Senin, 14 Maret 2016

How Dreams Come True

 Impian adalah hal yang tak berbiaya, namun tak semua orang berani untuk sekedar memilikinya. Banyak orang terjebak oleh stereotype yang keliru mengenai mimpi. `jangan terlalu tinggi bermimpi, karena jika tak terwujud bakal menjadi pukulan hebat di jiwa`. Ada pula `jangan terlalu muluk-muluk berkhayal (mimpi), realistis saja`. Sehingga, jangan kan mampu mewujudkan impian, memilikinya saja tak berani. Kalimat-kalimat tersebut terkesan benar adanya. Namun ketika kita take it for granted (mengikuti pemikiran secara mentah-mentah), maka bisa memunculkan sifat takut untuk bermimpi.


Dalam tulisan ini, akan saya ceritakan pengalaman bagaimana saya mendapati impian saya mewujud nyata. Saya makin percaya, sebagaimana dikatakan oleh Andrie Wongso, bahwa sukses adalah hak saya, kamu, dan setiap orang.

Alloh maha adil. Dia menjadikan setiap orang, apapun kondisi dan latar belakangnya, memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil, dalam hal apapun.

Mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program pengembangan diri ke luar negeri yang cukup prestisius bagi saya merupakan hal yang sangat membanggakan. 2015 adalah tahun hoki buat saya. Saya katakan hoki karena saya merasa bahwa tahun tersebut adalah tahun pencapaian terbesar saya dalam hidup. Mengikuti program pertukaran guru ke australia dan selang beberapa waktu kemudian disusul berangkat ke Jepang untuk program Teacher Training yang disponsori oleh Pemerintah Jepang.

Dulu, rasanya tak mungkin saya mendapatkan kedua kesempatan tersebut. Sebelumnya tak terbersit dalam pkiran saya bahwa saya akan mampu meraihnya, mengingat seleksi untuk mengikuti program tersebut terbilang cukup ketat, dengan hanya segelintir kuota untuk lolos seleksi. Namun, saya meyakini kebenaran Alloh bahwa sesungguhnya Alloh beserta prasangka hambanya. Selain itu, islam mengajarkan bahwa doa adalah senjata yang ampuh bagi seorang muslim yang akan mengantarkannya mengubah kondisi apapun, dengan seizinNya. Setelah mendapati itu semua, kini saya semakin yakin akan kebenaran bahwa segala impian dapat terwujud jika kita benar-benar menunjukkan kesungguhan bahwa kita menginginkannya, meyakini akan keterwujudannya, dan berusaha dengan doa dan usaha untuk menjadikannya nyata.

Secara ringkas, alur terwujudnya impian saya bisa digambarkan sebagai berikut.
 
Bagian pertama adalah keresahan. Iya, tidak salah, keresahan. Saya menyadari bahwa saya termasuk pribadi yang memiliki need of achievement yang tinggi. Dengannya, saya selalu merasa tidak puas dengan keadaan yang serba monoton, konstan, dan tak ada perkembangan, dalam hal apapun. Saya menjalani rutinitas setiap hari berangkat pagi ke sekolah untuk mengajar dan pulang sore begitu monotonnya. Saya juga merasakan stagnansi dalam hal perkembangan kompetensi dan wawasan. Selain itu, melihat dinamika dalam mengajar, saya semakin memahami bahwa ada banyak hal yang harus diperbaiki dalam tatanan pendidikan di sekolah. Perihal bagaimana menumbuhkan motivasi belajar siswa, menjadikan pembelajaran lebih efektif, cara membangun hubungan psikologis yang membuat siswa nyaman mengikuti proses pembelajaran, menangani berbagai perilaku menyimpang siswa, mengajarkan etika dan karakter, menumbuhkan minat membaca pada siswa, bagaimana menjadi katalisator terbentuknya pribadi siswa yang memiliki berbagai skills (hard and soft), dan pada umumnya menjadikan tujuan pendidikan benar-benar terwujud, adalah hal-hal yang menjadi perhatian (concern) saya.

Selain itu, ada keresahan pribadi yang cukup mengusik pikiran saya. Saya merasa bahwa profesi guru PNS adalah profesi yang tak memiliki sistem reward and punishment yang proporsional, tak seperti pekerjaan di sektor swasta. Saya akui, menjadi guru, apakah kita menampilkan kinerja yang luarbiasa atau sebaliknya,  tak akan berpengaruh banyak terhadap reward. Itu yang saya sesalkan. Bahasa kasarnya, mau mengajar dengan performa yang luar biasa pun gajinya akan tetap sama dengan mereka yang performanya biasa-biasa saja. Serasa hati tak terima bahwa strata saya disamakan dengan mereka yang tak menunjukkan passion yang luarbiasa dalam menjalani aktivitas sebagai pendidik.

Memang, bagi saya kepuasan moral atas prestasi kinerja sebagai guru adalah reward yang cukup memuaskan, namun semua orang tentu memahami bahwa dalam konteks kerja, bukan bakti sosial, tentu aspek materi menjadi pertimbangan tersendiri. Namun, saya meyakini bahwa di dunia ini tak ada keberuntungan yang tertukar. Mereka yang menanam padi lah yang besar kemungkinan akan memanen padi. Untuk itulah saya berusaha untuk terus mengembangkan diri. Tentu tak layak untuk berharap bagi mereka yang tak berusaha mengembangkan diri.

Saya ingin dengan menjadi seorang pendidik yang mampu mencapai level tertinggi dalam kompetensi. Dengan demikian, saya ingin sekali mendapatkan program pengembangan diri di luar negeri sebanyak mungkin, karena itu salah satu cara efektif mengembangkan kompetensi sebagai pendidik, dan tentunya harus diupayakan satu-persatu untuk mewujudkannya. Saya teringat sebuah ajaran dalam Islam bahwa sesungguhnya Alloh beserta prasangka hambaNya, diperkuat pula oleh Hukum ketertarikan (law of attraction) sebagaimana yang telah populer dalam ilmu psikologi modern seperti buku The Secret oleh Rhonda Byrne, serta tulisan-tulisan napoleon hills, dale carnegie, Ibrahim Elfiky, dan lainnya yang mengulas materi sejenis. Dengan pemahaman bahwa dalam dunia ini ada hukum ketertarikan yang bekerja nyata, apapun yang menjadi fokus pikiran kita, baik itu hal positif maupun negatif maka hal tersebut akan mewujud nyata, suka atau tidak suka. Saya berusaha untuk menerapkannya. Saya menginginkan untuk bisa mengikuti program pertukaran guru ke Australia, Program Teacher Training ke Jepang, dan program-program lainnya, yang tentunya harus diupayakan satu per satu.

Banyak orang yang mungkin memiliki impian yang sama dengan impian saya, dalam waktu yang sama, dan memperebutkan kesemptan yang sama. Namun, man jadda wa jadda. Barangsiapa bersungguh-sungguh, maka dia akan diberhasilkan olehNya. Itu prinsip yang saya praktikkan dalam upaya mewujudkan impian saya. Banyak orang yang mendambakan hal yang sama dengan saya. Tentunya, agar impian saya mewujud nyata, harus ada faktor pembeda yang ada pada diri saya. Faktor pembeda tersebut berupa ikhtiar yang di atas rata-rata. Berguru kepada mereka yang telah mencapai hal yang kita dambakan adalah salah satu kiat sukses para peraih nobel dan orang-orang yang berhasil di bidang mereka masing-masing, yang saya terapkan. Tak ada guru yang datang dengan sendirinya selain guru kelas atau guru les privat. Maka, saya harus mencari sendiri mereka. Beruntung, adanya akses teknoligi informasi dengan sosial media memudahkan saya mendapatkan mereka dan berguru dari mereka. Ilmu-ilmu dari mereka tentang bagaimana mereka berproses menuju terwujudnya impian mereka saya terapkan, dan itu semakin memperkuat keyakinan saya akan semakin dekatnya jarak antara saya dengan tercapainya impian.

Ikhtiar lain yang saya lakukan adalah pendekatan yang cukup intensif dengan Dia sang maha Pengatur segala urusan dunia dan alam semesta. Barangkali terkesan pragmatis, beribadah dengan disisipi harapan terwujudnya hajat tertentu. Namun bukankah agama ini mengajarkan demikian, bahwa jika kita menginginkan sesuatu maka tunjukkan kedekatan kita kepadaNya. Alloh maha tau bahwa manusia adalah makhluk yang pragmatis. Dan justru, dengan sering meminta padanya, mendekatkan diri padanya, Ia catat itu sebagai ibadah yang luarbiasa pahalanya. Asik bukan? Yang penting, jangan sampai ketika hajat sudah terwujud kemudian kita jadi bertolak meninggalkan perintahnya dan semakin jauh dariNya.

Doa seorang ibu memiliki kekuatan yang sangat luarbiasa. Meski hal ini mungkin susah untuk diterima secara rasional, namun iman menjadikan saya sangat meyakini kebenarannya. Saya libatkan Ibu saya untuk mendoakan bagi terwujudnya impian saya. Namun, doa Ibu yang tulus lah yang akan sampai ke Pencipta. Tak semua hubungan Ibu dan anak harmonis. Kadang perilaku seorang anak menjadikan seorang Ibu merasa kurang Ridho, meski dalam taraf yang kecil. Maka, penting sekali untuk memperlakukan Ibu selayaknya seorang ratu. Kita musti baik-baikin Ibu. Berusaha bahagiakan dia. Dan berusaha untuk sebisa mungkin tak pernah membuatnya tersakiti. Birrul walidain. Berbakti kepada orangtua.

Dalam hidup ini, semakin besar nilai suatu barang maka semakin besar pula harganya. Untuk target yang besar, kita perlu ikhtiar besar pula. Tak perlu khawatir, tugas kita bukan untuk memberhasilkan diri kok. Domain kita adalah berupaya semaksimal mungkin. Selebihnya, Dialah yang menjadikan kita berhasil segera, ditunda keberhasilannya, atau diberhasilkan dalam wujud karunia lain yang tak kita sangka. Ketika impian, keyakinan, doa, dan ikhtiar telah bersinergi secara sempurna, maka insya Alloh berhasil kan kita raih. Dan musti yakin bahwa hasil biasanya tak pernah menghianati proses/upaya.

Nothing is impossible…



Sendai, Japan, 15/3/2016

Rabu, 27 Januari 2016

5 Reasons Why Reading Habits Are Important

reading-habits


Reading is one of the most fundamental skills a child needs to learn to succeed in life. Developing good reading habits is vital to your child’s future not just academically, but in everyday life as well. What can good reading habits do for your child’s development? Here are five reasons you should develop reading habits young, and why they are so important.

Reading develops vocabulary:
The more your child reads, the more new words will find their way into his vocabulary. Reading allows for exposure to words and phrases that you might not use as part of normal speech. “When you read aloud to your child, you are not only helping to prepare her to learn to read, you are also exposing her to rich language she otherwise might not hear,” states Susan Canizares, Ph.D, a specialist in language and literacy development.

Reading increases attention span:
Encouraging good reading habits from an early age develops your child’s attention span and allows them to focus better and for longer periods of time. Reading combats the epidemic of poor attention span in today’s children.

Good reading habits prepare children for school:
Children who spend a lot of time reading prior to attending school will have an easier time adapting to the reading-focused learning environment in their future classrooms.

Developing reading habits early leads to a lifelong love of books:
Children who start reading regularly from an early age are more likely to enjoy reading later in life. This will serve them well throughout their education and beyond.

Reading encourages a thirst for knowledge:
Children with good reading habits learn more about the world around them, and develop an interest in other cultures. Reading leads to asking questions, and seeking answers, which means children learn more every day.
You can teach your child good reading habits and motivate them to read by:
  • Reading to them from a young age, as early as possible
  • Modeling good reading habits by taking the time to read yourself
  • Encouraging conversations about content of what your child has been reading.
Encouraging good reading habits and modeling them as well sets up a parent as a role model for the love of reading. Susan B. Neuman, Ph.D, director of the Center for the Improvement of Early Reading Achievement at the University of Michigan, says teaching motivation is key. “Children develop motivation to read by being read to often, learning firsthand the pleasures that reading can bring.”

adopted from http://www.etllearning.com/th/resources/5-reasons-why-reading-habits-are-important/

Selasa, 19 Januari 2016

Program Pertukaran Guru Jawa Tengah (Indonesia)-Queensland (Australia)

2015 adalah tahun yang terasa amat istimewa bagi saya.
betapa tidak, saya lolos dalam seleksi dua program pengembangan diri ke luar negeri.
Program pertama adalah program Central Java-Queensland Teacher Exchange2015 yang berlangsung selama satu bulan. Program yang kedua adalah Program Teacher Training yang disponsori oleh Pemerintah Jepang.

Pada tulisan ini, saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman mengikuti program pertukaran guru ke Australia tersebut. Butuh waktu dua tahun untuk menanti dan mempersiapkan segala hal yang diperlukan hingga saya, dengan kuasa Alloh, berkesempatan mengikuti program pertukaran guru ke Queensland tesebut.

Di balik setiap pencapaian besar, biasanya selalu ada fase pahit yang harus dilalui. Namun seringkali fase tersebut kurang ampak di permukaan atau jarang diketahui publik. Pada tahun 2013 saya endapatkan informasi dari kepala sekolah dimana saya mengajar, bahwa ada seleksi program pertukaran guru ke Australia bagi guru-guru sekolah enengah atas (SMA ) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Program tersebut mensyaratkan peserta seleksi untuk memiliki berbagai  dokumen, seperti surat keterangan keaktifan mengajar yang ditandatangani oleh kepala sekolah, transkrip hasil test TOEFL dengan standar minimal ITP, surat keterangan (SK) kepegawaian, Biodata, formulir terisi, piagam penghargaan atau sertifikat keikutsertaan dalam berbagai program pengembangan diri dan berbagai dokumen lainnya.

Pada hari pengumpulan berkas saya bergegas menuju kantor dinas pendidikan daerah untuk menyerahkan berkas guna disampaikan kepada panitia seleksi di kantor dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi. Betapa terkejutnya saya ketika mendapati informasi bahwa berkas saya tidak bisa diserahkan ke Provinsi, karena quota satu peserta per kabupaten/kota yang ditetapkan oleh panitia seleksi telah diambil oleh guru lain. Ternyata ada miskoordinasi dari pihak dinas pendidikan kabupaten.Akhirnya, berkas saya tidak bisa dikiimkan ke provinsi dan tentunya saya tidak bisa mengikuti proses seleksi program tersebut.

Cukup terpukul rasanya, mengingat upaya yang telah saya lakukan untuk mempersiapkan seleksi sudah begitu luar biasa `painstaking`, istihal bahasa inggrisnya. Namun saya yakin bahwa itu adalah tanda bahwa saya sudah berada pada track yang tepat. artinya, hanya maslah waktu bahwa saya akan mendapatkan kesempatan untuk lolos mengikuti program tersebut. firasat saya berkata sedemikian positifnya terhadap keadaan dan Tuhan.

Satu tahun berselang, saya mencoba menguhubungi pihak provinsi secara langsung terkait seleksi program pertugkaran guru tersebut. Namun, saat itu, nasib baik masih maih belum menghampiri saya, karena seleksi program tersebut di tahun 2014 mensyaratkan bahswa peserta adalah guru yang mengampu mata pelajaran eksak/sains.

Hati masih mantap berharap pada kesempatan yang mungki muncul di tahun berikutnya. 2015 adalah jawabannya. saya menghubungi sendiri pihak provinsi untuk menanyakan ada tidaknya proses seleksi program pertukaran guru tesebut. Begitu terkejutnya saya ketika mendpatkan jawabn dari pihak provinsi bahwa tepat hari berikutnya adalah batas akhir pengumpulan berkas persyartatan peserta seleksi untuk harus sudah sampai di provinsi.

Segera setelah selesai menghubungi pihak provinsi, saya langsung mengambil semua berkas persyaratan di laci meja kantor yang memang sudah saya persiapkan sejak lama, dan bergegas menuju kantor dinas pendidikan.

Begitu sampai di kantor dindikbud, saya mengkonfirmasi kepada salah satu pegawai apakah surat edaran terkait seleksi program pertukarn guru ke Australia sudah sampai di kantor dindikbud. Ternyata jawabannya adalah ``belum``. saya sempat curiga jangan-jangan ada kealpaan dari pihak dinas. Barangkali surat sudah lama dikirimkan oleh panitia namun pihak dinas belum mengecek keberadaan surat tersebut。Ternyata benar bahwa surat sudah dikirimkan oleh pihak panitia namun tiba di kantor bagian program. Kurang adanya koordinasi antar pegawai menjadikan surat tersebut tidak diketahui pihak dinas pendidikan.

Sesaat setelah mendapatkan surat tersebut, saya langsung meminta ke pihak dinas untuk menunjuk saya sebagai delegasi dari kabupaten dan meminta mereka untuk langsung membuatkan surat tugas mengikuti proses seleksi. Setelah selesai surat tersebut dibuat, saya langsung bergegas menuju kantor dinas pendidikan provinsi untuk menyerahkan berkas persyaratan.

Saya menanggung sendiri semua biaya akomodasi menuju kantor dinas pendidikan provinsi yang jaraknya cukup jauh, 160km dari tempat tinggal saya. Namun semua hal tersebut terasa ringan karena perasaan lega telah mampu mendaftakan diri mengikuti proses seleksi.




Persiapan menjelang wawancara

Bagai menyambut perang besar, saya memanfaatkan waktu satu minggu sebelum hari wawancara untuk mematangkan persiapan wawancara. Ada beberapa hal yang saya persiapkan yaitu kemampuan menjawab pertanyaan dalam wawancara beserta trik dan tips nya, how to be well-groomed dalam wawancara, dan menata mental saya supaya optimis untuk lolos dalam seleksi wawancara. 

Mengenai tips dan trik menjawab pertanyaan dalam wawancara, saya sudahmempraktikkannya jauh-jauh hari sebelumnya, karena saya memang sudah lama meyaini bahwa mempelajari trik wawancara akan selamanya berguna bagi saya di kemudian hari. Banyak sumber yang bisa dijadikan rujukandan sebagian besar bisa didapatkan melalui media internet. Practice makes perfect. Tentunya semua teori tentang wawancara harus dipraktikkan sesering mungkin agar semakin sempurna.

Hal-hal detil seperti pemilihan jenis, model dan warna pakaian juga saya perhatikan. Pada kenyataannya, ada pakaian khusus yang dirasa elegan untuk dipakai delam menghadapi wawancara tetentu.

Saya meyakini kebenaran adanya hukum ketertarikan (low of attraction), bahwa apapun yang kita pikirkan/fokuskan dalam pikiran baik itu hal baik maupun buruk, pada satnya akan tiba dan menjelma nyata dalam kehidupan kita. Saya melakukan visualisasi bahwa saya benar-benar berangkat ke Audstralia untuk mengikuti program pertukaran guru tersebut. Sebenarnya prinsip tentang huku ketertarikan ini ada dalam kitab suci, khususnya Al-Quran.  Selain itu, psikologi modern juga cukup banyak yang secara komprehensif  mengulas tentang prinsip ini, seperti buku yang berjudu; The Secret yang  ditulis oleh Rhonda Byrne.






Due date Tes Wawancara

Seleksi program tersebut dilaksanakan satu minggu setelah deadline pengumpulan berkas, dan dilaksanakan di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi. Seleksi program tersebut berupa tes tertulis dan tes wawancara, dimana masing-masing memiliki prosentase nilai tersendiri. Tes wawancara memiliki prosentasi nilai sebesar 80%, sementara sisanya 20% adalah prosentase tes tertulis.

Saya belum pernah merasakan optimisme yang luar biasa sebelumnya, sebagaimana yang saya rasakan pada saat itu. Optimisme saya untuk lolos begitu besar karena adanya beberapa faktor. Yang petama adalah persiapan yang dirasa sangat cukup unutk menghadapi seleksi. Doa yang sudah berkali-kali saya panjatkan kepada Alloh untuk diloloskan dalam seleksi program tersebut. Ketiga, saya mengajukan permintaan secara khusus kepada Ibu saya untuk didoakan agar saya lolos seleksi program pertukaran guru tersebut, di waktu yang saya tentukan, dengan cara yang saya jelaskan kepada Beliau.

Pada seleksi wawncara, ada 4 pos wawancara dengan materi yang berbeda-beda. Pos-pos tersebut yaitu pos kebudayaan, psikologi dan kepemimpinan, pedagogik, dan kompetensi berbahasa inggris. Meski ada pos kompetensi berbahasa inggris, namun proses wawancara di semua pos dilakukan dalam bahasa inggris.

Dua minggu berselang setelah wawancara, pihak panitia seleksi mengirim email berisi keputusan hasil seleksi, dan saya dinyatakan lolos untuk mengikuti program pertukaran Guru ke Queensland, Australia.

Jika Alloh menghendaki sesuatu terjadi, maka terjadilah. Tak ada hal yang sulit bagiNya untuk menghinakan atau memuliakan, memberhasilkan atau menggagalkan hambaNya. Yang jelas, tugas manusia bukanlah memberhasilkan diri, melainkan berusaha/berikhtiar dan berdoa semaksimal mungkin. Sedangkan keberhasilan adalah domain Tuhan, Alloh.














Sabtu, 09 Januari 2016

Belajar Membesarkan Miliader dari Ayah Bill Gates



Mungkin banyak orang bertanya-tanya, sebenarnya seperti apa Bill Gates kecil sebelum dirinya mendirikan Microsoft, filantropi atau yayasan amal dan menjadi miliarder seperti saat ini.

Ternyata, kesuksesan Gates tidak lepas dari peran kedua orang tuanya. Berikut kutipan wawancara dengan Ayah Bill Gates, William H Gates melansir Forbes,Minggu (10/1/2016).

Seperti apa Bill ketika masih kecil?

Hampir setiap jenis buku menarik baginya, dari ensiklopedi hingga fiksi ilmiah. Saya sangat senang anak saya gemar membaca, tapi dia terlalu banyak membaca sampai akhirnya saya dan istri saya membuat aturan tidak ada buku di meja makan.

Apakah Bill pernah bercerita tentang hal yang ingin dilakukan saat dewasa?

Sebagai bagian dari tugas sekolah, saat kelas 5 SD Bill harus mengisi formulir tentang apa yang ingin dilakukan ketika dewasa. Bentuknya termasuk daftar pekerjaan seperti dokter, pemadam kebakaran, dan lain-lain dengan mencentang kotak di sebelahnya. Setiap siswa diharapkan memilih salah satu dari daftar yang ada. Meskipun Bill memberi tanda ceklis di samping astronot, dia juga mengisi kolom tambahan dan menulis 'ilmuwan'. Tumbuh dewasa, dia sangat ingin tahu bagaimana dunia bekerja dan dia memiliki ide-ide yang bijaksana mengenai bisnis, hidup, hubungan internasional dan masa depan. Pada saat itu, sulit bagi saya untuk mempercayai ada anak yang sering beradu pendapat di meja makan menjadi bos saya. Tapi di sinilah kita berada.

Kapan dia mulai tertarik pada komputer?

Sangat dini. Kesempatan datang di sekolahnya ketika Ibunya mengumpulkan uang untuk membayar perangkat komputer yang terhubung dengan telepon. Tujuannya perangkat itu akan digunakan guru, tapi mereka membuat beberapa kesalahan dan timbul rasa takut. Bill adalah salah satu dari sekelompok murid matematika yang diundang untuk menggunakan sistem dan mempelajari bagaimana sistem bekerja. Sekira usia 13 tahun dia mulai terpikat.

Apa Bill Bekerja sebelum kuliah ?

Ketika SMA, Bill menggunakan waktu istirahatnya untuk melakukan pemograman pada pembangkit listrik di North Bonneville. Bill dan saya berbicara dengan kepala sekolah SMA-nya dan kami setuju pekerjaan adalah cara praktis untuk menerapkan keterampilan dan kepentingan. Saya ingat Bill mengatakan dia dan Paul Allen akan bekerja keras pada sistem manajemen jaringan listrik.(rai)





Source: http://www.huntnews.id/p/detail/f29e1900d5853b2b90fff2cd219b01df?uc_param_str=dnfrpfbivesscpgimibtbmntnisieijblauputoggdnw&channel=headlines&pos=14523838778790&ch=card&ch1=list

Selasa, 14 Oktober 2014

Ketika Yang Halal Tercampur Yang Haram



Seseorang datang kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.

Namun anehnya, Imam Syafi’i justru menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi’i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.

Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi’i memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham.

Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi’i dengan perasaan sangat heran. Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi’i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercambur dengannya.

Lalu Imam Syafi’i membacakan sebuah sya’ir:

جمع الحرام على الحلال ليكثره
دخل الحرام على الحلال فبعثره

Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.
Yang harampun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.


Barangkali kisah ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima.

Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkahan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak. (Far)

Jumat, 16 Agustus 2013

Ngaruh gak sih bahasa inggris buat hidup gue??





 

AMBAK, yang merupakan kependekan dari “Apa Manfaatnya BagiKu” barangkali masih menjadi istilah yang kurang familiar bagi sebagian guru, kecuali bagi mereka yang pernah membaca buku quantum learning. padahal, itu merupakan hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan. 
 
AMBAK merupakan sebuah prinsip bahwa apabila seorang pembelajar tidak memahami dengan pasti apa manfaat dari hal yang ia harus pelajari, maka sesungguhnya tidak ada upaya belajar yang dilakukan secara sadar, penuh kesungguhan dan atas dasar sukarela pada diri si pembelajar tersebut. Dalam pengamatan saya, guru kebanyakan lebih sering terorientasi pada “how to make students understand the subject well” ketimbang “how to drive students learn well”. 
 
Saya masih ingat ketika pertama kali saya tertarik untuk belajar agar bisa lancar berbahasa inggris. Waktu itu saya masih kelas 6 Sekolah Dasar. Ketertarikan saya terhadap bahasa inggris bermula ketika saya melihat sebuah sinetron dimana seorang aktor didalamnya menggunakan bahasa inggris secara fasih. Padahal itu adalah sinetron indonesia. Saya pikir, "akan sangat keren sekali jika saya bisa melakuan hal serupa, yaitu berbahasa inggris dengan lancar". Inilah awal mula saya termotivasi untuk mempelajari bahasa inggris.

Sejak saat itu, saya mulai tekun mepelajari bahasa inggris, meski dengan cara yang sangat tradisional, seperti menghapalkan kosakata yang terdapat dalam kamus, membaca buku LKS bahasa inggris milik kakak yang sudah belajar di SMP, dan melakukan berbagai upaya trial and error untuk menguasai bahasa inggris. Prinsip saya, i have to be able to speak english whatever it takes. Waktu itu belum ada pelajaran bahasa inggris bagi siswa sekolah dasar. Saya juga belum mengenal istilah kursus privat bahasa inggris, karena memang tidak ada kursus bahasa inggris di daerah pedesaan dimana saya tinggal. Namun, meski terbentur oleh berbagai keterbatasan faktor pendukung, saya masih giat belajar bahasa inggris.

Ketika saya memasuki level pendidikan sekolah menengah pertama, bahasa inggris adalah pelajaran yang sangat saya suka. Namun tidak demikian dengan teman-teman saya yang masih menganggap bahwa bahasa inggris itu sangat susah untuk dipelajari. Disini ada perbedaan jelas dalam hal motivasi antara saya dan teman-teman saya. Perbedaan level motivasi belajar bahasa inggris jelas lah berbuntut pada perbedaan hasil belajar. 
 
Pertanyaannya, dengan melihat perbedaan hasil belajar bahasa inggris yang kami miliki, apakah itu berarti bahwa sang guru bahasa inggris telah salah dalam mengajarkan materi bahasa inggris? Jawabannya adalah tidak sama sekali. Guru kami mengajarkan materi bahasa inggris dengan sangat baik. Hanya saja, ada satu hal yang guru tersebut seharusnya telah lakukan, yaitu menumbuhkan motivasi belajar bahasa inggris dalam diri siswa.

Memotivasi itu adalah sebuah seni. Sepenggal adegan dalam sinetron dimana seorang aktor berkomunikasi dalam bahasa inggris memang telah menjadi pelecut semangat saya untuk mendalami bahasa inggris. Namun, belum tentu hal tersebut berlaku secara efektif untuk mencuatkan motivasi belajar bahasa inggris pada diri orang lain. Boleh jadi, motivasi belajar mereka bisa membuncah melalui cara lain. Ada berbagai cara untuk menumbuhkan motovasi belajar bahasa inggris. Nah, ini yang musti dilakukan oleh guru, yaitu menemukan cara tersebut.

Sangat penting bagi guru untuk menstimulasi siswa agar menemukan alasan pribadi mengapa mereka perlu belajar bahasa inggris. Yang jelas, ketika siswa telah benar-benar memahami manfaat yang bakal mereka dapatkan dari mempelajari bahasa inggris bagi pribadi mereka, maka mereka akan secara aktif dan sukarela menencari jalan untuk bisa berbahasa inggris, tanpa harus disuruh terlebih dahulu. Dalam kondisi penuh motivasi seperti itu, maka akan sangat mudah bagi guru untuk menggunakan metode apapun untuk membuat siswa memahami materi bahasa inggris dan mempraktikannya.