Jumat, 05 Februari 2021
Memetik Hikmah di Tengah Situasi yang Sulit
Kamis, 21 Januari 2021
Mendaki dan Menjadikan Alam Pegunungan Lestari
Belum sempat aku
turunkan tas carrier di Basecamp selesai mendaki, aku tertegun melihat fenomena
ini. Aku menyebutnya sebagai fenomena, karena yang kuyakini, hal ini
berlangsung relative belum begitu lama. Ataukah aku yang kurang update? Langsung
saja aku aktifkan kamera untuk mengabadikan gambar melalui perekam video. Seorang
pendaki dan dua orang petugas dari Basecamp Kaliangkrik Pendakian Gunung
Sumbing sedang menghitung jumlah sampah yang dibawa oleh pendaki. Jumlah sampah
yang dibawa selepas mendaki harus sesuai dengan jumlah barang berpotensi sampah
yang dibawa saat mendaki. Jika jumlahnya tidak sesuai, maka aka nada denda yang
nilainya cukup membuat jera.
Aku sangat takjub
dengan hal tersebut. Selama ini aku sangat resah dengan perilaku sebagian masyarakat
yang abai terhadap kelestarian lingkungan, terlebih lingkungan pendakian. Pada tahun
2019, ada sebuah artikel yang mengulas fakta tentang menumpuknya sampah di Gunung
Semeru. Dari data yang diambil oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger
Semeru, tercatat bahwa rata-rata setiap pengunjung membuang sekitar 0.5
kilogram sampah. Jika satu hari ada sekitar 500 orang yang mendaki gunung
Semeru, maka diperkirakan ada sekitar 250 kg sampah yang ditinggalkan setiap
hari. Jumlah yang sangat mengkhawatirkan. Artikel tersebut dipublikasikan di
sebuah portal berita online pada bulan Juni 2019. Kondisi seperti itu mungkin
kurang lebih sama dengan kondisi di tempat pendakian Gunung lainnya.
![]() |
| Sampah di sekitar Danau Ranu Kumbolo, Gunung Semeru. (Foto: BBC Indonesia) |
Aku sendiri belum tahu, apakah praktik control terhadap sampah yang dilakukan oleh Basecamp Kalinagkrik dilakukan juga di basecamp-basecamp gunung lain. Andai benar bahwa perubahan positif tersebut sudah meluas, maka ini adalah hal yang sangat menggembirakan sekaligus membanggakan. Bangga karena ternyata masyarakat kita bisa memiliki perilaku melestarikan lingkungan. Aku teringat dengan sebuah kata-kata anonym bahwa bukan karena perilaku masyarakat kita semata yang menjadikan lingkungan sekitar kita kumuh, melainkan karena aturan yang tidak tegas. Buktinya, ketika orang Indonesia berkunjung ke Singapura atau Jepang, mereka bisa berperilaku baik terhadap lingkungan. Begitu pula banyak wisatawan mancanegara yang notabenenya berasal dari Negara maju yang menunjukkan perilaku tidak tertib ketika berkunjung ke sebuah lingkungan Negara lain yang tidak memiliki aturan yang ketat.
Praktik control terhadap
sampah yang dilakukan oleh para petugas basecamp Kaliangkrik perlu diterapkan
pula di basecamp-basecamp lain. Seyogyanya, praktik control sampah ini
dipraktikkan pula di tempat-tempat yang potensial mengundang kerumunan, seperti
tempat wisata. Yakinlah, dengan aturan yang tegas, maka perilaku hidup bersih
masyarakat bisa tumbuh.
Selasa, 19 Januari 2021
Mendaki Gunung: Sebuah perjalanan spiritual
Ada beragam
motivasi orang melakukan pendakian gunung. Sebagian melakukan aktivitas
tersebut sekedar sebagai hobi, merasakan kepuasan ketika deretan nama gunung
telah masuk daftar gunung yang telah dijelajahi. Sebagian bermotif ingin eksis
di social media. Foto-foto indah menawan yang didapatkan selama mendaki tentu
menjadi konten yang menarik untuk menciptakan kesan keren di media social. Demi
meraih foto atau video yang super bagus, sebagian pendaki bahkan rela bersusah
payah membawa seperangkat gadget seperti kamera beresolusi tinggi dan bahkan drone.
Sebagian bermotif kesehatan, menyadari
bahwa mendaki gunung adalah cara yang maksimal untuk membakar kalori dan memacu
kesehatan organ-organ tubuh. Aku sendiri merasakan bahwa mendaki gunung adalah
sebuah perjalanan spiritual.
Sebagai
seorang muslim yang beriman, aku meyakini bahwa aka nada perjalanan panjang di
kehidupan setelah kematian. Konon perjalanan itu akan terasa sangat melelahkan
bahkan memberatkan bagi sebagian orang, dan mudah dilalui bagi sebagian orang
lainnya. Aku terbayang bahwa melakukan long march di padang mahsyar nanti akan
menjadi sebuah pengalaman yang berat. Perbuatan kebaikan yang dilakukan selama
hidup di dunia akan sangat membantu memudahkan perjalanan tersebut. Setidkanya itu
yang diajarkan oleh para ulama melalui ceramahnya. Bekal yang dibawa saat
mendaki adalah laksana bekal yang dibawa saat berada di padang mahsyar nanti. Sepanjang
perjalanan, aku teringat hal tersebut. Membawa beban tas carrier yang berisi
berbagai bekal, menelusuri medan terjal dengan kondisi tenaga yang semakin
menipis, adalah pengingat yang sangat kuat akan adanya perjalanan akhirat
tersebut.
Dalam
perjalanan pendakian, sesekali aku temui jalan setapak. Bukan jalan yang mudah
dilalui, melainkan jalan kecil dimana di sisi kanan atau kirinya terdapat
jurang yang sangat dalam. Sekali saja terpeleset, tentu pendakian akan menjadi kisah
horror, alih-alih menyenangkan. Aku sendiri terheran-heran mengapa aku bisa
melalui pendakian tersebut. Keheranan tersebut muncul setelah selesai melalukan
pendakian. Ketika mengingat begitu terjalnya medan yang dilalui, kadang hati
bertanya, ”kok bisa dan mau-maunya aku melakukan hal tersebut. Hal yang bisa beresiko
fatal”. Namun bayangan horror tersebut niscaya sirna, ketika di lain kesempatan
ada tawaran lagi dari teman-teman pendaki untuk melakukan pendakian lagi. Apalagi
jika hal tersebut sudah menjadi hobi. Bayangan indah dan kepuasan mencapai
puncak akan mengalahkan segala bayangan tentang segala tantangan dan kengerian
yang ada.
Dalam
pendakian, masih memungkinkan untuk kita mendapatkan bantuan dari teman. Misalnya
saat lelah, teman membantu membawakan tas carrier kita. Atau teman pendaki
membantu menyuguhkan minuman atau makanan penambah energy. Minimal, teman
pendaki bisa memberikan penyemangat agar kita bertahan dalam perjalanan hingga
sampai pada tujuan. Namun, di akhirat nanti, konon tiap manusia akan bersikap
individualistis. Manusia hanya akan peduli pada diri sendiri, pada nasib keselamatan
diri. Ini menjadi pelajaran berharga bahwa aku harus menyiapkan bekal yang
cukup, agar saat di akhirat nanti aku bisa selamat.
Selain
menjadi pengingat akan perjalanan panjang akhirat, mendaki gunung juga menjadi sarana
nyata penumbuh rasa syukur sekaligus takjub dengan kemahabesaran Alloh SWT
dengan segala ciptaannya yang luar biasa. Berada di ketinggian memandangi
hamparan daratan sekitar yang begitu indah menyadarkanku betapa Alloh SWT
begitu maha besarnya. Aku yang hanya setitik makhluk ini tak kan terlihat jelas
dari gunung seberang sana. Sedangkan gunung besar nan tinggi yang ku daki pun
akan Nampak sangat kecil sekali bila dibandingkan dengan luasnya bumi. Rasa syukur
membuncah, ketika menyadari bahwa Alloh SWT telah memampukanku untuk sampai ke
puncak. Bisa saja aku mengalami kendala dalam perjalanan, namun Alloh
membuatnya tidak terjadi.
Orang
bisa saja melihat keindahan alam gunung melalui video atau foto yang tersebar
di berbagai media. Namun percayalah, ketakjuban akan keindahan alam gunung yang
sebenarnya hanya akan dirasa maksimal oleh mereka yang secara langsung berada
di tempat tersebut. Logikanya, melihat foto dan videonya saja sudah takjub,
apalagi merasakannya secara langsung. Begitu luar biasa kuasa Alloh menciptakan
keindahan alam semesta.
Pendakian
gunung memang bisa menjadi perjalanan spiritual. Namun tak semua orang bisa
merasakan spiritualitas pendakian tersebut. Hanya orang-orang yang mau
menyisihkan waktu dan ruang pikirnya untuk merenungi sisi spiritualitas tersebut
saja lah yang mampu merasakannya. Aku merasa beruntung bisa mendapatkan
pelajaran spiritual dari pendakian gunung yang aku lakukan.
Senin, 18 Januari 2021
Hobi Mendaki
”Hobi adalah hal yang bisa membuat orang bahagia. Beruntunglah orang-orang yang memiliki banyak hobi, karena dengannya mereka memiliki banyak cara untuk bisa bahagia”
Untuk mendapatkan
jawaban atas alasan orang
memiliki hobi mendaki gunung, aku sempatkan diri
untuk bergabung mendaki gunung dengan beberapa teman yang punya hobi mendaki
gunung. Tak tanggung-tanggung, Gunung Sumbing jadi destinasi pendakianku. Kesan
awal saat mulai mendaki Gunung Sumbing cukup positif. Jalur Kaliangkrik yang terletak
di wilayah Kab. Magelang tersebut menyuguhkan suasana asri nan permai. Apalagi basecamp
nya terletak di Dusun Butuh yang umumnya dikenal dengan nama Nepal Van Java,
karena nuansa Desanya yang mirip seperti Desa-Desa di Nepal.
Mulai mendaki, aku
masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan tentang mengapa banyak orang yang
suka mendaki gunung. beban berat yang aku bawa membuatku sempat merasa bahwa
sepertinya akan sulit mendapatkan jawaban tentang alasan kenapa mendaki gunung
layak disukai atau bahkan dijadikan hobi. Baru ketika kami mencapai pos
pertama, dengan suguhan pemandangan gemerlapnya cahaya di wilayah nan jauh di
bawa, aku merasakan satu kepuasan. Berada di wilayah ketinggian di malam hari
dengan hamparan pemandangan luas di bawahnya merupakan kesenangan tersendiri.
Jalanan menanjak
disertai beban yang harus dibawa tentu menjadi tantangan tersendiri. Berat dirasa,
tentunya. Apalagi dalam kondisi menapaki jalan menanjak, tak ada aktivitas lain
yang dirasa perlu untuk dilakukan selain focus melakukan perjalanan. Bahkan, saling
bercanda tawa pun akan terasa tidak menyenangkan. Berbicara saat lelah mendaki
ternyata bukan hal yang bagus. Sampai di sini, belum ku temukan sepenuhnya,
alasan untuk senang mendaki, meskipun aku sudah sempat merasakan indahnya
melihat hamparan gemerlapnya lampu di berbagai wilayah di bawah sana.
Sampai di pos 2, aku
mulai merenung, membanggakan diri karena sudah sukses menaklukkan dua pos yang
penuh tantangan. “medan menanjak dengan jarak lebih dari 2 km telah aku tempuh,
dan ternyata aku bisa”, pikirku. Belum terbayang dalam pikiranku, berapa kilometre
lagi yang harus ku tempuh untuk mencapai puncak. Pun belium terbayang seperti
apa medan yang harus dilalui setelahnya. Perjalanan pun kami lanjutkan, hingga
pada titik istirahat selanjutnya aku merasakan sesuatu yang luar biasa. Kami berhenti
sejenak melepas lelah di tengah malam. Seketika aku meminta teman-temanku untuk
hening beberapa saat supaya bisa sepenuhnya menikmati suasana keheningan malam
di pegunungan. Menikmati keheningan tersebut ternyata rasanya begitu
menentramkan. Suara alam berupa lirihnya angina sepoi-sepoi, dan suara hewan
serangga entah apa namanya, benar-benar terasa seperti terapi psiklogis yang
sangat membuat nyaman jiwa dan pikiran.
Perjalanan kami
lanjutkan, hingga tiba lah kami di pos 3. Di pos tersebut, banyak pendaki yang memasang
tenda. Namun aku sengaja mengajak teman-temanku untuk melanjutkan perjalanan
hingga ke lokasi pendirian tenda paling dekat dengan puncak. Pemandangan alam
dari pos 3 sangat menakjubkan. Jangkauan pandanganku jauh lebih luas lagi. Di depanku,
hamparan gemerlapnya lampu desa dan kota terlihat begitu indahnya. Aku sudah
mencapai titik ketinggian sekitar 2.5 km.
Setelah melalui medan
perjalanan yang sangat terjal, tibalah kami di pos 4. Itu lah pos yang paling
dekat dengan Puncak Sejati Gunung Sumbing. Dari pos tersebut, pemandangan berupa hamparan
wilayah yang ada di bawah nan jauh disana begitu indah. Magelang, salatiga,
temanggung, dan jogja terlihat seperti begitu dekat. Bintang-bintang terhampar
indah di luasnya langit, semakin menambah rasa takjubku kepada Alloh SWT. Di pos
tersebut, tidak ada tenda lain yang didirikan. Lahan pendirian tenda yang ada
di pos tersebut sanbat terbatas, karena hanya ada sedikit bidang tanah yang
cukup datar untuk menjadi tempat pendirian tenda. Sisanya adalah lereng terjal nan
curam yang tak mungkin untuk dijadikan
tempat pendirian tenda. Tepat pukul 13.15, kami mencapai pos tersebut. Tak berpikir
lama, sebagian dari kami bergegas mendirikan tenda. Sebagian lainnya meyalakan
kompor untuk menyiapkan makanan dan minuman hangat. Tak banuak aktivitas malam
yang kami jalani setelah selesai pendirian tenda, selain makan minum secukunya
dan tidur pulas. Pagi hari pukul 5 kami terbangun, melakukan ibadah shubuh, dan
setelah itu melihat keluar tenda dengan penampakan sunrise yang seolah disuguhkan tepat di hadapan kami. Kemegahan ciptaan
Alloh SWT terasa hadir di pagi itu.
Pukul 6.15 pagi, kami
bergegas melakukan pendakian menuju Puncak Sejati. Entah apa sejarah di balik
penamaan Puncak Sejati. Namun aku menduga, bahwa naman Puncak Sejati tersebut
dimaksudkan bahwa hanya para pendaki sejatilah yang mampu mencapai puncak
tersebut. Hal ini bisa dipahami, melihat begitu terjalnya medan yang harus
dilalui untuk mencapai puncak tersebut. Berada di tempat setinggi itu, diriku
merasa ngeri. Pikiran berandai-andai, bagaimana jika pendaki tergelincir ke
jurang, bagaimana jika terjadi badai, bagaimana jika ada bebatuan yang
mengglinding, dan pengandaian-pengandaian mengerikan lainnya. Bersyukur, kami
selamat sampai puncak tersebut. Rasa puas dan bahagia pun membuncah ketika
sampai di Puncak Sejati. Pemandangan indah dan istimewa sudah menjadi
keniscayaan. Rasa lelah yang setelah berpeluh dengan tantangan pendakian
terbayar lunas, dan terasa tidak sia-sia.
Banyak pendaki yang
mengabadikan momen di puncak tersebut. Bahkan ada yang dengan sebegitu niatnya
membawa drone serta kamera canggih. Aku sendiri, mengabadikan momen melalui
kamera dengan secukupnya saja. Selebihnya, aku lebih menikmati perenungan. Ternyata
aku yang merupakan seorang pendaki pemula bisa sampai di puncak tersebut. Ku lihat
sekeliling puncak, nampak gunung Merbabu, Sindoro, Merapi, Ungaran, Prau,
bahkan pucuk Gunung Lawu. Aku merasa hanya beberapa meter saja dari langit. Begitu
besar kuasa Alloh menciptakan alam se-megah itu. Itu baru setitik ciptaan
Alloh, diantara ciptaan-ciptaannya yang begitu luar biasa yang tak terhitung
jumlahnya.
Kini sepertinya aku memiliki
hobi baru, “mendaki gunung”.
Selasa, 05 Januari 2021
Pendidik Sebagai Peneliti: Apa urgensinya?
Penelitian
dan pengajaran adalah dua istilah yang sudah tidak asing dalam sistem pendidikan
di Indonesia. Dua hal tersebut sudah sangat lekat dengan dunia pendikan di
perguruan tinggi. Namun, bagaimana dengan dunia pendidikan di level bawahnya,
yaitu pendidikan di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan dan Sekolah
Menengah Atas?
Kesadaran
akan pentingnya penelitian dalam dunia pengajaran sejatinya sudah tercermin
dalam kebijakan yang dibuat oleh stakeholder pendidikan di Indonesia. Dalam urusan
kepegawaian, pendidik dituntut untuk melakukan kegiatan ilmiah berupa
penelitian, untuk bisa melakukan kenaikan pangkat, mulai dari kenaikan pangkat
3.B menuju pangkat selanjutnya. Diharuskannya pendidik melakukan penelitian
sebagai syarat kenaikan pangkat tidak menyiratkan bahwa tindakan penelitian
hanyalah sebatas kegiatan untuk memenuhi kewajiban administrative. Hal tersebut
mengandung makna logis bahwa dengan diharuskannya pendidik melakukan tindakan
penelitian, maka pendidik akan mau tidak mau akrab dengan kegiatan penelitian. Tentu
ada tujuan yang lebih penting atas tindakan penelitian guru, lebih dari sekedar
untuk keperluan administrasi kenaikan pangkat.
Sejatinya,
proses pembelajaran adalah hal yang penuh dengan tantangan. Di dalamnya
terdapat dinamika dengan berbagai permasalahannya. Ada masalah yang berkaitan
dengan efektifitas pengajaran. Ada masalah yang berkaitan dengan level kemampuan
peserta didik dalam memahami suatu pelajaran. Ada masalah yang berkaitan dengan
perilaku peserta didik yang berpengaruh terhadap proses maupun hasil dari
pembelajaran. Semua masalah tersebut dihadapi oleh pendidik dalam mengupayakan tercapainya
tujuan pendidikan. Sebagian permasalahan bisa diselesaikan melalui solusi yang
diperoleh melalui referensi literature berupa teori atau hasil penelitian yang
telah dilakukan oleh pihak lain. Namun, banyak pula permasalahan yang belum ada
solusinya. Solusi atas permasalahan pendidikan yang berhasil diterapkan di suatu
sekolah belum tentu efektif untuk diterapkan di sekolah lainnya. Hal tersebut
dikarenakan adanya berbagai variable perbedaan antara satu sekolah dengan
sekolah lainnya.
Pendidik
adalah pihak yang memiliki posisi yang sangat strategis dalam mengatasi
permasalahan pendidikan yang dilaksanakan di sekolah. Pendidik adalah orang
yang berinteraksi langsung dengan objek dan subjek permasalahan. Berbagai permasalahan
yang dihadapi dalam proses pembelajaran di sekolah harus dicari solusinya
melalui tindakan yang ilmiah yaitu berupa penelitan, karena literature yang ada
belum tentu mampu menjawab berbagai permasalahan pembelajaran yang semakin
berkembang bentuk dan levelnya. Pendidik tidak bisa mengandalkan asumsi semata
dalam menangani permasalahan pembelajaran. Asumsi, yang dalam bahasa ilmiah dekat
dengan istilah Hipotesis, perlu dibuktikan kebenarannya. Untuk membuktikan
kebenaran atas asumsi/hipotesis tersebutl, maka perlu dilakukan penelitian. Dengan
terampilnya pendidik melakukan penelitian, maka segala permasalahan yang
terkait dengan pembelajaran akan bisa teratasi secara berkesinambungan. Dengan diatasinya
permasalahan tersebut, makan tujuan pendidikan diharapkan bisa tercapai.
Terlepas
dari pentingnya tindakan penelitian, respon pendidik terhadap penelitian begitu
beragam. Sebagian menyadari pentingnya penelitian dalam pembelajaran, namun
sebagian merasa terbebani oleh adanya keharusan meneliti. Sebagian pendidik
merasa bahwa beban mengajar mereka sudah sedemikian banyaknya. Urusan-urusan
pendidik tidak hanya seputar proses pembelajaran di kelas, namun juga berbagai
beban administrasi kepegawaian yang cukup menguras tenaga. Dengan kondisi
tersebut, ada sikap skeptis yang muncul dari para pendidik terhadap efektifitas
penelitian yang dilakukan oleh pendidik.
Pertanyaan
yang muncul dari para pendidik adalah apakah kebijakan diharuskannya melakukan
penelitian oleh pendidik adalah hal yang sangat wajar mengingat begitu
banuaknya beban mengajar para pendidik? Jawabannya
adalah sangat wajar. Ada dua jenis orientasi penelitian yang perlu diketahui oleh
para pendidik. Oroentasi pertama adalah penelitian yang dilakukan untuk mencari
solusi permasalahan dalam pembelajaran. Level yang kedua adalah melakukan
penelitian dengan orientasi untuk keperluan diseminasi dan penilaian atas
penelitian tersebut. Penelitian yang
dilakukan dengan orientasi untuk diseminasi, publikasi ilmiah atau penilaian
memang membutuhkan pekerjaan ekstra. Ada keharusan untuk membuat laporan dengan
kaidah tata tulis tertentu yang harus dilakukan secara rapi. Ada pencantuman
berbagai literature, sebagai bentuk etika ilmiah dalam melakukan penelitian. Pencantuman
berbagai literature pun memiliki kaidah tersendiri. Namun, penelitian yang dilakukan
dengan orientasi untuk keperluan internal pendidik, yaitu menemukan solusi atas
berbagai variable permasalahan yang dihadapi pendidik, selayaknya tidak
sebegitu memberatkan sebagaimana penelitian dengan orientasi diseminasi,
publikasi ilmiah atau penilaian.
Sejatinya,
penelitian yang umumnya dilakukan oleh pendidik untuk keperluan pembelajaran relative
sederhana. Penelitian yang pas dilakukan oleh pendidikan adalah Penelitian
Tindakan Kelas (PTK). Karena penelitian tersebut dilakukan dengan target populasi
adalah kelas, maka proses pelaksanaannya relative terjangkau oleh pendidik. Untuk
melakukan Penelitian Tindakan Kelas, pendidik cukup mengikuti langkah-langkah
ilmiah penelitian tindakan kelas yang cukup mudah dilaksanakan. Ada berbagai
versi langkah-langkah penelitian tindakan kelas. Namun, setidaknya ada empat
langkah umum, yaitu Perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pendidik perlu
mengakses berbagai literature yang mengandung teori dan hasil penelitian yang
relevan untuk dijadikan pijakan dalam melakukan penelitian. Selanjutnya, pendidik
melakukan tindakan dengan dasar teori yang ada. Observasi dilakukan sembari
melakukan tindakan. Kegiatan diakhiri dengan refleksi. Untuk mendapatkan hasil
yang memenuhi aspek validitas, maka dibutuhkan perangkat seperti kuesioner,
wawancara, atau diskusi grup dengan melibatkan responden secara proporsional. Pada
akhirnya, pendidik bisa mendapatkan hasil penelitian yang dapat digunakan untuk
keperluan pembelajaran secara berkelanjutan.
Penelitian
yang dilakukan oleh pendidik sejatinya bisa dilakukan dengan mudah. Penelitian oleh pendidik bisa dilaksanakan di
tengah proses pembelajaran regular, karena sejatinya pembelajaran tersebut adalah
bagian tak terpisahkan dari penelitian yang dilakukan oleh pendidik. Seandainya
semua pendidik memiliki mindset dan orientasi yang sama, yaitu melakuka
penelitian untuk tujuan peningkatan kualitas pembelajaran, maka nisacaya tujuan
besar dari pendidikan akan tercapai. Sehingga generasi kita menjadi generasi
yang cerdas, terampil dan beradab.
Rabu, 30 Desember 2020
Pentingnya Menumbuhkan Motivasi Belajar Siswa
Satu
pekerjaan penting yang harus dilakukan oleh pendidik adalah membantu peserta
didik memiliki motivasi belajar. Mereka datang ke kelas dengan bekal level motivasi
belajar yang beragam. Ada peserta didik yang memiliki motivasi tinggi, dan
sudah mengetahui pentingnya mempelajari suatu mata pelajaran. Ada pula peserta
didik yang tak tahu apa pentingnya mempelajari pelajaran tertentu. Perbedaan level
motivasi ini lah yang pada umumnya menciptakan dinamika dalam lingkungan
belajar di kelas.
Di awal
masa pembelajaran, seperti di awal semester, diskusi yang ada di kelas
semestinya berkaitan dengan pentingnya mempelajari mata pelajaran yang harus
mereka pelajari. Seorang peserta didik yang tinggal di desa dan belum pernah
merasakan pengalaman berinteraksi dengan orang dari luar negeri mungkin tidak
memahami mengapa mereka harus belajar bahasa Inggris. Seorang peserta didik
yang belum pernah memiliki pengalaman menghitung laba-rugi suatu usaha mungkin
tidak memahami apa pentingnya ilmu akuntansi. Seorang peserta didik yang hanya
berkutat dengan praktik hitung sederhana mungkin tidak memahami mengapa mereka
harus belajar Algoritma, Aljabar, dan ilmu matematika lainnya. Menyadari hal
ini, guru perlu membantu mereka memiliki kejelasan alasan, kenapa itu semua
harus mereka pelajari, dan apa manfaatnya buat mereka.
Setiap
individu pada dasarnya adalah makhluk egois dan subjektif. Mereka tertarik
terhadap apa yang penting buat mereka sendiri. Bobby De Porter, dalam bukunya “Quantum
Learning” menyatakan bahwa jika seorang pelajar tidak memiliki pemahaman
tentang manfaat nyata yang mereka bisa dapatkan dari hal yang mereka pelajari,
maka mereka sesungguhnya tidak akan belajar sama sekali. Sekalipun mereka
belajar, mungkin itu hanya sebagai mengugurkan kewajiban semata, dan tentu apa
yang mereka lalukan tersebut tidak akan membekas dalam pada diri mereka. “What’s
in it for me?”, atau apa manfaatnya bagiku, adalah pertanyaan pada peserta
didik yang guru harus membantu menjawabnya.
Seorang
lulusan SMA yang bekerja di suatu perusahaan bercerita pada saya. Pekerjaan yang
dia lakukan adalah menjadi admin perusahaan yang mengharuskannya untuk akrab
dengan program computer. Dia berkata betapa menyesalnya dia, karena dia tidak
sungguh-sungguh saat belajar ilmu Teknologi Informasi dan Komunikasi sewaktu
menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA). Waktu itu, dia tidak
memiliki pemahaman yang cukup tentang alas an mengapa pelajaran TIK itu
penting. Hal tersebut terjadi karena sang guru mata pelajaran tersebut kurang
memberikan pengarahan tentang manfaat dari mempelajari TIK. Saat belajar TIK,
yang terjadi di kelas di awal semester adalah langsung pengenalan materi,
sementara peserta didik belum memiliki pemahaman cukup tentang alasan mengapa
mereka harus mempelajari hal tersebut.
Di awal
pembelajaran, peserta didik perlu dibantu untuk menemukan dan memahami motivasi
belajar mereka. Guru sebaiknya jangan langsung mengenalkan materi sebelum
mereka berupaya menumbuhkan motivasi peserta didik. Tanpa adanya pemahaman
tentang pentingnya mempelajari suatu ilmu pengetahuan tertentu, peserta didik
hanya akan menjalani proses pembelajaran dengan rasa perbudakan. Mereka mungkin
akan tetap mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Mereka mungkin akan
terlihat memperhatikan penjelasan guru. Namun sejatinya yang mereka rasakan
adalah nuansa perbudakan, dimana mereka merasa harus melakukan sesuatu tanpa
tau apa arti melakukan hal tersebut.
Kemampuan
menumbuhkan motivasi belajar peserta didik adalah aspek kompetensi pedagogis yang
wajib guru miliki. Sayangnya kemampuan ini sepertinya masih dianggap sebagai hal
biasa. Memang perlu penelitian untuk menyimpulkan hal ini, namun hipotesis saya
menyatakan demikian. Kemampuan menumbuhkan motivasi itu perlu diasah. Guru perlu
akrab dengan buku-buku dan seminar-seminar tentang psikologi. Selain itu, guru
juga perlu memiliki kecakapan dalam meneliti. Banyak hal yang bisa mereka
teliti berkaitan dengan motivasi belajar, efektivitas pembelajaran dan segala
dinamika yang ada pada siswa dan lingkungan kelas, sebagai landasan (grounded
theory) untuk perbaikan mutu pembelajaran.
Selasa, 27 Oktober 2020
Here are some sources where you can access scientific articles at no charge
Google Scholar
Everybody knows and has likely used Google as a search engine, and
chances are you've seen references to Google Scholar (scholar.google.com) somewhere on web pages
created by Google. With its familiar and simplified user interface, this is
probably the broadest search tool you can use as it covers many disciplines at
once from multiple sources on the Internet. In addition, the results are ranked
based on a number of criteria, including the frequency and recency of citation
of a given search result in other scholarly works. Here, you can search for
articles as well as case law. Either option can be selected from the search
results page. Moreover, you can select the time range to search from for the publications,
sort results by date or relevance, and create an alert to be notified when new entries
on a particular topic somewhere on the web are discovered by Google search
robots. You will likely save yourself some additional search time if you click
on "Cited by" or "Related articles," as doing so will bring
up additional works on your subject. You can store your search results by
clicking "Save" or cite them immediately by clicking
"Cite," which will automatically convert your article into a number
of widely used citation formats (e.g., APA).
ERIC
Some of the examples in this chapter are from the ERIC (Education
Resources Information Center) database, which is published electronically by
the Educational Resources Information Center. At the time of this writing, it
contains references to more than one and a half million records that provide
citations for journal articles, books, conference papers, and so forth.
Let's say you are a psychology student who is interested in
reviewing literature on depression. All you have to do is enter
"depression" in the ERIC search bar, which, at the time of this
writing, retrieved references to 11,108 documents on depression and related
topics. Restricted to only journal articles, references to 8,871 journal
articles were retrieved. You could further limit your findings to peer-reviewed
and/or full-text documents by clicking the appropriate box under the search
bar. In addition, you can refine the results by publication date, descriptors,
source, publication type, education level, and audience.1
Access to ERIC is free to all Internet users. Its home page can be
accessed by visiting
www.eric.ed.gov, where there is information about its services, its history, and
frequently asked questions on conducting effective searches for relevant
literature.
PubMed
Developed by the National Center for Biotechnology Information and
consisting of over 24 million entries, PubMed citations and abstracts cover a
broad range of topics, including biomedicine and bioengineering, health,
behavior, chemicals, and life sciences. It also contains many other useful
linked resources, all of which are open to the public at no charge. Much like the
other databases that will be described, PubMed has basic and advanced search
options.
While it does not contain full texts of articles, in some cases it
provides a link to a full-text version if the article is available elsewhere on
the Internet. If your particular search topic falls in the areas covered by
PubMed, this database may be a good place to start because it requires no
special logon to conduct a quick search and can help you obtain details on a
particular reference. (See Chapter 14 for more information on preparing a reference list.)
PsycARTICLES and PsycINFO
Some of the examples in this chapter are from the PsycARTICLES
database, which covers a range of psychological topics and is published
electronically by the American Psychological Association (APA). At the time of
this writing, it contains more than 183,000 searchable full- text articles
(i.e., not just abstracts or summaries) from 102 journals published by the APA,
Canadian Psychological Association, and English-language titles by Hogrefe
Publishing Group. The APA also publishes PsycINFO, which contains abstracts of
more than 3.7 million references to both APA and non-APA journal articles,
books, and dissertations. Access to these databases is free of charge to
students through many schools and institutions.
Other Databases
Other major databases include ProQuest Sociological Abstracts, ProQuest Linguistics and Language Behavior Abstracts, EBSCO Social Work Abstracts, SocINDEX, EBSCO Business Source Complete, Legal Connection, LexisNexis, Historical Abstracts, Ovid, as well as many others. Some are highly specialized, and others (e.g., Ovid) can search for your topic through dozens of databases at once. With some practice, you'll learn which of these tools tend to meet your needs, and your searches will become more efficient and productive.
While many of the databases described in this chapter are not free, particularly those that offer full-text articles, many school and institutional libraries subscribe to one or more of them. In most cases, your affiliation with a particular institution (e.g., college, university, research hospital) entitles you to access these databases remotely—that is, from the convenience of your home, your favorite coffee shop, and so forth. Consult your library website or speak with your librarian about the options available to you.
source: Pan Ling, M. 2017. Preparing Literature Review: QUalitative and Quantitative Approaches. Pyrczak Pubishing. New York, USA.











