreigners. I thought how cool it would be to interact and make friends with many foreigners albeit my identity of being a villager who lived far away from the city. The thirst of knowing the outer world fuelled my intrinsic motivation to keep on learning English, literally starting from scratches until now being advanced.

I myself am an empiric proof that inspiring is way more effective to lead students to be independent learner than merely a conventional teaching. Teaching will make students learn during the moment we teach them, but inspiring will drive them to learn even when there is nobody urges them to learn. It happens because upon being inspired, students find themselves necessary to learn. Or, in other words, students learn because they need it, and because they are aware of the importance of what they learn to their life. Human is a pragmatic and transactional being. They will only devote everything the matters to them.

Realizing how inspiring important part of jobs as a teacher is, I often design a class where students can interact with people from abroad, either in face-to-face mode or via teleconference media. Either of it works for building curiosity and international posture. Every time I have my foreign friends come for a visit, I ask them to give English classes to my students, or simply have a class for cultural introduction.

So far, my students enjoyed the moment of learning with the guests from abroad. It is such an effective way of stimulating willingness to learn English, yet it is a bit costly as I have to back up for their accommodation and stuffs. However, it is all paid off. I believe, the more I give, the more I receive. That makes sense that I achieve several awards in the current years. Thanks God!

Inspiring is way more effective than teaching to drive independent learners. Believe me!

Rabu, 12 Januari 2022

Stop overthinking, start mind-mapping!

 

Kadang aku overthinking duluan saat mau memulai sesuatu yang baru, yang aku belum begitu familiar. Seperti dalam mengerjakan thesis ini, contohnya. Sebelum benar-benar mengenal tentang bagaimana melakukan penelitian, aku sudah terjebak pada overthinking tentang kesulitan-kesulitan dalam mengerjakan penelitian. Seperti sudah ada persepsi negative bahwa penelitian itu susah. Memang susah, tapi susah tersebut hanya dialami oleh mereka yang belum mengenal penelitian. Semua pekerjaan pasti terasa sulit di awal. Namun semua akan terasa mudah setelah kita berusaha maksimal mengakrabi pekerjaan tersebut.

Malam ini aku terdorong untuk mulai menata hal-hal yang aku rasa sulit dalam menyelesaikan penelitian ini. Aku coba identifikasi hal-hal yang aku masih belum pahami. Proses identifikasi tersebutlah yang menuntunku untuk membuat mind-map. Through dedicating my time and thoughts, akhirnya aku dapatkan ruang-ruang yang aku harus isi, bagian-bagian sulit yang harus aku tangani, dan kebingungan-kebingungan yang harus aku cari tahu jawabannya. Itulah dahsyatnya mind-mapping. Mind-mapping itu bukan suatu hal baru. Namun ternyata ia sangat bermanfaat untuk diterapkan dalam menyelesaikan urusan.

 Sikap overthinking akan berdampak lebih parah jika ia dibarengi dengan procrastination. Orang akan cenderung enggan memulai mengerjakan sesuatu ketika ia dihinggapi overthinking yang diperparah oleh procrastination. Yang ia lakukan selalu menunda, menunda, dan menunda. Penundaan tersebut dilakukan karena alam bawah sadar seperti membisikkan bahwa akan ada moment yang tepat untuk memulai. Padahal  itu adalah bisikan syetan yang terkutuk. Kita perlyu menyadari bahwa overthinking adalah tantangan nyata, harus kita terima. Namun mau memulai mengerjakan sesuatu adalah hal yang wajib dilakukan. Seperti main Warcraft tanpa cheat, dimana petanya seluruhnya gelap. Langkah yang kita lakukan sedikit demi sedikit akan membuka terangnya peta, sehingga berbagai potensi dan tantangan akan terlihat nyata.

Ini saran terhadap diri sendiri, sebenarnya. Jika overthinking muncul, terimalah itu sebagai gejala psikologis. Namun jangan sampai kita kalah oleh overthinking tersebut. Biarkan ia ada sementara, dan nantinya akan hilang dengan sendirinya ketika kita mulai langkah pertama dan selanjutnya. Segala persepsi negative, kecurigaan-kecurigaan akan sulitnya suatu hal adalah bayangan semu. Ia hinggap dalam pikiran semata, dan tidak berwujud nyata.

So, stop overthinking, and start mind-mapping! Then do the one by one steps until getting to the finish line. You will make it!

 

Sabtu, 08 Januari 2022

Antara Indonesia dan Australia, Mana yang lebih liveable?

 

Tinggal di Australia baru beberapa minggu, aku langsung mendapatkan kesimpulan tentang betapa Negara ini sangat nyaman untuk dijadikan sebagai tempat tinggal, baik short term maupun long term. Ada banyak hal yang bisa dijadikan tolok ukur atas worth-living-in tidaknya suatu Negara. Namun tolok ukur sederhana yang aku perhatikan adalah tentang rasio pendapatan dan harga kebutuhan pokok.

Supaya apple to apple, aku bandingkan pendapatan an pengeluaran harian seorang buruh atau pekerja kasar di Indonesia dan Australia. Katakanlah buruh di kedua Negara tersebut bekerja di sector yang sama, perkebunan. Seorang buruh perkebunan di Indonesia bisa mendapatkan upah harian rata-rata sekitar 100 ribu. Jika buruh tersebut bekerja selama 8 jam per hari, berarti untuk perjamnya dia mendapatkan sekitar Rp 12.500. Bburuh tersebut membutuhkan makan siang yang dibeli di warung. Memang sih soal jumlah pengeluaran untuk sekali makan orang Indonesia itu relative, karena disparitasnya terlalu tinggi. Harga seporsi makanan dengan jenis yang sama di kota-desa, jawa-luar jawa, Indonesia tengah, Indonesia barat, Indonesia timur, sangatlah berbeda. Namun menghabiskan 20 ribu untuk seporsi makan siang plus minuman sepertinya cukup. Berarti, pekerja Indonesia tersebut masih memiliki 80 ribu rupiah.

Pertanyaannya, dengan sisa uang 80 ribu rupiah yang dimiliki buruh perkebunan tersebut, jika dibelanjakan di Indonesia, dia bisa dapat apa kira-kira? Uang 80 ribu untuk membeli ayam bisa mendapatkan sekitar 2.5 kg. Jika dipakai untuk membeli minyak goreng, maka kita bisa mendapatkan 4 liter. Jika dipakai untuk membeli beras, maka bisa mendapatkan kurang lebih 8 kg. jika seluruhnya dipakai untuk membeli bensin dengan RON 92, maka dengan sejumlah uang tersebut kita bisa mendapatkan sekitar 9-10 liter.

Sekarang mari kita bandingkan dengan pendapatan dan pengeluaran buruh di Australia. Seorang buruh di Australia bisa mendapatkan penghasilan rata-rata 20 dollar per jam, atau 200 ribu rupiah. Jika dia bekerja selama delapan jam sehari, maka dia bisa mengumpulkan 160 dolar per hari. Di Australia, penghasilan sebagai buruh biasanya dikenai pajak, berkisar 15 persen (CMIIW). Sehingga penghasilannya tersisa 135 dolar. Katakanlah dia membutuhkan makan siang yang dibeli di kantin karnea dia tidak membawa bekal makanan dari rumah. Untuk se porsi makan yang layak, dalam arti tidak sederhana dan tidak terlalu mewah, maka uang 15 dolar untuk seporsi makanan dan minuman sudah sangat cukup. Jika dia hanya makan sekali, dan tidak ada kebutuhan lain, maka dia masih mengantongi uang sekitar 120 dolar.

Pertanyaan yang sama, dengan uang 120 dolar, jika dibelanjakan untuk membeli sembako di Australia, buruh tersebut bisa dapet apa aja di kira-kira? Jika uang tersebut sepenuhnya dibelanjakan untuk membeli ayam, maka kita bisa mendapatkan sekitar 20 kg. Jika dibelanjakan sepenuhnya untuk membeli minyak goreng, maka kita bisa mendapatkan sekitar 25 liter. Jika dibelanjakan untuk membeli beras premium, maka bisa mendapatkan sekitar 45 kg. jika dibelanjakan sepenuhnya untuk membeli bensin dengan RON 92, maka bisa mendapatkan sekitar 76 liter bensin.

Dari analogy pendapatan buruh di kedua Negara tersebut, maka bisa kita simpulkan bahwa biaya hidup di Australia lebih murah. Kita kadang mendengar orang berkata bahwa biaya hidup di luar Australia itu mahal. Kesimpulan tersebut muncul karena orang melihatnya melalui perspektif penghasilan orang Indonesia untuk pengeluaran di Australia. Namun, jika kita melihat dari perspektif penghasilan yang diapatkan dan dibelanjakan di Australia, maka kesimpulannya adalah biaya hidup di Australia itu murah.

Mungikin ada yang bertanya, “lho, kita baru menghitung soal pengeluaran untuk sembako. Bagaimana dengan pengeluaran untuk akomodasi? Apakah ktia masih mendapatkan kesimpulan yang sama bahwa di biaya hidup di Australia lebih murah dari pada di Indonesia?” Ini menarik. Karakteristik biaya akomodasi di berbagai Negara relative sama. Artinya, biaya sewa akomodasi biasanya berbeda-beda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Sewa akomodasi di kota kecil tentu berbeda dengan sewa akomodasi di kota besar. Di kota besar seperti Sydney, untuk menyewa sebuah kamar kos yang fully furnished, kita harus mengeluarkan biaya antara 200-300 dolar per minggu. Sementara, di kota sedang seperti Adelaide, biaya akomodasi berkisar antara 100-250 dolar per minggu. Intinya, dengan uang 1000 dolar, orang bisa mendapatkan akomodasi yang layak. Bahkan aku sendiri hanya menghabiskan sekitar 500 dolar per empat minggu untuk akomodasi dan sudah termasuk bill gass, listrik, air, dan internet.

Di Indonesia, biaya sewa kos-kosa bisa berkisar ratusan hingga jutaan rupiah per bulannya.jika seorang buruh perkebunan harus tinggal di sepetak kamar kos-kosan denganharga sewa 500 ribu, maka dia harus menghabiskan kira-kira seperlima dari pendapatkan bulanannya.

Banyak hal tentang sisi biaya hidup di Indonesia dan Australia yang jika dibandingkan maka menghasilkan kesimpulan yang sama, bahwa hidup di Australia lebih terjangkau ketimbang di Indonesia. Satu hal lain yang membuat Australia relative livable adalah banyaknya kesempatan dan kemudahan untuk meraih penghasilan. Banyak pemuda pemudi Australia yang membiayai hidup dan kuliah mereka secara mandiri hanya dengan kerja blue collar paruh waktu. Namun, pekerjaan-pekerjaan blue collar paruh waktu di Indonesia pada umumnya sulit untuk dijadikan tumpuan bagi mereka yang ingin secara mandiri membiayai hidup dan studinya.

Kembali ke judul dari artikel ini, “antara Indonesia dan Australia, mana yang lebih livable?”

Pertanyaan pada judul tersebut sebenarnya adalah pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Harus kita akui bahwa Australia memang lebih livable daripada Indonesia. Hal tersebut sudah dikonfirmasi oleh Global Liveability Index yang melakukan pemeringkatan tingkat kelayakan hidup berbagai Negara. Namun sebagai manusia kita memiliki keterbatasan untuk memilih di Negara mana sebaiknya kita tinggal, kecuali orang-orang yang memiliki privilege tertentu. Di Australia, dengan bekerja sebagai buruh, kita masih bisa mendapatkan penghidupan yang layak, cukup dan nyaman. Sementara di Indonesia, pekerjaan-pekerjaan sektor buruh masih dirasa belum bisa dijadikan andalan untuk meraih hidup yang nyaman. Indonesia adalah Negara besar dengan potensi komoditas dan pasar yang begitu besar. Maka, wirausaha adalah sector yang sepertinya jauh lebih memungkinkan untuk memberi peluang hidup layak dalam jangka panjang ketimbang sector buruh. Makanya jangan heran jika usaha-usaha yang terkesan remeh seperti jualana batagor, bubur ayam, sayuran dan sejenisnya seringkali bisa memungkinkan adanya penghidupan yang lebih layak ketimbang pekerjaan di sector buruh atau karyawan.

Tulisan ini adalah murni pendapat pribadi yang didapat melalui pengalaman. Tentu ada kekurangan dan subjektivitas. Therefore, I am open to any correction, sharing or further discussion.

Kamis, 06 Januari 2022

Aturan Lalu Lintas di Australia: Nyaman setelah terbiasa

 

Orang yang baru pertama kali tinggal di Australia mungkin memandang system lalu lintas di Australia menjengkelkan. Terutama jika mereka berasal dari Negara-negara yang perilaku berkendara masyarakatnya kurang atau tidak teratur. Betapa tidak, di Australia, begitu banyak aturan yang mengikat orang-orang yang berkendara. Jika melanggar sedikit saja, maka tidak ada negosiasi, karena hukumannya sangat strict. Melanggar batas kecepatan maksimal, misalnya. Seseorang bisa dikenakan denda ratusan dollar, yang jika dikurskan dalam rupiah maka bernilai jutaan rupiah. Berbeda dengan system tilang pelanggaran lalu lintas yang ada di Indonesia, dimana orang bisa ditilang langsung di TKP oleh petugas terkait. Di Australia, orang mungkin tidak sadar bahwa dia melanggar lalu lintas. Mereka baru menyadari itu ketika seminggu setelah melanggar mereka mendapatkan “surat cinta” yang berisi bukti pelanggaran dan jumlah uang denda yang harus dibayar.

Kata teman-teman yang pernah ditilang, nyesek rasanya ditagih ratusan dollar karena melanggar lalu lintas yang dalam pikiran mereka itu adalah pelanggaran remeh. System tilang di Australia tidak kenal ampun. Jika melanggar, tidak ada ruang untuk negosiasi. Alat pendeteksi pelanggaran juga tersetting sedemikian canggihnya, sehingga orang tidak bisa mengelak saat dia melanggar. Ada banyak titik di berbagai ruas jalan yang dipasangi kamera canggih dan sensor otomatis yang mendeteksi pelanggaran. Bukti rekaman yang ditangkap kamera tersebutlah yang biasanya menjadi bukti atas tindakan pelanggaran.

Di satu sisi, begitu rigidnya aturan lalu lintas di Australia cukup membuat frustasi bagi orang yang baru pertama kali mengenalnya. Namun di sisi lain, jika kita mau merenungi lebih dalam, system lalu lintas di Australia tersebut adalah system sempuran yang menjamin ketertiban dan kemanan lalu lintas. Di Negara-negara yang praktik berkendaranya kurang teratur, orang mungkin merasa bebas dan tidak terkekang. Namun sisi negative dari bebasnya berlalu lintas tanpa aturan baku adalah angka kecelakaan yang tinggi. Dengan system yang baku dan kaku, Australia tercatat sebagai Negara dengan angka kecelakaan lalu lintas yang sangat rendah.

Selain itu, system lalu lintas yang begitu strict di Australia ternyata membentuk karakter masyarakantya. Di Australia, para pejalan kaki termasuk golongan yang sangat dimanusiakan. Pengendara mobil pada umumnya selalu mengalah jika berhadapan dengan pejalan kaki. Mereka cenderung mengutamakan pengendara lain saat berada di jalan raya. Beda dengan perilaku berkendara di Negara yang system lalu lintasnya masih belum bagus, dimana pendendara cenderung suka menyerobot jalan supaya bisa melaju duluan.

Aku sendiri awalnya merasa tidak nyaman dengan system lalu lintas di Australia. Namun, lama kelamaan, aku jadi terbiasa dan merasa nyaman dengan system yang ada. Aturan memang harus diberlakukan secara strict agar tercipta ketertiban bersama, yang tentu baik buat semua orang.

Senin, 03 Januari 2022

My Student ID Card is issued. Yattaa!



Hari ini, Selasa, 4 Januari 2022, aku mendapatkan student ID Card ku untuk pertama kali semenjak menjalani studi di The University of Adelaide. Dengan student ID Card ini, aku bisa mengakses berbagai fasilitas yang disediakan oleh kampus untuk para mahasiswanya. Aku sangat bahagia. Akhirnya, bisa juga aku raih student ID Card ini. Ada sense of being a real student saat menerima ID Card ini. Ratusan juta biaya kuliah yang harus aku bayar (beasiswa LPDP sih), namun baru kali ini aku mendapatkan hak sepenuhnya sebagai mahasiswa.

Hari ini, kampus baru buka, setelah sekian lama libur di akhir dan awal tahun. Aku melakukan campus tour sendiri, menyusuri Gedung-gedung di sekitaran kampus. Menyusuri Lorong-lorong dan ruang-ruang fasilitas belajar dan pendukung wellbeing mahasiswa. Rasanya, aku sungguh betah berlama-lama di kampus ini. Terlebih lagi, aku adalah orang yang sangat menikmati vibe perpustakaan. Aku biasa menghabiskan seharian penuh dari pagi sampai malam berada dalam perpustakaan. Sepertinya, Barr Smith Library, Nexus Building, dan Hub Central akan mejadi tempat tinggal kedua ku selama menjalani studi di The University of Adelaide ini.

Berbagai fasilitas tersedia secara free untuk aku akses. Internetnya kenceng. Komputer-komputernya canggih. Ruangan-ruanganya nyaman, bersih, dan hommy. Orang-orangnya ramah. Akses ke kota begitu dekat, karena memang kampus ini berada di tengah kota. nikmat mana lagi yang akan aku dustakan? 

Rasanya, aku ingin berlama-lama berada di kampus ini,, menjadi insan yang berkontribusi terhadap the body of knowledge dalam dunia Pendidikan khususnya. Aku jadi terpikir untuk mengambil program PhD di kampus ini. Bukan karena gelar semata, melainkan ada gairah untuk bergulat dengan ilmu, penciptaan solusi, dan sharing kebermanfaatan dalam dunia ilmu pengetahuan bagi negeriku. Kini aku terpikir untuk lanjut ambil program PhD. Padahal sebelumnya aku sudah menetapkan diri untuk selesai dengan pursuing higher degree setelah lulus dari kampus ini.  People change.

Benar sekali bahwa pikiran adalah penuntun nasib. Sedari kecil, aku berpikir dan bercita-cita untuk bisa memiliki pergaulan dengan orang-orang dari berbagai negara. Aku memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap perbedaan budaya, Bahasa, life style, dan lainnya. Kini, pikiran itu terwujud mejadi nyata. Aku berkesempatan untuk berdiskusi dengan banyak orang, bertukar pikiran tentang isu-isu seputar kehidupan. Cangkrukan ku yang dulu saat kecil adalah dengan teman sebaya di sawah-sawah, hutan, sungai, dan di halaman rumah tetangga. Kini cangkrukanku adalah dengan orang yang beragam warna kulit, budaya, negara, Bahasa, dan pemikiran. Aku merasa kaya. Kaya social.

Sekarang, fokusku adalah kontribusi, kontribusi dan kontribusi. Betapa beasiswa yang aku terima ini memberiku beban moral. Beban moral untuk bisa berbakti bagi bangsa dan negara. Beban moral untuk bisa memberikan mkontribusi nyata bagi sesama. Meskipun itu beban, aku yakin aku bisa.

Sabtu, 01 Januari 2022

Tantangan Studi Di Luar Negeri

 

Mengenyam pendidikan di perguruan tinggi di luar negeri telah menjadi dambaan banyak orang. Selain karena factor gengsi, pendidikan di luar negeri, terutama di Negara maju sering diyakini bisa memberikan insight baru. Bagi yang memiliki ketersediaan finansial yang memadai, tentu tidak sulit untuk mewujudkan keinginan studi di luar negeri tersebut. Namun bagi sebagian orang lainya, mendapatkan sponsor adalah jalan terbaik untuk dapat mengenyam pendidikan di luar negeri. Hal tersebut dimaklumi, karena biaya kuliah di luar negeri, terutama di Negara maju, seringkali tidak dabat dijangkau oleh banyak orang.

Terlepas bagaimana orang membiayai pendidikan tinggi yang mereka jalani, baik secara mandiri maupun melalui sponsor, saat menjalani kuliah di luar negeri, orang akan menghadapi banyak tantangan. Ada banyak hal yang berpotensi menjadi pressure atau tantanga bagi mereka yang mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri. Tantangan-tantangn tersebut seringkali berkaitan dengan proses penyesuaian terhadap banyak hal. Pertama, tantangan penyesuaian terhadap budaya dan life style. Tidak jarang orang merasa menderita saat berada di Negara lain yang memiliki budaya dan life style yang jauh berbeda dari Negara asal mereka. Tantangan ini membutuhkan kecerdasan interpersonal yang bagus. Orang yang mudah bergaul dan easy going akan cenderung mudah melakukan adaptasi terhadap tantangan perbedaan budaya dan life style tersebut.

Tantangan kedua adalah perbedaan cuaca. Orang-orang yang berasal dari daerah tropis cenderung merasa cukup berat dalam menyesuaikan diri terhadap perbedaan cuaca. Di Negara-negara yang memiliki musim dingin, ekstrimnya rendahnya suhu seringkali menimbulkan gangguan kesehatan. Kulit yang pecah-pecah, mudah masuk angin, dan tantangan kesehatan lainnya. Aku sendiri pernah merasakan beratnya menyesuaikan diri terhadap cuaca dingin pada saat berada di Australia di tahun 2015 lalu. Cuaca yang sangat dingin membuat kulitku kering, bercak-bercak, bahkan berdarah. Namun, lambat laun, kulitku menjadi terbiasa dengan cuaca ekstrim tersebut. Sehingga, saat berada di daerah dengan suhu dingin yang lebih ekstrim pun aku sudah  tidak mengalami masalah kesehatan kulit.

 Tantangan ketiga berkaitan dengan interaksi dengan teman. Berada di luar negeri, kita mau tidka mau harus berinteraksi dengan berbagai orang yang memiliki keragaman karakter. Janganlkan berinteraksi dengan orang dari Negara lain. Interaksi dengan teman se-negara pun memiliki potensi terjadinya interaction clash. Attitude atau perlakuan buruk teman terhadap kita bisa mengganggu kenyamanan hidup di Negara luar. Memang ada kesan sepele tentang attitude yang tidak menyenangkan yang diperagakan oleh teman. Namun, jika kita tidak memiliki control diri atau emosi yang bagus, hal tersebut bisa menjadi masalah besar bagi perjalanan kehidupan kita di Negara luar sana. Aku mengamati secara nyata, betapa hanya karena ketidak cocokan atas sikap dan sifat satu sama lain, sebuah organisasi perhimpunan pelajar Indonesia di Negara tempat aku studi tidak berjalan dengan efektif. Banyak program yang tidak berjalan. Persis bisa dikatakan bahwa organisasi tersebut hanya tinggal nama tanpa program nyata yang bermanfaat.  Semua itu berawal dari kurang harmonisnya hubungan antar beberapa anggota yang berimbas kepada organisasi.

Tantangan keempat adalah tantangan akademik. Ini adalah tantangan yang utama dari pengalaman belajar di luar negeri. Berbagai perguruan tinggi di luar negeri memiliki demand yang besar terhadap para mahasiswanya. Ada yang menerapkan aturan yang sangat strict. Hal tersebut menuntut mahasiswa make most of their time to study, sementara kecepatan belajar setiap orang berbeda-beda. Sebenarnya bukan semata tentang kecepatan belajar yang sangat penting, melainkan juga emotional intelligence yang membuat seseorang survive menghadapi tantangan akademik tersebut. Banyak kasus mahasiswa yang kuliah di luar negeri yang mengalami depresi, karena tidak mampu memenej tantangan akademik. Hal tersebut tentu sangat disayangkan, terlebih jika mahasiswa tersebut sampai Drop Out di penghujung akhir masa studinya.

Tantangan terakhir adalah adanya berbagai distraksi. Saat kuliah di luar negeri, banyak hal yang bisa menjadi distraksi. Contoh distraksi adalah perihal pemanfaatan kesempatan bekerja bagi mahasiswa. Di Negara-negara maju, banyak opportunity kerja paruh waktu yang menjanjikan. Bahkan ada beberapa Negara yang menetapkan upah yang tinggi bagi para pekerja, termasuk pekerja paruh waktu. Di Negara Australia, misalnya, kerja paruh waktu digaji rata-rata 25 dolar per jam. Jika dikonversikan ke rupiah, maka angka 25 dolar bernilai 250 ribu rupiah, per jam. Bayangkan, kerja per jam dibayar 250 ribu rupiah. Hal tersebut tentu sangat menggiurkan, bagi banyak orang. Menggiurkannya upah kerja paruh waktu tersebut bisa berpotensi menjadi distractor. Banyak orang yang akhirnya terdistraksi tujuan kuliahnya. Alih-alih menjadikan studi sebagai focus utama mereka, pikiran mereka teralihkan pada money digging sebanyak-banyaknya, dengan alasan menabung, biasanya. Memang tidak salah jika kita mengambil kerja paruh waktu, toh memang visa student memungkinkan kita melakukannya. Namun, jika kerja paruh waktu tersebut mengalihkan focus utama kita, itu yang bermasalah.

Terlepas kita studi di luar negeri dengan biaya mandiri atau melalui beasiswa, tugas moral kita yang utama adalah menambah ilmu dan keterampilan baru yang berguna bagi diri sendiri dan sesame. Terlebih para mahasiswa yang menjalani studi dengan beasiswa. Tentu tuntutan moral mereka lebih besar dibanding mereka yang tanpa beasiswa.

Begitu banyak tantangan dalam menjalani studi di luar negeri. Makanya dalam wawancara berbagai platform beasiswa, pada umumnya muncul pertanyaan tentang bagaimana seorang kandidat beasiswa menyesuaikan diri dengan keadaan. Ada juga pertanyaan tentang problem solving. Hal tersebut memang dirasa perlu, karena kemampuan survive dalma menghadapi berbagai tantangan kuliah di luar negeri memang sangat penting.