Jumat, 22 Juli 2016

Menjadi Pendidik = Menjadi Motivator

Ketika datang ke sekolah, para peserta didik membawa kondisi motivasi yang beragam. Ada yang sudah termotivasi untuk belajar karena begitu kuatnya pengaruh didikan orang tua di rumah. Ada yang miskin motivasi, yang untuk datang ke sekolah saja harus diiming-imingi sesuatu, atau harus dipaksa. Ketika di rumah, orangtua lah yang bertanggungjawab untuk memperhatikan aspek motivasi anak-anak mereka. Ketika di sekolah, tentu pihak sekolah lah yang seyogyanya menjadi penanggungjawab terpacunya motivasi peserta didik untuk belajar. 

Sesuai arahan kurikulum pendidikan, siswa diwajibkan mempelajari banyak mata pelajaran di sekolah. Ketika berada di bangku sekolah Dasar, para peserta didik disuguhi berbagai materi yang harus dipelajari. Mulai dari ilmu alam, ilmu sosial, ilmu bahasa,  olahraga, kesenian, kegamaan, dan lainnya. Beranjak ke sekolah menengah, makin banyak materi yang harus dipelajari. Apalagi ilmu  alam dan sosial memiliki berbagai cabang derivasi yang berdiri menjadi ilmu-ilmu independen yang masing-masing dipelajari secara khusus. 

“Semua ilmu adalah penting. Karena penting, maka peserta didik harus mempelajarinya, dan diharapkan mereka mampu menguasai semuanya”. Barangkali demikian logika yang mendasari tersusunnya kurikulum yang mengharuskan peserta didik mempelajari semua ilmu tersebut. 

Tulisan ini bukan untuk membahas atau mengkritisi kurikulum yang mengharuskan peserta didik mempelajari begitu banyak ilmu, karena bahasan tentang kurikulum merupakan domain pemegang kebijakan pendidikan nasional. Yang ingin dibahas disini adalah, bagaimana menjadikan peserta didik siap untuk mempelajari ilmu-ilmu yang relatif banyak tersebut. 

Menurut Howard Gardner, tiap individu memiliki kecenderungan kecerdasan yang beragam. Berdasarkan konsep multiple intelligence yang dikemukakan oleh Gardner, ada beberapa macam kecerdasan, yaitu kecerdasan logis matematis, musikal, visual-spasial, bahasa, interpersonal, intrapersonal, naturalistik, dan kinestetik. Sulit menemukan orang orang yang cerdas dalm kesemua hal tersebut. Biasanya, ketika seseorang menonjol dalam satu bidang, dia cenderung kurang dalam bidang lainnya. Memang ada yang menonjol dalam beberapa bidang, tapi tetap ada kekurangan dalam bidang lainnya.

Perbedaan kecerdasan yang dimiliki individu tersebut menjadikan level ketertarikan terhadap berbagai mata pelajaran di sekolah beragam. Untuk peserta didik yang memiliki motivasi untuk mempelajari suatu materi pelajaran, tentu sangatlah mudah mengarahkannya agar mencapai tujuan dari pembelajaran yang dilaksanakan. Namun, bagi mereka yang tak memiliki ketertarikan terhadap mata pelajaran tertentu, tentulah diperlukan strategi khusus untuk menumbuhkan minat atau ketertarikan terhadap pelajaran tersebut. Di sinilah tugas guru sebagai motivator. Yaitu, menjadikan peserta didik  termotivasi secara berkelanjutan untuk mempelajari materi tersebut. 

Banyak workshop dan seminar diadakan untuk memahamkan pendidik akan kurikulum. Banyak pula seminar dan workshop yang diadakan untuk memahamkan pendidik tentang strategi mengajarkan mata pelajaran tertentu. Namun sepertinya masih sangat minim seminar atau workshop tentang upaya memahamkan pendidik agar mampu memotivasi dan menumbuhkan minat peserta didik dalam mempelajari suatu mata pelajaran. Kemampuan memotivasi ini lah yang sepertinya mendapatkan porsi perhatian yang sangat kecil. Ada sebagian pendidik yang memiliki skill memotivais yang bagus. Biasanya mereka memperoleh skill tersebut dengan belajar secara otodidak. Itupun prosentasenya masih sangat kecil, dibandingkan mereka yang belum memiliki skill memotivasi. Pendidikan merupakan bagian dari program strategis pemerintah. Maka, pelatihan, seminar dan workshop yang berkaitan dengan upaya mengasah kemampuan memotivasi bagi pendidik selayaknya dilakukan secara sistematis dan menjadi bagian dari program pemerintah. Di samping itu, kesadaran untuk memupuk kemampuan memotivasi juga selayaknya dimiliki oleh pendidik sendiri. 

Sejatinya, tugas mendidik sangat berhubungan dengan memotivasi. Namun sayang, perhatian terhadap kecakapan memotivasi oleh pendidik sepertinya sangat kurang. Dunia teknologi berkembang begitu pesatnya. Hingga banyak hal yang bisa ditunjang melalui pemanfaatan teknologi, untuk sarana belajar, misalnya. Peran teknologi bahkan sedikit banyak telah mampu menggantikan peran guru. Dulu, banyak guru yang dengan bekal buku referensi yang jadi pegangan mengajar dan dipake selama bertahun-tahun, merasa sudah sempurna melaksanakan tugas sebagai pendidik. Padahal, tugas guru bukan lah semata mentransfer ilmu, melainkan lebih dari itu. Kalau hanya soal transfer ilmu, teknologi sekarang sepertinya sudah lebih mampu secara up to date melakukan hal tersebut. Para pelajar bisa mengakses berbagai ilmu hanya dengan sentuhan jari-jari mereka di papan keyboard komputer yang terhubung dengan jaringan internet. Ada hal yang tak bisa dilakukan oleh teknologi kepada peserta didik, yang hanya bisa dilakukan oleh pendidik. Hal tersebut berhubungan dengan aspek perkembangan psikologis peserta didik, misalnya membangkitkan motivasi, membantu peserta didik memperdalam kemampuan problem solving, mengajarkan cara belajar, dan hal-hal lain yang masuk dalam domain psikologi. Jika pendidik tak bisa memerankan secara maksimal hal-hal yang berhubungan dengan psikologi peserta didik tersebut, maka tak berlebihan jika dikatakan bahwa peran teknologi lebih terasa signifikansinya ketimbang mereka. Jika demikian, untuk apa ada guru/pendidik?
gambar http://web.ics.purdue.edu


Pada kenyataannya, tak ada pelajaran khusus yang membahas motivasi di kelas. Oleh karena itu, pemberian motivasi kepada siswa seharusnya dilakukan secara integratif disisipkan di sela-sela pelaksanaan pembelajara di kelas. Pendidik selayaknya melakukan “10-minutes inspirational session”, sebuah upaya memberikan ceramah berisi motivasi atau inspirasi dengan cara bercerita kepada peserta didik, cerita apapun yang mampu membangkitkan motivasi dan inspirasi peserta didik. Seperti namanya, hal tersebut dilakukan di awal dimulainya pembelajaran, dengan durasi waktu yang proporsional. Pada dasarnya, peserta didik sangat menyukai cerita, apalagi cerita yang sarat pesan moral dan mampu memberikan mereka inspirasi. Saya suka melakukan hal tersebut sebelum memulai pelajaran. Cerita yang saya sampaikan bisa saya dapatkan melalui internet, ataupun kisah nyata yang benar-benar ada di lingkungan sekitar. Upaya memberikan inspirasi melalui bercerita merupakan cara yang cukup ampuh, karena ia bisa masuk alam bawah sadar peserta didik tanpa ada unsur menggurui atau menyuruh. Daripada menggunakan kata-kata seperti “kamu harus…”, “kamu sebaiknya…”, “lakukan….” dan sebagainya, menggerakan hasrat peserta didik untuk melakukan hal positif melalui cerita lebih merupakan cara yang lebih efektif. 

Di dalam buku Quantum Learning, ada sebuah prinsip yang disebut AMBAK (Apa Manfaatnya BagiKu). Prinsip tersebut menjelaskan bahwa ketika seseorang tak memahami apa manfaat yang bisa dia dapatkan dari suatu ilmu, maka dia tak akan dengan sepenuh hati mempelajarinya. Jika mempelajarinya pun hanya seperlunya saja, sekedar untuk menggugurkan kewajiban. Melakukan sesuatu hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban tak akan memiliki kesinambungan. Agar peserta didik memiliki kesadaran untuk mempelajari suatu materi/ilmu, maka tugas pendidik untuk menjadikannya paham dan memiliki alasan personal mengapa mereka harus menginvestasikan waktu dan energinya untuk mempelajari hal tersebut. Ketika pertamakali saya mendapatkan pelajaran bahasa inggris, yaitu ketika masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), guru saya memberikan gambaran kepada para peserta didik tentang manfaat dari memiliki kemampuan berkomunikasi dalam bahasa inggris. Beliau menjelaskan bahwa kemampuan berbahasa Inggris memungkinkan orang untuk keliling dunia, berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai negara, mendapatkan pekerjaan sebagai interpreter, dan banyak lainnya. Seketika imajinasi saya melambung setelah mendapatkan 10 minutes inspirational session tersebut. Hari-hari berikutnya, saya rela melakukan berbagai hal demi tercapainya kemampuan berbahasa inggris, seperti membawa kamus setiap hari meski tak ada materi bahasa inggris pada hari tersebut, menghafalkan kosakata, belajar tata bahasa secara mandiri, dan melakukan upaya trial and error lainnya. Ternyata, ketika motivasi peserta didik untuk mempelajari sesuatu sudah tertanam kuat, metode pengajaran apapun bisa masuk dan diterima oleh mereka. 

Kesungguhan untuk belajar oleh peserta didik berawal dari motivasi. Dengan motivasi yang sudah tertanam kuat tersebut, mereka akan mampu secara mandiri bersungguh-sungguh untuk belajar. Maka, kemampuan untuk memotivasi merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh pendidik. 









Rabu, 13 Juli 2016

The older you are growing, the Less creative You Are?



Saya kaget ketika mengikuti kelas TEFL (Teaching English as a Foreign Language) kemarin. Di sela-sela diskusi yang membahas penggunaan teknologi dalam menunjang pembelajaran bahasa inggris, sensei saya memberikan sebuah kuis. Sebuah kuis yang menjadikan saya mendapatkan pelajaran berharga. Sensei saya menunjukkan sebuah botol, kemudian bertanya kepada kami “apa yang bisa kalian lakukan dengan botol ini?” Ide boleh beranekarragam dan sebanyak mungkin. Sensei hanya memberikan 3 menit untuk kami menuliskan ide-ide kami di kertas masing-masing. 

Setelah 3 menit selesai, masing-masing dari kami diminta menyebutkan jumlah ide kami dan menyebutkannya satu persatu. Jumlah ide yang kami temukan berbeda-beda. Ada yang hanya 3 ide, ada yang 5, ada yang 8 dan ada yang 15. yang mengejutkan adalah yang memiliki ide paling banyak, yaitu berjumlah 15, adalah mahasiswa yang paling muda di antara kami. Namanya Kohei. Sedangkan yang memiliki ide yang paling sedikit adalah yang paling tua di antara kami. Jumlah ide yang masing-masing dari kami tuliskan menunjukkan grafik usia kami. semakin muda, semakin banyak pula ide. dengan kata lain, semakin tua usia, semakin sedikit ide.

Saya terkejut dengan fakta tersebut. saya sendiri tak mampu mengelak ketika sensei menjelaskan bahwa faktanya memang begitu adanya, bahwa semakin tua usia, semakin terbatas ide yang dimiliki. Kebetulan, di kelas tersebut, saya adalah yang paling tua. Saya berusaha mematahkan hal yang saya masih asumsikan sebagai stereotipe tersebut, hingga sensei memberikan kuis kedua. Di kuis yang kedua, sensei memberikan masing-masing dari kami se lembar kertas yang disitu terdapat gambar 15 lingkaran. Instruksinya mudah, kami hanya diminta untuk menggambar suatu objek dengan menggunakan lingkaran-lingkaran tersebut sebagai dasarnya. Misalnya menggambar jam dinding, bola basket atau yang lainnya. Namun tentunya sensei kami tak memberikan contoh detail, karena cukup jelas instruksinya. Saya mencoba menggambar berbagai macam hal, mulai dari burung, kapal dan sebagainya, dengan cepat, dengan harapan saya bisa menggambar sebanyak mungkin dan memecahkan rekor. Dengan demikian, harapan saya bisa mematahkan stereotipe yang ada. Setelah 3 menit berlalu, kami diminta menunjukkan gambar yang kami hasilkan. Lagi-lagi hasilnya sama, bahwa yang paling muda adalah yang menghasikan gambar yang paling kreatif dan paling banyak. Terlalu banyak pertimbangan dalam pikiran saya ketika hendak menggambarkan suatu objek menggunakan lingkaran tersebut. terjadi konflik pikiran ketika hendak menuangkan suatu gagasan. Misalnya ketika saya ingin menggambarkan sebuah bola basket. Dalam pikiran terdapat perdebatan apakah corak yang ada pada gambar bola tersebut seharusnya berbentuk garis-garis, ataukah kotak-kotak, perlu tidak nya gambar/logo bola, dan sebagainya. Itu yang memperlambat terwujudnya gagasan. Tak terpikir sebelumnya oleh saya untuk menggambarkan ring basket, buah-buahan yang berbentuk bulat, perhiasan seperti cincin dan gelang, piring, dan sebagainya. Saya jadi paham, bahwa yang saya asumsikan sebagai stereotipe itu tidak benar adanya. Adalah fakta bahwa semakin tua usia, semakin kalah kreativitasnya dengan yang lebih muda. 

Semakin tua, semakin manusia itu kritis ketika memikirkan sebuah ide. Semakin tua, pertimbangan dalam memikirkan suatu ide semakin kompleks. Sensei kami menjelaskan bahwa hal tersebut disebabkan karena semakin dewasa seseorang, di dalam pikirannya semakin tersetting aturan-aturan yang membatasi kreativitas berpikir orang tersebut. sementara, anak kecil cenderung kreatif dalam berpikir, karena dalam pikiran mereka tak tersetting berbagai aturan yang membatasi mereka. Settingan aturan yang ada pada pikiran orang dewasa merupakan hasil dari pengalaman selama perjalanan hidup mereka, baik pengalaman selama mengenyam pendidikan formal yang memiliki banyak aturan, maupun pengalaman kehidupan sehari-hari dimana mereka terikat oleh begitu banyak aturan. Kebiasaan menyesuaikan dengan berbagai aturan yang ada menjadikan orang dewasa berpikir rumit ketika mereka mencoba mengkonsep suatu ide. 

Saya jadi terbersit pikiran tentang kondisi sekolah. Sekolah selayaknya adalah tempat mengasah kreativitas. Namun pada kenyataanya terdapat banyak hal yang bertentangan dengan upaya mengakomodir terasahnya kreativitas. Banyak aturan yang dibuat atas nama ketertiban dan tata nilai sopan santun dan sebagainya yang sepertinya mengebiri kreativitas. Misalnya, aturan mengenai gaya rambut, model jahitan pakaian, pelarangan pemakaian aksesoris seperti gelang karet, topi, kalung dan sebagainya. Pembelajaran di kelas juga kadang mencerminkan keadaan yang anti-kreativitas. Misalnya, penggunaan buku/bahan ajar yang monoton, aktivitas menyalin apa yang ada di buku pelajaran, serta materi yang itu-itu saja yang dibahas. Miskin pengayaan, miskin pemberian kebebasan untuk siswa menemukan dan mengembangkan sendiri ide-ide mereka yang berkaitan dengan hal yang mereka pelajari, bahkan yang lebih ironis adalah kurangnya toleransi terhadap kesalahan oleh siswa, adalah kondisi-kondisi yang masih jamak terjadi di banyak lembaga pendidikan formal di Indonesia. 



Faktanya, dalam hidup, mereka yang penuh kreativitas lah yang bisa survive. Kreatif dalam hal problem solving, kreatif dalam menciptakan ide, dan kreativitas-kreativitas lainnya. Sekolah, sebagai laboratorium yang menyiapkan siswa menghadapi tantangan zaman, semestinya menciptakan pembelajaran yang mampu mengasah kreativitas siswa. dengan demikian, terjadi link and match antara apa yang mereka pelajari di sekolah dengan kesipaan mereka menghadapi tantangan kehidupan. 


Senin, 11 Juli 2016

Inspirasi dari Tohoku Ambassador: Sebuah Konsep Marketing Pariwisata


Picture taken from http://justasmalltowngirl.us
Indonesia adalah surga potensi wisata. Betapa tidak, segala hal yang lazimnya diandalkan sebagai produk wisata di berbagai negara yang maju pariwisatanya, hampir semuanya ada di Indonesia. Keindahan alam, keragaman budaya, kemajemukan suku, dan aspek-aspek lainnya adalah potensi yang sangat berharga jika dimenej dengan baik. Kita memang selayaknya belajar dari berbagai negara yang se-level dengan bangsa kita dalam hal pengelolaan pariwisatanya. Tak usah malu-malu, negara tetangga kita, Malaysia, Singapura dan Thailand, bisa menjadi contoh tentang bagaimana mengelola pariwisatanya hingga berdampak luas menyentuh sendi ekonomi mereka. Betapa tidak, Malaysia yang secara keanekaragaman budayanya sebenarnya kalah ragam dari Indonesia, mampu menjadikannya icon yang mendunia, lewat jargon “Malaysia the truly asia”. 

Saya sempat bertanya kepada teman-teman dari negara lain yang pernah berkunjung ke malaysia mengenai apa kesan mereka dengan pariwisata Malaysia, dan apa yang membuat mereka memutuska berkunjung ke malaysia ketimbang ke Indonesia. Jawabannya adalah bahwa Malaysia memiliki aneka ragam budaya yang unik, serta alam tropis yang indah. Sebuah jawaban yang sebenarnya lebih layak disematkan bagi Indonesia, karena memiliki lebih dari yang Malaysia punya. 

Begitu pula SIngapura. Negeri yang wilayahnya tak ada seper seratusnya Indonesia itu memiliki pariwisata yang bisa terbilang lebih maju dari Indonesia. Jumlah wisatawan yang mengunjungi negeri liliput tersebut sangat lah banyak, bahkan melebihi jumlah penduduk aslinya. Sejatinya, Singapura tak memiliki kekayaan alam yang melimpah sebagaimana Indonesia. Namun, ia mampu mengkapitalisasi potensi berupa letak geografis yang strategis dengan baik, hingga menjadikannya negara kecil dengan pengelolaan pariwisatanya yang maju. Bahkan, tak sedikit jumlah orang Indonesia yang berkunjung ke Singapura setiap tahunnya. 

Kedua negara tersebut cukup menggambarkan bahwa potensi produk bukanlah semata-mata faktor utama yang menjadikan majunya pariwisata. Hal yang sangat (kalau tidak dikatakan paling) berpengaruh adalah panajemen pengelolaannya. Sebanyak dan sebagus apapun potensi wisatanya, jika tak ditunjang dengan manajemen yang bagus, makan sia-sia saja tentunya. 

Saya sangat menyukai Traveling. Sejauh ini, ada beberapa negara yang sudah saya kunjungi. Banyak hal yang saya dapatkan dari hobi traveling tersebut. Salah satu keuntungan yang saya dapatkan dalam melakukan traveling adalah mengamati bagaimana pariwisata di tempat yang saya kunjungi tersebut dikelola. Saya seringkali menemukan hal yang sebenarnya biasa, namun dengan sentuhan kreatifitas, berubah menjadi luar biasa. Kreativitas adalah kunci dari tumbuh berkembangnya pariwisata, nampaknya. Setidaknya itu poin yang saya dapat selama mengamati tempat-tempat wisata di berbagai negara. 

Salah satu aspek yang perlu mendapatkan sentuhan kreativitas adalah marketing. Dunia media teknologi informasi berkembang begitu pesatnya. Sehingga, dengan sentuhannya, sesuatu bisa menjadi booming seketika. Memanfaatkan media teknologi informasi untuk marketing pariwisata bukan sekedar dengan menjadikannya sarana untuk publikasi. Ada strategi tertentu yang dibutuhkan untuk menjangkau sebanyak mungkin potential market. Di Jepang, saya berkesempatan terpilih menjadi anggota Tohoku Ambassador, atau Duta Wisata daerah Tohoku, yang meliputi Prefektur Miyagi, Fukushima, Yamagata, Iwate, Akita dan Aomori. Menjadi anggota tohoku Ambassador menjadikan saya bagian dari program promosi pariwisata Tohoku. Program tersebut merupakan inisiatif dari Sendai TV. 

Cukup banyak inspirasi yang saya dapatkan dari keterlibatan saya di program tersebut. Setiap tahun, Sendai TV selaku pengagas program tersebut mengadakan seleksi Duta Wisata, untuk kemudian disebut Tohoku Ambassador. Seleksi tersebut ditujukan kepada mahasiswa dari berbagai negara luar, tidak diperuntukkan bagi mahasiswa Jepang. Seleksinya cukup mudah. Sendai TV bekerjasama dengan pihak Universitas untuk mempublikasikan program tersebut. peserta hanya diwajibkan untuk mengirim email yang berisi jawaban atas serangkaian pertanyaan, dan kesanggupan untuk menjadi bagia dari Program-program Tohku Ambassador ketika terpilh nanti. Tentunya, pihak panitia menjelaskans secara detail perihal program-program yang akan dilaksanakan oleh mereka yang terpilih. Peserta seleksi diminta menjawab berbagai pertanyaan. Inti dari pertanyaan tersebut adalah untuk mengetahui sejauh mana peserta memanfaatkan teknologi Informasi dan komunikasi, berapa banyak jenis media komunikasi yang mereka gunakan, dan seberapa besar kesukaan mereka terhadap aktivitas menulis. Hal-hal tersebut dirasa penting oleh, karena tugas yang akan dilakukan oleh peserta nantinya ketika terpilih menjadi anggota Tohoku Ambassador adalah berkaitan dengan menulis di media sosial, dan mempromosikan potensi wisata yang ada di daerah Tohoku melalui media Sosial. mereka diharapkan bisa menjadi duta wisata untuk mampu mempromosikan wisata Tohoku ke negara mereka masing-masing. Jumlah mahasiswa asing yag terpilih menjadi TAohoku Ambassador cukup banyak, lebih dari 100 orang, karena memang tak ada batasan kuota. Meski jumlahnya banyak, mereka memenuhi semua prasyarat unutk mejadi Tohoku Ambassador tersebut, karena mereka memang menyukai dunia tulis menulis dan aktif di berbagai media sosial. Banyaknya jumlah mereka, semakin menjadikan promosi/publikasi wisata mampu menjangkau target market yang lebih luas lagi. Ide yang sangat brilian. 

Sendai TV, secara berkala mengadakan tour ke berbagai tempat wisata yang ada di daerah Tohoku. Karena jumlah anggota Tohoku Ambassador yang begitu banyak, maka dilakukan pengundian. Mereka yang mendapat jatah untuk berangkat Tour, berkesempatan untuk mengikuti Tour ke tempat yang telah direncanakan. Kegiatan tour tersebut biasanya dilaksanakan sekitar 3 kali tiap bulannya. Satu paket tour berlangsung selama dua hari. Peserta menginap di hotel yang telah disiapkan oleh panitia. Peserta memiliki dua tugas, Tugas selama Tour, dan tugas pasca Tour. Selama Tour, mereka diwajibkan mendokumentasikan sudut-sudut wisata yang mereka kunjungi yang memiliki daya tarik. Mereka juga terlibat dalam pembuatan video dokumenter di tempat wisata yang mereka kunjungi. Pasca Tour, peserta diwajibkan menulis tentang tempat wisata yang telah mereka kunjungi tersebut dan mempublikasikannya di berbagai media sosial secperti Blog, facebook, twitter, weibo, instagram, dan media sosial lain, dalam bahasa Inggris dan dalam bahasa mereka masing-masing. Dengan begitu, publikasi mengenai tempat wisata di Tohoku semakin meluas dan menjangkau ke berbagai negara.

Ide semacam ini sebenarnya cukup terjangkau untuk dilaksanakan bagi pihak manapun yang berkepentingan memajukan pariwisata daerahnya. Ia tidak hanya bisa dilakukan oleh manajemen pariwisata nasional indonesia, tapi juga secara otonom oleh manajemen pariwisata daerah. Jika dilakukan secara maksimal, maka niscaya bisa meningkatkan pertumbuhan pariwisata. 

Di indonesia, penyelenggaraan pemilihan Duta Wisata sebenarnya ada. hanya saja, bedanya dengan Tohoku Ambassador adalah pada konsepnya pemilihan dutanya. Pada Tohoku Ambassador, tidak ada istilah kuota untuk jumlah peserta yang terpilih menjadi Duta. Sekalipun ada kuota, jumlahnya sangat banyak, karena memang tujuan dari program tersebut adalah untuk mempromosikan potensi wisata yang ada. Dengan banyaknya Duta Wisata yang terlibat, diharapkan eksistensi wisata yanga ada semakin mendunia, dan menjangkau pasar yang lebih luas. Mereka diberi tugas untuk mempromosikan wisata di daerah Togoku secara masif melalui tulisan-tulisan mereka, melalui aktivitas mereka di media sosial. Di sini jelas sekali orientasi marketingnya. Sedangkan pemilihan Duta Wisata di Indonesia cenderung bersifat formalitas. Hanya satu atau sepasang pria wanita saja yang nantinya dijadikan sebagai duta wisata. Tentunya, sulit untuk kita berharap terjadinya booming impact yang luar biasa pada pariwisata kita dengan hanya mengandalkan sepasang duta yang tepilih tersebut. Konsep marketing terlihat tak tersentuh sama sekali dari ajang pemilihan duta wisata tersebut. Ini yang perlu dirubah. 

Di daerah asal saya, Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan, terdapat potensi wisata alam dengan ikon sunrise yang dua tahun ini sedang booming dan makin memikat minat wisatawan domestik. Nama tempat wisata tersebut adalah Pawuluhan, sebuah bukit yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang, dan Kabupaten Banjarnegara. Salah satu faktor yang menjadi pemicu boomingnya wisata tersebut adalah masifnya media sosial yang mengulas keindahan alam di Pawuluhan. Gencarnya promosi Pawuluhan sebenarnya tak terorganisir, hanya berupa viral di media. Namun hal tersebut menimbulkan efek marketing yang luar biasa. Saya membayangkan, seandainya marketing menggunakan media sosial tersebut dimenej dengan baik, tak terbayang betapa dahsyat efek booming wisata Pawuluhan tersebut. 


Perkembangan akses terhadap teknologi komunikasi dan informasi begitu pesat. Makin hari, teknologi semakin terasa tak terpisahkan dari kegiatan sehari-hari manusia. Hal tersebut adalah potensi, sebenarnya. Andai potensi pariwisata bisa dikelola dengan baik dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan kreativitas manusia, maka dunia Pariwisata Indonesia bisa mengalami peningkatan yang signifikan. 


Jumat, 08 Juli 2016

Kenapa kamu musti traveling?


Ada sebagian orang yang menganggap bahwa traveling itu pemborosan. ada yang menganggap bahwa traveling itu anti kesahajaan. namun banyak pula yang melakukan Traveling sekedar karena hobi. dan ada pula yang suka melakukan traveling karena merasakan manfaat dan pengaruh yang banyak bagi kehidupannya. 

Harus diakui memang, bahwa traveling merupakan kegiatan yang costly alias gak murah. semurah-murahnya traveling, biarpun kata orang dilakukan ala backpacker sekalipun,  tetap mengharuskan keluarnya duit. disitulah kadang pemaknaan traveling sebagai kegiatan pemborosan disematkan. Lantas, kenapa orang perlu traveling? 

urusan pro dan kontra traveling biar lah ada, karena memang hidup selalu menampilkan dua sisi yang saling bertolak belakang. anyway, life is a matter of choice. hidup itu pilihan. bagi yang suka traveling, silakan dilakukan. bagi yang gak suka, silakan nyinyir (hehehe).
Flower garden, Toowoomba, Queensland, Australia, 2015.

Aku sendiri, hobi banget dengan yang namanya traveling. sebenarnya manfaat traveling itu apa sih? bagi yang suka traveling, tentu tak perlu penjelasan mengenai hal ini. Namun bagi yang belum suka, atau bahkan tak suka, tapi kepo dengan kenyataan bahwa mengapa orang ada yang suka traveling, maka di sinilah ulasan ini diberikan. Niat orang traveling macem-macem sih. ada yang karena ingin punya koleksi foto yang bisa dipampang di media sosial, sehingga kelihatan keren. ada yang memang sukan mencoba berinteraksi dengan hal-hal baru yang sama sekali berbeda dengan kebiasaan yang sudah ada. ada yang melakukan traveling karena ia bisa menghasilkan/mendatangkan pundi-pundi rupiah (lho..emang ada? ya ada laah. travel writer misalnya), ada yang melakukan traveling karena merasakan manfaat yang tak terkira jumlahnya. aku sendiri, hobi banget dengan traveling karena berbagai alasan. 




  1. Traveling itu keren
lah, hobi traveling sekedar karena merasa keren? kok remeh banget kesannya. hehehe… Orang boleh dong punya alasan apapun sebagai dasar menentukan pilihannya. alasan yang satu ini emang alasan yang gak banget kesannya. tapi banyak orang yang sebenarnya suka traveling karena ada unsur alasan ini, biar kelihatan keren. hanya saja, mereka susah mengakuinya, karena alasan “keren” kesannya agak tabu untuk diungkapkan secara jujur. Siapa sih yang gak suka nampangin foto-foto kece hasil jepretan selama traveling di media sosial? orang pada umumnya punya kecenderungan narsis, hingga foto masakan sendiri yang sebenarnya rasanya kurang dapat dipertanggungjawabkan saja kadang diupload di sosial media, dan dibumbui caption macem-macem untuk menarik perhatian orang. Apalagi kalo foto-fotonya keren dan bikin orang lain kepo, penasaran, terus curious, dan terus-menerus bertanya-tanya tentang hal-hal yang ada di foto, kemudian kita menjawab berbagai pertanyaan bak seorang expert yang jadi rujukan banyak orang. hahaha… keliatan keren kaan? Ayo ngaku aja yang suka gini! aku juga gitu soalnya. Nah, pada saat itulah salah satu kepuasan akan traveling terwujud. dan itu menjadikan si traveler get addicted. 

2. mendapatkan inspirasi wirausaha
nah, manfaat ini bisa didapatkan mereka yang emang demen wirausahan, atau memiliki rencana untuk berwirausaha. banyak orang mendapatkan ide usaha dari negeri-negeri yang pernah mereka singgahi.  kebab turki baba rafi, misalnya. pemiliknya ngaku kalo dia dapet inspirasi selama berkunjung ke timur tengah. ketika balik ke indonesia, dia terapin tuh ide bisnis. begitu juga dengan pengusaha pemilik berbagai bisnis waralaba yang bernama, Johny andrean, yang mengembangkan produk laris manis seperti gellato, J&C.O, dsb. banyak ide yang dia dapatkan dari tempat-tempat yang pernah dia kunjungi, yang dengannya ia terapkan untuk mengembangkan usahanya. sentuhan kreativitas pada usahanya yang dia dapatkan melalui inspirasi dari negara yang pernah ia kunjungi, menjadikan usahanya semakin maju. banyak hal yang ada di negara luar yang belum ada di negara kita. begitu juga sebaliknya. maka, bagi yang punya passion untuk menjadi seorang wirausahawan/enterpreneur, traveling ke negara luar sangat dianjurkan. banyak inspirasi yang ada di negara sana. 

3. Mengasah open-mindedness
melakukan traveling menjadikan orang berinteraksi dengan lingkungan baru, yang berbagai hal serba berbeda. Butuh proses adaptasi yang kadang cukup menyusahkan. namun sejatinya itu adalah sebuah pembelajaran bahwa hidup ini penuh keragaman. DI belahan bumi lain, ternyata ada banyak warna yang begitu beragam. Di jepang, aku bertemang dengan banyak mahasiswa dari berbagai negara. Bahasa mereka, keyakinan mereka, budaya mereka, taa nilai yang menjadi acuan mereka, pola pikir mereka, makanan mereka, gaya berpakaian mereka, semuanya berbeda. Kadang kami terlibat diskusi hangat seputar topik yang lagi update. isu-isu internasional sering menjadi bahan diskusi santai dikala sedang menikmati momen kebersamaan seperti pesta makanan,  pesta perayaan ulang tahun, dan momen kebersamaan lainnya sebagaimana yang kami biasa lakukan. Sesekali, terjadi adu argumentasi mengenai sebuah isu. Sesekali adrenalin terpicu keluar juga dalam diskusi. Namun asyiknya kami saling memahami dan menghargai perbedaan pemikiran. 


keragaman dalam hidup seringkali mempengaruhi pilihan seseorang. itu yang menjadikan perbedaan itu suatu keniscayaan. Keterbukaan pemikiran seringkali dipengaruhi oleh   luasnya jangkauan pergaulan dan wawasan. Sementara sempitnya pikiran dipengaruhi oleh hal yang sebaliknya. Andai tak ada satelit yang mampu menjamah luar angkasa, mungkin hingga detik ini kita masih dalam perdebatan tanpa batas mengenai apakah bentuk bumi itu bulat, datar, atau seperti apa. Memang, kadang butuh menjauh sejenak untuk lebih memahami yang dekat. 

4. mengasah rasa syukur
Dunia ini terhampar luas. Luasnya hamparan bumi layak untuk dijelajahi, agar tumbuh rasa syukur kepada Pencipta. Aku selalu kagum ketika berkunjung ke suatu tempat yanag sangat indah. Naluri ku berkata bahwa segala keindahan tak mungkin tercipta dengan sendirinya. Maha besar Tuhan yang menciptakan itu semua. Orang suka mengungkapkan rasa ketakjuban dengan berkata “oh myGod”. Begitu pula saat orang melihat atau merasakan sesuatu yang sangat indah luar biasa. 
Hidup jadi terasa makin indah ketika kita traveling. Indahnya rasa hidup bisa menstimulasi rasa syukur. Gak berlebihan jika dikatakan bahwa traveling juga bisa bermakna ibadah, kalau kita mau mengambil sisi spiritualnya.

5. meningkatkan gairah hidup
apa sih hal yang bikin bosan hidup? tak ada hal yang lebih mungin menciptakan rasa bosan dalam hidup selain kemonotonan. orang suka wang sinawang , atau melihat apa yang dilakukan atau dimiliki orang lain sebagai suatu hal yang lebih luar biasa ketimbang yang ada pada mereka. hal tersebut seringkali terjadi terutama ketika orang merasa bosan dengan apa yang mereka miliki atau lakukan setiap harinya. ketika rasa bosan datang, berkuranglah gairah hidup. Percayalah, yang bikin bosan adalah rutinitas yang monoton alias tak ada dinamisme. 

mencoba melakukan traveling bisa menjadi solusi alternatif untuk mengobati rasa bosan dan kurangnya gairah hidup. pikran manusia cenderung menyukai hal-hal baru dan menyenangkan. sesekali, perlu lah memanjakan pikiran dan jiwa untuk mencoba hal-hal baru dengan melakukan traveling. Traveling itu menyegarkan pikiran dan jiwa. Traveling juga bisa menjadi obat stres atau depresi. Stres atau depresi terjadi ketika pikiran terfokus pada suatu masalah tertentu saja. Stress bisa terus ada ketika masalah belum terselesaikan, atau ketika orang terus berada pada tempat dimana masalah yan bikin stres tersebut berada. Butuh pengalihan pikiran agar stres dan depresi tersebut minggat, atau pergi untuk sementara waktu. Butuh lingkungan baru agar pikiran teralihkan fokusnya dari hal-hal yang menjadikannya stress. Traveling adalah jawaban dari masalah ini. lakukan saja traveling, dan nantinya akan terraskan kembalinya gairah hidup.



6. penyalur hobi fotografi dan kuliner
Traveling, makan-makan, dan fotografi sepertinya sudah menjadi satu paket yang tak terpisahkan satu sama lain. ketika berkunjung ke tempat baru, aku suka mencoba maskan khas dari tempat tersebut. Tempat baru yang ku kunjungi sering menawarkan pemandangan yang jauh berbeda dengan yang ada pada negeri/daerah asalku. Sehingga, jeprat-jepret kamera tak pernah terlupa untuk dilakukan. Hasilnya, selalu memuaskan. Apa sih yang bikin indah perjalanan selain bukti dokumentasi bahwa kita pernah kesana. hehehe…

Dulu, aku tak begitu suka dengan duni fotografi. namun, hobi traveling dan berkembangnya dunia teknologi pengabadi gambar ternyata merubah semuanya, dari yang dulu gak begitu suka berubah menjadi hobi. Ketika traveling ke suatu tempat, entah napa terbersit pikiran seperti ada tanggungjawab moral untuk menyuguhkan foto-foto bagus kepada tema-teman (kadang rasa ingin pamer dan tanggungjawab moral untuk menyuguhkan foto itu bedanya tipis. wkwkwk). Makanya, aku selalu berusaha untuk mencari angle yang tepat ketika mengabadikan sebuah objek kedalam foto. 

Entah kenapa akhir-akhir ini aku kurang begitu suka dengan selfie dan mempostingnya ke media-media publikasi. bukan karena perasan inferior bahwa diri ini kurang fotojenik, melainkan karena aku lebih merasa puas ketika memiliki foto-foto objek lain selain foto diriku. Namun, sesekali, aku suka juga selfie, sekadar untuk dokumentasi pribadi. Sepertinya itu hasil refleksiku sendiri, bahwa ketika melihat postingan foto di grup Traveling di medsos, lebih bisa menikmati foto-foto objek minus tampang fotografernya. hahaha…

7. Agar tak menyesal di kemudian hari
Waktu hidup manusia dibatasi. kesempatan untuk traveling manusia juga dibatasi. kadang orang memiliki kekayaan, namun mereka tak memiliki waktu. kadang sebaliknya. Aku berpikir bahwa tua itu pasti (jelas laah). beberapa tahun lalu aku pernah menonton video diyoutube mengenai hal-hal yang musti dilakukans sebelum meninggal (eaelaaah..seolah tau aja kapan bakal meninggal). Traveling ke berbagai penjuru dunia adalah bagian dari hal yang aku ingin lakukan semasa hidup sebelum terbatasnya kesempatan itu tiba. Aku ingin menulis cerita yang asik di lembaran hidupku, yang bisa jadi dongeng penghibur ketika membuka memori lama di kala senja di masa yang akan datang. Sayang sekali, jika hidup di dunia yang singkat ini dilalui begitu saja tanpa dimanfaatkan untuk mengunjungi tempat-tempat indah di berbagai belahan dunia.

Untuk traveling, faktor dana sering kali jadi kendala. ya iya laah. emang traveling gak butuh biaya. hahaha…Namun, sebenarnya ada banyak cara untuk mendapatkan dana agar bisa traveling. orang bisa menyisihkan pendpatan yang mereka terima baik dari gaji maupun dari bisnis, setelah disisihkan untuk amal, tabungan/investasi, dan pos-pos lainnya. Aku sendiri selalu berusaha untuk mendapatkan beasiswa program pengembangan diri ke luar negeri. karena dengan cara itu aku bisa dapat dana uuntuk traveling, terlepas niatan utama untuk mengembangkan diri di bidang yang ku geluti tentunya. tahun 2008 aku dapat beasiswa program pertukaran mahasiswa ke malaysia. tahun 2015 aku dapet beasiswa program kursus singkat ke australia. dan tahun 20-15 akhir sampai 2017 nanti (insya Alloh) aku dapat program beasiswa teacher training dari kementerian pendidikan Jepang). 
Aku sendiri percaya dengan law of attraciton (hukum ketertarikan). apa yang kita ingingkan dan itu menjadi fokus oikiran kita, maka dengan cara yang mungkin kita tak duga sebekumnya, akan mewujud nyata, dengan kuasa Alloh tentunya. 

Sebenarnya, masih banyak manfaat dari traveling yang bisa diperoleh. namun, kali ini, segini saja dulu ulasannya. semoga bermanfaat dunia dan akhirat. 
Amiin

Salam hangat dari saya, dan jangan lupa untuk bahagia!








Selasa, 05 Juli 2016

Menjadi Guru Pembelajar



Kali ini aku ingin menulis tentang guru. Bukan pada aspek problematika menjadi guru, tugas-tugas administrasi guru, atau aspek kesejahteraan, sebagaimana yang seringkali menjadi topik mainstream dalam berbagai pemberitaan mengenai guru, melainkan pada aspek hakikat sebenarnya seorang guru, dan bagaimana seharusnya guru bermindset. 
Picture taken from www.quotesgram.com

Aku menjadi guru adalah pilihan, dan itu merupakan pilihan utama. Jujur, bukan bermaksud bersikap hipokrit, namun aku berkeinginan menjadi guru sejak aku mengenyam pendidikan di bangku sekolah Menengah Pertama, agar bisa menjadi pencerah bagi generasi yang aku didik. Akhirnya, kesampaian juga menjadi guru. Kini, sudah 7 tahun aku berprofesi menjadi guru. Jadi, cukup paham lah dinamikan yang ada pada dunia keguruan. 
Guru adalah profesi yang memiliki tugas yang sangat mulia. Profesi lain boleh lah mengatakan demikian, bahwa tugas mereka juga mulia. Namun perlu diingat, bahwa sebagian besar manusia dengan berbagai latar belakang profesinya pernah mengenyam pendidikan formal dan dididik oleh guru. Itu shahih, tak bisa disangkal. Guru lah yang pernah mendidik generasi yang di masa-masa berikutnya ada yang menjadi presiden, pengusaha sukses, arsitek, teknisi, menteri, pemimpin partai, dokter, dan sebagainya. Jadi, bukan main-main profesi guru ini. Begitu bukan main-mainnya profesi guru ini, selayaknya yang menjadi guru adalah mereka yang benar-benar memiliki dedikasi tinggi dan memiliki kemampuan kuat untuk mendidik dengan baik. 
Di indonesia, menjadi guru itu mudah. Ada yang berbekal ijasah Sekolah menengah bisa menjadi guru. ada yang berbekal kuliah di perguruan tinggi yang cabangnya banyak hingga berada di kecamatan-kecamatan bisa menjadi guru. Ada yang berbekal ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi yang jam perkuliahannya hanya dua hari, sabtu dan minggu, yang kadang cukup absen saja yang penting datang saat ujian akhir, bisa menjadi guru.  Ada pula yang bersusah payah utuk masuk ke perguruan tinggi yang memiliki reputasi besar dalam menggembleng calon tenaga kependidikan, akhirnya lulus dan menjadi guru. “Banyak jalan menuju roma”. Kira-kira begitu pepatahnya. Ironis, menurutku, bahwa orang banyak yang menjadi guru berbekal ilmu yang seadanya. 
Ada orang yang menjadi guru dengan niat benar-benar ingin menjadi pendidik. Ada orang yang menjadi guru dengan awal niat untuk menadi pegawai negeri sipil yang memiliki gaji tetap tiap bulannya. beda niat, tentunya mempengaruhi hasil. Mereka yang menjadi guru dengan niat ingin menjadi pendidik sejati biasanya memiliki kecenderungan untuk terus belajar dan memperbaiki kualitas diri. Sementara, mereka yang niatan awalnya sekadar ingin menjadi pegawai biasanya tak memiliki semangat memperbaiki kualitas diri yang tinggi. Begitu sudah diangkat jadi pegawai, begitu sudah dapet kondisi nyaman mendapatkan gaji tetap, performanya dibiarkan biasa-biasa saja. “ngapain lah repot-repot memperbagus kualitas performa mengajar, toh juga pendapatan bulanannya tetep sama antara yang rajin dan biasa”. Begitulah kira-kira prinsip yang dianut. Parahnya, dunia kepegawaian memang tak memiliki sistem reward dan punishment yang efektif untuk meningkatkan kinerja pegawai. Guru yang berkeinginan untuk memperbaiki kompetensi diri dan memperbiaki kinerja kadang patah arang duluan, karena sadar upayanya tak akan berbuah reward sepadan. Maklum laah, manusia kan memang makhluk yang pamrih dan haus akan penghargaan. 
Aku pernah berada pada suatu masa dimana ketika sekolah aku diajar oleh guru yang menggunakan buku referensi yang itu-itu saja. Parahnya, seringkali kami diharuskan mencatat dengan di dikte apa yang ada pada buku yang jadi pegangan guru tersebut. Lusuhnya buku yang jadi referensi guru tersebut menggambarkan betapa ia telah lama dipakai. nalar kritisku gak nyampe waktu itu. Seharusnya aku protes kenapa aku disuapi informasi-informasi (pengetahuan) yang monoton sumbernya seperti itu. Bukankah di sekolah kami selayaknya mempelajari tentang hidup, dan hidup itu luas, berkembang, penuh dinamika. kenapa sang guru tersebut tak mengadirkan dinamika tersebut ke ruang kelas kami, malah seolah mempersempit jangkauan belajar kami. Mungkin guru bisa beralasan bahwa Ilmu itu tak lekang oleh waktu. Benar sekali, tapi bukan berarti bahwa kita membatasi diri dengan sumber belajar. Mustinya anak didikdibukakan seluas-luasnya pintu menuju berbagai akses sumber belajar. Kasihan sekali jika terus-terusan para anak didikharus mendapatkan asupan ilmu yang kadang sudah ketinggalan jaman. Smenntara mereka adalah generasi baru yang hidup di era yang apapun serba berkembang dan berubah begitu pesatnya. 
Kondisi belajar di sekolah yang berlangsung seperti itu sepertinya hanya melahirkan generasi fotokopi, yang hanya mampu menghafal, mencatat, dan menuangkannya ketika ada ujian. Namun aku bersyukur. Setidaknya pengalaman menjadi anak didikmenjadikan aku semakin memahami apa yang semestinya dilakukan oleh guru agar benar-benar mencapai fungsinya sebagai pendidik. 
Sebagai pendidik, tugas guru itu benar-benar kompleks. Guru adalah kepanjangan tangan dari sistem pendidikan. Sebagus apapun kurikulum didesain, sebanyak apapun anggaran ditambah untuk penyelenggaraan pendidikan, sebagus apapun gedung-gedung sekolah dibanun, jika kualitas guru tak mumpuni, maka semuanya akan sia-sia. Domain pekerjaan guru itu sangatbanyak. Ada hubungannya dengan psikologi. Ada hubungannya dengan karakter. Ada hubungannya dengan kognisi. Semua itu membutuhkan bekal banyak untuk menjalaninya. anak didik datang ke sekolah dengan kondisi yang beraneka ragam. Sebagian ada yang sudah membawa semangat untuk belajar. Sebagian lainnya ada yang tak memiliki motivasi sama sekali untuk belajar karena pengaruh lingkungan. Sebagian ada yang pembawaannya baik, berkarakter baik. Sebagian ada yang memiliki karakter yang butuh pembenahan. Jika ada guru yang berpikir bahwa tugas mereka adalah mentransfer ilmu, maka sayang sekali, itu pikiran yang keliru. Andai boleh jujur, urusan ilmu, sepertinya perkembangan teknologi sudah mampu untuk menjawabnya. Sumber-sumber belajar sudah semakin banyak, seiring dengan perkembangan teknologi. Banyak orang yang bisa berkomunikasi dalam bahasa asing hanya dengan belajar dengan mengandalkan youtube, artikel-artikel materi yang mudah dicari via google, dan dengan mempraktikkan bahasa tersebut dengan teman virtual mereka. Kemudahan akses teknologi informasi juga memudahkan orang untuk mempelajari materi-materi lainnya seperti matematika, ilmu sosial, sains, dan sebagainya. Jika demikian, lantas apa peran guru sebenarnya? Apakah hanya tentang merancang, melaksanakan, dan melakukan evaluasi pembelajaran seperti yang biasanya dilakukan yang hanya menyentuh sisi formalitas saja? Itulah yang layak menjadi bahan renungan para guru. 

Belajar tentang cara belajar

Ketika jadi siswa, aku dulu paling sebel ketika guru berceramah bahwa kami harus belajar dengan rajin, dengan giat, agar nilainya bagus. Sementara aku sendiri tak tau bagaimana caranya belajar. Setahuku, belajar itu hanyalah membaca buku, menghapalkan poin-poin yang kemungkinan keluar di soal pada saat ujian. Entah kenapa aku dulu tak terbersit pikiran untuk menanyakannya kepada sang guru, bagaimana cara belajar yang benar. Sepertinya memang tak ada keberanian waktu itu. Apalagi aku termasuk pribadi pemalu dan tak punya keberanian untuk tampil berbicara di depan publik.  Ketika instruksi untuk belajar oleh guru tak diindahkan oleh siswa, karena mereka tak beitu paham bagaimana cara belajar yang baik, kadang guru meluapkan amarah kepada kami. 

Ketika menjadi guru, aku mencoba menebus kelemahan guru ku yang dulu, dengan mengajarkan cara belajar kepada anak didikku. Aku belajar banyak tentang cara belajar dari berbagai sumber. dari situ aku memahami bagaimana cara memahamkan kepada anak didikku tentang cara belajar. 
Manusia adalah makhluk yang memiliki karakter yang beragam. Mereka memiliki kecerdasan beragam, sebagaimana dijelaskan oleh Howard Gardner dalam bukunya mengenai konsep multiple inteligences. Manusia juga memiliki cara belajar yang beranekaragam. Cara manusia memahami suatu hal ternyata beragam. dalam buku Quantum Learning, dijelaskan beberapa tipe gaya belajar. Ada tipe audio, visual, kinestetik, dan ada pula gabunga di antara tipe-tipe tersebut. Pemahaman-pemahaman seperti itu lah yang menjadi dasar aku menjelaskan kepada anak didik ku untuk belajar cara belaraj yang baik sesuai dengan kecenderungan mereka masing-masing. Belajar matematika berbeda tentunya dengan belajar bahasa. Belajar ilmu sosial berbeda tentunya denganc ara belajar ilmu sains. singkatnya, masing-masing ilmu memiliki pendekatan belajar yang berbeda-beda. 

Menjadi guru pembelajar

Ketika berbicara tentang belajar, sebenarnya tak selalu harus dikaitkan dengan pendidikan formal. Into belajar adalah memperbaiki diri, dan terjadi perubahan kualitas diri, atau kompetensi dalam mendidik kalo dikaitkan dengan dunia keguruan. Sumber belajar sangat banyak. Guru bisa belajar melalui buku bacaan, artikel-artikel di internet, pendidikan formal dan seminar-seminar. Selain itu, belajar bisa juga dilakukan sembari melakukan interaksi dengan anak didik setiap hari. Misal mengamati permasalahan mereka dalam belajar, dan melakukan riset untuk menemukan solus bagi permasalahan tersebut. Perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan sudah semakin membaik. Hal tersebut juga berdadmpak positif terhadap urusan guru yang serinkali sensitif, yaitu urusan kesejahteraan. 
Aku memiliki need of achievement yang sangat tinggi. Aku merasa perlu mengenyam pendidikan di luar. Bukan agar terlihat keren atau beken, melainkan di negara-negara maju pasti ada sesuatu hal yang spesial yang bisa diterapkan untuk kebaikan negeriku. Aku juga merasa perlu unutk merasakan kehidupan di lingkungan luar yang sama sekali berbeda keadaannya dengan lingkungan kehidupan di tempatku. Itu semua dapat mempengaruhi keterbukaan pikiranku. 
Aku merasa bahwa generasi yang aku didik memiliki hak unutk mendapatkan pendidikan yang sangat baik dari para pendidik mereka. Generasi yang aku didik memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang segar, yang terupdate, bukan yang usang dan tak relevan dengan perkembangan jaman. Untuk memenuhi hak-hak anak didik ku nanti, maka aku berusaha memperbaiki diri. Semakin banyak program pengembangan diri yang aku dapatkan, maka semakin baik tentunya. Short course di Australia dna Program teacher training di Jepang telah ku dapatkan. Selanjutnya ILEP fulbright USA, Stuned belanda, program master di Inggris, dan program-program lainnya menanti untuk diraih. Dengan demikian, semoga aku semakin mampu memantaskan diri menjadi pendidik bagi generasi negeri. 



Minggu, 03 Juli 2016

Belajar Toleransi dari negeri penyembah matahari



Picture taken from www.satuislam.org
Tiada hal yang lebih berharga dalam menjalankan hidup penuh keberagaman dalam suatu entitas sosial selain adanya sikap penuh toleransi yang tumbuh di dalamnya. Manusia diciptakan dengan bawaan penuh perbedaan. perbedaan ras, bahasa, lingkungan tempt tinggal, pola pikir, dan sebagainya. Sikap toleransi menjadikan semua perbedaan tersebut eksis secara harmonis. Banyak manusia yang menyadari akan hakikat perbedaan dalam kehidupan tersebut. Namun, untuk bersikap toleran, sepertinya masih banyak manusia yang butuh belajar banyak. 
Lagi-lagi, aku ingin berbagi pengalaman tentang hidup penuh toleransi melalui blog ini. Berbagi hal yang menurutku penting bagi hidup. Untuk siapa/kepada siapa aku berbagi? Kepada siapapun yang membaca artikel ini. Aku percaya, pengalaman hidup nyata bisa memberikan pelajaran yang jauh lebih komprehensif mengenai hidup daripada pelajaran di lembaga pendidikan formal. Pengalamanku hidup di beberapa negara, memberikan aku pemahaman lebih tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup di lingkungan yang penuh keragaman.
Sebelum berangkat ke Jepang untuk mengikuti program pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah Jepang, aku sempat berpikir bahwa hidup di jepang akan sangat sulit dijalani. Sulit karena secara budaya, jepang jauh berbeda dengan negara asalku, Indonesia. Pun dengan aspek-aspek lainnya. Bayangan perbedaan-perbedaan tersebut lah yang menjadi horor bagi pikiranku. Mungkin beribadah akan sulit disana. Mungkin berinteraksi akan sangat sulit disana, mengingat orang jepang memiliki tata nilai yang berbeda dengan di indonesia. Dari sekian bayangan mengenai kesulitan penyesuaian diri dengan kehidupan di Jepang, bayangan kesulitan ibadah merupakan hal yang paling horor bagiku. Bukan berarti sok sholeh atau rajin beribadah, namun topik mengenai ekspresi dalam berkeyakinan merupakan isu yang cukup sensitif, bahkan seringkali paling sensitif berkenaan dengan tema toleransi. Cerita yang kudapatkan dari Michael Anderson, temenku dari australia yang beragama islam, tentang tantangannya dalam menjalankan keyakinnannya sebagai muslim di Australia, cukup membuat ku mengernyitkan dahi. Betapa tidak, tepat dua bulan sebelum kedatanganku ke Queensland, Australia, sebuah masjid yang merupakan satu-satunya masjid tempat ibadah muslim di kota Toowoomba dibakar oleh orang yang tak dikenal menggunakan bom molotof. Masjid yang merupakan bekas gereja yang dibeli oleh kmunitas imigran muslim di kota Toowomba tersebut mengalami kerusakan parah akibat pembakaran tersebut. Namun masih beruntung bahwa hanya 50% dari total banguna yang terlahap api. Segitunya islamofobia di Australia. 
Lain australia, lain Jepang. Sekian lama hidup di Jepang, aku mengamati hal unik, bahwa Jepang adalah negara yang tak memiliki fanatisme berlebihan terhadap keyakinan tertentu, pun mereka tak memiliki sentimen negatif terhadap keyakina-keyakinan lain. Mereka pergi ke kuil untuk sembahyang iya, merayakan natal juga iya, bahkan ada juga yang mencoba mempraktikkan ibadah sholat sebagaimana orang muslim lakukan, seperti yang aku saksikan beberapa waktu lalu pada saat ada acara buka puasa bersama komunitas muslim Sendai. Menarik sekali. Aku sampai tergoda untuk tertawa dalam hati melihat gerakan mereka yang sesekali tengok kanan kiri menirukan gerakan orang-orang muslim yang berjajar di sekitar mereka. 
Jepang adalah negara penuh toleransi. Toleransi yang kumaksud bukan karena mereka suka mempraktikkan ibadah pemeluk agama lain, melainkan karena sikap mereka yang terbuka dan welcome terhadap orang lain yang berbeda keyakinan. Ketika mendapatkan jadwal kuliah pertama kali, aku sempat was-was. waah, jangan2 jadwal kuliah bakal berbenturan dengan jadwal sholat jumat. Sholat jumat yang paling riskan, karena waktunya yang tak se fleksibel sholat-sholat lain. Ternyata, alhamdulillah… aku masih dpat menjalankan shalat jumat, bahkan dosenku memberi ijin untuk aku meninggalkan kelas 10 menit sebelum kelas selesai, karena memang butuh waktu yang cukup lama untuk menuju ke tempat dilaksanakannya sholat jumat. 
Suatu hari, aku mengikuti kelas Japanese Nature. Sebuah mata kuliah yang berisi pengenalan terhadap alam Jepang. Kebetulan kelas tersebut bertepatan dihari jumat, dan kegiatannya adalah outdoor class dengan pergi ke aoba forest yang letaknya berdekatan dengan kampus dan bisa ditempuh degan berjalan kaki. Aku sempat khawatir bakal kehilangan kesematatan untuk shalat jumat. namun, ternyata kelas tersebut disegerakan selesainya, 30 menit lebih awal dari waktu normal, hanya karena dosenku tak ingin aku ketinggalan sholat jumat. Tak cukup disitu, bahkan dosenku juga mengantarkanku dengan mobilnya menuju tempat dilaksanakannya sholat jumat. Aku tercengang dengan kebaikan hati dosen ku tersebut. Itu luar biasa, bagiku.
Tahun 2009, aku sempat ikut kontes duta wisata kabupaten pekalongan, daerah asal ku, namun gagal. Justru di jeoang ini Baku dapatkan kesempatan menjadi Tohoku ambassador, atau duta Tohoku unutk program kepariwisataan daerah Tohoku yang meliputi prefecture Miyagi, Fukushima, Iwate, Akita, yamagata, dan aomori. Kegiatannya adalah mempromosikan pariwisata Tohoku area. Suatu ketika di bulan puasa, aku mendapatkan jadwal tour ke Iwate dan daerah sebelah utara miyagi prefecture. Ketika mendapati jadwal tersebut aku kepikiran banyak hal. Tentang kehalalan makanannya, tentang kondisiku berpuasa, tentang aku anti alkoholnya dan sebagainya. Aku kepikiran hal-hal tersebut karena sudah terbayang sebelumnya bahwa kegiatan tersebut pasti tak akan jauh dari hal-hal tadi (selain jalan-jalan) makan-makan (yang tak jelas status kehalalaannya) makan makanan khas setempat di siang hari, dan minum sake. Ternyata, pihak panitia acara, Sato-san, namanya, justru menghubungiku terlebih dahulu via mobile, untuk mendiskusikan perihal dietary restriction, bagaimana mengadaptasikan diri yang sedang berpuasa dengan kegiatan-kegiatan selama tour berlangsung, dan sebagainya. kalimat yang terngiang di ingatanku sampai sekarang yang diucapkan Sato-san adalah “ mohon beritahu kamu apa yang musti kami lakukan untuk membuat anda nyaman dalam menjalankan program tour ini sleama berpuasa, serta sampaikan kepada kami pantangan0pantangan apa yang harus kami perhaitkan dalam menyediakan layanan, berhubungan dengan status anda sebagai muslim, misal makanan atau minuman yang menjadi pantangan, dsb”. adem sekali ketika mengingatnya. mereka begitu toleran, dan mau melakukan hal-hal demi terlaksanakannya hakku dalam mengekspresikan keyakinanku.
Di suatu malam di bulan puasa, seperti biasa kami melaksanakan shalat tarawih bersama di sebuah ruangan yang cukup besar untuk menampung 50-an jamaah di Tohoku Uiversity international House. Ruangan tersebut terletak persis di samping ruang Lobby yang sedang dipakai untuk acara pesta anak-anak mahasiswa. Sebuah kondisi yang menarik untuk diamati. Bayangkan, praktik kegiatan ibadah yang membutuhkan konsentrasi (kekhuyukan), berdampingan dengan acara pesta dengan musik super kencang. Parahnya lagi, lagu-lagu yang diputar begitu familiar di telinga sebagian jamaah yang sholat. Ada lagu gangnam style, you wake me up, lagu OST sepakbola, dan lagu-lagu familiar lainnya yang diremix oleh seorang DJ entah siapa namanya. Tentunya itu cobaan berat. aku sendiri cukup tau meski sedang melaksanakan sholat, karena siapa sih yang gak terbawa alunan lagu yang easy-listening walau sedang konsentrasi sekalipun. masing-masing pihak baik yang sholat maupun yang sedang pesta tetap fokus dengan kegiatannya masing-masing. Aku sempat berpikir, jika berbicara tentag roleransi pada keadaan tersebut, sebenarnya itu wujud dari tidak adanya toleransi atau justru sebaliknya. Di satu sisi, terlihat kurang adanya toleransi, terutama karena mereka yang berpesta tak menjadikan yang sedang beribadah terhindar dari suara berisik yang menggangu konsentrasi ibadah. Namun di sisi lain, aku melihat adanya sisi toleransi yang tinggi. Yang sedang pesta mendapatkan hak mereka untuk berpesta, dan yang beribadah juga mendapatkan hak mereka untuk beribadah tanpa meminta yang berpesta untuk menghentikan aktivitas mereka, atau meminta mereka untuk mengurangi volume suara. 
Apa sih makna toleransi itu? aku mencoba mencari makna sebenarnya dari toleransi, dan menurut wikipedia, Toleransi adalah membiarkan orang lain berpendapat lain, melakukan hal yang tidak sependapat dengan kita, tanpa kita ganggu ataupun intimidasi. istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, di mana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat menghormati keberadaan agama atau kepercayaan lainnya yang berbeda.[1] Namun kadang toleransi beragama sering disalah artikan, dengan ikut upacara ibadah agama tertentu, bukan itu yg dimaksud, misal dgn memakai atribut salah satu agama tertentu, dll. Toleransi yg benar adalah memberikan kenyamanan mereka dalam melaksanakan ibadahnya. bukan mencampur adukkan agama.
Lantas, bagaimana penerapan sikap toleransi terhadap kebeagaman di negaraku, Indonesia? cukup kompleks gambaran toleransi di negaraku. Di satu sisi, aku berbangga bahwa negaraku mengakomodir berbagai perbedaan yang ada dalam masyarakat. Namun, di sisi lain, kadang toleransi dimaknai secara bias. Contohnya, pelarangan takbir keliling di jalan raya oleh muslim di kota besar seperti Jakarta oleh pemda setempat dengan dasar pemikiran bahwa pelarangan tersebut dimaksudkan untuk menjunjung toleransi terhadap mereka yang berpotensi terganggu oleh perayaan tersebut. Anehnya, pemerintah setempat setiap tahun mendukung acara perayaan tahun baru yang konotasinya hura-hura. Hal tersebut menjadikan sebagian orang berpikir bahwa ada standar ganda pada pelarangan tersebut, dan terkesan syarat nuansa politis dan sentimen terhadap keyakinan tertentu, apalagi Jakarta sedang dipimpin oleh orang non muslim. Harusnya, negara/pemerintah hadir sebagai pihak penyeimbang, melakukan hal-hal yang menjadikan semua pihak mendapatkan haknya. Misal, dengan tetap membiarkan adanya takbir keliling, namun dengan memfasilitasi keamanan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, sehingga ketertiban tetap terjaga. 

Aku menyebutkan contoh tersebut bukan karena aku muslim, melainkan hanya menyebutkan contoh keadaan riil untuk menunjukkan biasnya pemaknaan terhadap toleransi di negeriku, yang tentunya butuh perubahan. Negeriku, Indonesia, mengakui 5 agama. Akhir-akhir ini ditambah satu lagi, yaitu konghuchu. Semestinya segala kepentingan yang berhubungan dengan ekspresi ibadah semua agama tersebut diakomodir secara proporsional. Dengan demikian terciptalah toleransi yang menjadikan hidup aman nyaman dan sentosa. Kita perlu belajar banyak dari mantan penjajah kita, Jepang, tentang toleransi.

Berdaya dan Mampu Memberdayakan


Sejak kecil, aku adalah seorang pemimpi. Aaku berpikir betapa indahnya meraih impian-impian besar di masa depan. Aku terlahir di sebuah tempat terpencil yang semuanya serba terbatas. Akses teknologi terbatas, akses pendidikan yang baus terbatas, akses sarana belajar terbatas, akses hiburan terbatas, semuanya serba terbatas. Namun, tak pernah terbayang bahwa hidupku akan berubah. Ternyata hidup laksana mengemudikan mobil untuk menempuh suatu jarak di tengah malam. Kita mengandalkan cahaya lampu yang memiliki jangkauan hanya beberapa meter saja. Meski demikian, dengan terus melaju mengikuti jalan yang tersinari oleh lampu, akhirnya tempat yang bejarak ber-ratus-ratus kilometer pun tercapai juga.
Sepertinya itulah rahasia hidup. Tak perlu risau akan seperti apa proses menjalaninya, karena yang paling penting adalah menjalaninya. Berawal dari perkenalanku dengan sebuah kamus bahasa inggris lusuh yang ku pinjam dari kakak ku yang kala itu duduk di bangku SMP kelas 2, dua tingkat di atasku, aku seperti menemukan arah untuk memulai petualangan. Aku suka bahasa inggris bukan untuk memperoleh nilai yang bagus, apalagi saat itu aku masih duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar (SD), dan tak ada mata pelajaran bahasa inggris di sekolah. Aku mulai suka bahasa inggris karena rasanya keren saja kalo bisa bahasa inggris. Aku beruntung, di waktu yang cukup belia, dan dalam kondisi yang serba terbatas, aku menemukan intrinsic motivation ku. Sepertinya, itulah salah satu rejeki besar yang kudapatkan kala itu, yaitu memiliki motivasi kuat untuk belajar bahasa inggris yang akhirnya memungkinkanku untuk berpetualang ke berbagai negara ketika dewasa kini. 
Belakangan, aku jadi semakin menyadari, bahwa ketika motivasi untuk mempelajari suatu hal sudah dimiliki, maka metode belajar apapun rasanya akan cocok-cocok saja. Ini yang menjadi pesan penting untuk seorang guru, yakni membantu murid mereka untuk menemukan alasan kenapa mereka perlu untuk mempelajari sesuatu. 
Semakin bertambah usiaku, semakin bertambah luas lingkup pergaulanku, makin dinamis pula impian-impian ku. Aku merasa seperti anak kecil, yang begitu labil dalam memilih, dalam bermimpi. Keinginanku berkembang selaras dengan berkembangnya pergaulanku. Ketika suatu impian terwujud, aku merasa seperti  kecanduan untuk mewujudkan impian-impian lainnya. Ternyata, impian kadang bisa menjadi candu ketika terwujud. Candu yang mendorongku untuk meraih impian-impian lainnya. Alasannya mudah, ketika suatu impian tercapai, pikiranku menjadi teryakinkan bahwa segala hal itu mungkin untuk terwujud. Mendapati pikiranku teryakinkan itu suatu anugerah yang luar biasa. Betapa tidak, sebenarnya yang paling penting sebagai langkah awal mewujudkan impian itu meyakinkan pikiran. Kadang itu sulit. namun ketika pikiran sudah teryakinkan, apapun bisa mewujud nyata, seperti pepatah mengatakan bahwa “pikiran adalah kapasitas”. Mampu tidaknya seseorang mewujudkan biasanya dipengaruhi oleh yakin tidak nya pikiran. Begitulah kira-kira.
Aku merasa lapar, haus akan pencapaian. Kadang ini terasa aneh, juga menimbulkan rasa bersalah. Apakah aku tipe orang yang kurang bersyukur. Sehingga selalu merasa tak puas dengan pencapaian. Namun barangkali justru ini adalah gambaran kualitas diriku, bahwa aku memiliki need of achievement yang sangat tinggi. Ya, need of achievement. Keinginan untuk terus berhasil. Aku amati, apakah orang-orang sekitar juga demikian adanya sepertiku. Ternyata sangat jarang, dan bahkan mungkin langka. Ah…ini adalah kelebihan, sahutku membatin. 
Waktu berjalan, dengan dinamikan kehidupan yang kadang mempengaruhi orientasi hidupku. Aku jadi merasa, kenapa kadang rasa bosan dengan keadaan yang ada ini tak bisa dibendung. Lagi-lagi aku meraba, menerawang, kenapa rasa bosan seringkali muncul, bahkan dalam kondisi ketika aku mendapatkan apa yang aku mau. Cukup lama aku merenung. Ternyata, ada yang kurang. Selama ini orientasi diriku adalah AKU. Tak heran kenapa banyak orang Jepang gemar melakukan kerja sukarela (voluntary works). Tak heran kenpa orang-orang super kaya gemar melakukan kegiatan filantropis. Itu semua karena kebahagiaan tak selalu ada ketika terwujud berbagai keinginan yang berhubungan dengan AKU. Kebahagiaan sering muncul ketika seseorang mendedikasikan dirinya untuk mewujudkan kebaikan bagi orang lain. Begitu kira-kira kesimpulannya. Aku perlu menghadirkan orang lain, terutama orang-orang yang aku cintai untuk menjadi bagian dari tujuan ku hidup. 
Kini, perwujudan impian yang AKU-oriented mulai berubah. Aku merasa aku harus berdaya dan mampu memberdayakan sesama. Kadang aku merasa hebat dengan memiliki sedikit saja ilmu, wawasan, dan pengalaman. Namun itu semua terasa tak ada artinya, dan aku masih merasa kerdil, ketika tangan-tangaku tak bisa menggapai terwujudnya kebaikan bagi sesama. Aku ingin berdaya, dan dengannya aku ingin mampu memberdayakan sesama. Itu yang sedang aku upayakan. 
Bismillah…..