Sabtu, 07 Maret 2026

Waktu Lebih Berharga dari Uang

 


Betapa waktu adalah lebih bear nilainya dari uang. bukan sekedar “uang bia dicari, namun waktu tidak bisa kembali”, melainkan juga uang seharusnya ditempatkan di bawah waktu. Bukan waktu ditukarkan dengan uang, melainkan uang yang harusnya ditukarkan dengan waktu. Beda!

Aku baru menyadari makna hakiki dari waktu lebih berharga dari uang, setelah merenungi beberapa pengalmaan hidup. Banyak hal yang telah aku lewatkan, karena kurang bijaknya (kurang tepat) aku memperlakukan uang dan waktu.

Aku berandai-andai.

Pertama, andai pada tahun 2018 aku bersedia mengambil kursus berbayar senilai tiga juta rupiah untuk pendalaman Facebook dan Instagram Ads, mungkin aku sudah termasuk jajaran orang yang berhasil meraih momentum keberhasilan dari boomingnya Facebook dan Instagram Ads pada waktu itu.

Sayangnya waktu itu aku merasa eman-eman untuk menginvestasikannya ke dalam kursus tersebut. berpikir dan berharap bahwa belajar secara mandiri di platfor gratis seperti Youtube bisa membuatku menguasai hal yang berbayar tersebut, dengan kualitas kedalaman pemahaman yang sama. Ternyata aku salah arah, dan gagal meraih momentum tersebut.

Kedua, andai dua tahun lalu aku bersedia membayar jasa pembuatan web yang nilainya tidak lebih dari 10 juta itu, mungkin aku sekarang sudah menikmati hasilnya, dan focus mengembangkan Search Engine Optimization (SEO) website yang aku punya. Alih-alih mengambil opsi tersebut, aku memutuskan untuk mengambil kursus website development, dan berharap bisa membuat website sendiri. Bukan belajar membuat website nya yang keliru, bahkan itu penting. Masalahnya, aku tidak kerja secara tuntas. Menyewa jasa pembuatan website tidak aku lakukan, sementara skill membuat website ku tak kunjung mencapai level sempurna, karena aku terlalu banyak larut dalam berbagai distraksi.

Andai website ku sudah terbangun dua tahun lalu, semestinya bisnis ekspor vanili ku sudah jauh berkembang melebihi sekarang, dengan buyer loyal dari berbagai negara. Bahkan bukan tidka mungkin aku sudah mendapatkan Purchase Order (PO) rutin dari buyer tertentu dengan nilai per tahun puluhan milyar rupiah.

Ketiga, andai di tahun 2022 aku mau mengambil kursus pengembangan channel Youtube yang nilainya belaan juta rupiah itu, mungkin sekarang aku sedang menikmati financial and willing freedom. Tak perlu terjebak dalam rutinitas mengikat seperti yang aku alami sekarang. Kegiatanku udah semetinya seputar making money a lot, travelling, invetasi akhirat, ibadah secara rutin, dan menjalani hidup secara lebih fulfilling sebagaimana yang aku inginkan.

Keempat, andai tahun lalu akum au menukarkan uangku untuk upgrade akun Alibaba dan invest di KWA, mungkin aku sudah dapatkan buyer lebih dengan nilai transaksi milyaran rupiah tiap bulannya. Kalo untuk urusan ini, aku tidak sepenuhnya menyalahkan diri sendiri, karena memang keputusan untuk spending money di dua hal tersebut ditentukan bukan hanya oleh diriku, melinkan juga oleh partner bisnisku.

Banyak momentum yang aku lewatkan, hanya karena aku menempatkan uang di atas waktu, bukan sebaliknya.

Aku belajar dari pengalaman-pengalaman ini.

Insya Alloh aku akan lebih baik lagi.

Anyway, aku maish berterimakasih pada diri sendiri dan bangga pada diri sendiri.

Setidaknya, aku sudah mengambil langkah yang tepat terjun di bisnis ekspor.

Semoga pengiriman cocofiber perdanaku ke China ini lancar, buyer benar-benar loyal, dan pengiriman cocofiber ini terus berkembang.

Semoga orderan Vanili dari Yon Guk Chu makin banyak. Aku sih mampu untuk  memenuhi PO setidaknya 2 ton vanili per bulan.

Semoga aku lekas membuat perusahaan ekspor komoditas perikanan dan berhasil.

Semoga ini semua menjadi jalan amal jariahku, sehingga aku yang penuh dosa ini layak menjadi hambaNya yang meraih tempat special di sisiNya kelak di akhirat.

Amiin amiin Yaa Robal Alamiin!

Kamis, 06 November 2025

Takeaways from 2.5-mios Seminar


Pertama, berkaitan dengan how to do networking

Kunci sukses finansial berkelimpahan adalah memiliki Personal Board of Advisors. Dalam buku Think and Grow Rich, ada istilah Masterminds, yang artinya adalah orang-orang yang kita percaya sebagai The Gurus bagi bisnis dan pengembangan kualitas hidup kita. The thing is, para guru biasanya meurpakan orang sukses luar biasa yang level kesuksesannya jauh di atas orang yang sedang menjalani proses untuk sukses, kita sebut “Pemanjat”. Sementara, manusia cenderung lebih nyaman untuk berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki level yang sama dalam hal kesuksesan dan frekuensi. Orang dengan keberlimpahan besar cederung hanya mau berada di circle yang isinya orang-orang yang setara. Lantas, bagaimana caranya si Pemanjat bisa masuk ke circle Masterminds? Bagaimana caranya para masterminds bersedia untuk membantu para Pemanjat supaya naik level?

Ini pertanyaan yang seringkali muncul. Jawaban yang diutarakan oleh Satia Pradana begitu menarik dan insightful. Caranya adalah, dengan membantu para Masterminds dalam hal yang mereka butuh bantuan tanpa mengharapkan balasan. Berikan bantuan tersebut setidaknya 8-11 kali, sukur-sukur lebih dari itu. Ketika para Pemanjat memberikan bantuan kepada para Masterminds, maka mereka akan mendapatkan perhatian dari Masterminds. Di titik tertentu pasti ada terbersit pikiran pada Masterminds kenapa si Pemanjat memberi bantuan secara terus menerus tanpa meminta imbal jasa.

Manusia memiliki naluri untuk memberikan balasan atas kebaikan-kebaikan yang mereka dapatkan dari orang lain. Dalam situasi seperti itu, para Mastermins pada akhirnya akan membuka akses kepada si Pemanjat, bahkan akan menawarkan bantuan kepada si Pemanjat terkait apa yang sedang menjadi hajat atau problem mereka. Pertanyaan lainnya adalah “apakah para Masterminds mampu memberikan bantuan tersebut kepada si Pemanjat?” jawabannya adalah, jika konteks bantuan tersebut berkaitan dengan finansial keberlimpahan, maka hal tersebut sangatlah mudah bagi para Masterminds. Contohnya, uang 5 milyar untuk modal usaha mungkin terkesan besar bagi si pemanjat. Namun bagi para masterminds, jumlah tersebut bisa dianggap nampak sangat kecil.

Bantuan memang tidak selalu berkaitan dengan uang. Bisa berupa ide menjalankan usaha dengan gemilang, atau kemudahan dalam memproses urusan-urusan birokratis. Yang jelas, para masterminds akan tergugah untuk memberikan imbal bantuan kepada si Pemanjat, setelah si Pemanjat memberikan bantuan secara berulang-ulang.

 

Kedua, konsep GOAL yang komprehensif

Ketika kita berbicara GOAL kesuksesan, hal yang seringkali dikaitkan adalah Goal finansial. Tidak salah memang ketika menetapkan tujuan finiansial sebagai sebuah Goal. Ketika berbicara tentang resolusi awal tahun, hal yang sering muncul adalah ketercapaian target finansial tertentu. Ternyata, Goal yang semestinya ditargetkan manusia semestinya setidaknya ada 8 macam. Goal tersebut mencakup:

-          Finansial

-          Family and friends

-          Love and romance

-          Personal growth/development

-          Health

-          Social contribution

-          Self-reward and recreation/happiness

-          Spiritual


Kedelapan goal tersebut semestinya dicapai dan doupayakan dengan porsi yang seimbang. Banyak orang yang mencapai goal finansial, namun lemah dalam aspek-aspek lainnya. Akibatnya, mereka tidak benar-benar merasakan kebahagiaan secara hakiki. Kedelapan goal tersebut harus diuopayakan secara seimbang. Dengan demikian, kesempurnaan hidup tercipta dan terasa. Ini mind-blowing banget sih.

 

Ketiga, tentang kapasitas dan self-identity

Jika kamu diberi uang 1 Triliun, untuk apa aja uang terebut akan kau gunakan?

Tidak emua orang mampu menjawabnya dengan mudah. Ada yang pasti bingung. Ada yang mampu menjelakannya dengan gamblang. Kemampuan menjawab pertanyaan sederhana tersebut menunjukkan kapasitas. Orang dengan kapasitas besar akan mampu mendayagunakan uang tersebut untuk kemaslahatan orang banyak. Sementara, orang yang kapasitasnya kecil akan kebingungan untuk apa uang tersebut digunakan.

Lantas, bagaimana cara meningkatkan kapasitas? Caranya adalah meningkatkan skill/kompetensi setinggi-tingginya dalam bidang-bidang tertentu, melakukan berbagai upaya kontribusi social yang besar volumenya, networking dengan para masterminds, personal branding yang maksimal, personal and professional development yang maksimal, serta pengalaman banyak yang menumbuhkan.

Konon, anak milyarder yang bangkrut akan mampu bangkit menjadi milyarder lagi dalam waktu yang relative lebih singkat ketimbang mereka yang tidka memiliki background hidup di lingkungan milyarder. Kenapa bisa demikian? Bukan semata soal DNA sukses, melainkan karena IDENTITY yang ada pada diri mereka. Mereka memiliki self-esteem yang sangat bagus, bahwa mereka adalah milyarder, bahwa mereka dilahirkan sebagai milyarder dan ditakdirkan sebagai milyarder, seperti apapun itu situasi yang sedang dihadapi.

 

Keempat, meningkatkan POWER dan menurunkan atau mengikis FORCE

 


 

Kelima, the miracle of water and positive talks

Dr Masaru Emoto adalah seorang ilmuwan penemu konep Keajaiban Air (the miracle of water). Dalam penelitiannya, dia melakukan uji coba terhadap dua gelas air. Satu gelas air pertama diberi kata-kata negative seperti emosi negative, umpatan, den segala hal negative lainnya. Sementara, air di gelas yang kedua dibeir kata-kata positif. Keduanya dilakukan di tempat yang terpisah dna dalam range waktu tertentu. Hasilnya, air yang diberi kata-kata negatif berubah bentuk menjadi buruk. Saat dilihat dengan alat mikroskop ultra-sensitive, air tersebut nampak beurpa kristal yang bentuknya sangat buruk tak berpola. Sementara, air yang diberi kata-kata positif nampak berbentuk kristal yang indah dan berpola.

Lantas, apa makna yang tersirat dari hasil penelitian tersebut? kita musti ingat bahwa tubuh kita sebagian besar terkonstruksi dari air. Penting untuk kita mengulang-ulang afirmasi positif, self-talk positif, dan kata-kata positif. Segala hal yang kita ucpakan, yang kita rasakan, dna yang kita pikirkan harus positif. Bayangkan air yang ada di dalam tubuh kita berubah wujudnya menjadi kristal positif. Maka dampaknya pasti akan jelas positifnya bagi hidup kita.

 

Keenam, Si Nahkoda dan Si Monyet Pengganggu

Manuia seringkali membuat resolusi, atau mengupayakan hal-hal yang prioritas dalam hidup. Namun, semua prioritas tersebut nampak pudar ketika si monyet pengganggu dating. Ap aitu monyet pengganggu? Monyet pengganggu adalah segala hal yang mendistraksi focus kita dalam mengupayakan tercapainya hal-hal besar.

Misalnya, kita sedang berfokus untuk belajar tentang bagaimana mengedit video. Kita belajar dari youtube. Di beranda kita nampak ada banyak vide-vide menarik yang nampak penting untuk kita tonton. Lalu, kita benar-benar terdistraksi untuk menonton video-video tersebut yang sbeenarnya bukan focus kita. Itulah yan disebut sebagai Monyet Pengganggu.

Contoh lain adalah seseorang yang menjalani proses untuk berwirausaha. Seharusnya, yang diafokuskan adalah meningkatkan kapasitas dna kompetensi untuk menjadi wirausahawan. Namun, godaan dating melalui tawaran kerja dengan gaji yang menggiurkan. Atau ada pekerjaan yang nampak baik jika dilakukan, seperti menjadi seorang pengajar/pendidik. Sebenarnya tidka ada yang salah dengan pekerjaan-pekerjaan tersebut. namun, ketika focus kita adalah menjadi soerng pebisnis sukses, maka pekerjaan-pekerjaan lain tersebut adlaah si monyet pengganggu.

Kenapa monyet pengganggu seringkali mampu mendistraksi focus kita? Jawabannya adalah karena Monyet Pengganggu seringkali berupa hal-hal yang nampak penting. Karena dianggap penting, lalu kita berpikir hal tersebut layak untuk kita beir porsi perhatian.

Monyet pengganggu juga bisa berupa hal-hal yang memberikan kepuasan sesaat. Beurpa entertainment. Entertainment memang penting, namun ketika dilakukan di saat kita seharusnya berfokus pada halpenting yang kita ingin gapai, maka hal terebut merupakan distraksi. Dalam hal ini, entertainment masuk kategori si Monyet Pengganggu.

Cara mengenyahkan si Monyet Pengganggu adalah dengan menetapkan DEADLINE!

 

Ketujuh, the importance of determination in selling



Tau kenapa ada seorang sales yang terus menghubungi kita? Jawabannya adalah karena mereka mengetahui statistic ini. Bahwa, 80% penjualan umumnya terjadi di kontak yang ke lima hingga dua belas. Statistic ini ilmiah. Tidak direka-reka. Benar-benar berdasarkan riset. Jadi, jika kamu punya database calon customer, maka kontak mereka berkali-kali hingga terjadi sales. Tentu dibutuhkan jeda dalam  menghubungi calon customer, dan ini yang belum ada penelitian ilmihanya. Atau sudah ada, namun aku belum tau.


Kedelapan, building rapport

Tau bagaimana membangun kenyamanan dalam berhubungan atau berkomunikasi dengan seseorang? Caranya adalah dengan menyamakan bodylanguage mereka ketika sedang berbicara empat mata.

 

Senin, 25 Agustus 2025

Nasihat Bisnis yang Realistis untuk Diri Sendiri

 

"From Vanilla, to Jannah"

Setelah sekian lama mengeksplorasi berbagai peluang, tiba saatnya untuk focus. Dari sekian banyak produk potensial yang cuan besar, ada satu yang benar-benar harus difokuskan untuk menjadi fundamental ekspor. Produk tersebut adalah vanili. Bukan karena produk lain tidak layak untuk diboosting, melainkan profit margin vanili yang bener-bener terasa worth every single drop of tear.

Berkaca pada pola bisnis yang dijalani Bu Aini, maka berikut ini langkah-langkah yang harus aku ambil:

Pertama, membuat marketing kits yang proper. Website khusus yang SEO friendly (and I gotta invest on it), yang dikerjakan oleh professional. Jangan berpikir bahwa karena kamu bisa maka kamu perlu membuatnya sendiri. Hey, kamu sudah bisa, namun untuk grow bisnis secara eksponensial, bukan one man show seperti itu caranya. Penumbuhan bisnis harus mendayagunakan kolaboras, memanfaatkan power orang lain. Dengan begitu, kamu bisa stay strong dan tidak mudah burnout.

Masih seputar marketing kits, kembangkan Instagram, Facebook dan Youtube yang mengulas bisnis vanilla yang kamu jalani. Upaya ini akan memperkuat company brandingmu. Ingat, sekarang kita masuk era marketing 4.0, dimana hal yang menjadi senjata utama marketing bukan lagi penonjolan pada produk, melainkan kemampuan kita mempengaruhi emosi customer.

Di jaman sekarang, persepsi akan kualitas itu jauh lebih penting daripada kualitas itu sendiri. Terdengar miris, namun seperti itu lah fakta yang ada di alam post-truth seperti sekarang ini. Oleh karena itu, kembangkan persepsi positif tentang kamu, produk kamu, dan company kamu.

Kedua, menjelajah lah. Sudah tiba saatnya untuk mu bergerilya ke berbagai penjuru dunia untuk menemukan loyal buyer. Dapatkan buyer partai besar sebanyak mungkin. Dapatkan trust dari mereka. Kamu bisa melakukan pencarian dengan cara mengikuti berbagai pameran, meinta tolong berbagai ITPC dan atase perdagangan di semua negara, berkunjung ke sentra-sentra market vanilli dunia. Ada ratusan negara di dunia ini. Jika kamu mendapatkan 20 saja client besar buyer vanilli dari masing-masing 20 negara, maka kamu sudah memiliki bisnis yang cukup bisa diandalkan sebagai fondasi untuk merambah ke bisnis lainnya.

Katakanlah satu company order ruti 1 ton setiap bulan, maka kamu hanya harus menyediakan 20 ton setiap bulan. Dari situ saja kamu sudah bisa mendapatkan profit margin bersih sekitar 5-8 milyar. Ambil profit tidka usah banyak-banyak, asalkan orang trust padamu. Dengan penghasilan bersih tersebut, kamu bisa kembangkan berbagai usaha pemberdayaan lingkungan masyarakan tempat tinggalmu. Kamu bisa mengembangkan Yayasan, Lembaga Pendidikan, beasiswa, pemberdayaan masyarakat dalam bidang ekonomi, dan lainnya. Pokoknya uang segitu bisa menjadi titik start untuk kamu melakoni peran penting di lingkungan tempat tinggalmu, yang membuatmu menjadi pribadi yang bermakna.

Ketiga, kembangkan produk. Kembangkan produk hingga bisa dipakai langsung oleh end user. Kamu harus bisa membuat ekstraksi produk. Setelah berhasil membuat ekstraksi, maka upayakan sertifikasi. Lengkapi segala prasyarat untuk bisa menembus pasar-basar besar, menjangkau market yang lebih luas. Jika sudah dalam bentuk olahan, maka kamu bisa menentukan harga sesukamu. Dan lebih menariknya, kamu bisa menargetkan end user.

Keempat, kembangkan kelompok tani vanili dan bentuk asosiasi. Bentuk kelompok tani Vanili di berbagai tempat. Berikan mereka edukasi yang cukup. Rekrut mereka dalam jaringan kelompok tani vanili. Gunakan konsep yang dipakai oleh Anomali Kopi. Mereka menjadi pengontrol sekaligus market leader di dunia perkopian. Lakukan kurasi di berbagai daerah untuk para petani vanili. Jika belum ada asosiasi, maka bentuklah asosiasi tersebut. jika sudah ada, maka buatlah asosiasi yang berkali-lipat lebih besar dari yang sudah ada, dimana dirimu adalah ketuanya. Kamu memiliki what it takes to be the leader, dengan segala pengalaman dan kompetensi yang kamu miliki.

Kelima, teruslah kembangkan vanili hingga kamu menjadi market leader di Indonesia. Tumbuh-kembangkan personal dan company branding. 5 tahun lagi, kamu adalah leader di Indonesia untuk dunia komoditas Vanili.

Keenam, berinvestasilah sebanyak-banyaknya untuk akhiratmu. Kamu tau apa yang harus kamu lakukan terkait ini.

The power of Vanilla beans. From Vanilla to Jannah.

Bismillah...

Amiin...

Jumat, 09 Mei 2025

Berkomunitas: Leverage keberhasilan hidup

 

Kita harus memiliki leverage untuk bisa menjadi seorang pribadi yang sukses, berpengaruh, dan bersumberdaya besar. leverage tersebut berupa berbagai komunitas yang kita ikuti. Andai harus memulai dari nol, komunitas apa saja yang layak untuk kita bergabung supaya kita menjadi pribadi yang didambakan tersebut?

Toastmaster club

Ini adalah sebuah komunitas yang berisi orang-orang yang memiliki tujuan untuk mengasah kemampuan komunikasi. Communicative skill sangatlah penting dalma hidup ini. Ia menjadi salah satu pendukung hubungan interaksi yang harmonis, sarana menjelaskan gagasan dan meyakinkan serta mempengaruhi orang lain. Terlepas berapapun usia kita, ini adalah sebuah komunitas yang sangat layak untuk kita masuki.

Komunitas bisnis

Bergabung ke dalam berbagai komunitas bisnis bukan sekedar penting demi mendapatkan ilmu bisnis, melainkan juga penting demi luasnya networking, diraihnya energi positif, terjaganya mindset positif, kuatnya afirmasi positif, dan pada akhirnya terpupuknya energi keberhasilan. Manusia adalah energi. Sekumpulan manusia positif akan menularkan energi positif. Komunitas bisnis pada umumnya berisi orang-orang yang memiliki energi positif untuk tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, bergabunglah dalam komunitas bisnis.

Untuk bisa bergabung ke dalam berbagai komiunitas bisnis, dibutuhkan mata uang. lantas, apa saja mata uang yang dimaksud? Diantaranya adalah skillset yang kita miliki. Dengan adanya skillset, maka rasa percaya diri kita tumbuh. Skillset yang dimaksud bisa berupa kemampuan berkomunikasi, kemampuan marketing, problem-solving, negosiasi, dan berbagai kemampuan lain yang memiliki value tinggi.

Selain skillset, kita juga perlu memiliki portofolio yang bagus. Pengalaman yang banyak dan layak dishare kepada orang lain akan membuat kita bernilai dan dipandang berharga untuk berada di tengah-tengah berbagai komunitas tersebut. namun bagaimana jika kita adalah pemula yang masih sedikit pengalamannya? Kembali ke poin pertama, yaitu milikilah skillset. Setidaknya, itu adalah yang akan membuat kita memiliki rasa percaya diri.

Mata uang selanjutnya adalah karakter. Jadilah pribadi yang membuat orang nyaman, tanpa merasa terintimidasi oleh kehadiran kita. Menjadi pribadi yang jujur berintegritas, hangat, pendengar yang baik, toleran namun bukan people-pleaser, dan memiliki visual serta vocal image yang bagus. Itu adalah mata uang yang sangat berharga.

Komunitas khusus

Yang dimaksud dengan komunitas khusus adalah yang terkait dengan apa yang kita geluti. Kita menggeluti bisnis ekspor, ya kita bergabung kedalam berbagai komunitas ekspor, baik di dalam dunia maya maupun nyata. Kita menggeluti bisnis yang berkaitan dengan dunia digital, maka kita bergabung ke dalam berbagai komunitas terkait. Kita menekuni bisnis tour and travel, maka kita bergabung ke dalam komunitas terkait. Kita menekuni bisnis di berbagai marketplace atau media social, maka gabunglah ke dalam komunitas yang isinya para praktisi marketplace dan medsos.

Komunitas hobi

Ini tidak ada kaitannya dengan orientasi making money, namun hidup butuh keseimbangan. Oleh karena itu, kita perlu memiliki komunitas hobi. Jangan Cuma satu hobi, namun yang banyak.

Komunitas ibadah dan filantropis

Ini juga merupakan komunitas yang bisa menjaga keseimbangan hidup. Hidup sejatinya adalah tentang penghambaan diri terhadap sang Pencipta. Bergabung ke dalam komunitas ibadah akan menjaga focus kita, dan mencegah kita dari misorientasi hidup. Kita butuh mengabdi kepada Alloh SWT. Kita butuh memberikan kontribusi kepada lingkungan sekitar.

Selasa, 29 April 2025

The Vibe is Real: Me in the near future

Aku nulis ini sambil nangis. Bukan nangis sedih, melainkan nangis karena merasa ada getaran bahwa cita-cita besar ku akan lekas terwujud. Cita-cita seperti apa?

Seperti ini…

Bulan ini aku ke Belanda, Jerman dan Prancis untuk jalin komunikasi dengan para potential buyers. Bulan depan aku ke Nigeria, Kenya dan Afrika Selatan untuk komunikasi serta negosiasi dengan potential buyers di sana. Bulan depannya lagi eksplor Indonesia bagian Timur untuk perkuat soliditas dengan para supplier. Bulan depannya aku ke Amerika untuk ikuti pameran dagang dan jalin relasi dengan para potential buyers dari Amerika, sekaligus mengurus sertifikasi ekspor ke Amerika. Bulan depannya lagi aku Umroh sekaligus jalani business trip ke beberapa negara Timur Tengah.

Bulan berikutnya aku ke China mengunjungi pusat-pusat perdagangan. Kunjungi pameran, eksplorasi wisata, dan kunjungan ke kantor ITPC.

Tim ku solid. Manajemen bekerja efektif. Tim product quality control dan logistics selalu ready dan bekerja secara professional. Tim administrasi dagang bekerja professional. Setiap lini bekerja secara autopilot dan tersambung dalam jalinan koordinasi yang rapi.

Oiya, akhirnya aku jadi dosen Alibaba. Kerjaanku memberikan coaching kepada pelaku bisnis pengguna Alibaba dari berbagai negara untuk making money dari Alibaba. Aku juga jadi coach yang di-hire oleh kementerian perdagangan untuk memberikan pendampingan bagi para UMKM dan pebisnis yang ingin melakukan scale up serta ekspansi market ke negara luar.

Aku jalani umroh satu kali setiap 4 bulan. Dari situ, nampak makin luas berbagai peluang fortune-making business yang aku bisa garap. Lingkungan tempat tinggalku mendapatkan manfaat besar dari keberadaanku. Aku berikan coach gratis bagi para pemuda produktif. Aku kasi mereka permodalan, bagi yang memenuhi syarat.

Aku berdampak. Aku Bahagia. Aku kuat. Aku menjadi manfaat. Aku menjadi sebab bahagianya orang-orang di sekitarku. Aku hebat. Aku masuk surga. Insya Alloh. Amiin…


Minggu, 09 Februari 2025

ASN, Passion dan Pilihan Hidup

 

Seorang rekan kerja memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai ASN. Cerita serupa juga aku dapatkan dari berbagai media, tentang banyak orang yang memutuskan untuk keluar dari kenyamanan sebagai pegawai negeri. Beragama alasan yang menjadi landasan atas keputusan mereka. Namun, di negeri dimana mendapatkan pekerjaan tetap adalah hal yang sangat sulit, cerita tentang orang keluar dari pekerjaan tetap seringkali memamcing diskusi dan perhatian.

Bulan lalu, viral sebuah berita tentang seorang influencer dengan konten Pendidikan yang memutuskan untuk keluar dari pekerjaan sebagai ASN. Konon, alasannya adalah karena lingkungan yang toxic. Belakangan netizen banyak yang mengemukakan asumsi mereka bahwa alasan utamanya sebenarnya adalah karena penghasilan sebagai influencer/creator konten jauh lebih menjanjikan ketimbang jadi seorang ASN.  

Kembali ke kisah tentang rekan kerjaku. Dia adalah ibu muda yang sedang menghadapi ujian berupa anaknya yang sering sakit-sakitan. Berkali-kali anaknya harus dirawat di rumah sakit. Tentunya hal tersebut membutuhkan biaya yang relative tidak sedikit. Selain itu, rutinitasnya sebagai seorang pengajar yang harus mengajar di tempat jauh dengan perjalanan kurang lebih satu jam cukup terasa memberatkan. Ada perasaan dilematis. Di satu sisi dia harus mengurus anak orang lain. Di sisi lain, anaknya sendiri jadi kurang mendapatkan perhatian. Padahal, ia sedang sakit dan membutuhkan perhatian lebih. Keputusan yang dipandang terbaik olehnya yaitu resign dari ASN dan focus mengurus anak. Demikian hal yang akhirnya dia putuskan.

ASN, sebagaimana pekerjaan lain yang membuat orang terikat secara waktu dan fisik, merupakan rutinitas yang memiliki dua sisi sekaligus. Ia didambakan oleh sebagian orang, karena dinilai menjamin kestabilan, kemapanan, kenyamanan, dan memberikan kepastian masa depan, terutama ketika suda memasuki masa pension. Seringkali menjenuhkan memang, namun hal tersebut dinilai worth it bagi sebagian orang. Sementara, di sisi lain, ia laksana sebuah penjara, yang membelenggu seseorang untuk berkarya dan mendayagunakan segala kreativitas dan kapabilitasnya. Adalah fakta bahwa dalam dunia ASN, kreativitas kita tidak akan terasa menjadi pembeda. Mau sekreatif apapun, se-dedikatif apapun, dan se-hebat apapun kamu bekerja, reward yang kamu dapatkan tak akan berubah selain yang sudah menjadi ketentuan/aturan, dimana gaji ditentukan oleh golongan dan masa kerja, bukan atas dasar meritokrasi atau performa kinerja.

Bagi orang-orang yang merasa memiliki kemampuan lebih untuk berkarya, menjadi ASN tentu akan terasa sebagai sebuah belenggu, atau penjara. Perasaan terpenjara tersebut tidak lantas serta-merta membuat para ASN beranimengambil keputusan untuk keluar dari posisinya sebagai ASN. Ada banyak hal yang dipertimbangkan. Diantaranya adalah pikiran bahwa tidak adan jaminan hidup lebih baik ketika resign. Ada pula yang berusaha menata hidup terlebih dahulu agar kelak siap dengan resiko yang harus diambil ketika resign dari kemapanan.

Menjadi ASN dan segala pekerjaan nine-to-five lainnya adalah laksana menonton film yang alurnya sudah kita pahami dengan pasti. Tentu tak menarik rasanya untuk menonton film yang alur ceritanya sudah jelas dan mudah ditebak. Sejatinya, manusia adalah makhluk yang menyukai kejutan, menyukai hal-hal baru dan pengalaman-pengalaman baru. Maka kemonotonan sejatinya tidak mendapat ruang di hati setiap insan. Hanya saja, kadang tidak adanya pilihan lah yang membuat orang bertahan dalam kemonotonan.

Lalu, bagaimana pandangan dan sikapku atas profesi ASN yang sudah lama aku jalani ini? Yang jelas, aku memiliki perasaan yang sama tentang kejenuhan, kebutuhan untuk terus berkembang, dan keinginan untuk memiliki warna indah dalam hidup. Aku merasa perlu kiranya aku suatu saat bisa terbang bebas mengepakkan sayapku kemanapun aku berkehendak. Aku ingin merasakan petualangan-petualangan baru, pengalaman-pengalaman baru, pencapaian-pencapaian baru, yang kesemuanya itu membuat hidupku terasa lebih hidup.

Aku sedang berada pada jalur yang tepat. Insya Alloh tak lama lagi, I can walk on my path, passion, and inner call. Dahlannomad Nomaddahlan.

Terbang bebas bagai Falcon.

Minggu, 26 Januari 2025

Siapakah Kamu 3 Tahun lagi?

 


Kamu adalah eksportir sukses.

Kamu adalah Alibaba lecturer.

Kamu adalah coach tentang ekspor yang di-hire oleh Disperindag untuk mengisi berbagai pelatihan ekspor di berbagai penjuru tanah air.

Kamu adalah importir sukses.

Kamu adalah filantropis yang berdampak besar.

Kamu adalah online course businessman (IELTS, TOEFL, English for WHV, Alibaba seller course).

Kamu adalah traveller. 

Kamu adalah writer of inspiring books (will it be still relevant to write books in that day?)

Kamu adalah storyteller.

Kamu adalah pemilik biro perjalanan haji dan umroh.

Kamu adalah digital nomad dan petualang. 

Kamu adalah seorang suami sekaligus ayah.

Kamu adalah pewujud segala mimpi-mimpimu.

Insya Alloh…Panjang umur dan sehat jasmani rohani.


Rabu, 11 Desember 2024

What a Privilege to meet Judy Ke, an Alibaba Lecturer from China!

 




Kemarin persis, aku mendapatkan undangan special dari Alibaba. Sebuah acara yang menurutku sangat bermanfaat. Betapa tidak? Acara tersebut berisi success sharing dengan menghadirkan Alibaba Lecturer langsung dari China. Tidak banyak yang mendapatkan kesempatan tersebut. Konon, hanya beberapa company, baik yang baru maupun yang sudah lama, yang diberi privilege untuk menghadiri acara tersebut. Acara berlangsung selama sehari penuh, namun isinya daging semua.

Jumlah total peserta ada sekitar 20 orang, yang mewakili company masing-masing. Somehow, most of them bergerak dalam bisnis furniture. Hanya beberapa yang menggeluti sektor lain, termasuk aku yang focus pada produk agriculture.

Namanya adalah Judy Ke. Seorang wanita enerjik yang dihadirkan sebagai pemateri. Beliau berkewarganegaraan China, namun lama menetap di Eropa dan Kanada. Latar belakang pendidikannya adalah Bachelor Degree in Marketing and management di Ohio State University, Amerika Serikat. Saat ini, beliau sedang menjalankan 7 perusahaan. I was in a big awe of her. Terpikir olehku, bagaimana seorang wanita bisa sebegitu produktifnya, hingga mampu menggerakkan berbagai perusahaan yang semuanya sukses. Revenuenya dari perusahaan tersebut per tahun mencapai puluhan juta dollar. Sangat menginspirasi.

Kenapa dia dihadirkan dalam acara tersebut? karena dia adalah Alibaba Lecturer. Seorang Alibaba lecturer dipilih setela memenuhi berbagai persyaratan tertentu. Salah satu prasyaratnya adalah keberhasilannya dalam menjalankan bisnis di Alibaba. Meman ku akui, dia sangat piawai dalam mengoptimalkan akun Alibaba. Dia begitu tekun, hingga memahami hal-hal detail terkait pengoperasian akun Alibaba. Dia sudah lebih dari 10 tahun memiliki akun took di Alibaba. Success story nya berawal dari pendirian satu akun yang begitu gemilang. Karena sudah memiliki satu blueprint, dia membuka akun-akun lainnya. Hingga kini, dia tercatat sedang memiliki 10 akun, yang kesemuanya berstatus sebagai “Verified supplier”. What an accolade! Hats off!

Satu rahasia yang dia beliau kemukakan padauk saat one-on-one session adalah bahwa dia merupakan orang yang ambisius. Dia tidak akan berhenti hingga dia bener-bener bisa mendapatkan pencapaian besar yang dia ingin raih. Selain itu, dia juga mengatakan bahwa jangan memulai suatu usaha dari nol, karena hal itu akan beresiko makan waktu terlalu banyak. Sedangkan waktu, menurutnya, adalah hal yang sangat precious, bahkan priceless.

You can make money, you can buy everything, but you cannot buy time!

Begitu dia meyakinkan.

Sehingga, sejak pertama kali dia membuka akun Alibaba, dia langsung menggebrak membuka akun verified. Costnya tinggi. Tapi itu lah langkah yang dia putuskan untuk ambil, karena dengan begitu dia bisa melakukan leapfrog, tanpa berlama-lama mengabiskan waktu secara percuma.

Jika kita bisa melompat tinggi, kenapa musti coba-coba melompat yang rendah?

Memang, dia mengakui sendiri bahwa dia memiliki privilege, bahwa dia berasal dari keluarga yang berkecukupan. Namun begitu, aku meyakini bahwa itu bukan merupakan faktor utama atas keberhasilannya. Mindset yang bagus, determinasi tinggi, sifat ambisius, dan kerja keras adalah hal yang menjadi faktor utama atas keberhasilannya.

Dia meyakinkan aku bahwa jika kita mulai membuka akun dengan spending cost yang rendah, karena mau coba-coba alias trial dulu, maka ada kecenderungan kita tidak bersungguh-sungguh. Ada rasa nothing to lose, yang akhirnya membuat kita tidak maksimal dalam pencapaian.

Keluarkan biaya yang membuatmu merasa jika kamu tidak bekerja keras bersungguh-sungguh maka kamu akan kehilangan semuanya.

Begitu dia meyakinkanku.

Iya juga, make sense.

Banyak pelajaran berharga yang aku dapatkan dari wanita mandiri yang memiliki banyak perusahaan tersebut. Aku merasa tertampar. Dia bisa segemilang itu, sementara aku masih berkutat pada urusan resiliensi dalam berusaha.

Aku bersyukur pada Alloh. Aku semakin didekatkan pada hal yang aku dambakan.

Semua terasa mudah. Jalan nampak terpaving dengan sebegitu teratur dan terbukanya oleh Alloh SWT. Mungkin ini memang bukti kebenaran bahwa barang siapa bersungguh-sungguh, maka Alloh akan bukakan jalan.

Pesan terakhir dari Judy Ke padauk adalah “Be successful in your business. You are such a great potential to be Alibaba Lecturer”.

Aku merasa tersemangati. Sebenarnya bukan menjadi Alibaba Lecturer yang menjadi target utamaku. Namun, jika aku bisa mencapai itu, berarti aku telah sukses dan gemilang dalam bisnis eksporku. Karena prasyarat utama untuk menjadi seorang Alibaba Lecturer adalah keberhasilan dalam bisnis ekspor melalui Alibaba. This is such a huge booster. Thanks Judy!

Insya Alloh!

Anata nara dekiru yo!

Kamis, 05 Desember 2024

My Export Business Trajectory

 


Ekspor adalah sebuah long-run game. Aku meyakini itu. proses yang dibutuhkan dari nol hingga benar-benar sukses bisa tahunan. Katakanlah satu tahun pertama adalah penguatan knowledge ekspor, familiaritas terhadap segala hal yang berkaitan dengan ekspor, sambil aktif mencari buyer. Tahun kedua, harus ada progress yang berarti. Closing harus mulai tercapai. Closing ini sangat penting, minimal untuk tetap mempertahankan optimisme. Di tahun kedua ini, investasi harus semakin ditingkatkan. Investasi untuk belajar, expanding circle, experiment, dan menguatkan berbagai skill yang menunjang keberhasilan ekspor.

Tahun ketiga, kita sudah memiliki loyal buyers. Interaksi dan relationship dengan buyer sudah seperti friends, bukan lagi mitra bisnis an sich. Loyal buyers ini yang akan menjadi penopang keberlangsungan dan ekspansi bisnis ekspor. Di tahun ketiga ini, kita sudah cukup stabil dalam memetic hasil dari proses yang dijalani. Pathway sudah nampak begitu terang, seperti bermain Game Empire Earth dimana peta sudah nampak jelas, sehingga segala potensi dan ancama tampak begitu crystal clear.

Tahun ke-empat, bisnis ekspor kita sudah cukup stabil. Kita sudah masuk pada fase menikmati hasil. Namun harus diingat bahwa control emosi harus bagus. Boleh lah kita memberikan self-reward, namun jangan terjebak pada gaya hidup hedon. Keseimbangan finansial perusahaan harus diutamakan. Di tahun ke-empat ini, banyak pekerjaan yang sudah mulai didelegasikan. Hal-hal yang sangat teknis harus sudah bisa ditangani oleh para delegasi, individu-individu yang kita hire supaya bisa meng-handle hal-hal teknis tersebut. Ibarat proses menjalani studi Doktoral, tahun ke-empat ini adalah tahun menjelang wisuda. Sudah banyak paper yang kita publikasikan. Disertasi juga sudah pada fase penyelesaian. Sebentar lagi wisuda. Ada rasa lega, namun juga jangan lengah untuk memastikan bahwa we are still on the right track.

Tahun ke-lima, kita sudah mapan. Harus berproses untuk menguatkan manajemen perusahaan. Harus ada upaya agar kegiatan bisnis ekspor kita lekas untuk tidak lagi bergantung pada supplier. Ekspor komoditas yang sudah sejauh ini dijalani tetap menjadi core business. Namun harus ada upaya diversifikasi usaha. Harus mulai merintis memiliki produk sendiri yang merupakan produk olahan, bukan produk mentah. Di tahun ke-lima ini, sudah ada beberapa Bahasa asing yang sudah dikuasai. Bahasa Jepang, Spanyol, Korea, Arab, dan Prancis. Minimal lima Bahasa itu. Syukur-syukur cukup paham dengan Bahasa Mandarin, italia, jerman dan rusia. Itu bonus.

Target market kita memang luas, namun harus ada keputusan untuk memiliki target market utama. Ada wilayah tertentu yang menjadi target utama market kita. Tentu target market tersebut disesuaikan dengan produk yang dimiliki. Untuk herbs and spices, target market utama ya timur tengah, china, jepang, afrika, dan eropa.

Setelahnya, kita sudah berada pada fase focus berbagi. Bukan lagi kegiatan bisnis semata yang menjadi aktivitas keseharian kita. Melainkan edukasi terhadap masyarakat, serta berperan dalam mengembangkan ekosistem ekspor di Indonesia. Saat itu, aku sudah tampil dimana-mana memberikan pencerahan dan menunjukkan jalan kepada pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM), terutama generasi muda, tentang pentingnya dan bagaimana caranya menggeluti dunia ekspor.

Sudah beberapa tahun berlalu, aku sudah merambah pada focus menekuni kegiatan filantrofi. Semakin mendekatkan diri pada ilahi. Dunia sudah diraih, dan akhirat harus menjadi focus utama.

Itu rencana kita sebagai manusia. Selebihnya, Alloh SWT yang akan menentukan apakah segala rencana ini akan terwujud sebagaimana ia tersusun, ataukah Alloh SWT berkehendak lain. Wallohua’lam bisshowab.

Bismillah….watashinara dekiru yo!

 

Sabtu, 16 November 2024

Refleksi PGP: Setelah selesai, ngapain?

 

Kita sudah selesai melaksanakan serangkaian kegiatan dalam program guru Penggerak. Lantas, setelahnya apa yang harus kita lakukan?

Setelah ini, apakah kita akan menjadi guru dengan performa yang jauh lebih baik, ataukah biasa saja seperti apa adanya kita sebelum mengikuti program Guru Penggerak?

Apakah kita akan menjadi guru yang berkontribusi lebih signifikan bagi dunia Pendidikan, ataukah biasa-biasa saja dan tak ada bedanya dengan mereka yang bukan Guru Penggerak?

Apakah sekolah tempat kita mengajar akan merasakan dampak atas meningkatnya kompetensi kita, ataukah akan biasa saja sebagaimana kondisi semula?

Pernahkah pertanyaan-pertanyaan seperti itu kita ajukan pada diri sendiri, sebagai bagian dari refleksi dan evaluasi?

Ataukah sama sekali tak pernah terbersit dalam sanubari, karena kita terlalu larut dalam selebrasi atas selesainya program ini?

Boleh lah kita ber-euforia atas “pencapaian” yang kita raih ini.

Biar bagaimanapun, membagi waktu agar kita bisa seimbang dalam melaksanakan tugas pokok sebagai pendidik dan menjalani proses Pendidikan PGP ini adalah hal yang cukup menantang dan layak mendapatkan apresiasi.

Di dalamnya, ada istirahat yang tertunda dan kantuk yang tertahan.

Di dalamnya, ada healing-healing yang tidak lagi jadi prioritas, bahkan hak atas keluarga, dan kesehatan mental yang cukup terabaikan.

Bukan lebay, karena memang berbagai tugas dalam PGP ini cukup menguras banyak hal dan membuat kita tidak santay.

Oleh karena itu, boleh lah kita melakukan selebrasi atas semua itu.

Namun, ada hal yang harus dipikirkan, yaitu apa langkah selanjutnya yang harus kita lakukan.

 

Program Guru Penggerak bukan lah soal gengsi karena kita hebat telah lolos seleksi.

Di dalamnya, ada tanggungjawab moral yang harus kita emban dan perlu pembuktian untuk dieksekusi.

 

Setelah menyelesaikan progam ini, kita tidak lagi berada pada fase tergerak dan bergerak.

Kita sudah berada pada fase menggerakkan.

Kita semestinya sudah tidak lagi hanya fokus meningkatkan kompetensi diri.

Melainkan, kita berada pada fase mendorong rekan sejawat untuk terus berkembang dan memperbaiki diri.

Kita sudah tidak lagi berada di fase memimpin diri.

Melainkan, kita harus menjadi pemimpin yang berpengaruh menciptakan perubahan.

 

Kita sudah banyak belajar tentang filosofi Pendidikan, terutama dari Ki hajar Dewantara.

Kita sudah banyak belajar tentang ilmu pedagogik, kepemimpinan, coaching, manajemen asset, mindset, dan bagaimana menghasilkan dampak kebaikan melalu prakarsa perubahan.

Kini saatnya kita mengimplementasikan apa yang telah kita dapatkan.

Semoga kalimat "tergerak, bergerak, dan mampu menggerakkan" mampu kita wujudkan, dan bukan hanya sekedar sebuah slogan.


Tugas besar menanti kita di hadapan, kawan!

Selasa, 12 November 2024

Si Kurang Ambisius

 

Aku sedang menjadi si “kurang ambisius”. Entah mengapa. Aku menjadi si “mengalir seperti air”, dan itu bukan aku banget. Aku yang dulu penuh dengan obsesi. Kini aku tak ubahnya mereka yang berprinsip “yang penting hidup”.

Aku tau bahwa setiap kehidupan pasti akan berakhir kematian. Konon itulah yang menjadi dasar pemikiran banyak orang sukses kenapa mereka mau mengambil resiko besar, karena semua pasti akan mati. Dengan kesadaran tersebut, aku semestinya lebih bersikap nothing to lose terhadap kemungkinan resiko apapun yang akan aku hadapi. Toh selama ini juga aku sudah terbiasa dengan hidup penuh keterbatasan, dan dalam menjalani hidup aku sudah akrab dengan kekurangan.

aku tidak boleh kalah terus.

Aku harus raih kemenangan-kemenangan besar.

Ibarat hidup hanya sehari, sekarang matahari sedang berada persis di atasku. Suatu saat, ia tersebut pasti akan tenggelam. Dan setelah itu, aka nada pergantian episode kehidupan, yang masih misterius. Aku harus maksimalkan waktu saat matahari masih cerah dan tepat berada di atasku.

Saksikan, ini aku, dengan semangat, mindset, keyakinan, dan tekadku yang baru!

Minggu, 03 November 2024

Menjadi Guru, Refleksi Diri

 

Dan aku berada di titik ini. Titik dimana aku merenungi apa yang menjadi tujuanku menjadi seorang guru. Apakah itu untuk gaji, ataukah ada value yang jauh lebih bermakna dari sekedar gaji?

Sejenak aku tersadar bahwa aku seperti kehilangan arah. Jika gaji adalah alasan utamaku, lantas apakah motif gaji begitu worth it nya?

Jika mengabdikan diri menjadi guru bagi generasi bangsa adalah value yang aku pegang, lantas seberapa besar kontribusi pengabdian yang sudah aku berikan? Sudah seberapa signifikankan peranku dalam mengabdi?

Ataukah itu karena ada dorongan untuk berprestasi dalam dunia Pendidikan?

Jika iya, lantas prestasi seperti apa yang ingin aku raih, atau yang telah aku torehkan? Jangan-jangan sangat minim, atau bahkan tidak ada.

 

Hari berganti hari. Kemudian berganti bulan, tahun, bahkan berganti lebih dari 10 tahun. Sudah lama, ternyata. Aku seperti masih saja menjadi orang yang hanya menjalankan rutinitas tanpa ruh.

Lalu apa alasan aku bertahan?

Sebuah pertanyaan yang semestinya sudah lama aku dapatkan jawabannya.

Dan ironisnya, entah apa jawabannya aku belum paham.

Hidup hanya sekali, dan kesempatan kita dibatasi oleh waktu.

Tak mungkin kita muda selamanya.

Tak mungkin kita berfisik prima selamanya.

Akan ada titik kulminasi, dan aka nada titik resolusi.

Atau jangana-jangan, selama ini bukan diriku yang menggerakkan diri ini, melainkan validasi-validasi dari orang lain. Atau penilaian-penilaian dan pemikiran-pemikiran orang lain?

Ngeri sekali aku seperti orang yang berjalan di tengah jalanan penuh kabut tebal dan tak tau arah.

Apa-apaan ini?

Ini bukan aku yang sesungguhnya.

Aku harus segera kembali ke sejatinya aku.

Aku butuh meditasi.

Aku butuh perenungan diri.

Aku butuh re-setting-up.

Aku butuh berbenah diri.

Dan aku butuh berubah menjadi jauh lebih baik lagi.

Hidup terus berjalan, dan langkahku harus terarah, walau agak pelan.

 

Selasa, 29 Oktober 2024

Ternyata, aku masih miskin prestasi

 

Aku mencoba ikut serta dalam lomba Guru Inovatif dan Berdedikasi, yang diselenggarakan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Meski tertatih-tatih karena menyiapkan semua hal yang di perlukan di tengah kesibukan yang begitu padat, akhirnya aku mampu men-submit dokumen.

Selesai mengirimkan dokumen, aku merasa lega. Namun, ada satu hal yang seketika terbersit dalam pikiranku. Aku baru menyadari, bahwa ternyata prestasiku sangat sedikit. Bahkan bisa dikatakan aku belum berprestasi. Hal yang cukup menyentak pikiranku adalah ketika aku menyusun portofolio yang berisi segala catatan karya dan prestasiku. Aku tersadar, bahwa ternyata prestasi dan karyaku sangat-sangat sedikit. Iseng aku coba melihat portofolio prestasi dan karya seorang teman yang sama-sama mendaftar lomba ini, aku tertampar dengan betapa banyaknya karya yang ia miliki. Karya ilmiah, karya tulis fiksi, mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri, melakukan berbagai penelitian, menjadi pembicara, dan sebagainya.

Oiya, sebenarnya aku cukup sering menjadi pemateri dalam berbagai seminar selama 3 tahun terakhir ini. Hanya saja, aku terlalu malas untuk mengarsipkan berbagai sertifikat keikutsertaanku. Aku tidak menyangka bahwa mengarsipkan sertifikat semacam itu akan berguna di kemudian hari.

Kembali ke topik utama. Aku ternyata beelum berprestasi. Kemana aja aku selama ini? Bukankah aku adalah Dahlan si pegiat literasi? Bukankah aku adalah Dahlan, orang yang akrab dengan dunia penelitian? Bukankah aku adalah Dahlan yang suka dengan aktivitas diskusi ilmiah? Bukankah aku adalah Dahlan yang memiliki kepekaan terhadap berbagai isu Pendidikan? Bukankah aku adalah Dahlan yang memiliki Blog dengan ratusan artikel? Kok bisa bahwa aku ternyata masih sangat sedikit karyanya.

Mungkin, aku terlalu lama berdiri kaku berada di lingkungan pergaulan yang kurang ambisi. Mungkin aku kurang motivasi, karena tidak ada kanan kiriku yang memiliki semangat yang sama untuk berkarya. Ah…aku terlalu lembek untuk begitu saja pasrah terhadap keadaan. Bukankah aku pernah berikrar bahwa aku akan menjadi pembedan dan pewarna dimana pun aku berada?

Aku sadar, dan aku harus berubah lebih baik. Jauh lebih baik.

Wahai diriku, berupayalah untuk terus berkarya, berinovasi dan berkontribusi. Bukan untuk validasi, melainkan untuk bukti pada diri sendiri bahwa kamu memang pribadi yang layak untuk bisa berbangga terhadap diri sendiri.

Camkan itu, wahai diri!

 

Sabtu, 05 Oktober 2024

Kita ini bukan kekurangan solusi, melainkan kurang disiplin saja

 

Image: https://www.linkedin.com/pulse/power-discipline-achieving-success-through-focus-determination-bv


 

Masalah begitu banyak dalam hidup. Kadang kita mengeluhkan ketiadaannya solusi. Kadang mengeluhkan kenapa ekonomi terasa sulit. Kadang kita mengeluhkan kenapa jodoh tidak dating. Kadang kita mengeluhkan kenapa kehesatan kurang baik. Kadang mengeluhkan kenapa hubungan dengan orang-orang tertentu terasa toxic. Kadang pula kita mengeluhkan kenapa nasib baik seperti belum kunjung berpihak. Lantas kita membiarkan diri terpuruk berlama-lama di dalam kubangan masalah tersebut, alih-alih bangkit dan menjadi pemenang.

Dari sudut pandang mana pun, di setiap masalah dalam hidup itu pasti ada solusinya. Dalam sudut pandang agama Islam, kita diajarkan dalam Surat Al-Insyirah Ayat 5:

فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Bahkan kalimat tersebut diulang sampai dua kali dalam Al-Qur’an.

إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا

“sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

 

Kita, manusia, ini bukan kekurangan solusi atas masalah, melainkan hanya bebal saja atas apa yang menjadi ajaran agama.

Untuk masalah ekonomi, kita dianjurkan banyak-banyak melakukan silaturahmi (berkumpul dengan orang-orang sukses), bersedekah, sholat hajat, sholat tahajjud, beristighfar, sholat dhuha, menghindari perbuatan dosa dan tentunya harus melakukan sholat fardhu.

Ilmu-ilmu seperti itu sebenarnya mudah kita temukan, sering kita dapatkan. Namun, kita tidak disiplin untuk menerapkannya.

Untuk masalah jodoh, kita dianjurkan untuk memperbaiki hubungan dengan ALloh terlebih dahulu. Karena dengan begitu Ia akan memudahkan hubungan kita dengan manusia. Sebenarnya memperbaiki hubungan dengan Alloh itu tidak hanya penting dalam konteks mencari jodoh saja, melainkan dalam semua aspek. Kita dekat dengan Alloh, maka akan dipermudah semua urusan kita. Demikian hal yang dijanjikan oleh Alloh. Namun apa yang kita lakukan? abai terhadap anjuran tersebut. Sebagian dari kita lebih suka tidur berlama-lama hingga matahari terbit. Sebagian dari kita lebih suka bergelut dengan pekerjaan atau aktivitas lainnya, saat adzan berkumandang. Sebagian dari kia lebih suka menahanuang yang kita miliki, dan tidak menafkahkannya di jalan yang Alloh ridhai. Intinya, kita dikasi solusi kemudahan, namun seringkali kita memilih kesulitan. Itu fakta.

 Andai saja kita mau disiplin untuk mengerjakan apa yang Alloh perintahkan, maka segala masalah akan mudah teratasi, dan hasilnya pasti berupa kebaikan bagi kita. Namun kita malah memilih terus-menerus berkubang dalam masalah, sementara solusi ada di samping kita, tinggal eksekusi saja.

Ini lah salah satu makna dari pentingnya kedisiplinan. Maka, sesungguhnya kita bukan kekurangan solusi atas masalah, melainkan kita hanya tidak disiplin saja untuk menerapkan solusi yang ada.

Sabtu, 28 September 2024

Pastikan dulu bahwa dirimu bahagia dengan hidupmu

 

Ingin meraih pasangan yang mau dan yakin untuk memutuskan hidup bersama kita selamanya? Caranya adalah menjadi pribadi yang promising. Menjadi pribadi yang bisa membuat orang yakin bahwa mereka bisa hidup Bahagia sama kita.

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa membuat mereka se-yakin itu? Caranya adalah memastikan bahwa kita yakin sama diri sendiri. Kita percaya sama diri sendiri. Kita sendiri merasa Bahagia.

Logikanya, bagaimana kita bisa memberikan sesuatu yang kita tidak miliki? Bahagialah dengan dirimu sendiri dulu, baru dengan begitu orang lain akan bisa Bahagia denganmu.

Kehidupan kita ini laksana taman. Orang akan senang memasuki taman kita jika taman kita itu indah, nyaman, menyenangkan. Jangan berharap orang akan betah berada di taman yang gersang, miskin warna, dan tak ada hal menarik di dalamnya.

Maka, bahagiakan dirimu. Pastikan kamu mampu mengontrol kebahagiaanmu. Pastikan bahagiamu adalah atas dasar pilihanmu sendiri, bukan karena dipilih oleh keadaan.

Musuh Terbesarku adalah Mental Block

 

https://pontianakinfo.disway.id/


Masih menjalani peran sebagai pribadi yang overthinking-an. Ternyata ini lah satu mental block terbesar yang aku harus atasi segera. Dulu sempat terpikir untuk mengembangkan kanal youtube dengan konten traveling and wisdom. Pernah juga ingin membuat buku dan online course tentang cara menaklukkan IELTS, how to win scholarship to study abroad, how to excel interview in various context of situation. Namun semuanya dimentahkan oleh satu musuh terbesarku sekarang ini, yaitu Mental Block.

Entah apa yang membuatku overthinking saat mau mengeksekusi beberapa rencana. Padahal, banyak hal yang sudah aku capai yang berawal dari impian semata. Harusnya aku belajar dari pengalaman, bahwa apa pun bisa aku capai, asal aku bisa mengalahkan keraguan dan ketakutan yang tak berdasar. Adalah nyata bahwa segala ketakutan yang aku miliki adalah ketakutan-ketakutan tak berdasar.

Kemarin persis, aku menonton dua video dengan konten yang sama, muncul di beranda youtube ku. Video tersebut berisi penyampaian nasihat oleh Deny Santoso, seorang digital marketing yang sangat sukses. Dia menyampaikan bahwa sekarang ini banyak orang yang ragu untuk menjadi creator konten, hanya karena mereka takut akan penilaian orang lain. Padahal, mereka belum pernah mendapatkan penilaian apa pun dari orang lain atas konten apa pun yang mereka unggah di media social. Jadi, yang mereka alami adalah semacam pseudo-fear. Sedihnya, mirisnya, pseudo-fear seperti itu dialami oleh banyak orang di dunia ini. Itu lah kenapa jumlah penonton konten-konten video jumlahnya jauh lebih banyak berkali-kali lipat dibanding jumlah pencipta video nya.

Menyedihkan sih.

Sekarang, aku harus menantang diriku sendiri untuk melawan pseudo-fear ini. Sejatinya, apa pun yang aku takutkan hanyalah ilusi. Aku harus menang atasnya. Aku harus mengalahkannya. Aku pasti bisa. akan aku wujudkan rencana-rencana besarku satu per satu. Aku akan segera mampu menghilangkan dan memusnahkan mental block. Aku pasti bisa. aku pasti jaya.

Bismillah…

 

Jumat, 30 Agustus 2024

Digital Detox vs Self-Improvement through Online Exposure

 

People say that being absorbed into online activities is a waste of time. People say that digital detox is the answer to get better life. People say that staying connected to online exposure is way too much, and it needs to be ceased. People exemplify the fact European people begin to leave sophisticated gadgets behind, signaling the trend of a habit of getting back to “normal” life. It might be true, for some reason, that we need to get digital detox. But, how if we stay productive, improved, growing, flourishing through being engrossed into digital activities?

In such a rapidly growing era of informational technology, we benefit from the ubiquity of learning resources. It used to be tough to get access to learn things. However, we are in the era of accessing everything as simply as using our finger tips, tapping them on a small screen. Using fingers tips, we can obtain real-time information, knowledge, and cutting-edge method of dealing with something.

Therefore, I myself disagree that we should lessen digital absorption in my daily life. Apart from the fact that it has been today’s lifestyle, it is still the most effective way I settle many things done. When I can have my food come through using a gadget while I am busy with activities, why should I bother going somewhere far away merely to grab something to eat? When I can access online courses to master new skills, why should I bother to find face-to-face tutor for those skills? When I can read book online and I feel comfortable with that, why should I go to bookstore every time I want to read books? When I can write my diary and essential notes about life on a word page, why should I rely on papers?

It is good to get back to nature, to some degree, like walking to restaurant to get exercise, instead of laying down on the bed, or to see our neighbor directly so that we have social bond, instead of always talking to the online. Nonetheless, there are some reasons staying engaged into online activities is the best thing to do. I feel productive being online accessor. I acquire new skills, learn new science, and adopt new methods of dealing with daily life challenges.

Taking digital detox may be good for some people for some reason, but staying away from digital things for most of the time in my daily life is not my cup of tea. I have reason to stay engaged into digital activities, at least for the time being. I would not have my communication skill improved, digital skills enhanced, and problem-solving ability leapfrogged if I did not stay connected to digital access.