Pagi
itu dia merenung. Masih membekas pukulan keras dalam batinnya atas
kegagalannya mempertahankan posisi puncak ranking di kelasnya. Batinnya
masih tak bisa percaya itu bisa terjadi pada dirinya. Namun, itu adalah
pengalaman nyata yang
willy-nilly harus ia alami. Kini, ia
mulai tegar menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan. Betapa
beruntungnya dia memiliki satu sifat positif, yaitu kesadaran untuk
menggali hikmah dari setiap peristiwa.
Kini, dia merenungkan apa
moral lesson
di balik kegagalannya tersebut. Nalar kritisnya mulai bergentayangan.
Hingga akhirnya muncul satu pertanyaan dalam benaknya, mengapa harus ada
rankin. Ya, kemunculan pertanyaan tersebut bisa jadi merupakan luapan
emosional atas kegagalan yang ia alami. Namun lebih dari itu, ternyata
itu adalah hasil penalaran kritisnya terhadap eksistensi ranking yang
ada di lembaga pendidikan formal.
Sekarang, mari kita kaji
bersama-sama mengenai plus minus eksistensi ranking di sekolah. Setelah
sekian lama direnungkan, ternyata ada kesimpulan yang cukup mengusik
pikiran. Nah..apa itu kesimpulannya? Begini, Keberadaan ranking itu
sangat kontra-produktif bagi siswa. Entah apa alasannya jika ranking
harus ada. Tapi, boleh lah kita meraba. Konon, keberadaan ranking
memiliki dua alasan pokok. Yang pertama adalah sebagai sebuah cara
melecutkan motivasi siswa mencapai prestasi di sekolah. Ada harapan
bahwa ranking akan mendorong siswa untuk termotivasi dalam belajar,
hingga mendapatkan nilai memuaskan yang menjadi tolok ukur kepintaran.
Benar-benar konvensional. Memotivasi dengan cara memberikan iming-iming
posisi puncak. Masalahnya, yang namanya puncak itu hanya ada satu. Yang
kedua, ranking merupakan
reward bagi siswa yang pintar, rajin dan aktif di sekolah. Wah..ternyata alasannya mulia juga yah. Okelah...
Faktanya,
siswa datang ke sekolah untuk mengenyam pendidikan berbekal ragam level
motivasi diri yang berbeda-beda. Sebagian siswa termotivasi dengan
penuh kesadaran untuk giat belajar dan berkarya di sekolah. Sebagian
lainnya tidak memiliki motivasi yang memadai, sehingga sekolah
ber’itikad mengadakan ranking agar siswa termotivasi untuk berkompetisi
mendapatkan nilai yang memuaskan, setinggi-tingginya, sebesar-besarnya.
Ibarat di arena balap kuda, mereka diadu satu sama lain, dan yang
tercepatlah yang mendapat
reward. Oleh karena itu format raport
nilai jaman dahulu mencantumkan kolom untuk diisi ranking siswa. Namun
kok raport sekarang tidak mencantumkan kolom tersebut? Ya ntar kita
bahas lebih lanjut.
Nah, poin yang perlu dijabarkan
selanjutnya adalah apa yang salah pada ranking. Ada. Ada sisi negatif
pada ranking. Mari telisik bersama!
Sisi negatif ranking
yang pertama, tidak ada dampak pemerataan motivasi pada siswa secara
keseluruhan atas sistem perankingan tersebut. Ranking ternyata hanya
memberikan dampak motivatif bagi siswa tertentu, bukan sebagian besar
siswa. Mengapa demikian? Karena dalam sistem ranking, yang mendapat
posisi tertinggi ya cuma satu orang. Ranking satu ya Cuma satu. Orang
tersebut lah yang bangga dan bergembira. Apakah dikira posisi dua, tiga,
dan seterusnya juga akan memperoleh motivasi dalam perankingan
tersebut? Belum tentu. La bagaimana dengan mereka yang sama sekali tidak
mendapatkan ranking di kelas? Mau tidak mau, rasa rendah diri, rasa
pecundang, dan rasa tak berarti muncul dalam benak mereka yang tak
ber-ranking. Kecuali mereka yang benar-benar tak peduli dengan tujuan
mereka belajar di sekolah.
Poin kedua, Ranking bisa membuat siswa
down,
bahkan ketika nilai mereka naik sekalipun. Sudah terbukti nyata bahwa
ranking membuat banyak siswa merasa frustasi ketika ranking mereka tidak
sesuai dengan yang mereka harapkan, meskipun mereka sudah belajar lebih
giat, lebih smart dan menghasilkan kenaikan nilai yang signifikan.
Alih-alih mendapati semangat yang lebih tinggi untuk mendapat nilai
lebih baik, ternyata kondisi tersebut malah menguatkan prasangka siswa
bahwa apa yang mereka lakukan selama ini sia-sia. Kenaikan nilai yang
mereka dapatkan terasa percuma manakala mengetahui bahwa nilai temen
mereka naik lebih tinggi. Sehingga, jika diranking, maka posisi mereka
tidak beranjak signifikan, karena ada teman yang lonjakan peningkatan
nilainya signifikan pula.
Poin ketiga, ranking ternyata
rentan menciptakan sifat individualistis. Siswa jadi terobsesi untuk
menjadi yang terbaik, unggul di atas teman-teman mereka. Di satu sisi,
ini berdampak baik. Namun, kadar efek sampingnya lebih buruk. Karena
apa? Ya karena hal ini bisa menimbulkan sifat antipati terhadap teman,
dan kurangnya sifat solidaritas untuk membantu teman agar sama-sama
memahami apa yang dipelajari di sekolah. Kenapa mereka bisa antipati? Ya
karena jika teman mereka sama-sama pntar, maka kesempatan untuk meraih
ranking tertinggi akan terancam. Mungkin pernyataan ini terkesan lebay
dan hiperbolis. Namun demikianlah logikanya.
Lha mustinya
bagaimana? Mustinya ya tidak ada sistim ranking. Keberhasilan siswa
selayaknya diukur berdasarkan peningkatan level kompetensi mereka secara
pribadi dengan membandingkan pencapaian mereka di masa sekarang dan
masa sebelumnya. Tidak perlu ada ranking, karena tidak adil rasanya,
mengingat kemampuan masing-masing individu berbeda-beda. Kata Aa Gym,
manusia dikatakan berprestasi jika kecerdasan, kemampuan, dan karya
mereka yang sekarang ini lebih baik dari yang sebelumnya, bukan dengan
tolok ukur ketika mereka lebih baik dari yang lain. Dengan perlakuan
demikian, maka tidak akan ada kecemburuan sosial. Malah, para siswa akan
bisa dengan leluasa bekerjasama untuk sama-sama memperoleh level
kompetensi (bukan nilai angka) yang memuaskan, tentunya dalam konteks
yang posisitif.
Manusia memiliki tingkat kemampuan belajar yang beragam. Ada yang
fast learner, ada yang
slow learner. Itu berdampak pada prestasi siswa di sekolah. Tidak semestinya mereka diadu dengan permainan yang sama. Baik yang
fast learner maupun
slow learner
sama-sama layak mendapatkan apresiasi, tentunya berdasarkan level
pencapaian mereka secara individual, bukan dikompetisikan antara sasu
sama lain.
Esensi dari pendidikan adalah perubahan tingkat
kecerdasan dan karakter. Jika terjadi perubahan yang signifikan pada
tiap individu yang belajar, maka itulah keberhasilan pendidikan.
Salam cerdas!