Senin, 24 Mei 2021

Tak pernah hatiku se-patah ini

 

Belum pernah aku merasakan hatiku se-patah ini. Rasanya sungguh kecewa, ingin marah, namun helpless. Siapa pun yang berkesempatan untuk studi di sebuah perguruan tinggi di luar negeri pasti menginginkan untuk merasakan pengalaman nyata belajar di Negara tujuan. Namun saat ini aku tak kuasa untuk menerima keadaan yang mengharuskanku untuk menjadi mahasiswa dari sebuah universitas di luar negeri tapi tak dapat berangkat ke Negara tujuanku studi.

Aku berusaha untuk mendamaikan diri. Meyakinkan diri bahwa hal ini harus diterima karena memang sekarang sedang dalam situasi pandemi. Namun susah untuk meyakinkan diri tentang hal ini, ketika mengetahui teman-temanku sudah pada berangkat ke Negara pilihan mereka masing-masing. Australia memang membuat keputusan yang berbeda dari Negara-negara lain dalam menyikapi pandemi. Orang luar tidak diijinkan masuk ke wilayah Australia, tak terkecuali mahasiswa asing. Jangankan mahasiswa asing, warganya sendiri yang terdampar di luar negeri banyak yang tidak diijinkan untuk kembali. Hanya mereka yang benar-benar memiliki kualifikasi tertentu yang dibolehkan untuk masuk ke Negara ini, pejabat Negara, misalnya.

Aku sering kena mental, ketika melihat dan mendengar segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas teman-temanku yang begitu normal di Australia sekarang ini. Tak ada masker tak ada jaga jarak maupun hand-sanitizer. Smua berjalan normal layaknya kehidupan sebelum pandemi. Aku punya hak untuk hadir di sana, karena aku bayar lunas, melalui dana beasiswa yang disediakan oleh negeriku. Rasanya aku ingin marah, tapi apa daya. Kenapa mereka tidak menggunakan skema karantina saja, untuk mahasiswa asing yang mau datang kesana. Kami siap bayar sendiri. Kalo mau, tempatkan kami di pusat-pusat karantina yang letaknya jauh dari pemukiman selama sebulan penuh. Kami masih mampu bayar. Tetapi si Scott Morrison terlalu bangs*t! Nafsu politiknya membuat dia menutup mata terhadap nasib kami.

Memang, belajar bisa dilakukan dengan tanpa tatap muka. Namun lain cerita, jika sedari awal hati ini sudah meniatkan diri untuk belajar secara tatap muka di universitas yang dipilih. Hal lain yang bikin kecewa adalah bahwa banyak pilihan lain yang sudah terlanjur diabaikan, demi pilihan untuk studi di Negara Australia bangs*t ini. Kewajiban sudah kami tunaikan, dengan bayar visa dan tuition fee. Namun hak-hak kami tidak dipenuhi. Aku yang sebelumnya begitu mengagumi Negara ini jadi ill-feel sejadi-jadinya. Muak tak terkira. Mungkin seperti ini rasanya dipenjara. Dipenjara oleh perlakuan sebuah Negara yang dulunya adalah penjara.

Ku kecewa tiada terkira.

Mengapa aku terobsesi untuk meraih pendidikan tinggi?

 

Ada pertanyaan yang muncul beberapa kali dari teman, saudara, dan rekan kerja tentang apa sebenarnya tujuanku kuliah tinggi-tinggi. Sebagian berpikir bahwa aku ingin mengejar karir yang tinggi. Sebagian berpikir bahwa dengan sekolah tinggi-tinggi hingga ke luar negeri, aku ingin menaikkan pendapatanku. Sebagian lagi berpikir bahwa aku sekolah tinggi-tinggi hanya karena ingin mencapai kepuasan diri. Hal ini membuatku berpikir dan memutuskan bahwa aku harus memiliki statement yang jelas tentang roadmap hidupku. Kemudian aku merangkum target-target yang ingin aku capai, serta tindakan yang harus aku lakukan.

Ini adalah statement untuk diriku sendiri. Kesannya klise, namun tujuan aku meniti pendidikan tinggi memang harus dinyatakan secara jelas. Dengan begini, aku bisa memiliki guideline yang jelas, dan tahu bagian mana yang harus aku perbaiki agar proses yang aku jalani benar-benar mengarah pada pencapaian target.

Aku memang haus akan belajar. Aku ingin berkontribusi lebih pada upaya peningkatan kemajuan pendidikan di Indonesia. Aku harus berperan banyak secara signifikan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Agar bisa berperan banyak, aku harus mendapatkan pengakuan sebagai orang yang ahli dalam pengembangan pendidikan. Untuk mencapai pengakuan tersebut, maka pengetahuan dan kompetensiku harus sangat memadai. Untuk itu lah aku berusaha meraih pendidikan tertinggi, dan di luar negeri. Kenapa harus mendapatkan pendidikan tinggi di Luar Negeri? Karena banyak hal yang bisa aku dapatkan dari pendidikan di Luar Negeri. Keberagaman ilmu pengetahuan, jejaring relasi sesama pendidik dan dengan para ahli pendidikan dari berbagai Negara, kekayaan perspektif yang menunjang banyaknya ide, dan lainnya.

Apa saja langkah-langkah nyata yang harus aku lakukan agar aku bisa berkontribusi lebih?

Yang pertama, adalah melakukan personal branding yang sekaligus berdampak bagi kemajuan pendidikan. Aku harus berkarya menciptakan banyak karya tulis, baik berupa buku maupun karya tulis lain yang manfaatnya bisa diakses oleh orang banyak.

Yang kedua, aku harus aktif melakukan riset dalam dunia pendidikan. Aku membuat sebuah organisasi riset yang anggotanya terdiri dari para pakar pendidikan yang memahami riset, baik secara teori maupun praktik. Produk-produk riset kami harus terpublikasikan, dan bisa dijadikan rujukan oleh para pemangku kebijakan.

Yang ketiga, aku harus aktif memberikan kuliah pengembangan profesi guru. Banyak ide yang harus aku diseminasikan untuk dipraktikkan oleh para guru. Peran guru sangat sentral dalam kemajuan pendidikan. Oleh karena itu, aku harus berperan dalam upaya peningkatan kompetensi mereka.

Yang ke empat, aku harus membangun relasi dengan orang-orang yang memiliki akses kekuasaan. Dulu aku sempat berpikir untuk menghindari segala hal yang berhubungan dengan kekuasaan dan politik. Namun, belakangan aku menyadari, bahwa I have to embrace it. Untuk bisa mendapatkan wadah penyaluran ide kemajuan, aku harus punya akses terhadap kekuasaan. Karena hanya dengan itu lah aku bisa berperan dalam pembuatan berbagai kebijakan.

Ini adalah statement diriku.

Kamis, 20 Mei 2021

Refleksi Pendidikan di Sekolah: Things we often take for granted

 


Satu hal penting yang guru maupun komunitas sekolah secara umum sering abaikan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah adalah mengajarkan peserta didik tentang cara belajar. Istilah dalam bahasa inggrisnya adalah “take it for granted”. Kita menganggap itu hal yang tidak perlu mendapat perhatian, karena dianggap sudah lumrah. Padahal, para peserta didik merupakan individu-individu yang hadir di sekolah dengan multi kondisi yang beragam. Ada sebagian peserta didik yang sudah memiliki motivasi belajar yang tinggi, ada pula yang tidak memiliki motivasi belajar sama sekali. Ada yang sudah mengetahui tentang gaya belajarnya, ada pula yang tak tau gaya belajar yang sesuai itu seperti apa. Ada yang sudah memiliki kemampuan manajemen waktu belajar, ada pula yang belum memiliki kemampuan itu.

Faktanya, pendekatan belajar untuk mata pelajaran satu berbeda dengan mata pelajaran lainnya. Misalnya, untuk mempelajari rumpun mata pelajaran bahasa tentu berbeda dari cara belajar mata pelajaran eksakta, ilmu sosial, seni, olahraga, dan lainnya. Masing-masing pelajaran membutuhkan pendekatan tertentu. Gaya belajar masing-masing individu pun kadang berbeda. Ada yang memiliki kecenderungan visual, auditori, kinestetik, atau gabungan di antaranya. Sekolah punya tanggungjawab besar untuk membantu peserta didik untuk memahami hal-hal penting tersebut.  

Peserta didik memiliki kondisi latar belakang social ekonomi dan budaya yang beragam. Ada yang lahir di keluarga yang memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan, sehingga ada fasilitas dan dorongan untuk belajar yang memadai. Ada pula peserta didik yang tinggal di lingkungan keluarga yang kurang memiliki kesadaran dan wawasan tentang cara mendukung belajar anak. Sekolah memiliki andil besar untuk membangun sinergi dengan para orang tua dalam memberhasilkan proses belajar peserta didik. Ide tentang sekolah untuk orang tua sepertinya perlu diimplementasikan. Sekolah perlu memberi pemahaman kepada orang tua tentang bagaimana keterlibatan orang tua dalam mendukung keberhasilan belajar anak. Di negara-negara yang pendidikannya sudah maju, peran orang tua (parental involvement) dalam keberhasilan belajar anak benar-benar mendapat perhatian baik dari sekolah maupun dari pembuat kebijakan pada otoritas yang lebih tinggi. Sinergi antara sekolah dengan orang tua tidak hanya terjalin dalam hal pembiayaan sekolah, namun juga hal-hal yang berkaitan dengan keberhasilan belajar anak.

Sekolah sejatinya juga memiliki kewajiban untuk mengkomunikasikan konten kurikulum terhadap peserta didik. Peserta didik perlu diberi pemahaman tentang kenapa mereka harus terlatih kemampuan Higher-order thinking nya, yang berdasarkan teori Taksonomi Bloom mencakup menganalisa, mengevaluasi dan mencipta. Mereka perlu memahami kenapa mereka harus mengasah keterampilan abad 21 yang mencakup kolaborasi, kreativitas, komunikasi berpikir kritis, karakter dan kewarganegaraan. Apa korelasinya dengan kehidupan mereka.

Dengan pemahaman tentang hal-hal di atas, peserta didik akan menyadari bahwa sekolah bukanlah sekedar rutinitas mengerjakan tugas dan mengejar nilai hingga mencapai kelulusan. Jauh lebih dari itu, sekolah akan dipahami sebagai proses penempaan diri untuk menumbuhkan kualitas diri, sehingga memiliki kompetensi dalam menghadapi tantangan kehidupan. Hal ini yang akan membuat proses pembelajaran di sekolah terasa bermakna. Kita bisa berpikir dan membayangkan berada pada posisi peserta didik. Tanpa pemahaman tentang kurikulum, cara belajar, dan pentingnya hal-hal yang dipelajari di sekolah, maka aktivitas-aktivitas yang ada di sekolah hanya akan terasa sebagai rutinitas tanpa makna yang menjemukan. Tugas-tugas yang harus diselesaikan akan terasa sebagai sebuah perbudakan. Mungkin terkesan terlalu berlebihan untuk mengatakan ini sebagai perbudakan. Namun kata apalagi yang bisa menggambarkan perasaan orang yang harus melakukan suatu rutinitas tanpa tau maknanya selain kata perbudakan?

Senin, 29 Maret 2021

The VARK Questionnaire

Here are VARK Questionnaire version 8.01

Choose the answer which best explains your preference and click the box next to it. Please click more than one if a single answer does not match your perception. Leave blank any question that does not apply.

 

I want to assemble a wooden table that came in parts (kitset). I would learn best from:

diagrams showing each stage of the assembly.

written instructions that came with the parts for the table.

advice from someone who has done it before.

watching a video of a person assembling a similar table.

I have finished a competition or test and I would like some feedback. I would like to have feedback:

using examples from what I have done.

using a written description of my results.

using graphs showing what I achieved.

from somebody who talks it through with me.

When choosing a career or area of study, these are important for me:

Communicating with others through discussion.

Working with designs, maps or charts.

Using words well in written communications.

Applying my knowledge in real situations.

I want to learn how to take better photos. I would:

use the written instructions about what to do.

ask questions and talk about the camera and its features.

use examples of good and poor photos showing how to improve them.

use diagrams showing the camera and what each part does.

I prefer a presenter or a teacher who uses:

demonstrations, models or practical sessions.

handouts, books, or readings.

question and answer, talk, group discussion, or guest speakers.

diagrams, charts, maps or graphs.

I have a problem with my heart. I would prefer that the doctor:

showed me a diagram of what was wrong.

gave me something to read to explain what was wrong.

used a plastic model to show me what was wrong.

described what was wrong.

I want to learn to do something new on a computer. I would:

talk with people who know about the program.

start using it and learn by trial and error.

read the written instructions that came with the program.

follow the diagrams in a book.

A website has a video showing how to make a special graph or chart. There is a person speaking, some lists and words describing what to do and some diagrams. I would learn most from:

seeing the diagrams.

reading the words.

watching the actions.

listening.

I need to find the way to a shop that a friend has recommended. I would:

use a map.

ask my friend to tell me the directions.

find out where the shop is in relation to somewhere I know.

write down the street directions I need to remember.

I want to save more money and to decide between a range of options. I would:

read a print brochure that describes the options in detail.

use graphs showing different options for different time periods.

consider examples of each option using my financial information.

talk with an expert about the options.

I want to learn about a new project. I would ask for:

an opportunity to discuss the project.

examples where the project has been used successfully.

a written report describing the main features of the project.

diagrams to show the project stages with charts of benefits and costs.

I want to learn how to play a new board game or card game. I would:

listen to somebody explaining it and ask questions.

watch others play the game before joining in.

use the diagrams that explain the various stages, moves and strategies in the game.

read the instructions.

I want to find out more about a tour that I am going on. I would:

read about the tour on the itinerary.

use a map and see where the places are.

talk with the person who planned the tour or others who are going on the tour.

look at details about the highlights and activities on the tour.

When learning from the Internet I like:

interesting written descriptions, lists and explanations.

videos showing how to do or make things.

interesting design and visual features.

audio channels where I can listen to podcasts or interviews.

I want to find out about a house or an apartment. Before visiting it I would want:

a plan showing the rooms and a map of the area.

a discussion with the owner.

a printed description of the rooms and features.

to view a video of the property.

When I am learning I:

see patterns in things.

like to talk things through.

read books, articles and handouts.

use examples and applications.

 

Source: https://vark-learn.com/the-vark-questionnaire/?p=questionnaire

Menjadi digital nomad

Courtesy: https://jogjanews.com/what-is-a-digital-nomad/


Berada di Bali ini, aku jadi terpikir tentang menjadi Digital Nomad. Tinggal di Bali memang nyaman, namun terwujudnya kenyamanan tersebut karena ditopang oleh keterjaminan finansial. Aku mulai berandai-andai, bilakah aku tinggal menjadi digital nomad, mendapatkan penghasilan tanpa harus terikat jadwal ngantor pagi hingga petang. Ini pertanyaan menarik yang cukup mengusik dan memprovokasi pikiranku. Rasanya sulit, jika aku harus secara jujur jawab sekarang. Namun itu bukan tidak mungkin. Buktinya, banyak orang-orang yang menjadi digital nomad, meraih pendapatan besar dan menetap di Bali.  

Pikiranku mulai berselancar, menerawang berbagai hal tentang apa yang aku bisa lakukan untuk bisa menjadi digital nomad yang sukses. Aku mulai dengan melihat potensi-potensi yang ada pada diriku sendiri. Aku data, dan hasilnya adalah;

-       Aku lancer berbahasa inggris

-       Aku cukup bisa berkomunikasi dalam bahasa Jepang, meski masih harus terus belajar

-       Wawasanku cukup luas

-       Aku pandai berkomunikasi

-       Secara fisik dan psikis aku sehat wal afiat

-       Aku memiliki orang tua yang selalu mendukung dan mendoakanku

-       Aku memiliki rasa percaya diri yang tinggi saat berinteraksi dengan orang lain, sekalipun baru bertemu

-       Aku cepat belajar

-       Aku adalah orang yang open-minded

-       Aku suka bersinggungan dengan hal-hal baru

-       Aku memiliki keyakinan spiritual

-       Aku memiliki modal yang cukup untuk memulai sesuatu dari yang kecil

-       Aku memiliki aura ramah

Setidaknya, itu potensiku, yang bisa kukapitalisasi untuk mewujudkan mimpi.

Jadi, aku musti memulai dari mana?

Aku harus memulai dari hal yang paling terjangkau. Menjadi dropshipper atau reseller sepertinya akan menjadi kick-start yang bagus. Aku sudah memiliki beberapa jaringan supplier. Tinggal aktifkat starter enginenya. Tak perlu cepat-cepat menaikkan gigi, yang penting stabil percepatannya. Toh nanti juga akan melaju juga. Saat sudah melaju, tinggal menaikkan gigi sesuai dengan kemauanku.

Aku harus konsisten dalam menjalankan usaha dropship. Seperti apapun progress atas usaha yang kujalani, yang penting aku sudah berada pada right track. Aku harus terus konsisten menjalankan dropship hingga titik menghasilkan dan bisa berjalan secara autopilot. Apakah aku bisa? Aku yakin, atas izin Alloh SWT, aku BISA!!

 Setelah dropship berjalan, aku mencoba untuk merambah ke dunia ekspor dan impor. Dunia ekspor menjadi prioritasku, karena itu adalah impianku sejak lama. Ada kesempatan untuk itu. Aku harus memulainya dengan bergabung dengan kelompok belajar ekspor. Tentu aku harus mengeluarkan uang untuk bergabung dengan kelompok eksportir tersebut. Namun itu adalah investasi. Aku PASTI BISA!!!

Target awalku adalah berhasil mengekspor satu produk. Produk apapun itu, dan seberapa pun volumenya. Yang penting aku melakukan kick-start dengan sukses. Seterusnya, aku harus mulai menata bisnis eksporku. Semua harus berujung pada terwujudnya system yang autopilot. Bisnis berjalan, dan terus berkembang secara autopilot. AKU PASTI BISA!!!

Hasil yang kuraih, harus aku belanjakan dengan prioritas untuk kegiatan filantropi. Ini bukan supaya aku mendapatkan balasan atas amal baik ku kepada Alloh SWT, melainkan ini adalah wujud syukurku kepada Alloh SWT.

 Aku harus focus focus dan terus focus terhadap upayaku ini untuk menjadi digital nomad. Saat berhasil, ada keluarga yang harus aku cukupi kebutuhan-kebutuhannya. Ada kaum dhuafa yang harus aku bantu. Ada warga palestina yang harus aku santuni. ada ekonomi kerakyatan yang aku harus berkontribusi untuk mengembangkannya.

Alloh…hati dan pikiranku bergetar saat aku menulis ini. Terasa begitu nyata. Aku yakin ini adalah signal positif bahwa Alloh akan mewujudkannya untukku. Alloh SWT akan memudahkannya. Aku pendosa, namun Alloh SWT maha besar dan maha welas asih terhadap hambaNya. AKU BISA!!

Kamis, 18 Maret 2021

Fullday school: untuk apa?

 

www.nusantaranews.com


Sudah lama saya memiliki keinginan untuk menulis tentang Fullday-school. Namun baru kali ini kesampaian. Ide menulis topic ini muncul melalui ilham yang berasal dari aktivitas kuliah Master Degree yang saya jalani. Jurusan master of education yang saya ambil mengharuskan saya untuk membaca banyak artikel di berbagai jurnal yang terkait dengan pendidikan. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk memberikan kritik konstruktif terhadap pemerintah dalam membuat kebijakan fullday school. Mungkin kritikan ini akan sulit untuk sampai kepada para pembuat kebijakan dalam sector pendidikan di negeri ini. Namun, setidaknya ini adalah bentuk pertanggungjawaban moral saya untuk berkontribusi pemikiran sebagai insan yang terlibat dalam dunia pendidikan.

Mungkin ada banyak orang Indonesia yang bertanya-tanya, termasuk saya, tentang mengapa pemerintah mengeluarkan kebijakan adanya fullday school. Fullday school adalah kebijakan pemerintah yang memperpanjang jam sekolah. Adanya kebijakan fullday school tersebut membuat Indonesia menempati peringkat ke-empat dunia dalam hal durasi belajar di sekolah. Jam sekolah di Indonesia menjadi 1176 jam per tahun. Sebagai perbandingan, Fnlandia, Negara yang sering disebut memiliki system dan output pendidikan terbaik dunia hanya memiliki 717 jam sekolah per tahun. Sengaja saya sebutkan satu Negara pembanding, sebagai bahan untuk kita mengulas adakah korelasi antara durasi waktu belajar di sekolah dengan pencapaian prestasi siswa.

Pertanyaan pertama adalah kenapa pemerintah, dalam hal ini adalah menteri pendidikan dan kebudayaan, mengeluarkan kebijakan fullday school. Saya mencoba mencari berbagai literature untuk menemukan jawaban atas pertanyaan ini. Satu artikel menarik yang mengulas pertanyaan ini adalah yang diterbitkan oleh CNN Indonesia (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160808135054-20-149886/alasan-menteri-muhadjir-usulkan-full-day-school). Headline artikel tersebut adalah “alasan menteri Muhadjir usulkan full-day school”. Disebutkan bahwa tujuan Menteri Muhadjir membuat kebijakan tersebut adalah sebagaimana yang dia katakan sebagai berikut “

“Tujuannya membuat anak memiliki kegiatan di sekolah dibandingkan berada sendirian di rumah ketika orang tua mereka masih bekerja. "Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi 'liar' di luar sekolah ketika orang tua mereka masih belum pulang dari kerja. Dengan menambah waktu anak di sekolah, mereka bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah dan mengaji sampai dijemput orang tuanya usai jam kerja. Dan, anak-anak bisa pulang bersama-sama orang tua mereka, sehingga ketika berada di rumah, mereka tetap dalam pengawasan, khususnya orang tua”.

Dari alasan yang dikemukakan oleh Menteri Muhadjir tersebut bisa disimpulkan bahwa dasar atas kebijakan tersebut bukanlah soal pencapaian prestasi belajar siswa. Dasarnya adalah adanya pandangan bahwa anak yang pulang sekolah sementara orang tuanya tidak berada di rumah mempunyai potensi untuk tidak terurus dan cenderung liar. Harapannya, dengan adanya fullday school, anak masih berada di sekolah hingga orang tua mereka berada di rumah sepulang kerja. Alasan ini seperti menggeneralisir bahwa semua orang tua siswa di Indonesia adalah para pekerja regular sebagaimana pekerja kantoran yang berangkat pagi pulang sore. Padahal nyatanya tidak demikian. Banyak ibu rumah tangga yang selalu berada di rumah mengurusi urusan rumah.

Poin tujuan selanjutnya adalah bahwa fullday school ini diharapkan bisa memberikan kesempatan bagi sekolah untuk meningkatkan pendidikan karakter. Sekolah memang salah satu pilar penting atas terbentuknya karakter positif siswa. Namun, menambah jam belajar di sekolah dengan tujuan untuk meningkatkan pendidikan karakter di sekolah sebenarnya sangat debatable. Kita sepertinya sangat terbiasa dengan pilihan sikap yang quantity-oriented. Menganggap bahwa kuantitas berkorelasi positif dengan hasil yang baik. Apakah ada jaminan bahwa lamanya siswa belajar di sekolah membuat pendidikan karakter berjalan dengan maksimal? Jangan sampai kita lupa bahwa pendidikan pertama yang diterima oleh seorang anak berada di lingkungan keluarga. Dengan adanya fullday school, anak pulang skeolah dalam keadaan lelah. Tentu mereka membutuhkan waktu untuk istirahat karena banyaknya aktivitas selama di sekolah. Hal itu tentu mengurangi porsi pendidikan karakter yang terbangun di lingkungan keluarga. Padahal peran keluarga sangat penting dalam pendidikan karakter.

Lingkungan masyarakat juga berperan dan berkontribusi cukup signifikan dalam pendidikan karakter seorang individu. Anggapan bahwa anak yang pulang sekolah relative awal dan punya terlalu banyak waktu luang setelahnya akan cenderung liar adalah anggapan yang sepertinya terlalu menggeneralisir. Di antara anak-anak sekolah, ada yang melanjutkan kegiatan mengaji di sore hari di madrasah-madrasah. Di madrasahmadrasah tersebut ada muatan pendidikan karakter yang sangat kental. Adanya fullday school, kesempatan pendidikan karakter yang disuguhkan oleh madrasah-madrasah tereliminasi. Banyak juga anak sekolah yang memiliki kegiatan positif lainnya sepulang sekolah. Di desa-desa, banyak anak yang membantu orang tua mereka mencari rumput untuk ternak mereka. Ada juga yang mengikuti kegiatan les yang mengasah bakat dan minat. Mengetahui hal ini, sebenarnya apa referensi pemerintah, sehingga menyimpulkan bahwa anak sebaiknya pulang sore untuk menghindari hal yang tidak diinginkan? Ini pertanyaan yang semestinya dijawab oleh pembuat kebijakan.

Pemerintah memiliki otoritas untuk membuat kebijakan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Sudah selayaknya setiap kebijakan pemerintah diawali dengan kegiatan riset. Kebijakan-kebijakan yang dibuat tidak selayaknya dibuat hanya mengikuti pemikiran subjektif yang dimiliki oleh si pembuat kebijakan. Harus ada landasan ilmiah. Landasan ilmiah tersebut bisa didapatkan melalui riset. Adakah korelasi antara durasi waktu sekolah dengan prestasi siswa? Adakah korelasi antara durasi waktu seklah dengan terbentuknya karakter siswa? Dan sederet pertanyaan-pertanyaan lainya yang bisa dicari jawabannya melalui penelitian, sebagai dasar pembuatan kebijakan. Selain itu, penyelenggaraan pendidikan di Negara-negara maju juga selayaknya dijadikan sebagai bahan renungan. Mengapa FInlandia, Negara dengan jumlah jam belajar di sekolah relative sedikit, bisa meraih pencapaian yang besar dalam pendidikan. Apa variable-variable yang mempengaruhinya.

Mungkin fullday school layak diterapkan jika berbagai aspek penunjang wellbeing siswa dan tenaga pendidik terpenuhi. Siswa dan tenaga pendidik adalah manusia biasa yang memiliki siklus biologis. Ada moment semangat dan penuh energy, ada rasa lelah karena aktivitas, ada pula rasa ngantuk. Bayangkan, bagaimana rasanya menjalani kegiatan belajar di ruang kelas dengan berbagai aktivitas mendengarkan ceramah guru, mengerjakan tugas, dan berbagai aktivitas lainnya. Pendidik mungkin ada waktu jeda mengajar, sehingga bisa menyempatkan diri untuk rebahan beberapa menit atau jam. Apakah siswa memiliki kesempatan yang sama? Nyatanya tidak. Padahal tidur siang adalah hal yang secara ilmiah berpengaruh positif terhadap individu. Sebagaimana tidur siang bisa membantu menyegarkan pikiran, memacu kreativitas, meningkatkan kecerdasan, dan membuat hidup lebih sehat (Nishida, 2007). Pendidik yang kreatif mungkin bisa menghadirkan proses pembelajaran yang menarik dan engaging. Namun rasa lelah karena seharian belajar tentu tetap akan berpengaruh terhadap sikp siswa terhadap pembelajaran yang berlangsung. Sebagaimana yang disampaikan oleh Townsend (2016);

“ A lesson which is not present in ways that are stimulating might soon find students becoming what Barber ( 1996 ) called the “disappointed,” the “disaffected,” and the “disappeared.”

Artikel ini bukan untuk menyatakan persetujuan atau ketidaksetujuan pemerintah dalam membuat kebijakan fullday school. Namun ini adalah kritik agar pemerintah melandasi kebijakannya dengan riset ilmiah, bukan melalui pemikiran subjektif yang diamini oleh orang-orang yang terlibat di dalam rapat perumusan kebijakan. Jika memang riset menunjukkan adanya korelasi positif antara durasi belajar siswa di sekolah dengan pencapaian prestasi secara khusus, serta pencapaian tujuan pendidikan secara umum, maka layaklah kebijakan tersebut dirumuskan dan diterapkan.

 

Referensi

 

Nishida, M., & Walker, M. (2007). Daytime naps, motor memory consolidation and regionally specific sleep spindles. PloS One, 2(4), e341–e341. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0000341

Townsend T. (2016) Leading Schools in the Twenty-First Century: Careful Driving in the Fast Lane. In: Johnson G., Dempster N. (eds) Leadership in Diverse Learning Contexts. Studies in Educational Leadership, vol 22. Springer, Cham

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160808135054-20-149886/alasan-menteri-muhadjir-usulkan-full-day-school).

Minggu, 14 Februari 2021

Optimism is contagious

Picture: www.tacadallas.com

Kamu tau ndak, bergaul dengan orang optimis membuat kita tertular optimisme lho. Begitu pun bergaul dengan orang yang pesimis, kita bisa tertular pesimisme kalo kita tidak memiliki control diri yang kuat. Orang-orang yang optimis mampu menebarkan energy yang kuat, sehingga orang-orang yang ada di sekitar mereka juga menjadi optimis. Jika kamu ingin jadi orang yang selalu optimis, maka bergaullah dengan orang-orang yang optimis pula. 

Mungkin kamu bertanya, apakah sikap optimis adalah sebuah karakter bawaan. Jawabannya adalah, ternyata, sikap optimis merupakan akibat dari beberapa factor. Factor yang pertama adalah lingkungan pergaulan. Orang menjadi terbiasa bersikap optimis ketika dia selalu berada di lingkungan orang-orang yang optimis. Yang kedua, banyak orang yang bersikap optimis yang meyakini akan adanya kekuatan pada self-talk positif. Saat menghadapi masalah atau tantangan besar, tentu ada godaan untuk pikiran kita meyakini bahwa kita akan gagal. Namun, orang optimis meyakini bahwa pikiran adalah penarik dari kenyataan. Apa pun yang dipersepsikan, baik itu positif maupun negative, akan mewujud menjadi nyata. Seperti itulah hokum ketertarikan, atau law of attraction bekerja. 

Kesimpulannya, sikap optimis bukan lah bawaan. Ia adalah sikap yang terbentuk dari kebiasaan orang yang suka bergaul dengan orang-orang optimis, dan ia juga terbentuk dari kesadaran tentang hikum ketertarikan. Jika sudah menyadari akan kekuatan Law of Attraction, maka kamu akan memilih untuk selalu optimis, meyakini bahwa apapun yang ingin kamu wujudkan pasti terwujud, dengan kuasa Tuhan tentunya.