Betapa waktu adalah lebih bear nilainya
dari uang. bukan sekedar “uang bia dicari, namun waktu tidak bisa kembali”,
melainkan juga uang seharusnya ditempatkan di bawah waktu. Bukan waktu ditukarkan
dengan uang, melainkan uang yang harusnya ditukarkan dengan waktu. Beda!
Aku baru menyadari makna hakiki dari
waktu lebih berharga dari uang, setelah merenungi beberapa pengalmaan hidup. Banyak
hal yang telah aku lewatkan, karena kurang bijaknya (kurang tepat) aku
memperlakukan uang dan waktu.
Aku berandai-andai.
Pertama, andai pada tahun 2018 aku bersedia
mengambil kursus berbayar senilai tiga juta rupiah untuk pendalaman Facebook
dan Instagram Ads, mungkin aku sudah termasuk jajaran orang yang berhasil
meraih momentum keberhasilan dari boomingnya Facebook dan Instagram Ads pada
waktu itu.
Sayangnya waktu itu aku merasa eman-eman
untuk menginvestasikannya ke dalam kursus tersebut. berpikir dan berharap bahwa
belajar secara mandiri di platfor gratis seperti Youtube bisa membuatku
menguasai hal yang berbayar tersebut, dengan kualitas kedalaman pemahaman yang
sama. Ternyata aku salah arah, dan gagal meraih momentum tersebut.
Kedua, andai dua tahun lalu aku
bersedia membayar jasa pembuatan web yang nilainya tidak lebih dari 10 juta
itu, mungkin aku sekarang sudah menikmati hasilnya, dan focus mengembangkan
Search Engine Optimization (SEO) website yang aku punya. Alih-alih mengambil
opsi tersebut, aku memutuskan untuk mengambil kursus website development, dan
berharap bisa membuat website sendiri. Bukan belajar membuat website nya yang keliru,
bahkan itu penting. Masalahnya, aku tidak kerja secara tuntas. Menyewa jasa
pembuatan website tidak aku lakukan, sementara skill membuat website ku tak
kunjung mencapai level sempurna, karena aku terlalu banyak larut dalam berbagai
distraksi.
Andai website ku sudah terbangun dua
tahun lalu, semestinya bisnis ekspor vanili ku sudah jauh berkembang melebihi
sekarang, dengan buyer loyal dari berbagai negara. Bahkan bukan tidka mungkin
aku sudah mendapatkan Purchase Order (PO) rutin dari buyer tertentu dengan nilai
per tahun puluhan milyar rupiah.
Ketiga, andai di tahun 2022 aku mau
mengambil kursus pengembangan channel Youtube yang nilainya belaan juta rupiah
itu, mungkin sekarang aku sedang menikmati financial and willing freedom. Tak perlu
terjebak dalam rutinitas mengikat seperti yang aku alami sekarang. Kegiatanku
udah semetinya seputar making money a lot, travelling, invetasi akhirat, ibadah
secara rutin, dan menjalani hidup secara lebih fulfilling sebagaimana yang aku
inginkan.
Keempat, andai tahun lalu akum au menukarkan
uangku untuk upgrade akun Alibaba dan invest di KWA, mungkin aku sudah dapatkan
buyer lebih dengan nilai transaksi milyaran rupiah tiap bulannya. Kalo untuk
urusan ini, aku tidak sepenuhnya menyalahkan diri sendiri, karena memang
keputusan untuk spending money di dua hal tersebut ditentukan bukan hanya oleh
diriku, melinkan juga oleh partner bisnisku.
Banyak momentum yang aku lewatkan,
hanya karena aku menempatkan uang di atas waktu, bukan sebaliknya.
Aku belajar dari pengalaman-pengalaman
ini.
Insya Alloh aku akan lebih baik lagi.
Anyway, aku maish berterimakasih pada
diri sendiri dan bangga pada diri sendiri.
Setidaknya, aku sudah mengambil
langkah yang tepat terjun di bisnis ekspor.
Semoga pengiriman cocofiber perdanaku
ke China ini lancar, buyer benar-benar loyal, dan pengiriman cocofiber ini terus
berkembang.
Semoga orderan Vanili dari Yon Guk
Chu makin banyak. Aku sih mampu untuk memenuhi PO setidaknya 2 ton vanili per bulan.
Semoga aku lekas membuat perusahaan ekspor
komoditas perikanan dan berhasil.
Semoga ini semua menjadi jalan amal
jariahku, sehingga aku yang penuh dosa ini layak menjadi hambaNya yang meraih
tempat special di sisiNya kelak di akhirat.
Amiin amiin Yaa Robal Alamiin!
