Rabu, 27 Januari 2016

5 Reasons Why Reading Habits Are Important

reading-habits


Reading is one of the most fundamental skills a child needs to learn to succeed in life. Developing good reading habits is vital to your child’s future not just academically, but in everyday life as well. What can good reading habits do for your child’s development? Here are five reasons you should develop reading habits young, and why they are so important.

Reading develops vocabulary:
The more your child reads, the more new words will find their way into his vocabulary. Reading allows for exposure to words and phrases that you might not use as part of normal speech. “When you read aloud to your child, you are not only helping to prepare her to learn to read, you are also exposing her to rich language she otherwise might not hear,” states Susan Canizares, Ph.D, a specialist in language and literacy development.

Reading increases attention span:
Encouraging good reading habits from an early age develops your child’s attention span and allows them to focus better and for longer periods of time. Reading combats the epidemic of poor attention span in today’s children.

Good reading habits prepare children for school:
Children who spend a lot of time reading prior to attending school will have an easier time adapting to the reading-focused learning environment in their future classrooms.

Developing reading habits early leads to a lifelong love of books:
Children who start reading regularly from an early age are more likely to enjoy reading later in life. This will serve them well throughout their education and beyond.

Reading encourages a thirst for knowledge:
Children with good reading habits learn more about the world around them, and develop an interest in other cultures. Reading leads to asking questions, and seeking answers, which means children learn more every day.
You can teach your child good reading habits and motivate them to read by:
  • Reading to them from a young age, as early as possible
  • Modeling good reading habits by taking the time to read yourself
  • Encouraging conversations about content of what your child has been reading.
Encouraging good reading habits and modeling them as well sets up a parent as a role model for the love of reading. Susan B. Neuman, Ph.D, director of the Center for the Improvement of Early Reading Achievement at the University of Michigan, says teaching motivation is key. “Children develop motivation to read by being read to often, learning firsthand the pleasures that reading can bring.”

adopted from http://www.etllearning.com/th/resources/5-reasons-why-reading-habits-are-important/

Selasa, 19 Januari 2016

Program Pertukaran Guru Jawa Tengah (Indonesia)-Queensland (Australia)

2015 adalah tahun yang terasa amat istimewa bagi saya.
betapa tidak, saya lolos dalam seleksi dua program pengembangan diri ke luar negeri.
Program pertama adalah program Central Java-Queensland Teacher Exchange2015 yang berlangsung selama satu bulan. Program yang kedua adalah Program Teacher Training yang disponsori oleh Pemerintah Jepang.

Pada tulisan ini, saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman mengikuti program pertukaran guru ke Australia tersebut. Butuh waktu dua tahun untuk menanti dan mempersiapkan segala hal yang diperlukan hingga saya, dengan kuasa Alloh, berkesempatan mengikuti program pertukaran guru ke Queensland tesebut.

Di balik setiap pencapaian besar, biasanya selalu ada fase pahit yang harus dilalui. Namun seringkali fase tersebut kurang nampak di permukaan atau jarang diketahui publik. Pada tahun 2013 saya mendapatkan informasi dari kepala sekolah dimana saya mengajar, bahwa ada seleksi program pertukaran guru ke Australia bagi guru-guru sekolah menengah atas (SMA ) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Program tersebut mensyaratkan peserta seleksi untuk memiliki berbagai  dokumen, seperti surat keterangan keaktifan mengajar yang ditandatangani oleh kepala sekolah, transkrip hasil test TOEFL dengan standar minimal ITP, surat keterangan (SK) kepegawaian, Biodata, formulir terisi, piagam penghargaan atau sertifikat keikutsertaan dalam berbagai program pengembangan diri dan berbagai dokumen lainnya.

Pada hari pengumpulan berkas saya bergegas menuju kantor dinas pendidikan daerah untuk menyerahkan berkas guna disampaikan kepada panitia seleksi di kantor dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi. Betapa terkejutnya saya ketika mendapati informasi bahwa berkas saya tidak bisa diserahkan ke Provinsi, karena quota satu peserta per kabupaten/kota yang ditetapkan oleh panitia seleksi telah diambil oleh guru lain. Ternyata ada miskoordinasi dari pihak dinas pendidikan kabupaten.Akhirnya, berkas saya tidak bisa dikiimkan ke provinsi dan tentunya saya tidak bisa mengikuti proses seleksi program tersebut.

Cukup terpukul rasanya, mengingat upaya yang telah saya lakukan untuk mempersiapkan seleksi sudah begitu luar biasa `painstaking`, istihal bahasa inggrisnya. Namun saya yakin bahwa itu adalah tanda bahwa saya sudah berada pada track yang tepat. artinya, hanya maslah waktu bahwa saya akan mendapatkan kesempatan untuk lolos mengikuti program tersebut. firasat saya berkata sedemikian positifnya terhadap keadaan dan Tuhan.

Satu tahun berselang, saya mencoba menguhubungi pihak provinsi secara langsung terkait seleksi program pertugkaran guru tersebut. Namun, saat itu, nasib baik masih maih belum menghampiri saya, karena seleksi program tersebut di tahun 2014 mensyaratkan bahswa peserta adalah guru yang mengampu mata pelajaran eksak/sains.

Hati masih mantap berharap pada kesempatan yang mungki muncul di tahun berikutnya. 2015 adalah jawabannya. saya menghubungi sendiri pihak provinsi untuk menanyakan ada tidaknya proses seleksi program pertukaran guru tesebut. Begitu terkejutnya saya ketika mendpatkan jawabn dari pihak provinsi bahwa tepat hari berikutnya adalah batas akhir pengumpulan berkas persyartatan peserta seleksi untuk harus sudah sampai di provinsi.

Segera setelah selesai menghubungi pihak provinsi, saya langsung mengambil semua berkas persyaratan di laci meja kantor yang memang sudah saya persiapkan sejak lama, dan bergegas menuju kantor dinas pendidikan.

Begitu sampai di kantor dindikbud, saya mengkonfirmasi kepada salah satu pegawai apakah surat edaran terkait seleksi program pertukarn guru ke Australia sudah sampai di kantor dindikbud. Ternyata jawabannya adalah ``belum``. saya sempat curiga jangan-jangan ada kealpaan dari pihak dinas. Barangkali surat sudah lama dikirimkan oleh panitia namun pihak dinas belum mengecek keberadaan surat tersebut。Ternyata benar bahwa surat sudah dikirimkan oleh pihak panitia namun tiba di kantor bagian program. Kurang adanya koordinasi antar pegawai menjadikan surat tersebut tidak diketahui pihak dinas pendidikan.

Sesaat setelah mendapatkan surat tersebut, saya langsung meminta ke pihak dinas untuk menunjuk saya sebagai delegasi dari kabupaten dan meminta mereka untuk langsung membuatkan surat tugas mengikuti proses seleksi. Setelah selesai surat tersebut dibuat, saya langsung bergegas menuju kantor dinas pendidikan provinsi untuk menyerahkan berkas persyaratan.

Saya menanggung sendiri semua biaya akomodasi menuju kantor dinas pendidikan provinsi yang jaraknya cukup jauh, 160km dari tempat tinggal saya. Namun semua hal tersebut terasa ringan karena perasaan lega telah mampu mendaftakan diri mengikuti proses seleksi.




Persiapan menjelang wawancara

Bagai menyambut perang besar, saya memanfaatkan waktu satu minggu sebelum hari wawancara untuk mematangkan persiapan wawancara. Ada beberapa hal yang saya persiapkan yaitu kemampuan menjawab pertanyaan dalam wawancara beserta trik dan tips nya, how to be well-groomed dalam wawancara, dan menata mental saya supaya optimis untuk lolos dalam seleksi wawancara. 

Mengenai tips dan trik menjawab pertanyaan dalam wawancara, saya sudahmempraktikkannya jauh-jauh hari sebelumnya, karena saya memang sudah lama meyaini bahwa mempelajari trik wawancara akan selamanya berguna bagi saya di kemudian hari. Banyak sumber yang bisa dijadikan rujukan,dan sebagian besar bisa didapatkan melalui media internet. Practice makes perfect. Tentunya semua teori tentang wawancara harus dipraktikkan sesering mungkin agar semakin sempurna.

Hal-hal detil seperti pemilihan jenis, model dan warna pakaian juga saya perhatikan. Pada kenyataannya, ada pakaian khusus yang dirasa elegan untuk dipakai delam menghadapi wawancara tetentu.

Saya meyakini kebenaran adanya hukum ketertarikan (low of attraction), bahwa apapun yang kita pikirkan/fokuskan dalam pikiran baik itu hal baik maupun buruk, pada satnya akan tiba dan menjelma nyata dalam kehidupan kita. Saya melakukan visualisasi bahwa saya benar-benar berangkat ke Audstralia untuk mengikuti program pertukaran guru tersebut. Sebenarnya prinsip tentang hukum ketertarikan ini ada dalam kitab suci, khususnya Al-Qur‘an.  Selain itu, psikologi modern juga cukup banyak yang secara komprehensif  mengulas tentang prinsip ini, seperti buku yang berjudu; The Secret yang  ditulis oleh Rhonda Byrne.






Due date Tes Wawancara

Seleksi program tersebut dilaksanakan satu minggu setelah deadline pengumpulan berkas, dan dilaksanakan di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi. Seleksi program tersebut berupa tes tertulis dan tes wawancara, dimana masing-masing memiliki prosentase nilai tersendiri. Tes wawancara memiliki prosentasi nilai sebesar 80%, sementara sisanya 20% adalah prosentase tes tertulis.

Saya belum pernah merasakan optimisme yang luar biasa sebelumnya, sebagaimana yang saya rasakan pada saat itu. Optimisme saya untuk lolos begitu besar karena adanya beberapa faktor. Yang petama adalah persiapan yang dirasa sangat cukup unutk menghadapi seleksi. Doa yang sudah berkali-kali saya panjatkan kepada Alloh untuk diloloskan dalam seleksi program tersebut. Ketiga, saya mengajukan permintaan secara khusus kepada Ibu saya untuk didoakan agar saya lolos seleksi program pertukaran guru tersebut, di waktu yang saya tentukan, dengan cara yang saya jelaskan kepada Beliau.

Pada seleksi wawncara, ada 4 pos wawancara dengan materi yang berbeda-beda. Pos-pos tersebut yaitu pos kebudayaan, psikologi dan kepemimpinan, pedagogik, dan kompetensi berbahasa inggris. Meski ada pos kompetensi berbahasa inggris, namun proses wawancara di semua pos dilakukan dalam bahasa inggris.

Dua minggu berselang setelah wawancara, pihak panitia seleksi mengirim email berisi keputusan hasil seleksi, dan saya dinyatakan lolos untuk mengikuti program pertukaran Guru ke Queensland, Australia.

Jika Alloh menghendaki sesuatu terjadi, maka terjadilah. Tak ada hal yang sulit bagiNya untuk menghinakan atau memuliakan, memberhasilkan atau menggagalkan hambaNya. Yang jelas, tugas manusia bukanlah memberhasilkan diri, melainkan berusaha/berikhtiar dan berdoa semaksimal mungkin. Sedangkan keberhasilan adalah domain Tuhan, Alloh.














Sabtu, 09 Januari 2016

Belajar Membesarkan Miliader dari Ayah Bill Gates



Mungkin banyak orang bertanya-tanya, sebenarnya seperti apa Bill Gates kecil sebelum dirinya mendirikan Microsoft, filantropi atau yayasan amal dan menjadi miliarder seperti saat ini.

Ternyata, kesuksesan Gates tidak lepas dari peran kedua orang tuanya. Berikut kutipan wawancara dengan Ayah Bill Gates, William H Gates melansir Forbes,Minggu (10/1/2016).

Seperti apa Bill ketika masih kecil?

Hampir setiap jenis buku menarik baginya, dari ensiklopedi hingga fiksi ilmiah. Saya sangat senang anak saya gemar membaca, tapi dia terlalu banyak membaca sampai akhirnya saya dan istri saya membuat aturan tidak ada buku di meja makan.

Apakah Bill pernah bercerita tentang hal yang ingin dilakukan saat dewasa?

Sebagai bagian dari tugas sekolah, saat kelas 5 SD Bill harus mengisi formulir tentang apa yang ingin dilakukan ketika dewasa. Bentuknya termasuk daftar pekerjaan seperti dokter, pemadam kebakaran, dan lain-lain dengan mencentang kotak di sebelahnya. Setiap siswa diharapkan memilih salah satu dari daftar yang ada. Meskipun Bill memberi tanda ceklis di samping astronot, dia juga mengisi kolom tambahan dan menulis 'ilmuwan'. Tumbuh dewasa, dia sangat ingin tahu bagaimana dunia bekerja dan dia memiliki ide-ide yang bijaksana mengenai bisnis, hidup, hubungan internasional dan masa depan. Pada saat itu, sulit bagi saya untuk mempercayai ada anak yang sering beradu pendapat di meja makan menjadi bos saya. Tapi di sinilah kita berada.

Kapan dia mulai tertarik pada komputer?

Sangat dini. Kesempatan datang di sekolahnya ketika Ibunya mengumpulkan uang untuk membayar perangkat komputer yang terhubung dengan telepon. Tujuannya perangkat itu akan digunakan guru, tapi mereka membuat beberapa kesalahan dan timbul rasa takut. Bill adalah salah satu dari sekelompok murid matematika yang diundang untuk menggunakan sistem dan mempelajari bagaimana sistem bekerja. Sekira usia 13 tahun dia mulai terpikat.

Apa Bill Bekerja sebelum kuliah ?

Ketika SMA, Bill menggunakan waktu istirahatnya untuk melakukan pemograman pada pembangkit listrik di North Bonneville. Bill dan saya berbicara dengan kepala sekolah SMA-nya dan kami setuju pekerjaan adalah cara praktis untuk menerapkan keterampilan dan kepentingan. Saya ingat Bill mengatakan dia dan Paul Allen akan bekerja keras pada sistem manajemen jaringan listrik.(rai)





Source: http://www.huntnews.id/p/detail/f29e1900d5853b2b90fff2cd219b01df?uc_param_str=dnfrpfbivesscpgimibtbmntnisieijblauputoggdnw&channel=headlines&pos=14523838778790&ch=card&ch1=list

Selasa, 14 Oktober 2014

Ketika Yang Halal Tercampur Yang Haram



Seseorang datang kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.

Namun anehnya, Imam Syafi’i justru menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi’i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.

Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi’i memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham.

Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi’i dengan perasaan sangat heran. Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi’i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercambur dengannya.

Lalu Imam Syafi’i membacakan sebuah sya’ir:

جمع الحرام على الحلال ليكثره
دخل الحرام على الحلال فبعثره

Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.
Yang harampun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.


Barangkali kisah ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima.

Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkahan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak. (Far)

Jumat, 16 Agustus 2013

Ngaruh gak sih bahasa inggris buat hidup gue??





 

AMBAK, yang merupakan kependekan dari “Apa Manfaatnya BagiKu” barangkali masih menjadi istilah yang kurang familiar bagi sebagian guru, kecuali bagi mereka yang pernah membaca buku quantum learning. padahal, itu merupakan hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan. 
 
AMBAK merupakan sebuah prinsip bahwa apabila seorang pembelajar tidak memahami dengan pasti apa manfaat dari hal yang ia harus pelajari, maka sesungguhnya tidak ada upaya belajar yang dilakukan secara sadar, penuh kesungguhan dan atas dasar sukarela pada diri si pembelajar tersebut. Dalam pengamatan saya, guru kebanyakan lebih sering terorientasi pada “how to make students understand the subject well” ketimbang “how to drive students learn well”. 
 
Saya masih ingat ketika pertama kali saya tertarik untuk belajar agar bisa lancar berbahasa inggris. Waktu itu saya masih kelas 6 Sekolah Dasar. Ketertarikan saya terhadap bahasa inggris bermula ketika saya melihat sebuah sinetron dimana seorang aktor didalamnya menggunakan bahasa inggris secara fasih. Padahal itu adalah sinetron indonesia. Saya pikir, "akan sangat keren sekali jika saya bisa melakuan hal serupa, yaitu berbahasa inggris dengan lancar". Inilah awal mula saya termotivasi untuk mempelajari bahasa inggris.

Sejak saat itu, saya mulai tekun mepelajari bahasa inggris, meski dengan cara yang sangat tradisional, seperti menghapalkan kosakata yang terdapat dalam kamus, membaca buku LKS bahasa inggris milik kakak yang sudah belajar di SMP, dan melakukan berbagai upaya trial and error untuk menguasai bahasa inggris. Prinsip saya, i have to be able to speak english whatever it takes. Waktu itu belum ada pelajaran bahasa inggris bagi siswa sekolah dasar. Saya juga belum mengenal istilah kursus privat bahasa inggris, karena memang tidak ada kursus bahasa inggris di daerah pedesaan dimana saya tinggal. Namun, meski terbentur oleh berbagai keterbatasan faktor pendukung, saya masih giat belajar bahasa inggris.

Ketika saya memasuki level pendidikan sekolah menengah pertama, bahasa inggris adalah pelajaran yang sangat saya suka. Namun tidak demikian dengan teman-teman saya yang masih menganggap bahwa bahasa inggris itu sangat susah untuk dipelajari. Disini ada perbedaan jelas dalam hal motivasi antara saya dan teman-teman saya. Perbedaan level motivasi belajar bahasa inggris jelas lah berbuntut pada perbedaan hasil belajar. 
 
Pertanyaannya, dengan melihat perbedaan hasil belajar bahasa inggris yang kami miliki, apakah itu berarti bahwa sang guru bahasa inggris telah salah dalam mengajarkan materi bahasa inggris? Jawabannya adalah tidak sama sekali. Guru kami mengajarkan materi bahasa inggris dengan sangat baik. Hanya saja, ada satu hal yang guru tersebut seharusnya telah lakukan, yaitu menumbuhkan motivasi belajar bahasa inggris dalam diri siswa.

Memotivasi itu adalah sebuah seni. Sepenggal adegan dalam sinetron dimana seorang aktor berkomunikasi dalam bahasa inggris memang telah menjadi pelecut semangat saya untuk mendalami bahasa inggris. Namun, belum tentu hal tersebut berlaku secara efektif untuk mencuatkan motivasi belajar bahasa inggris pada diri orang lain. Boleh jadi, motivasi belajar mereka bisa membuncah melalui cara lain. Ada berbagai cara untuk menumbuhkan motovasi belajar bahasa inggris. Nah, ini yang musti dilakukan oleh guru, yaitu menemukan cara tersebut.

Sangat penting bagi guru untuk menstimulasi siswa agar menemukan alasan pribadi mengapa mereka perlu belajar bahasa inggris. Yang jelas, ketika siswa telah benar-benar memahami manfaat yang bakal mereka dapatkan dari mempelajari bahasa inggris bagi pribadi mereka, maka mereka akan secara aktif dan sukarela menencari jalan untuk bisa berbahasa inggris, tanpa harus disuruh terlebih dahulu. Dalam kondisi penuh motivasi seperti itu, maka akan sangat mudah bagi guru untuk menggunakan metode apapun untuk membuat siswa memahami materi bahasa inggris dan mempraktikannya.


Rabu, 31 Juli 2013

Pembunuh motivasi itu bernama RANKING

Pagi itu dia merenung. Masih membekas pukulan keras dalam batinnya atas kegagalannya mempertahankan posisi puncak ranking di kelasnya. Batinnya masih tak bisa percaya itu bisa terjadi pada dirinya. Namun, itu adalah pengalaman nyata yang willy-nilly harus ia alami. Kini, ia mulai tegar menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan. Betapa beruntungnya dia memiliki satu sifat positif, yaitu kesadaran untuk menggali hikmah dari setiap peristiwa.

Kini, dia merenungkan apa moral lesson di balik kegagalannya tersebut. Nalar kritisnya mulai bergentayangan. Hingga akhirnya muncul satu pertanyaan dalam benaknya, mengapa harus ada rankin. Ya, kemunculan pertanyaan tersebut bisa jadi merupakan luapan emosional atas kegagalan yang ia alami. Namun lebih dari itu, ternyata itu adalah hasil penalaran kritisnya terhadap eksistensi ranking yang ada di lembaga pendidikan formal.

Sekarang, mari kita kaji bersama-sama mengenai plus minus eksistensi ranking di sekolah. Setelah sekian lama direnungkan, ternyata ada kesimpulan yang cukup mengusik pikiran. Nah..apa itu kesimpulannya? Begini, Keberadaan ranking itu sangat kontra-produktif bagi siswa. Entah apa alasannya jika ranking harus ada. Tapi, boleh lah kita meraba. Konon, keberadaan ranking memiliki dua alasan pokok. Yang pertama adalah sebagai sebuah cara melecutkan motivasi siswa mencapai prestasi di sekolah. Ada harapan bahwa ranking akan mendorong siswa untuk termotivasi dalam belajar, hingga mendapatkan nilai memuaskan yang menjadi tolok ukur kepintaran. Benar-benar konvensional. Memotivasi dengan cara memberikan iming-iming posisi puncak. Masalahnya, yang namanya puncak itu hanya ada satu. Yang kedua, ranking merupakan reward bagi siswa yang pintar, rajin dan aktif di sekolah. Wah..ternyata alasannya mulia juga yah. Okelah...

Faktanya, siswa datang ke sekolah untuk mengenyam pendidikan berbekal ragam level motivasi diri yang berbeda-beda. Sebagian siswa termotivasi dengan penuh kesadaran untuk giat belajar dan berkarya di sekolah. Sebagian lainnya tidak memiliki motivasi yang memadai, sehingga sekolah ber’itikad mengadakan ranking agar siswa termotivasi untuk berkompetisi mendapatkan nilai yang memuaskan, setinggi-tingginya, sebesar-besarnya. Ibarat di arena balap kuda, mereka diadu satu sama lain, dan yang tercepatlah yang mendapat reward. Oleh karena itu format raport nilai jaman dahulu mencantumkan kolom untuk diisi ranking siswa. Namun kok raport sekarang tidak mencantumkan kolom tersebut? Ya ntar kita bahas lebih lanjut.

Nah, poin yang perlu dijabarkan selanjutnya adalah apa yang salah pada ranking. Ada. Ada sisi negatif pada ranking. Mari telisik bersama!

Sisi negatif ranking yang pertama, tidak ada dampak pemerataan motivasi pada siswa secara keseluruhan atas sistem perankingan tersebut. Ranking ternyata hanya memberikan dampak motivatif bagi siswa tertentu, bukan sebagian besar siswa. Mengapa demikian? Karena dalam sistem ranking, yang mendapat posisi tertinggi ya cuma satu orang. Ranking satu ya Cuma satu. Orang tersebut lah yang bangga dan bergembira. Apakah dikira posisi dua, tiga, dan seterusnya juga akan memperoleh motivasi dalam perankingan tersebut? Belum tentu. La bagaimana dengan mereka yang sama sekali tidak mendapatkan ranking di kelas? Mau tidak mau, rasa rendah diri, rasa pecundang, dan rasa tak berarti muncul dalam benak mereka yang tak ber-ranking. Kecuali mereka yang benar-benar tak peduli dengan tujuan mereka belajar di sekolah.

Poin kedua, Ranking bisa membuat siswa down, bahkan ketika nilai mereka naik sekalipun. Sudah terbukti nyata bahwa ranking membuat banyak siswa merasa frustasi ketika ranking mereka tidak sesuai dengan yang mereka harapkan, meskipun mereka sudah belajar lebih giat, lebih smart dan menghasilkan kenaikan nilai yang signifikan. Alih-alih mendapati semangat yang lebih tinggi untuk mendapat nilai lebih baik, ternyata kondisi tersebut malah menguatkan prasangka siswa bahwa apa yang mereka lakukan selama ini sia-sia. Kenaikan nilai yang mereka dapatkan terasa percuma manakala mengetahui bahwa nilai temen mereka naik lebih tinggi. Sehingga, jika diranking, maka posisi mereka tidak beranjak signifikan, karena ada teman yang lonjakan peningkatan nilainya signifikan pula.

Poin ketiga, ranking ternyata rentan menciptakan sifat individualistis. Siswa jadi terobsesi untuk menjadi yang terbaik, unggul di atas teman-teman mereka. Di satu sisi, ini berdampak baik. Namun, kadar efek sampingnya lebih buruk. Karena apa? Ya karena hal ini bisa menimbulkan sifat antipati terhadap teman, dan kurangnya sifat solidaritas untuk membantu teman agar sama-sama memahami apa yang dipelajari di sekolah. Kenapa mereka bisa antipati? Ya karena jika teman mereka sama-sama pntar, maka kesempatan untuk meraih ranking tertinggi akan terancam. Mungkin pernyataan ini terkesan lebay dan hiperbolis. Namun demikianlah logikanya.

Lha mustinya bagaimana? Mustinya ya tidak ada sistim ranking. Keberhasilan siswa selayaknya diukur berdasarkan peningkatan level kompetensi mereka secara pribadi dengan membandingkan pencapaian mereka di masa sekarang dan masa sebelumnya. Tidak perlu ada ranking, karena tidak adil rasanya, mengingat kemampuan masing-masing individu berbeda-beda. Kata Aa Gym, manusia dikatakan berprestasi jika kecerdasan, kemampuan, dan karya mereka yang sekarang ini lebih baik dari yang sebelumnya, bukan dengan tolok ukur ketika mereka lebih baik dari yang lain. Dengan perlakuan demikian, maka tidak akan ada kecemburuan sosial. Malah, para siswa akan bisa dengan leluasa bekerjasama untuk sama-sama memperoleh level kompetensi (bukan nilai angka) yang memuaskan, tentunya dalam konteks yang posisitif.

Manusia memiliki tingkat kemampuan belajar yang beragam. Ada yang fast learner, ada yang slow learner. Itu berdampak pada prestasi siswa di sekolah. Tidak semestinya mereka diadu dengan permainan yang sama. Baik yang fast learner maupun slow learner sama-sama layak mendapatkan apresiasi, tentunya berdasarkan level pencapaian mereka secara individual, bukan dikompetisikan antara sasu sama lain.

Esensi dari pendidikan adalah perubahan tingkat kecerdasan dan karakter. Jika terjadi perubahan yang signifikan pada tiap individu yang belajar, maka itulah keberhasilan pendidikan.

Salam cerdas!

Selasa, 30 Juli 2013

Scared to dream vs Dare to dream

 
Pagi itu ku ajukan satu pertanyaan sederhana untuk mereka jawab secara spontan. Namun, setelah pertanyaan itu aku ajukan tak ada satupun yang langsung menyampaikan jawaban. Kemudian, kuberikan mereka jeda sekitar satu menit untuk mempersiapkan jawaban atas pertanyaan tadi, barangkali mereka perlu me-recall memori barang sejenak. Kali ini ada jawaban, namun hanya sedikit yang mengutarakan jawabannya.
Pertanyaannya sederhana, “what are your dreams? Tell me please!”

Meskipun pertanyaannya sederhana, namun ternyata susah untuk mereka jawab. Keraguan mereka dalam memberikan jawaban membuat aku menyimpulkan bahwa bermimpi itu sulit, bagi mereka. Setidaknya statemen ini berlaku dalam studi kasus tersebut. Namun, bisa juga statemen ini nyata mewakili kondisi riil manusia, yaitu sulit bermimpi. Barangkali lebih tepat jika digunakan kata “takut bermimpi” ketimbang sulit bermimpi.

Pada kenyataannya, banyak manusia yang takut bermimpi. Hal tersebut bukan tanpa sebab. Karena begini... Pikiran manusia merupakan produk lingkungan. Apa-apa yang menjadi paradigma lingkungan seringkali berpengaruh terhadap cara berpikir seseorang. Dahulu, dan bahkan mungkin hingga sekarang, banyak orang tua yang mengatakan “mimpi itu jangan terlalu tinggi, nanti kalo jatuh terasa sakit luar biasa”

Kalimat tersebut seolah-olah menjadi kata bijak, hingga mereka yang tidak dalam-dalam mencernanya bisa take it for granted (memahami secara mentah-mentah). Menurutku, itu kalimat yang keliru. Bung Karno pernah bilang “gantungkan cita-citamu setinggi langit!” itu adalah kalimat yang disampaikan oleh orang besar. Orang besar biasanya bertanggungjawab atas apa yang diucapkannya. Beliau menyampaikan kalimat tersebut secara lantang tentunya bukan tanpa sebab. Jika memiliki cita-cita itu tidak begitu penting, mana mungkin Bung Karno rela mengutarakannya secara lantang di depan khalayak. Diucapkannya kalimat tersebut oleh Bung Karno menyuiratkan ahwa bercita-cita itu sanat penting. Cita-cita kan sama dengan mimpi/impian. Berarti ya impian itu sangat penting. Haha..klise banget kalimatnya...
Kenapa topik ini perlu dibahas? Tulisan ini dibuat dengan harapan bisa memberikan iluminasi bagi banyak orang yang masih takut bermimpi tinggi. Karena ya nyatanya banyak orang yang takut bermimpi. Takut memiliki cita-cita tinggi. Mereka merendahkan diri sendiri dengan merasa bahwa mereka tidak layak untuk memiliki impian besar. Seandainya mereka menyadari bahwa impian sebesar apapun yang dimiliki oleh siapapun bisa terwujud, maka bermimpi bisa menjadi hal yang mudah bagi mereka.

Lantas, mengapa banyak orang yang takut bermimpi? Jawabanya adalah karena mereka takut mengalami satu fase menuju keberhasilan yang bernama “gagal”. Di negeri tercinta ini, “gagal” ternyata masih menjadi momok menakutkan yang seolah-olah wajib dihindari. Ketakutan massal akan kegagalan semakin menjadi-jadi dengan dukungan penuh dari buku-buku, seminar-smeinar, atau ceramah-ceramah yang memberikan tips anti-gagal dalam berbagai aspek kehidupan baik dalam bisnis, hubungan/interaksi sosial maupun dalam berbagai aspek hidup lainnya. Itu semua adalah sumber-sumber ilmu yang seharusnya jadi acuan. Namun, tidak sepenuhnya mengarahkan kita unutk bersikap secara bijak dan tepat dalam bertindak. Kita memang harus benar-benar kritis dalam mencerna sumber pengetahuan.

Dengan ketakutan akan kegagalan tersebut maka lahirlah secara masal pameo “biar sedikit yang penting lancar”, “biar miskin asal bahagia”, dan “terimalah apa adanya”. Disini saya tidak menyarankan untuk tidak bersikap qona’ah. Qona’ah itu kan kalo kita sudah berusaha mentok, kemudian tinggal menunggu jawaban dari sang Maha Pencipta, baru kita perlu berqona’ah. Selama kita masih bisa merubah keadaan, ya prinsip yang kita pakai jangan qona’ah dulu, tapi sikap ikhtiar dan sabar, baru kemudian tawakal. (hehe...sory, pembahawannya mulai nglantur. Sok dakwah. Tapi insya Alloh tidak kehilangan esensi).

Ada korelasi positif antara mimpi dan imaginasi. Keduanya sangat nyata perannya dalam perkembangan peradaban manusia. Ratusan tahun yang lalu, siapa yang bakal menyangka bahwa beberapa ratus tahun kemudian manusia bisa terbang menggunakan benda yang sangat berat. Logika yang mereka pakai adalah bahwa bumi ini memiliki gaya grafitasi tinggi. Sehingga disimpulkan bahwa benda berat tidak mungkin bisa terbang tinggi. Hingga kemudian terlahirlah dua pemimpi besar yaitu wright bersaudara dari amerika. Ketika mereka berdua mengutarakan keinginan dan impian mereka untuk menciptakan pesawat terbang, mereka malah menjadi object of ridicule (bahan tertawaan). Mereka dianggap gila. Namun sebagaimana sudah menjadi sunatulloh, bahwa ide-ide besar seringkali dianggap sebagai kegilaan pada awal mula dicetuskan. Namun, semua orang mengiyakan dan terperangah ketika ide gila tersebut terwujud. Berawal dari mimpi dan imaginasi, banyak keajaiban terjadi di muka bumi ini.

Seberapa pentingkah imaginasi?

Imaginasi is more important than knowledge, begitu kata Albert Einstein. Pernyataan tersebut tidak ngarang, tapi muncul berdasarkan pemahaman yang dalam. Kemunculan hal-hal baru dalam peradaban manusia sering diawali dengan imaginasi. Mengapa imaginasi dikatakan le bih penting dari pengetahuan (knowledge)? Karena pengetahuan merupakan sebuah produk jadi yang manusia tinggal memahaminya. Sementara, imaginasi adalah fase awal terbentuknya penciptaan baru, yang akan menjadi acuan bagi terbentuknya pengetahuan baru. Kata imaginasi “lebih penting” dari pengetahuan bukan berarti menafikkan pentingnya pengetahuan. Pengetahuan penting juga. Namun perlu disadari bahwa imaginasi nyatanya merupakan awal terbentuknya masterpiece baru dalam kehidupan. So, setujui saja lah pernyataan Einstein! Gitu aja ko repot.

Hmm..makin lama tulisan ini makin melebar. Haha... tidak apa-apa lah. Toh semua poin masih saling berkaitan. Sekarang, poin yang perlu diobrak-abrik lagi adalah “untuk apa kita musti takut bermimpi”, toh impian itu gratis.

Untuk jawaban atas pertanyaan tersebut, perlu diuraikan secara sekuensial. Apa sih penyebab ketakutan untuk bermimpi? Jawabannya adalah ketidaksiapan diri untuk mengalami kegagalan dalam berproses. Banyak pakar psikologis yang memberi motivasi agar orang tidak takut gagal dengan menyampaikan kalimat-kalimat seperti
-kegagalan adaah awal dari keberhasilan
-kegagalan adalah sukses yang tertunda
-kegagalan adalah bagian dari proses
Dan sebagainya.

Ternyata, semakin sering dan semakin jamak orang mendengar kalimat sugestif tersebut, semakin terasa klise dan hambar lah kalimat tersebut. Kalimat tersebut makin terasa hilang maknanya. Orang bahkan mungkin bosan mendengarnya. Nah..dalam tulisan ini, ada seruan untuk berani menghadapi kegagalan, tapi dengan pendekatan yang berbeda. Semoga terlepas dari kesan klise, hingga benar-benar bisa nyenggol mindset (pikiran) dan alam bawah sadar manusia.
Begini...

Manusia kan hidup di dunia hanya satu kali. ya sih, ada kesempatan hidup lagi, tapi itu bukan berupa reinkarnasi (keyakinan saya loh), melainkan berupa kehidupan di akhirat. Itupun di akhirat manusia sudah tidak bisa merubah warna hidupnya, karena apa yang bakal terjadi di sana hanya dalam bentuk reward and punishment atas segala perbuatan manusia selama hidup di dunia.
Coba pilih! Ingin hidup biasa-biasa saja atau ingin hidup luar biasa? Terserah sih ingin milih yang mana.

“Life is a matter of choice, and every choice has its own consequence”
Milih manapun terserah. Tapi, saya yakin bahwa kata hati setiap manusai akan lebih memilih untuk hidup secara luar biasa. Eman-eman jika hidup di dunia yang hanya sekali ini dijalani tanpa ada kejutan, masterpiece, prestasi besar, kebanggaan, dan hal-hal menakjubkan lainnya. Lawan dari biasa adalah luarbiasa. Hal biasa selalu terjadi dengan proses standar. Sementara hal luarbiasa selalu terjadi karena proses yang luar biasa pula. Hidup tanpa impian bakal berimp0likasi pada hidup biasa-biasa saja. Semenata hidup dengan impian besar merupakan cikal bakal terwujudnya kehidupan yang luar biasa. Makanya, hidup yang hanya sekali ini, jadikan ia berarti.

Akhirnya, ingin ku sampaikan bahwa gagal dan berhasil itu ternyata adalah saudara yang saling melengkapi dan menguatkan satu sama lain. Keduanya ibarat dua sisi uang koin yang tak dapat dipisahkan antara satu sama lain. Membenci gagal sama halnya dengan menafikkan takdir. Bisakah kita mengakui satu sisi dari mata uang kemudian tidak mengakui yang satunya? Tidak,kan? Marilah kita berani menetapkan impian, dan bertanggungjawab penuh untuk mewujudkan impian tersebut, apapun konsekuensinya dan seberapapun harganya. Istilah western nya “whatever it takes!”...
Let's dare to dream!

With love
 
Dahlan (MD)